- Dampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat November tahun lalu belum pulih hingga kini. Selain menghancurkan infrastruktur, bencana juga merusak ribuan hektar lahan pertanian, dan perkebunan, antara lain, kebun kopi di Aceh.
- Salman Pedemun, Master Trainer Sustainable Cofee Platform Indonesia (SCOPI) Aceh Tengah, mengatakan, para petani kopi di Aceh Tengah melewati masa krisis pasca bencana banjir bandang, dan kelangkaan BBM.
- Anshary, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Aceh Tengah, mengatakan, seluas 12.637 hektar dari 52.074 hektar kebun kopi di Aceh Tengah mengalami kerusakan akibat banjir bandang November lalu.
- Kementerian Pertanian (Kementan) berencana memperluas dan peremajaan kebun kopi pada 2026 seluas 86.000 hektar di seluruh Indonesia. Untuk Aceh, usulan pengembangan kebun kopi pasca bencana seluas 18.000 hektar pada 2026. Bantuannya, berupa benih dan upah tenaga kerja. Ada juga, kemungkinan perbaikan atas angka itu.
Dampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat November tahun lalu belum pulih hingga kini. Selain menghancurkan infrastruktur, bencana juga merusak ribuan hektar lahan pertanian, dan perkebunan, antara lain, kebun kopi di Aceh.
Salman Pedemun, Master Trainer Sustainable Cofee Platform Indonesia (SCOPI) Aceh Tengah, mengatakan, para petani kopi di Aceh Tengah melewati masa krisis pasca bencana banjir bandang, dan kelangkaan BBM.
Jaringan internet juga terputus, sudah mulai membaik, tetapi jalur distribusi logistik masih kendala, jembatan-jembatan akses jalan nasional juga belum seutuhnya baik.
“Sampai hari ini beberapa jalan produksi menuju ke kebun-kebun petani itu belum bisa dilewati dengan baik, malahan masih ada yang tertimpa longsor dan lain-lain,” katanya, belum lama ini.
Pengangkutan hasil panen kopi pada Maret pun terkendala, akses para petani dari kebun-kebun mereka ke titik kumpul di kampung menjadi sulit.
Salman bilang, ke depan ini perlu jadi prioritas, minimal ada akses motor untuk mengangkut kopi dari kebun.
Saat ini, warga masih fokus terhadap kebutuhan pangan mereka. Sebagai pelatih, Salman merekomendasi wanatani, selain kopi, di kebun kopi ada tanaman lain sembari memperbaiki kebun kopi yang rusak.
“Sekarang untuk Kecamatan Kute Panang, saya sedang mencoba untuk tanam padi gugu,” katanya.
Dia berharap, para petani terdampak tidak hanya dapat bantuan, juga pendampingan.
Belasan ribu hektar rusak
Anshary, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Aceh Tengah, mengatakan, seluas 12.637 hektar dari 52.074 hektar kebun kopi di Aceh Tengah mengalami kerusakan akibat banjir bandang November lalu.
Terhitung sejak bencana itu terjadi, para petani kopi tak bisa beraktivitas apapun di kebunnya. Selain masalah lahan, juga karena infrastruktur rusak terkena banjir dan longsor.
“Jalan-jalan menuju ke sentral produksi atau di sekitar perkebunan kopi, itu ada lebih kurang 175 ruas yang mengalami kerusakan. Kerusakannya umumnya (karena) longsor,” kata Anshary dalam diskusi daring.
Pemerintah, katanya, tengah pemulihan infrastruktur dan restorasi kebun yang bersifat darurat.
“Darurat ini maksudnya yang penting ada akses masyarakat, ada akses barang dan jasa, ada akses bantuan kepada masyarakat petani dan masyarakat perkampungan.”
Masyarakat Aceh Tengah biasa menanam kopi Gayo. Untuk restorasi kebun kopi dan meningkatkan produktivitas, kata Ashary, masyarakat perlu bibit pohon, alat pertanian, mesin pengupas, sampai pupuk, terutama organik.
Pemerintah Aceh Tengah juga terbuka menjalin kerja sama dengan swasta yang punya kepedulian terhadap perkebunan kopi.
Menurut Ashary, supaya rehabilitasi pasca bencana berjalan lebih berkelanjutan, perlu keterlibatan semua sektor, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat, serta bekerja tak setengah-setengah.
“Bagaimana supaya masa transisi dari bencana ke pemulihan itu betul-betul dapat dijalankan. Masyarakat bisa menghilangkan trauma terhadap bencana.”
Christieni Maria, Kepala Divisi Komoditas Kopi dan Teh, Kementerian Pertanian bilang, sebagian besar kopi Indonesia produksi di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Bengkulu, dan Lampung.
Sepanjang 2022-2023, Indonesia menjadi produsen kopi ketiga dunia.
Pada 2025, produksi kopi Indonesia mencapai 832.600 ton, meningkat 2% dari tahun sebelumnya. Juga luas kebun kopi, naik sampai 1,2 juta hektar, dengan robusta 887.000 hektar dan arabika 370.000 hektar.
Christieni mengatakan, Indonesia secara geografis beruntung karena berada di garis khatulistiwa, dengan suhu udara antara 24-38 oC. Kondisi ini, katanya, jadi salah satu faktor kebun kopi di Indonesia cukup stabil.
Namun, dia tidak menafikan perkebunan kopi di Indonesia juga mengalami tantangan, antara lain, persoalan ekologis.
Untuk mengatasi itu, pemerintah mengadopsi agroforestry. Pemerintah akan mendorong teknologi budidaya kopi yang adaptif dan tahan. Mereka akan menjalin kerja sama dengan para peneliti supaya petani bisa menerapkan perkebunan yang mengadopsi iklim.
Kementerian Pertanian (Kementan) berencana memperluas dan peremajaan kebun kopi pada 2026 seluas 86.000 hektar di seluruh Indonesia.
Untuk Aceh, usulan pengembangan kebun kopi pasca bencana seluas 18.000 hektar pada 2026. Bantuannya, berupa benih dan upah tenaga kerja. Ada juga, katanya, kemungkinan perbaikan atas angka itu.
“Dasar angka ini dari surat Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh yang menyampaikan untuk kopi arabika itu mengalami dampak 17.000 hektar. Kopi robusta itu sekitar 60 hektar,” jelas Christieni dalam diskusi daring.
Surat dari Aceh itu tertanggal 31 Desember 2025. Seluas 17.000 hektar lahan terdampak itu berada di di Kabupaten Aceh Tengah (4.000 hektar), Biruen (10.500), dan Gayo Lues 2.500 hektar.
Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI), organisasi non-profit yang bergerak dalam sektor kopi, berkomunikasi dengan berbagai sektor, pemerintah dan swasta. Juga, melakukan langkah-langkah dengan membantu para petani kopi pasca bencana. Ia terbagi dalam tiga fase.
Pertama, fase respons darurat pada 8 Desember 2025-8 Januari 2026. Kedua, fase verifikasi kerusakan kebun dan analisis kebutuhan pemulihan pada 22 Januari-25 Juli 2026.
Ketiga, fase restorasi dan rehabilitasi. Ini rencana jangka panjang.
“Kita menerima dana Rp341 juta dari fundraising dan telah didistribusikan ke 15 MT (master trainer) Rp160 juta,” kata Irvan Helmi, Ketua Dewan Pengurus SCOPI.
Penerima manfaat dari bantuan itu 951 keluarga di 71 desa dalam 17 kecamatan. Bantuannya berupa kebutuhan darurat seperti beras, mie, minyak goreng, dan susu, lalu berupa pendampingan trauma healing 50 anak-anak di Desa Blang Merah, Lut Tawar, Aceh Tengah.
*****