Mongabay.co.id

Bagaimana Garangan Bisa Memakan Kobra Hidup-Hidup, Termasuk Kantung Racunnya

Seekor garangan berhadapan langsung dengan kobra yang tengah mengembangkan tudungnya. Meski jauh lebih kecil, garangan adalah salah satu dari sedikit mamalia di dunia yang tubuhnya secara biologis resistan terhadap neurotoksin kobra. Foto: Pravda.Ru (Public Domain)

Garangan adalah mamalia kecil berbadan ramping dengan moncong runcing dan kaki pendek, beratnya hanya sekitar satu hingga dua kilogram. Di Indonesia, garangan jawa (Herpestes javanicus) bisa ditemukan di Jawa, Bali, dan beberapa pulau lain. Secara keseluruhan ada sekitar 34 spesies garangan yang tersebar di Afrika, Asia Selatan, hingga Semenanjung Iberia, dan meski ukuran maupun habitatnya berbeda-beda, hampir semua spesies berbagi satu reputasi yang sama: tidak takut ular berbisa.

Penampilannya memang tidak mengesankan. Tapi garangan punya kebiasaan yang sulit dipercaya: ia secara rutin berburu kobra, mengalahkannya, lalu memakannya sampai habis, termasuk kantung racunnya. Bukan sesekali, dan bukan karena kebetulan. Garangan memang mencari kobra sebagai mangsa, dan dalam sebagian besar pertemuan, garanganlah yang menang.

Racun Kobra Tidak Bisa Bekerja di Tubuh Garangan

Kobra membunuh dengan cara memblokir sinyal antara saraf dan otot. Begitu toksinnya masuk ke tubuh korban, otot berhenti merespons, termasuk otot pernapasan. Korban lumpuh, lalu mati. Pada sebagian besar hewan seukuran garangan, satu gigitan kobra sudah cukup untuk mengakhiri segalanya.

Pada garangan, proses itu tidak berjalan seperti seharusnya. Selama jutaan tahun evolusi, tubuh garangan mengembangkan perubahan kecil pada protein tertentu di sel ototnya, perubahan yang membuat toksin kobra kehilangan tempat untuk menempel. Racunnya masuk ke tubuh, tapi tidak bisa bekerja. Seperti kunci yang bentuknya sudah tidak cocok lagi dengan lubang kuncinya.

Ilustrasi garangan dan kobra dari abad ke-19. Perseteruan antara kedua hewan ini sudah lama tercatat dalam literatur ilmu alam, jauh sebelum sains modern menjelaskan mekanisme biologis di baliknya. Ilustrasi: “Mungoose and Cobra,” karya J. Smit, dari The Illustrated Natural History oleh J.G. Wood (1865). Public Domain.

Menariknya, garangan bukan satu-satunya. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Toxicon menemukan bahwa setidaknya empat kelompok mamalia mengembangkan perlindungan serupa secara terpisah: garangan, landak, babi, dan badger madu. Masing-masing berevolusi sendiri-sendiri tanpa “mewarisi” kemampuan ini dari nenek moyang yang sama, tapi tiba pada solusi yang mirip. Para peneliti menyebut ini evolusi konvergen, ketika spesies berbeda menghadapi tekanan yang sama dan menghasilkan jawaban yang serupa.

Dalam hal ini, tekanan yang dimaksud adalah kobra.

Namun perlindungan ini tetap ada batasnya. Resistansi garangan terutama bekerja terhadap neurotoksin kobra dan ular dari kelompok yang sama. Terhadap jenis racun lain yang merusak jaringan atau darah, seperti milik banyak ular viper, garangan tidak punya keunggulan khusus. Dan jika kobra menggigit berkali-kali dalam satu pertarungan dengan dosis racun yang besar, garangan tetap bisa kalah. Diperkirakan garangan menang sekitar 75 hingga 80 persen dari duel melawan kobra. Angka yang tinggi, tapi bukan tanpa risiko.

Kelincahan yang Melengkapi Ketahanan Tubuh

Karena perlindungan biologisnya tidak sempurna, garangan tidak bertarung dengan sembarangan. Ia tidak langsung menyerang begitu melihat kobra. Sebaliknya, ia bergerak hati-hati, membaca ritme serangan ular, terus menghindar sambil mencari celah yang tepat untuk menyerang bagian kepala dan tengkuk. Kelincahan dan refleksnya yang tajam sama pentingnya dengan ketahanan biologisnya. Keduanya bekerja bersama sebagai satu sistem.

Garangan kecil india (Herpestes auropunctatus), predator gesit yang pernah dilepasliarkan di Pulau Amami Oshima untuk membasmi ular habu, namun justru mengancam satwa endemik pulau tersebut. | Foto: NJ Stuart/Flickr (CC BY-NC-ND 2.0)

Garangan juga punya keberanian yang terdokumentasi dengan baik. Rekaman dari berbagai penelitian lapangan menunjukkan garangan tidak hanya berburu kobra biasa, tetapi juga menghadapi kobra raja, salah satu ular berbisa terpanjang dan paling berbahaya di dunia. Dalam beberapa kasus, garangan bahkan tercatat menghadapi empat ekor singa sekaligus dan tidak mundur.

Setelah pertarungan selesai dan kobra berhasil dilumpuhkan, garangan memakannya secara utuh, kantung racun sekalipun. Ini aman karena toksin kobra hanya berbahaya jika disuntikkan langsung ke aliran darah. Jika masuk lewat mulut dan melewati sistem pencernaan, toksin itu dipecah seperti protein biasa dan tidak membahayakan sama sekali. Bagi garangan, yang bagi hewan lain adalah ancaman paling mematikan, tidak lebih dari sumber protein.

Hubungan antara garangan dan kobra sudah berlangsung jutaan tahun, dan keduanya terus berevolusi menghadapi satu sama lain. Kobra mengembangkan racun yang makin efektif, garangan mengembangkan pertahanan yang makin baik. Tidak ada yang benar-benar menang secara permanen. Tapi untuk saat ini, dalam sebagian besar duel, garangan yang pulang dengan perut kenyang.

**

Referensi:

Drabeck DH, Dean AM, Jansa SA. Why the honey badger don’t care: Convergent evolution of venom-targeted nicotinic acetylcholine receptors in mammals that survive venomous snake bites. Toxicon. 2015 Jun 1;99:68-72. doi: 10.1016/j.toxicon.2015.03.007. Epub 2015 Mar 18. PMID: 25796346.

Exit mobile version