Mongabay.co.id

Mengapa Gurita Betina Memakan Pasangannya Setelah Kawin? Ini Kata Sains

Seekor gurita (Octopus vulgaris) terlihat di dasar laut berpasir di Pantai Cabo de Gata, Almeria, Spanyol. Foto: Theasereje/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Gurita dikenal sebagai salah satu hewan laut dengan siklus hidup yang singkat namun penuh perilaku unik, mulai dari kemampuan kamuflase hingga cara mereka bereproduksi. Salah satu perilaku yang paling banyak dibicarakan adalah kanibalisme seksual, yaitu ketika gurita betina memakan pejantan setelah proses kawin. Fenomena ini sering muncul di berbagai platform media sosial dengan narasi bahwa betina melakukannya karena sedang tidak berminat, merasa terganggu, atau sedang dalam suasana hati yang buruk. Penjelasan semacam ini tidak akurat. Riset menunjukkan bahwa kanibalisme seksual pada gurita bukan hasil dari penolakan emosional, melainkan konsekuensi dari kebutuhan energi reproduksi dan proses fisiologis yang terprogram dalam siklus hidup gurita.

Kanibalisme seksual adalah fenomena nyata yang terdokumentasi baik di alam liar maupun dalam observasi penangkaran. Pada sejumlah spesies gurita, betina diketahui membunuh dan memakan pejantan setelah, atau bahkan saat, proses kopulasi berlangsung. Penyebabnya berkaitan dengan kebutuhan energi yang besar dalam reproduksi gurita betina. Setelah pembuahan, betina berhenti makan dan mencurahkan sisa hidupnya untuk menjaga dan membersihkan telur hingga menetas. Dalam kondisi ini, tubuh pejantan menjadi sumber protein dan nutrisi tambahan yang dapat mendukung kematangan telur, sehingga berpotensi meningkatkan peluang bertahan hidup keturunannya.

Bagaimana Pejantan Menghindari Risiko Dimakan

Dimorfisme seksual turut memengaruhi dinamika ini, karena betina umumnya berukuran jauh lebih besar daripada pejantan. Pada gurita bergaris biru (Hapalochlaena fasciata), betina berukuran sekitar dua kali lipat pejantan, sehingga pejantan menghadapi risiko nyata setiap kali mendekat untuk kawin. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Current Biology oleh tim peneliti Universitas Queensland, Australia, mendokumentasikan bagaimana pejantan spesies ini menggigit area dekat aorta betina secara presisi untuk menyuntikkan tetrodotoxin (TTX), racun saraf yang juga dihasilkan tubuh mereka sendiri. Dalam eksperimen laboratorium terhadap enam pasang gurita, peneliti mencatat bahwa betina berhenti bernapas sekitar delapan menit setelah gigitan tersebut, kulitnya memucat, dan pupilnya tidak lagi merespons cahaya, tanda bahwa seluruh kendali sarafnya untuk sementara terhenti.

Seekor gurita bercincin biru (genus Hapalochlaena) difoto di dalam akuarium, memperlihatkan pola cincin biru cerah di sekujur tubuhnya. Foto: Totti/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Kondisi ini berlangsung selama proses kawin, yang bisa memakan waktu sekitar satu jam, namun tidak berakibat fatal. Peneliti juga menemukan bahwa kelenjar penghasil racun pada pejantan berukuran sekitar tiga kali lebih besar dibanding milik betina, sebuah indikasi bahwa organ ini kemungkinan berevolusi khusus untuk kebutuhan kawin, bukan semata untuk berburu atau bertahan dari predator. Semua betina yang diamati tetap hidup dan bertelur dalam rentang waktu tiga hingga dua puluh sembilan hari setelah kejadian tersebut, meski menunjukkan bekas gigitan berupa memar kecil di tubuhnya. Spesies gurita lain diketahui menggunakan cara berbeda, yaitu lengan khusus (hectocotylus) yang dapat dilepaskan untuk mentransfer sperma dari jarak jauh, sehingga pejantan tidak perlu berada dekat dengan betina saat proses berlangsung.

Peran Kelenjar Optik dalam Kematian Betina

Kanibalisme dan agresi pasca-kawin juga berkaitan dengan perubahan fisiologis yang dialami betina menjelang akhir siklus hidupnya. Fenomena ini pertama kali didokumentasikan pada 1977 oleh peneliti Jerome Wodinsky, yang menemukan bahwa pengangkatan kelenjar optik pada gurita betina membuat mereka berhenti mengerami telur, kembali makan, dan hidup lebih lama, sebuah tanda bahwa kelenjar tersebut mengendalikan proses menuju kematian.

Studi lanjutan yang dipublikasikan di Current Biology oleh tim peneliti University of Chicago menemukan bahwa menjelang fase ini, terjadi perubahan besar pada metabolisme kolesterol di kelenjar optik yang memicu produksi hormon steroid dalam jumlah signifikan. Perubahan hormonal inilah yang menghentikan nafsu makan betina dan berkaitan dengan peningkatan perilaku agresif di sekitar sarangnya. Betina terus menjaga sirkulasi oksigen di sekitar telur melalui gerakan lengan hingga sumber energi tubuhnya habis, dan biasanya mati tidak lama setelah telur menetas.

Seekor Larger Pacific Striped Octopus (LPSO), spesies yang belum memiliki nama ilmiah resmi, terlihat di dalam akuarium dengan pola garis khasnya. Foto: Dave Maass/Flickr (CC BY 2.0)

Tidak semua spesies gurita menunjukkan pola ini. Larger Pacific Striped Octopus (LPSO), yang hingga kini belum memiliki nama ilmiah resmi, diketahui kawin dengan posisi berhadapan, kontak fisik antar-lengan yang lebih lama, dan dalam sejumlah pengamatan bahkan berbagi sarang tanpa insiden kanibalisme. Variasi ini menunjukkan bahwa perilaku reproduksi pada gurita jauh lebih beragam dibanding gambaran umum yang sering beredar.

Memahami kanibalisme seksual pada gurita berarti melihatnya sebagai hasil dari tekanan evolusi, kebutuhan energi reproduksi, dan mekanisme hormonal yang telah dipetakan lewat riset selama beberapa dekade, bukan sebagai cerita tentang emosi atau niat. Penjelasan berbasis data ini penting, bukan hanya untuk akurasi ilmiah, tetapi juga agar publik memahami satwa liar sesuai dengan biologi mereka yang sebenarnya, bukan proyeksi emosi manusia.

**

Referensi:

Chung, W.-S., Kurniawan, N. D., Marshall, N. J., & Cortesi, F. (2025). Blue-lined octopus Hapalochlaena fasciata males envenomate females to facilitate copulation. Current Biology, 35(6). https://doi.org/10.1016/j.cub.2025.01.027

Exit mobile version