- Anak muda Sudut Kalisat mengkampanyekan penyelamatan gumuk sebagai upaya menjaga identitas dan ingatan ekologis Jember. Bagi komunitas ini, gumuk bukan sekadar bukit kecil, tetapi ruang hidup yang sejak lama menjadi tempat bermain, mencari hasil alam, sekaligus bagian dari sejarah masyarakat. Kampanye dilakukan melalui riset, penelusuran arsip, pameran seni, dan kegiatan yang mengajak masyarakat kembali mengenali lanskapnya.
- Gumuk memiliki fungsi ekologis penting, tetapi terus terdesak kepentingan ekonomi. Bentang alam yang terbentuk dari endapan debris avalanche vulkanik ini tersebar hampir di seluruh Jember—dari 31 kecamatan, hanya tiga yang tidak memiliki sebaran gumuk. Selain menjadi habitat flora dan fauna, gumuk berfungsi sebagai daerah resapan air, penahan angin, serta menopang pertanian masyarakat. Namun, sebagian gumuk terus hilang akibat aktivitas manusia, termasuk pengambilan batu dan pasir.
- Sudut Kalisat memilih pendekatan budaya dan pengetahuan lokal untuk membangun kembali hubungan masyarakat dengan alam. Mereka melihat nama tempat, cerita rakyat, sejarah, serta pengetahuan masyarakat sebagai bentuk “percakapan” manusia dengan lingkungan. Melalui Kalisat Tempo Dulu dan pameran seperti Batuan Berkisah, komunitas tersebut berusaha membuat masyarakat melihat kembali benda dan lanskap yang selama ini dianggap biasa sebagai bagian penting dari sejarah dan ruang hidup.
- Penyelamatan gumuk membutuhkan perlindungan kebijakan, bukan hanya perubahan kesadaran masyarakat. Akademisi menilai negara memiliki tanggung jawab menghadirkan mekanisme perlindungan dan insentif bagi pemilik gumuk agar tidak terdorong menjual atau mengeksploitasinya.
Prihatin dengan kondisi gumuk di Jember yang kian terancam, Sudut Kalisat, komunitas anak muda tergerak untuk melakukan kampanye penyelamatan. Bagi mereka, menyelamatkan gumuk bukan sekadar menjaga bukit-bukit kecil, tetapi merawat ingatan ekologis dan identitas sebuah daerah.
Muhammad Iqbal, Direktur Program Sudut Kalisat, gumuk bukan hanya bentang alam, melainkan ruang hidup yang membentuk hubungan manusia dengan lingkungannya.
“Gumuk dulu menjadi ruang bermain kami. Ruang bertemu dengan teman-teman, mencari buah-buahan, mencari kayu bakar. Sekarang yang lebih sering terlihat justru truk yang mengangkut batu dan pasir dari gumok,” katanya, Kamis (30/7/26).
Kegelisahan itulah yang melatari Sudut Kalisat riset, berburu arsip, hingga pameran seni yang berkaitan dengan gumuk. Makin dalam mereka menelusuri arsip, semakin jelas bahwa sejarah daerah tidak pernah bisa terpisah dari lanskapnya.
“Mustahil memahami sejarah tanpa memahami ruang tempat sejarah itu berlangsung. Alam bukan sekadar latar, tetapi bagian dari sejarah itu sendiri,” ujarnya.
Melalui berbagai pameran, Sudut Kalisat berupaya menghadirkan ruang dialog antara manusia dengan bentang alam yang selama ini kerap hanya sebagai objek eksploitasi.
Secara geologi, gumuk merupakan bukit-bukit kecil yang terbentuk melalui proses alam selama jutaan tahun. Bentuknya yang khas menjadikan Jember sering dijuluki sebagai Kota Seribu Gumuk.
Bagi masyarakat, gumuk tidak sekadar menjadi penanda geografis. Bukit-bukit kecil itu berfungsi sebagai daerah resapan air, penahan angin, habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa, sekaligus penanda arah bagi warga yang tinggal di sekitarnya.
Iqbal mengatakan, masyarakat sebenarnya memahami manfaat tersebut. Banyak mata air muncul di sekitar gumuk. Lahan pertanian di sekitarnya pun memperoleh manfaat dari keberadaan bukit-bukit kecil itu. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, fungsi ekologis itu semakin terdesak oleh kepentingan ekonomi.
“Orang tahu gumuk menyimpan air dan melindungi lingkungan. Tetapi ketika nilai ekonominya dianggap lebih besar, gumuk akhirnya dijual dan diratakan,” katanya.
Sejarah geologi
Jauh sebelum ilmu vulkanologi mengenal istilah debris avalanche, bentang gumuk di Jember sudah menarik perhatian para penjelajah. Awal Oktober 1844, Franz Wilhelm Junghuhn melintasi jalur Jember menuju Arjasa, Jelbuk, hingga Suger Lor di Bondowoso.
Dalam catatan perjalanannya, dia menyebut kawasan itu sebagai honderden van heuvelen yang berarti ratusan bukit. Bukit-bukit kecil dengan tinggi antara enam hingga lima belas meter itu menurutnya tersusun dari material vulkanik dan memiliki kemiripan dengan bukit-bukit di kaki beberapa gunung api lain di Pulau Jawa.
Sejak saat itu, asal-usul gumuk jadi perdebatan. Reinder Fennema dan Rogier D.M. Verbeek berpendapat bahwa gumuk terbentuk melalui rangkaian letusan Gunung Raung purba yang berlangsung dalam waktu sangat panjang. Material letusan dan lahar terus menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk lanskap berbukit yang kini menyelimuti Jember.
Neumann van Padang mengoreksi pendapat itu. Menurutnya, gumuk bukan hasil letusan berulang, melainkan akibat longsoran raksasa di sisi barat Gunung Raung purba. Saat gunung itu runtuh, jutaan meter kubik batuan dan material vulkanik meluncur bersama banjir lahar hingga lebih dari 60 kilometer ke arah barat daya.
Endapan material raksasa itulah yang kemudian membentuk ribuan bukit kecil yang tersebar di wilayah Jember. Dari tulisannya pula muncul sebutan die Stadt der tausend Hügel atau “kota seribu bukit”, yang kemudian dikenal masyarakat sebagai kota seribu gumuk.
Firman Sauqi Nur Sabila, geolog asal Jember sebut gumuk sebagai endapan debris avalanche, yaitu longsoran vulkanik berukuran sangat besar. Istilah ini bahkan mulai terkenal setelah letusan Gunung Saint Helens di Amerika Serikat pada 1980. Letusan tersebut membuka pemahaman baru bahwa sebuah gunung api dapat runtuh dari sisi lerengnya dan menghasilkan hamparan bukit-bukit kecil dari bongkahan batuan.
Penemuan itu mendorong para peneliti mencari jejak peristiwa serupa di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah Lee Siebert yang melakukan survei di Jember pada 1995. Hasilnya, hampir seluruh wilayah Jember merupakan hamparan endapan debris avalanche.
Dari 31 kecamatan, hanya tiga yang tidak memiliki sebaran gumuk. Artinya, gumuk bukan sekadar bukit-bukit yang tersebar acak, melainkan satu bentang alam raksasa yang terbentuk dari satu peristiwa geologi purba dan membentuk ekosistem khas Jember.
Perbedaan ketinggian, jenis tanah vulkanik, serta vegetasi yang tumbuh di atasnya menciptakan habitat yang berbeda dengan dataran di sekitarnya.
Membaca alam
Sudut Kalisat memandang bahwa menjaga lingkungan tidak sekadar menanam pohon atau memasang spanduk pelestarian. Tak kalah penting membangun kembali hubungan emosional antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Iqbal menyebut proses itu sebagai upaya membangun kembali “percakapan” dengan lingkungan. Menurutnya, pengetahuan lokal, nama-nama tempat, cerita rakyat, hingga cara masyarakat memberi makna terhadap sebuah bukit merupakan bentuk dialog panjang antara manusia dengan alam.
“Kalau kita bicara soal bertahan hidup, sebenarnya manusia selalu bercakap dengan lingkungannya. Pengetahuan lokal, toponimi, sampai cerita-cerita yang diwariskan adalah hasil dari percakapan itu. Ketika percakapan berhenti, hubungan kita dengan alam ikut terputus.”
Perjalanan Sudut Kalisat memahami gumuk tidak dimulai dari bukit-bukit kecil yang kini menjadi perhatian publik. Jauh sebelumnya, komunitas ini terlebih dahulu menempuh perjalanan panjang untuk membaca hubungan manusia dengan lanskapnya.
Menurut Iqbal, setiap tema dalam program Kalisat Tempo Dulu (KTD) bukanlah proyek yang berdiri sendiri. Seluruhnya tersusun sebagai rangkaian pencarian untuk memahami bagaimana sejarah manusia selalu bertaut dengan alam.
“Kalau dilihat satu per satu mungkin seperti tema yang berbeda-beda. Tetapi bagi kami semuanya saling berkaitan. Batu, burung, perkebunan, sampai gumuk adalah jalan untuk memahami hubungan manusia dengan ruang hidupnya,” ujarnya.
Pada pehelatan KTD 2023 misal. Bagi kebanyakan orang, batu merupakan benda mati yang nyaris tak pernah mendapat perhatian. Namun Sudut Kalisat mencoba melihatnya dari sudut pandang berbeda. Mereka memosisikan batu sebagai arsip geologi yang menyimpan sejarah bumi jauh sebelum manusia hadir.
Wildan Ariyanto, Kurator KTD, mengatakan seni memiliki kemampuan menghadirkan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Melalui penataan ruang dan pengalaman artistik, benda yang sehari-hari luput dari perhatian justru dapat memunculkan pertanyaan baru.
“Seni sebagai medium yang cair punya keunggulan memperbincangkan kengerian menjadi sesuatu yang lebih lunak. Ataupun sebaliknya, sesuatu yang mulanya biasa saja bisa kita bawa menjadi ‘kengerian’. Seni punya ruang melipat berbagai realitas, pengalaman, dan emosi menjadi satu bagian,” katanya, Rabu (29/7/26).
Wildan menceritakan prosesnya dalam pameran Batuan Berkisah. Menurutnya, hampir semua orang mengenal batu. Mereka tahu bentuknya, memegangnya, bahkan mengabaikannya setiap hari. Namun ketika batu dipindahkan ke ruang pamer dan menjadi objek utama, muncul rasa asing.
“Semua warga tahu batu. Batu itu benda biasa. Tapi ketika batu dipajang di ruang pamer, dilepaskan dari tempat biasanya. Dari sungai, jalan, atau gumuk, orang mulai bertanya, ‘Kenapa batu menjadi penting?’ Dari pertanyaan itulah percakapan dimulai.”
Menurut Iqbal, fokus pada gumuk ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari proses pencarian mereka selama bertahun-tahun. Semakin banyak mereka mempelajari sejarah Jember, semakin jelas bahwa gumuk merupakan simpul yang menghubungkan hampir seluruh persoalan.
“Gumuk menjadi titik temu dari semua tema yang pernah kami pelajari sebelumnya. Di dalamnya ada sejarah bumi, sejarah manusia, pengetahuan lokal, sampai persoalan lingkungan yang sedang kita hadapi hari ini.”
Namun ketika mulai mendalami gumuk, mereka menyadari satu kenyataan yang mengkhawatirkan. Bentang alam yang selama ini menjadi identitas Jember justru semakin menghilang. Tidak banyak orang menyadarinya dan mempertanyakannya.
Kesadaran itulah yang akhirnya melahirkan tema Kalisat Tempo Dulu 11 yang akan diselenggarakan pada Oktober 2026 mendatang, Saujana Gumok.
Iqbal bilang, kegiatan tersebut bukan sekadar pameran tentang bukit-bukit kecil. Melainkan sebagai upaya mengajak masyarakat kembali membaca lanskap yang selama ini perlahan hilang dari ingatan.
Merawat ingatan
Bagi Iqbal, perjuangan Sudut Kalisat tidak pernah bermaksud sebagai gerakan yang berdiri di garis depan untuk menolak setiap aktivitas penambangan. Mereka menyadari persoalan gumuk jauh lebih kompleks ketimbang sekadar membenturkan kepentingan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.
Di balik setiap gumuk yang diratakan terdapat persoalan kepemilikan lahan, kebutuhan ekonomi keluarga, lemahnya tata kelola ruang, hingga minimnya perlindungan negara terhadap bentang alam yang khas itu. Karena itu, Sudut Kalisat memilih memulai dari sesuatu yang menurut mereka paling mendasar; membangun kembali hubungan manusia dengan lanskapnya.
Menurut Iqbal, banyak masyarakat sebenarnya memahami fungsi gumuk. Mereka mengetahui bukit-bukit kecil itu menjadi daerah resapan air, mempengaruhi arah angin, dan menopang pertanian di sekitarnya. Namun, pemahaman itu perlahan dikalahkan oleh nilai ekonomi jangka pendek.
“Kami tidak bisa hanya menyalahkan masyarakat. Mereka hidup dalam situasi tertentu. Karena itu yang harus dibangun lebih dulu adalah kesadaran bersama bahwa gumuk bukan sekadar tanah yang bisa dijual.”
Dalam proses riset tentang gumuk ini, Sudut Kalisat juga menemukan kenyataan yang tidak mudah dihadapi. Bahwa sebagian besar gumuk yang hilang bukan terjadi karena bencana alam, melainkan akibat aktivitas manusia. Dampaknya, perlahan tetapi pasti, lanskap khas Jember berubah.
Jika itu terjadi, gumuk hanya akan hidup sebagai nama jalan, nama kampung, atau cerita yang tersisa dalam ingatan orang-orang tua. Padahal, menurutnya, bentang alam merupakan bagian dari identitas budaya. Ia membentuk cara masyarakat mengenali ruang, memberi nama tempat, menentukan arah perjalanan, bahkan melahirkan cerita rakyat yang diwariskan lintas generasi.
Upaya Sudut Kalisat mengkampanyekan kelestarian gumuk menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi dan mahasiswa dari berbagai negara yang mengikuti Course on Access to Justice gelaran Center for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2), Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej), 29 Juli 2026.
Dalam kegiatan itu, peserta yang berasal dari berbagai negara tidak hanya mempelajari hak asasi manusia di ruang kelas. Mereka diajak datang langsung ke Sudut Kalisat untuk membaca persoalan lingkungan melalui pengalaman masyarakat. Selain itu juga peserta diajak untuk merasakan langsung pengalaman mendaki gumuk.
Peran negara
Al Khanif, Ketua CHRM2 Unej, mengatakan isu gumuk dipilih karena ekstraktivisme masih menjadi salah satu tantangan terbesar di Jember. Menurutnya, peserta perlu memahami bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar isu lokal, melainkan berkaitan dengan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik.
“Kami ingin peserta paham konteks lokal di Jember. Persoalan ekstraktivisme masih sangat dominan. Kami juga ingin mereka melihat bahwa ada gerakan-gerakan lokal yang berusaha mempertahankan lingkungan,” kata Al Khanif.
Menurutnya, kerusakan lingkungan tidak dapat semata-mata dibebankan kepada masyarakat. Dia menilai negara memiliki tanggung jawab utama menghadirkan kebijakan yang melindungi bentang alam, termasuk gumuk.
Al Khanif mencontohkan, selama ini pemilik gumuk lebih mudah tergoda menjual lahannya karena memperoleh keuntungan secara tunai, sementara belum ada skema perlindungan maupun insentif yang membuat mereka mempertahankan bentang alam tersebut.
“Lingkungan rusak itu sebenarnya tanggung jawab negara. Masyarakat hanya turut serta. Selama ini negara membiarkan, padahal kalau tambang terus dilakukan, bencana ekologis pasti terjadi,” ujarnya.
Dia pun mengusulkan agar pemerintah daerah memiliki mekanisme perlindungan yang lebih konkret. Misalnya melalui dukungan kepada pemilik gumuk agar kawasan tersebut tetap dipertahankan sebagai ruang ekologis, bukan semata-mata bernilai ekonomi.
Femida Kamal, mahasiswa Magister Hukum Internasional di Korea Selatan, mengatakan persoalan lingkungan kini merupakan tantangan global. Menurutnya, dampak perubahan lingkungan tidak mengenal batas negara karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia.
“Ini bukan hanya masalah Indonesia atau negara saya, tetapi masalah dunia. Perubahan lingkungan mempengaruhi cuaca, pertanian, dan kehidupan kita sehari-hari. Karena itu generasi muda harus berani bersuara dan memilih cara hidup yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Selama ini, kata Femida, manusia cenderung melihat alam sebagai sumber keuntungan ekonomi. Pohon sebagai kayu, tanah sebagai komoditas, dan lanskap sebagai ruang produksi. Namun, pengalaman di Jember membuatnya mempertanyakan kembali hubungan tersebut.
“Saya merasa alam juga memiliki jiwa. Selama ini kita hanya berpikir bagaimana mendapatkan keuntungan dari alam. Kalau kita hidup selaras dengan alam, alam juga akan berbuat baik kepada kita,” katanya.
Pandangan serupa datang dari Grace Chang, Guru Besar Ilmu Politik dari San Diego State University, Amerika Serikat. Menurutnya, mengenali persoalan lingkungan di sekitar tempat tinggal merupakan langkah penting untuk membangun ketangguhan masyarakat.
Saat ini, katanya, anak muda cenderung lebih akrab dengan berbagai informasi di media sosial ketimbang memahami persoalan di lingkungan tempat mereka hidup.
“Sangat penting bagi generasi muda mengenal daerahnya sendiri dan menjadi bagian aktif dari komunitasnya. Apa yang kita lakukan di lingkungan sekitar memiliki dampak terhadap kehidupan bersama,” kata Grace.
Dia juga mengapresiasi pendekatan Sudut Kalisat yang memadukan seni, kegiatan kolektif dan pembelajaran lapangan. Menurutnya, cara tersebut membuat isu lingkungan lebih dekat dengan masyarakat dibandingkan sekadar disampaikan melalui ruang kuliah.
Bagi Sudut Kalisat, kesan yang dibawa pulang para peserta internasional bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah lahirnya jejaring pengetahuan baru. Bahwa cerita tentang gumuk tidak berhenti di Jember, tetapi dapat menjadi bagian dari percakapan global mengenai krisis lingkungan, keadilan ekologis, dan masa depan bentang alam.
*****