Mongabay.co.id

Puluhan Garangan Dilepas di Pulau Ini untuk Membasmi Ular, Tapi Berubah Jadi Bencana Ekologi

Garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) | Foto: NJ Stuart/Flickr (CC BY-NC-ND 2.0)

Di berbagai belahan dunia, spesies asing yang sengaja diperkenalkan manusia sering kali menimbulkan dampak yang tidak terduga. Hewan yang awalnya dianggap solusi justru dapat berubah menjadi ancaman baru. Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Pulau Amami Oshima, Jepang, ketika puluhan garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) dilepasliarkan untuk membasmi ular berbisa, namun akhirnya menjadi malapetaka bagi satwa endemik pulau tersebut.

Pada 1979, sekitar 30 ekor garangan didatangkan ke Amami Oshima untuk mengendalikan populasi ular habu (Protobothrops flavoviridis), ular berbisa yang selama puluhan tahun menjadi ancaman bagi masyarakat setempat. Namun ada satu kekeliruan mendasar yang tidak diperhitungkan: garangan aktif pada siang hari, sementara ular habu berburu pada malam hari. Akibatnya, kedua spesies ini jarang bertemu di alam. Alih-alih memburu habu, garangan beralih memangsa satwa yang lebih mudah ditemukan.

Ular habu (Protobothrops flavoviridis), pit viper berbisa yang menjadi alasan diperkenalkannya garangan ke Amami Oshima pada 1979, dengan akibat yang justru jauh lebih merugikan bagi ekosistem pulau tersebut. | Foto: Mmsmr/Wikimedia Commons (CC0 1.0)

Amami Oshima, yang terletak di Prefektur Kagoshima, Jepang bagian selatan, adalah rumah bagi banyak satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia, termasuk kelinci Amami (Pentalagus furnessi), tikus berduri Amami, berbagai katak, burung, dan reptil yang berevolusi secara terpisah selama jutaan tahun. Bagi spesies yang tumbuh tanpa tekanan predator mamalia besar, kedatangan garangan menjadi ancaman yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.

Perlu Waktu 50 Tahun

Tanpa predator alami yang efektif, populasi garangan meledak dari sekitar 30 individu menjadi sekitar 10.000 ekor pada tahun 2000. Kelinci Amami, yang sering disebut “fosil hidup” karena mempertahankan karakteristik nenek moyang kelinci purba, menjadi salah satu spesies yang paling terdampak. Sejumlah katak endemik dan hewan kecil lainnya juga mengalami tekanan serupa.

Garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) tertangkap kamera di hutan Amami Oshima. Selama program eradikasi berlangsung, kamera sensor seperti ini dipasang di seluruh penjuru pulau untuk memantau keberadaan dan pergerakan populasi garangan. | Foto: Kementerian Lingkungan Jepang (CC BY 4.0)

Ketika dampak ekologis semakin nyata, pemerintah Jepang mulai menjalankan program pengendalian garangan pada awal 1990-an. Ribuan perangkap dipasang, kamera sensor digunakan untuk memantau keberadaan hewan, dan anjing pelacak dilatih untuk menemukan individu yang tersembunyi di kawasan hutan sulit dijangkau. Menurut Kementerian Lingkungan Jepang, sekitar 32.000 garangan berhasil ditangkap selama program berlangsung. Pada 3 September 2024, Kementerian Lingkungan Jepang secara resmi menyatakan Amami Oshima bebas garangan.

Kelinci Amami (Pentalagus furnessi) di habitat aslinya. Setelah garangan dinyatakan berhasil dieradikasi dari Amami Oshima pada September 2024, populasi spesies langka ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. | Foto: Wich’yanan Limparungpatthanakij/iNaturalist (CC BY 4.0)

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Oryx pada 2025 menyebut keberhasilan ini sebagai pencapaian penting dalam konservasi pulau, dengan manfaat ekologis dan sosial yang jauh melampaui biaya operasi selama puluhan tahun. Populasi kelinci Amami dan beberapa satwa endemik lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah tekanan predasi berkurang.

Kisah Amami Oshima menjadi pengingat keras bahwa apa yang awalnya tampak sebagai solusi sederhana dapat membutuhkan waktu hampir setengah abad dan biaya jutaan dolar untuk diperbaiki. Setiap introduksi spesies asing, sekalipun dengan niat baik, harus didasarkan pada kajian ilmiah yang matang.

**

Referensi:

Kubo T, Mameno K. Mongoose eradication achieved on Japanese World Heritage island: social benefits outweigh costs. Oryx. 2025;59(3):286-286. doi:10.1017/S0030605325000250

Exit mobile version