Gurun Sahara adalah salah satu lingkungan paling ekstrem di bumi, namun bukan berarti tanpa kehidupan. Di balik hamparan pasir dan bebatuan yang tampak kosong, sejumlah spesies telah berevolusi selama jutaan tahun untuk bertahan di kondisi yang membunuh makhluk hidup lain. Salah satu yang paling sulit ditemukan adalah kucing pasir (Felis margarita), felid mungil yang begitu mahir menyembunyikan diri hingga keberadaannya di Libya sempat dianggap tidak pernah ada, bahkan setelah ada yang mengklaim melihatnya langsung.
Pada 2017, fotografer satwa liar Mohammed Almuntasir mengunggah video berdurasi 18 detik ke YouTube. Dalam rekaman singkat itu, seekor kucing kecil berwarna pucat tampak menggali pasir di antara bukit-bukit pasir terpencil di barat daya Libya. Almuntasir tidak berpikir banyak soal video itu.
Namun rekaman tersebut ternyata menjadi bukti material pertama bahwa kucing pasir (Felis margarita) benar-benar hidup di Libya, sebuah negara yang selama ini menganggap spesies ini telah punah secara lokal.
Satu-satunya Kucing Sejati Penghuni Gurun
Kucing pasir adalah satu-satunya felid di dunia yang beradaptasi sepenuhnya pada kondisi gurun sejati. Tidak seperti kucing liar lain yang masih bergantung pada keberadaan air atau vegetasi lebih lebat, kucing pasir mampu bertahan hidup sepenuhnya di lingkungan hiperkeringdi mana suhu siang bisa melampaui 40 derajat Celsius dan malam turun mendekati titik beku.
Ukurannya tidak lebih besar dari kucing rumahan, dengan berat tubuh antara 1,5 hingga 3,4 kilogram. Kakinya dilapisi bulu tebal yang berfungsi seperti bantalan, melindungi telapaknya dari pasir yang membakar sekaligus memudahkan pergerakan di atas permukaan berpasir. Telinganya besar dan lebar, membantu mendeteksi suara mangsa yang bergerak di bawah pasir.
Warna bulunya, krem keabu-abuan dengan corak samar, menyatu sempurna dengan lanskap gurun. Di siang hari, kucing ini hampir tidak mungkin terlihat, bahkan dari jarak dekat. Itulah sebabnya ia mendapat julukan “hantu gurun.” Sifatnya yang nokturnal semakin mempersulit pengamatan: ia baru aktif berburu setelah matahari terbenam, memanfaatkan pendengaran tajamnya untuk melacak mangsa dalam gelap.
Makanan utamanya adalah hewan pengerat seperti jerboa, namun kucing pasir juga dikenal memangsa ular berbisa dan kalajengking, sesuatu yang jarang dilakukan felid lain seukurannya. Kemampuan ini menjadikannya predator penting dalam ekosistem gurun: dengan menekan populasi hewan pengerat dan reptil berbisa, kucing pasir membantu mencegah kerusakan berantai pada vegetasi terbatas yang menopang seluruh rantai makanan di lingkungan gersang tersebut.
Kucing pasir juga tidak perlu minum air secara langsung. Kebutuhan cairannya terpenuhi hampir sepenuhnya dari mangsa yang dimakannya, sebuah adaptasi fisiologis yang memungkinkannya menghuni wilayah-wilayah gurun yang tidak dapat dijangkau felid lain.
Awalnya Tidak Ada yang Percaya
Di Libya, keberadaan kucing pasir sudah lama menjadi perdebatan. Beberapa penulis memasukkan Libya dalam peta sebaran spesies ini berdasarkan laporan yang tidak terverifikasi, sementara yang lain mengecualikannya karena tidak ada bukti konkret. Pada 2012, sebuah penilaian resmi menyatakan kucing pasir telah punah secara lokal di Libya.
Maka ketika Almuntasir mengunggah videonya, respons yang ia terima mencerminkan skeptisisme ilmiah yang sudah lama mengakar. “Ketika saya mengunggahnya, tidak ada yang percaya bahwa video itu diambil di Libya,” katanya. “Semua orang menyangkalnya, tapi saya terus bersikukuh bahwa kucing ini ada di sini, di beberapa tempat. Salah satunya hanya 70 kilometer dari Zintan, tempat saya tinggal.”
Video itu akhirnya menarik perhatian Firas Hayder, ahli zoologi spesialis karnivora kecil yang saat itu menjadi peneliti pascadoktoral di Sol Plaatje University, Afrika Selatan. Hayder telah menelaah setiap sumber ilmiah yang menyebut kucing pasir di Libya, dan tidak menemukan satu pun bukti berupa koordinat atau dokumentasi konkret.
Ketika Hayder bertanya kepada Almuntasir di mana tepatnya ia melihat kucing itu, jawabannya mengejutkan. “Dia bilang pernah mengamatinya di beberapa area berbeda,” kata Hayder. “Itulah yang mengejutkan saya.”
Delapan Tahun Kolaborasi Jarak Jauh
Keduanya kemudian memulai kolaborasi yang berlangsung hampir delapan tahun dan dilakukan hampir seluruhnya dari jarak jauh. Hayder mengajarkan metode penelitian lapangan dari Afrika Selatan: bagaimana mencatat koordinat GPS, mendokumentasikan setiap penampakan dengan foto atau video. Almuntasir menerapkannya di gurun barat daya Libya, sambil mengumpulkan keterangan dari komunitas Tuareg setempat yang sangat mengenal medan tersebut.
Ia pergi ke lapangan bersama para pemburu lokal dari Zintan, membawa kamera alih-alih senapan. Dalam beberapa kasus, ia dan pemandunya mengikuti jejak cakar selama berhari-hari hingga menemukan sarang, lalu mendirikan tenda dan menunggu hewan itu keluar.
Pekerjaan itu berbahaya. Jaringan penyelundupan yang aktif di wilayah perbatasan Libya dengan Aljazair, Niger, dan Chad membuat kerja lapangan berisiko tinggi. “Pada satu kesempatan, kami ditembaki selama perjalanan, dan kami terpaksa segera meninggalkan area itu,” kata Almuntasir.
Upaya panjang itu menghasilkan sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Arid Environments pada Februari 2026. Studi tersebut mendokumentasikan kucing pasir di 13 lokasi di Sahara Libya, serta Saharan striped polecat (Poecilictis libyca) di delapan lokasi baru, tujuh di antaranya berada di luar rentang IUCN yang diakui saat ini.
Dari total 36 penampakan kucing pasir, 15 di antaranya terkonsentrasi di Wadi Armet, sebuah lembah terpencil sekitar 1.000 kilometer barat daya Tripoli. “Lembah ini sangat luas,” kata Almuntasir. “Lebih dari separuhnya belum pernah dijelajahi karena medannya sangat berat. Banyak hewan bermigrasi ke sana di musim panas karena ada air. Banyak di antaranya datang dari cagar alam Tassili n’Ajjer di sisi Aljazair.”
Pola migrasi lintas batas itu mengisyaratkan adanya koridor satwa liar gurun yang tidak mengikuti batas-batas politik, dan bahwa konektivitas habitat antara Libya dan Aljazair kemungkinan membantu mempertahankan populasi spesies ini.
Ancaman yang Belum Tertangani
Para peneliti juga mendokumentasikan kasus-kasus kucing pasir yang dijual sebagai hewan peliharaan di pasar lokal, dan dalam beberapa kasus terbunuh secara tidak sengaja oleh pemburu. Saharan striped polecat dilaporkan digunakan dalam pengobatan tradisional.
Libya sendiri mengakui minimnya kapasitas konservasi di wilayah barat dayanya: tidak ada kawasan lindung, tidak ada infrastruktur kamera jebak, tidak ada tim lapangan terlatih, dan tidak ada otoritas pusat yang berfungsi untuk mengoordinasikan penelitian.
Ibrahim Elkahwage, Ketua Libya Wildlife Trust dan Komite IUCN Libya, menyebut studi ini sebagai kontribusi penting. “Selalu ada tanda tanya besar soal Libya karena sedikitnya studi dan survei,” katanya. “Penelitian ini bisa membantu mengungkap keanekaragaman hayati yang tersembunyi di Sahara Libya.”
Bagi Hayder, temuan ini baru permulaan. “Semua warga Libya harus dilibatkan dalam upaya konservasi,” katanya. “Mereka perlu merasa punya tanggung jawab, bahwa spesies ini mewakili lingkungan dan negara mereka.”
**
Referensi
Hayder, F., Madikiza, Z.J.K., Almuntasir, M.S.H., Sahbana, A.J., Mabrok, A.M., Hasan, M.S., & Do Linh San, E. (2026). Rediscovering desert ghosts: new records and range extensions of the sand cat and Saharan striped polecat in Libya. Journal of Arid Environments, 105485. https://doi.org/10.1016/j.jaridenv.2025.105485
