Mongabay.co.id

Ikan Purba Coelacanth dan Masa Depan Laut Indonesia

Screenshot

  • Penemuan ikan purba Coelacanth di Manado mengingatkan kita pada kekayaan hayati laut Indonesia, yang menyimpan rahasia evolusi kehidupan di bumi.
  • Perlindungan habitat laut menjadi semakin penting untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini, yang dikategorikan sebagai spesies terancam punah.
  • Penemuan ikan purba ikonik ini tidak hanya memperluas pemahaman tentang persebaran Coelacanth, tapi juga menegaskan pentingnya perairan Indonesia Timur sebagai hotspot keanekaragaman hayati laut.
  • Indonesia pada 2024 telah menerbitkan Indonesia Biodiversity Strategies and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, dengan target ambisius melindungi 30% wilayah lautnya sebagai kawasan konservasi perairan pada 2045. Pemerintah telah menetapkan lebih dari 400 Kawasan Konservasi Perairan (KKP), dengan luasan 28 juta hektar.

Setiap 2 Juli, Indonesia memperingati Hari Kelautan Nasional. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1972, era Presiden Soeharto. Latar belakangnya sederhana: dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia.

Tahun ini, hari istimewa tersebut datang dengan konteks jauh lebih hidup dari sekadar peringatan tahunan. Akhir Juni 2026, dunia maya ramai dengan foto dan video ikan purba yang ditemukan mengapung di perairan Manado.

Penemuan itu berawal Jumat pagi, 26 Juni 2026. Soni Pontoh, nelayan dari Pulau Siladen, Manado, melaut seperti biasa. Sekitar 100 meter dari tubir terumbu karang, matanya menangkap sesuatu yang aneh mengapung di permukaan laut: seekor ikan besar, bersisik cokelat keemasan, dengan sirip lebih mirip kaki kecil ketimbang sirip ikan biasa.

Dia tidak tahu, dia menemukan makhluk paling langka di planet ini, ikan yang sempat dianggap punah selama 66 juta tahun. Ikan yang ditemukan Soni adalah Coelacanth Sulawesi, atau dalam bahasa lokal disebut “raja laut” (Latimeria menadoensis).

Spesies ini berstatus Rentan (Vulnerable/VU) dalam Daftar Merah IUCN dan masuk Appendix I CITES, sehingga perdagangan internasionalnya untuk tujuan komersial dilarang. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan, spesimen ini memiliki panjang sekitar 105 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan berat sekitar 30 kilogram.

Ikan Latimeria menadoensis yang ditemukan di perairan Maluku Utara menunjukkan persebarannya yang lebih luas dari perkiraan sebelumnya. Foto: Alexis Chappuis/Scientific Reports.

Penemuan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, spesimen lain ditemukan nelayan bernama Oskar Kaluku di perairan Gorontalo Utara pada Januari 2025, dalam kondisi mati dengan panjang sekitar satu meter dan berat 41 kilogram. Spesimen ini memiliki nilai penting bagi penelitian ilmiah.

Coelacanth bukan sembarang ikan. Ia adalah saksi hidup sejarah evolusi. Spesies ini telah menghuni bumi sekitar 400 juta tahun dan mampu bertahan melewati berbagai peristiwa kepunahan massal, termasuk kepunahan dinosaurus.

Wilayah perairan utara Sulawesi pun semakin terbukti penting. Penemuan di Gorontalo pada 2025, disusul kemunculan terbaru di Pulau Siladen pada 2026, memperkuat dugaan bahwa wilayah ini masih menjadi habitat penting bagi ikan paling langka di dunia. Kawasan ini juga berada tepat di jantung Coral Triangle atau segitiga terumbu karang dunia, yaitu kawasan dengan keanekaragaman terumbu karang tertinggi di planet bumi, yang membentang dari Indonesia, Filipina, hingga Pasifik.

Inilah Latimeria menadoensis yang ditemukan pada 1997 di Sulawesi. Foto: Mark Erdman/IUCN RedList.

Dari pasar ikan ke dunia sains

Kehadiran Coelacanth di Indonesia tak kalah dramatis seperti kisah Soni Pontoh. Pada 18 September 1997, pasangan Arnaz dan Mark Erdmann yang sedang berbulan madu melihat ikan aneh dijual di pasar Manado Tua, Sulawesi Utara. Mark mengenali bentuknya yang mirip Coelacanth Komoro di Afrika, hanya saja warnanya cokelat, bukan biru.

Setelah diteliti lebih lanjut, ilmuwan memastikan ikan itu adalah spesies baru yang berbeda dari kerabatnya di Afrika. Penemuan itu mengguncang dunia ilmu pengetahuan, sebab sebelumnya Coelacanth hanya diketahui hidup di Kepulauan Komoro, sekitar 10.000 kilometer jauhnya dari Sulawesi.

Riset makin intens sejak saat itu. Puncaknya, pada Oktober 2024, tim peneliti dari Association UNSEEN berhasil mendokumentasikan langsung Coelacanth hidup di laut. Bukan dari kapal selam atau ROV, tapi dari penyelam teknis yang turun ke kedalaman sekitar 144 meter di perairan Maluku Utara.

Hasil penelitian itu dipublikasikan Chappuis et al., pada April 2025 dalam jurnal Scientific Reports dengan judul, “First record of a living coelacanth from North Maluku, Indonesia”. Ini adalah catatan pertama keberadaan Coelacanth hidup di Maluku Utara dan sekaligus foto in situ pertama yang diambil langsung oleh penyelam, bukan robot bawah air.

Para peneliti mendapati ikan sepanjang 1,1 meter itu melayang tenang di atas bebatuan vulkanik yang dipenuhi spons dan karang lunak, pada suhu air 19–20°C. Ini jauh lebih dingin dibandingkan suhu permukaan yang mencapai 29–30°C.

“Lebih mengejutkan, ikan itu ternyata tidak berada di dalam gua, seperti yang selama ini diduga para ilmuwan sebagai tempat persembunyian favorit Coelacanth siang hari,” ungkap para peneliti.

Penelitian demi penelitian makin menguatkan satu kesimpulan bahwa perairan Indonesia bagian timur, khususnya kawasan Sulawesi Utara hingga Maluku, menjadi habitat penting bagi Latimeria menadoensis yang distribusinya jauh lebih luas dari dugaan semula.

Chappuis dan peneliti lainnya menulis dalam kesimpulan studinya bahwa penemuan ini tidak hanya memperluas pemahaman tentang persebaran Coelacanth, tapi juga menegaskan pentingnya perairan Indonesia Timur sebagai hotspot keanekaragaman hayati laut. Sekaligus, mendesak perlindungan ekosistem terumbu karang dalam (deep-reef) dari tekanan aktivitas manusia.

“Ekosistem tersebut menjadi habitat bagi spesies endemik, sensitif, dan terancam punah. Kami berharap, penemuan ini akan mendorong pemerintah daerah dan nasional untuk meningkatkan upaya konservasi di wilayah yang kaya akan keanekaragaman hayati, yang kini dipastikan menjadi habitat spesies laut paling langka dan ikonik yang ditemukan di perairan Indonesia,” tulis Chappuis dan kolega..

Latimeria menadoensis yang spesimen basahnya berada di Gedung Widya Satwaloka, BRIN, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia.

Tri Eko Wahjono, Ketua Tim Fungsi Layanan Koleksi Ilmiah, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan keberadaan Coelacanth di perairan Sulawesi menunjukkan bahwa laut Indonesia memiliki keanekaragaman hayati luar biasa yang masih menyimpan banyak misteri. Perlindungan habitat laut dalam menjadi semakin penting untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini, yang dikategorikan sebagai spesies terancam punah.

Latimeria menadoensis merupakan penemuan paling spektakuler dalam dunia biologi kelautan. Sebagai makhluk yang telah bertahan sejak zaman dinosaurus, ikan ini memberikan wawasan berharga tentang evolusi dan ekologi laut dalam. Namun, tantangan utama saat ini adalah memastikan bahwa spesies ini tetap lestari di habitat alaminya. Dengan penelitian dan konservasi yang tepat, kita dapat terus mempelajari makhluk luar biasa ini tanpa mengancam keberadaannya,” jelasnya, dikutip dari situs BRIN, Selasa (18/3/2025).

Dijelaskan dia lagi, keberadaan Latimeria menadoensis menyoroti pentingnya kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat lokal dalam pelestarian spesies langka. Dengan meningkatkan kesadaran akan nilai ekologis ikan ini, diharapkan lebih banyak upaya konservasi yang melibatkan pemangku kepentingan.

Indonesia pada 2024 telah menerbitkan Indonesia Biodiversity Strategies and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, dengan target ambisius melindungi 30% wilayah lautnya sebagai kawasan konservasi perairan pada 2045. Pemerintah telah menetapkan lebih dari 400 Kawasan Konservasi Perairan (KKP), dengan luasan 28 juta hektar.

Kawasan yang besar, tidak otomatis menghadirkan perlindungan efektif. Manajemen berbasis sains dan pelibatan komunitas lokal adalah kuncinya.

 

Referensi:

Chappuis, A., Hendrawan, I. G., Achmad, M. J., Clément, G., Erdmann, M. V., Hukom, F. D., Leblond, J., & Limmon, G. V. (2025). First record of a living coelacanth from North Maluku, Indonesia. Scientific Reports, 15, Article 14074. https://doi.org/10.1038/s41598-025-90287-7

 

*****

 

Ikan Purba Hidup yang Melebihi Era Dinosaurus Ini Ada di Indonesia

Exit mobile version