- Lukisan gua prasejarah di karst Pegunungan Meratus terancam sawit. Padahal, ini adalah dokumen hidup bukti keberadaan manusia di wilayah itu.
- Bambang Sugiyanto, peneliti BRIN di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, menyebut, ini bukan sekadar seni mati, melainkan semacam KTP leluhurnya orang Dayak Meratus.
- Meski memiliki nilai sejarah, Mantewe tengah terancam. Salah satunya, karena berada di tengah tekanan ekspansi perkebunan kelapa sawit.
- Harry Widianto, ahli paleoantropologi senior, menyebut, Kalsel memang memiliki posisi yang strategis untuk mengungkap jalur migrasi manusia prasejarah di Nusantara. Kekayaan tinggalan arkeologis di wilayah ini menunjukkan adanya pertemuan berbagai budaya dan ras purba yang pernah mendiami Kalimantan.
Ekspansi perkebunan sawit mengancam 348 gambar cadas berusia sekitar 2.000 tahun di sembilan gua karst Meratus di Desa Dukuhrejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel). Padahal, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut gambar-gambar cadas ini sebagai ‘kitab’ tertua di Kalimantan. Ia tertulis di dinding gua, bukan di atas kertas.
Gambar itu berupa cerita 14 gambar manusia kangkang sebagai simbol penolak bala, enam gambar perahu arwah pengantar kematian, satu buaya sepanjang sekitar satu meter sebagai penjaga sungai, hingga cap tangan tiga jari misterius di langit-langit gua kubur.
“Ini bukan sekadar seni mati, melainkan semacam KTP leluhurnya orang Dayak Meratus,” kata Bambang Sugiyanto, peneliti BRIN di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah.
Iyan, sapaan akrabnya, menyebut, nilai penting ini terlihat dari keterkaitan gambar cadas dengan budaya Masyarakat Dayak Meratus yang masih bertahan hingga sekarang.
Gambar perahu arwah, misal, dia bilang berhubungan dengan ritual pengantar roh menggunakan replika perahu menuju Gunung Lumut yang banyak Masyarakat Dayak Meratus terapkan. Kemudian gambar buaya yang berkaitan dengan mitos Buaya Kuning sebagai penjaga sungai. Larangan membunuh binatang ini, karena masyarakat percaya kerusakan sungai dapat membawa celaka bagi kampung.
Ada gambar manusia menyerupai posisi Tari Babat, ritual tolak bala yang balian (pemuka adat Dayak Meratus) lakukan.
Dari temuan itu, dia menyimpulkan, Mantewe, berbatasan dengan Pegunungan Meratus, bukan sekadar situs purbakala. Melainkan ‘dokumen hidup’ ribuan tahun tentang cara masyarakat kuno menjaga hubungan dengan alam.
Kawasan ini, kata Iyan, sejatinya memiliki kemiripan motif dengan situs Gua Kaung-Dalu di Kalimantan Barat, yang juga menampilkan gambar manusia, perahu, dan penggunaan warna hitam berbasis arang. Kesamaan-kesamaan mengindikasikan kemungkinan ada jalur migrasi dan budaya Austronesia sekitar 2.000 tahun lalu yang tersebar di Kalimantan.
Tekanan sawit
Meski memiliki nilai sejarah, Mantewe tengah terancam. Salah satunya, karena berada di tengah tekanan ekspansi perkebunan sawit.
Audit terakhir 2024, sekitar 79% panel gambar cadas di kawasan itu dalam kondisi kritis, engelupas, tumbuh lumut, hingga memudar.
Akar sawit, kata Iyan, mampu menembus kedalam tiga meters. Ini berisiko merusak kuburan prasejarah di Liang Bangkai 10 yang hanya berada sekitar satu meter di bawah permukaan tanah.
Selain itu, pembukaan sawit dapat mengubah iklim mikro di dalam gua. Gambar cadas berbahan arang sangat rentan terhadap perubahan kelembapan.
Jika terlalu kering, gambar mudah mengupas. Sendang terlalu lembap justru mempercepat pertumbuhan lumut.
Pupuk dan pestisida yang terbawa aliran air hujan ke dalam gua juga dapat mempercepat pelapukan gambar cadas.
Kondisi ini, katanya, berpotensi melanggar Undang-undang 11/2010 tentang Cagar Budaya. Ada ancaman pidana hingga lima tahun bagi perusakan benda cagar budaya.
Dalam prinsip 7.12 Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) juga mewajibkan perusahaan sawit melindungi situs warisan budaya.
“Kalau dibiarkan, musim tanam 2026 menjadi pemakaman massal bagi 348 gambar leluhur,” katanya.
Untuk itu, dia sarankan pemerintah desa hingga kabupaten segera menerbitkan perlindungan hukum bagi kawasan Liang Bangkai. Salah satunya melalui Surat Keputusan Kepala Desa tentang Kawasan Cagar Budaya Liang Bangkai sebagai payung hukum awal.
Selain itu, Pemerintah Tanah Bumbu dan DPRD harus segera menyusun Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya dengan menetapkan koridor budaya Liang Bangkai sebagai zona inti yang tidak boleh terganggu aktivitas perkebunan maupun pertambangan.
Upaya fisik juga melalui pembangunan pagar kawat sepanjang 1,2 kilometer mengelilingi zona inti seluas 5,12 hektar menggunakan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
Sementara dari sisi komunitas, warga desa dia minta membentuk patroli pemuda untuk pengawasan rutin, memasang plang adat di sekitar kawasan sawit, hingga menghidupkan pendidikan budaya bagi anak-anak melalui wisata gua dan pengenalan cerita rakyat Buaya Kuning.
Dia mengusulkan kawasan Mantewe jadi Cagar Budaya Nasional pada 2030. Bahkan, kawasan itu, berpeluang bersama situs Kaung-Dalu di Kalimantan Barat sebagai nominasi serial UNESCO dengan nama “Borneo Black Corridor.”
Mantewe, katanya, dapat membuat Tanah Bumbu terkenal bukan karena sawit atau tambang, melainkan karena mampu menjaga jejak peradaban leluhur. Apalagi, koridor karst seluas 5,12 hektar itu juga berpotensi menjadi destinasi ekowisata kelas dunia jika pengelolaannya serius, seperti kawasan Leang-Leang di Sulawesi Selatan.
Iyan memperkirakan potensi kunjungan dapat mencapai 100 wisatawan per hari. Dengan tiket masuk Rp25.000, kawasan itu mampu menghasilkan sekitar Rp75 juta per bulan.
Dia yakin, wisatawan dapat membuka lapangan kerja bagi pemuda desa sebagai pemandu wisata, sekaligus menambah penghasilan warga melalui usaha homestay.
“Jangan sampai 10 tahun lagi kita bilang ke anak cucu dulu di sini ada gambar leluhur, tapi sudah hancur karena kita diam.”
Mantewe, katanya, juga dapat menjadi pintu gerbang timur paling lengkap dalam jaringan budaya prasejarah di Kalimantan. Temuan di Liang Bangkai 10 berupa sisa rangka manusia yang berada dalam satu koridor budaya dengan galeri seni cadas utama di Liang Bangkai 1 memperkuat analisis itu.
Koridor budaya juga menjadi jalur ritual masyarakat prasejarah. Hubungan antara lokasi gambar cadas dan area pemakaman menunjukkan penghuni kawasan bukan sekadar tempat singgah, melainkan tempat hidup, meninggal, lalu dikuburkan dengan tata ritual tertentu.
“Di Asia Tenggara, situs yang memiliki tiga paket lengkap berupa gambar cadas, kubur manusia, dan koridor ritual hanya ada di Mantewe.”
Jalur migrasi
Harry Widianto, ahli paleoantropologi senior, menyebut, Kalsel memiliki posisi strategis untuk mengungkap jalur migrasi manusia prasejarah di Nusantara. Kekayaan tinggalan arkeologis di wilayah ini menunjukkan ada pertemuan berbagai budaya dan ras purba yang pernah mendiami Kalimantan.
“Kalimantan Selatan itu sangat prospek untuk diketahui tentang rute migrasinya,” katanya dalam webinar forum Kebhinekaan Seri #36 bertajuk Dinamika Migrasi Manusia dan Budaya Prasejarah, 26 Mei.
Dia bilang, temuan Australomelanesoid dan Austronesia di Kalimantan memperlihatkan ada percampuran budaya purba. Kelompok Austronesia yang masuk ke Kalimantan berasal dari Taiwan melalui jalur timur, masuk ke Tanjung Mangkalihat, lalu bercabang ke Sulawesi Selatan hingga mencapai Polinesia.
“Austronesia yang ada di Kalimantan itu berasal dari Taiwan ini, migrasi jalur timur.”
Harry berujar, bukti budaya dan rangka manusia purba di sepanjang jalur itu saling berkaitan dan memperkuat jejak migrasi manusia di kawasan Asia Tenggara. Penelitiannya di Pegunungan Meratus, di Gua Babi dan Gua Tengkorak, tim menemukan hunian Australomelanesid yang cukup intens, namun belum menemukan jejak Austronesia khas Mangkalihat.
“Baru ada Australomelanesid yang akhirnya saya dalami di situ.”
Penelitian lanjutan yang generasi arkeolog berikutnya lakukan kemudian melengkapi data itu. Dia mengapresiasi temuan terbaru mengenai unsur Mongoloid di Kalimantan yang menurutnya memperkaya variasi genetika dan budaya prasejarah di pulau ini.
“Mongoloid itu berasal dari cabang yang dari Taiwan ya, dari daratan Taiwan.”
Temuan-temuan itu mempertegas Kalsel bukan sekadar jalur perlintasan kuno, tetapi wilayah penting untuk merekonstruksi sejarah panjang migrasi manusia dan perkembangan budaya prasejarah di Asia Tenggara.
*****