Mongabay.co.id

Dua Spesies Burung Beracun Baru Ditemukan, Dagingnya Terasa Membakar seperti Cabai

Regent whistler (Pachycephala schlegelii), salah satu dari dua spesies burung yang diketahui membawa racun batrachotoxin pada bulunya. Foto: John Manger, CSIRO, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons.

Tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan Museum Sejarah Alam Denmark menemukan dua spesies burung beracun baru selama ekspedisi ke pegunungan hutan hujan Papua Nugini. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology pada 2023 dan menjadi catatan penting karena tidak ada spesies burung beracun baru yang ditemukan dalam lebih dari dua puluh tahun terakhir.

Dua spesies yang dimaksud adalah kancilan obuhai, atau regent whistler (Pachycephala schlegelii) dan rufous-naped bellbird (Aleadryas rufinucha). Keduanya termasuk burung yang umum dijumpai di kawasan tersebut, sehingga sifat beracun pada bulu dan kulitnya baru terungkap setelah dilakukan analisis laboratorium terhadap sampel yang dikumpulkan di lapangan.

Racun yang ditemukan pada kedua burung ini adalah batrachotoxin, salah satu neurotoksin paling kuat yang diketahui sains. Nama batrachotoxin berasal dari bahasa Yunani batrachos yang berarti katak, karena senyawa ini pertama kali diidentifikasi pada katak panah beracun (poison dart frog) di Amerika Tengah dan Selatan. Batrachotoxin diketahui sekitar 250 kali lebih toksik dibanding strychnine, dan pada konsentrasi tinggi seperti yang ditemukan di kulit katak emas beracun (golden poison frog), racun ini dapat menyebabkan kejang otot hebat dan kegagalan jantung dalam hitungan menit setelah kontak.

Diagram hasil penelitian yang memetakan keragaman burung beracun di Papua Nugini. (a) Pohon filogenetik famili burung yang diuji kandungan batrachotoxin (BTX)-nya, dengan famili beracun ditandai huruf tebal, termasuk dua spesies yang baru diketahui beracun (kancilan obuhai dan rufous-naped bellbird). (b) Peta panas kadar BTX pada bulu tiap individu burung. (c) Struktur kimia enam turunan BTX yang ditemukan. (d) Jejaring molekuler yang mengonfirmasi keterkaitan antarturunan BTX tersebut. Ilustrasi burung: © The Cornell Lab of Ornithology (digital) / © Lynx Edicions (cetak). Sumber: Bodawatta et al. (2023), Molecular Ecology.

Pada burung, senyawa ini bekerja dengan memaksa kanal natrium pada jaringan otot rangka tetap terbuka, yang jika terjadi pada konsentrasi tinggi dapat memicu konvulsi dan kematian. Namun kadar racun pada bulu regent whistler dan rufous-naped bellbird jauh lebih rendah dibanding pada katak, sehingga tidak mematikan bagi manusia. Penduduk lokal di Papua Nugini melaporkan daging kedua burung ini terasa membakar seperti cabai, dan karena itu tidak dikonsumsi.

Racun ini diduga berasal dari makanan burung, bukan diproduksi sendiri oleh tubuhnya. Penelitian terdahulu menunjukkan kumbang dari genus Choresine sebagai kemungkinan sumber batrachotoxin di alam liar Papua Nugini, dan burung memetabolisme senyawa tersebut sehingga terakumulasi di kulit dan bulu sebagai bentuk pertahanan diri. Fungsi pasti dari racun ini, apakah untuk mengusir predator atau melindungi diri dari parasit kulit dan ektoparasit bulu, hingga kini belum dapat dipastikan.

Mengapa Sang Burung Tidak Keracunan?

Bagian paling menarik dari penelitian ini adalah bagaimana kedua burung dapat membawa racun mematikan tanpa membahayakan dirinya sendiri. Tim peneliti menemukan mutasi pada gen Nav1.4, gen yang mengatur kanal natrium pada otot rangka, di kedua spesies tersebut. Mutasi ini memberikan resistensi terhadap efek batrachotoxin pada tubuh burung sendiri.

Rufous-naped bellbird (Aleadryas rufinucha), spesies burung kedua yang baru diketahui membawa racun batrachotoxin pada bulunya, difoto di pegunungan Papua Nugini. Foto: themaskedlapwing/iNaturalist, CC BY 4.0.

Menariknya, lokasi mutasi pada burung tidak sepenuhnya sama dengan lokasi mutasi serupa yang ditemukan pada katak panah beracun, meskipun keduanya sama-sama menghasilkan efek resistensi. Kondisi ini menjadi contoh evolusi konvergen, di mana dua kelompok hewan yang tidak berkerabat dekat mengembangkan solusi biologis yang mirip secara terpisah untuk menghadapi tantangan yang sama . Temuan ini melengkapi daftar burung beracun yang sebelumnya sudah diketahui dari kawasan Papua Nugini, seperti pitohui dan Ifrita kowaldi, yang lebih dulu diidentifikasi mengandung batrachotoxin oleh ornitolog Jack Dumbacher pada awal 1990-an. Dengan bertambahnya jumlah spesies yang diketahui beracun, peneliti kini memiliki lebih banyak bahan pembanding untuk mempelajari bagaimana dan mengapa sifat ini berkembang pada burung.

Proses pengumpulan sampel di lapangan sendiri bukan pekerjaan ringan. Kasun Bodawatta, salah satu peneliti utama, menceritakan bahwa proses pengambilan sampel bulu di ruang tertutup dapat menimbulkan iritasi pada mata dan hidung, dengan sensasi yang ia bandingkan dengan efek mengiris bawang.

Perlu dicatat, lokasi penemuan ini berada di wilayah pegunungan Papua Nugini, negara yang terpisah dari Papua di wilayah Indonesia meski berbagi pulau yang sama. Kedua spesies burung ini belum dilaporkan secara khusus dari sisi Papua Indonesia, sehingga masih terbuka kemungkinan penelitian lanjutan untuk memastikan sebaran keduanya di seluruh Pulau Papua.

**

Referensi:

Bodawatta, K. H., Hu, H., Schalk, F., Daniel, J.-M., Maiah, G., Koane, B., Iova, B., Beemelmanns, C., Poulsen, M., & Jønsson, K. A. (2023). Multiple mutations in the Nav1.4 sodium channel of New Guinean toxic birds provide autoresistance to deadly batrachotoxin. Molecular Ecology, 33(9), e16878. https://doi.org/10.1111/mec.16878

Exit mobile version