Mongabay.co.id

Jaguarundi, Kucing Liar Yang Mirip Berang-berang, Punya 13 Suara Berbeda

Jaguarundi dapat mengeluarkan setidaknya 13 suara berbeda, termasuk mendengkur, menjerit, bersiul, menyalak, mengoceh, dan kicauan unik seperti burung | Foto oleh Joachim S. Müller CC BY-NC-SA 2.0

Di antara ratusan spesies kucing liar yang pernah tercatat di muka bumi, jaguarundi adalah salah satu yang paling sulit untuk dikenali, bahkan oleh mereka yang sudah terbiasa dengan satwa liar. Ia tidak memiliki totol seperti ocelot, tidak memanjat pohon dengan anggun seperti margay, dan tidak terancam punah seperti harimau yang selalu muncul di poster kampanye konservasi. Dengan tubuh memanjang, kepala pipih, telinga bulat kecil, dan bulu polos tanpa satu pun tanda, sebagian orang mengatakan ia lebih mirip berang-berang daripada kucing. Dan tidak seperti kebanyakan kucing liar, ia mampu mengeluarkan sedikitnya 13 suara berbeda, mulai dari siulan, kicauan seperti burung, hingga dengkuran, sebuah repertoar vokal yang tidak tertandingi di antara seluruh famili kucing.

Jaguarundi (Herpailurus yagouaroundi) juga bukan kerabat jaguar meski namanya terdengar demikian, melainkan lebih dekat dengan puma, dengan garis keturunan yang diperkirakan berpisah 4-7 juta tahun silam. Ia aktif di siang hari, bukan malam, sesuatu yang tidak lazim untuk kucing liar. Dan ia adalah felid kecil yang paling tersebar luas di seluruh belahan bumi barat, dengan distribusi yang hanya kalah dari puma di antara seluruh karnivora Amerika. Lalu mengapa kita hampir tidak tahu apa-apa tentangnya?

Punah di AS, Tak Terlihat di Mana-mana

Pada 2025, jaguarundi resmi dinyatakan punah di Texas, AS. Individu terakhir yang tercatat di AS adalah seekor jaguarundi yang mati tertabrak kendaraan di dekat Brownsville, Texas, pada 1986. Hampir empat dekade tanpa satu pun penampakan yang terdokumentasi.

Para peneliti dari Caesar Kleberg Wildlife Research Institute di Texas A&M University menghabiskan 18 tahun memasang kamera di 685 titik di wilayah persebaran historis jaguarundi. Mereka berhasil mengabadikan 126 foto, namun semuanya berasal dari Tamaulipas, negara bagian Meksiko yang berbatasan dengan Texas. Tidak satu pun dari sisi Amerika. Ekspansi pertanian dan hilangnya semak belukar lebat dianggap sebagai penyebab utama kepunahan lokal ini.

Kepunahan di Texas bukan sekadar kehilangan lokal. Ia adalah sinyal. Di Brasil, jaguarundi dikategorikan Rentan (Vulnerable). Di Meksiko, Terancam. Di Guatemala, ia masuk daftar spesies terancam karena ukuran populasinya yang kecil. Namun secara global, IUCN masih mengklasifikasikannya sebagai Least Concern, sebuah klasifikasi yang para penilai IUCN sendiri akui tidak cukup mencerminkan kondisi sebenarnya.

Seekor jaguarundi berwarna abu-abu keperakan di Brasil. . Gambar atas izin dari Wild Cats Americas Conservation Project.

Salah satu ancaman yang paling mengkhawatirkan justru bukan deforestasi, melainkan sesuatu yang jauh lebih tak terduga: anjing. Tadeu de Oliveira, profesor di Universitas Negeri Maranhão, Brasil, menyebut ini “ancaman tak terlihat.” Di lokasi studinya di seluruh Amazon dan kawasan semi-kering Caatinga, anjing domestik dan anjing liar dalam jumlah besar menggunakan area yang sama persis dengan jaguarundi. Penularan penyakit seperti Canine Parvovirus dan Canine Distemper Virus kini diakui sebagai ancaman nyata yang selama ini luput dari perhatian.

Kolaborasi Besar untuk Kucing yang Diabaikan

Ironisnya, kucing yang paling tersebar luas di Amerika ini justru salah satu yang paling sedikit dipelajari. Sangat sulit dijebak untuk dipasangi radio-collar. Bulunya yang polos tanpa tanda membuat identifikasi individu via kamera jebakan hampir mustahil. Dan karena statusnya Least Concern, dana riset mengalir ke tempat lain.

“Tidak akan ada yang mau memberi uang untuk meneliti jaguarundi,” kata Anthony Giordano, direktur S.P.E.C.I.E.S., organisasi nirlaba konservasi karnivora.

Peta prediktif yang menunjukkan kemungkinan keberadaan jaguarundi di seluruh wilayahnya, berdasarkan data yang dipublikasikan dalam studi baru Diversity and Distributions. Area berwarna hijau memiliki probabilitas lebih tinggi untuk ditempati oleh jaguarundi, dan area berwarna merah memiliki probabilitas lebih rendah untuk ditempati oleh spesies ini. Area berwarna biru menunjukkan lokasi di mana jaguarundi diketahui tidak ada. Peneliti dari 17 institusi yang bekerja di 13 negara menyumbangkan data kamera jebakan untuk studi pemodelan ini. Gambar atas izin dari Bart Harmsen, diadaptasi dari Harmsen et al (2024).

Maka para peneliti mencari jalan lain. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Diversity and Distributions pada 2024 melibatkan peneliti dari 17 institusi di 13 negara, mengumpulkan 884 catatan jaguarundi dari hampir 4.000 kamera di lebih dari 650 lokasi. Hasilnya adalah peta prediktif pertama yang cukup komprehensif tentang kemungkinan keberadaan jaguarundi di seluruh wilayah persebarannya. Jaguarundi lebih mungkin ditemukan di medan berbukit dengan vegetasi semak, atau di dekat kawasan pedesaan, di tempat-tempat dengan curah hujan dan suhu harian yang lebih konstan. Bukan hutan lebat, melainkan pinggiran, semak, ruang antara.

Kepadatan populasinya diperkirakan hanya 1-5 individu per 100 kilometer persegi, bahkan bisa lebih rendah. Artinya, meski tersebar dari Meksiko hingga Argentina, jumlah totalnya bisa jauh lebih kecil dari yang selama ini kita bayangkan.

**

Referensi:

Lombardi, J. V., Haines, A. M., Watts, G. W., Grassman, L. I., Janečka, J. E., Caso, A., Carvajal, S., Wardle, Z. M., Yamashita, T. J., Stasey, W. C., Branney, A. B., Scognamillo, D. G., Campbell, T. A., Young, J. H., & Tewes, M. E. (2022). Status and distribution of jaguarundi in Texas and northeastern México: Making the case for extirpation and initiation of recovery in the United States. Ecology and Evolution, 12(3), e8642. https://doi.org/10.1002/ece3.8642

Exit mobile version