- Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) merupakan karnivora yang sangat terspesialisasi. Mereka memfokuskan energinya pada mangsa yang jauh lebih kecil dan melimpah.
- Kucing kuwuk memangsa beragam hewan kecil: hewan pengerat (rodentia), reptil, burung, amfibi, kepiting, dan serangga. Namun di antara semua itu, mamalia kecil terutama tikus dari Famili Muridae.
- Kucing ini memiliki kemampuan adaptasi luar biasa, dari hutan primer hingga kebun sawit. Kucing kuwuk aktif berburu tikus di kebun sawit malam hari, bergerak di permukaan tanah maupun kanopi pelepah sawit.
- Kemampuan tersebut bisa menjadi berkah sekaligus ancaman bagi keberlangsungannya. Meski kucing kuwuk bisa hidup di kebun sawit, namun diversitas mangsa mereka di sana jauh lebih sempit dibandingkan di hutan alam. Di kebun sawit, kucing kuwuk hampir sepenuhnya bergantung pada satu spesies tikus, yakni Maxomys whiteheadi.
Kucing kuwuk, yang memiliki bentuk mungil dan bercorak tutul, juga sering disebut kucing hutan. Kucing dengan nama ilmiah Prionailurus bengalensis ini bukanlah kucing peliharaan yang nyasar ke hutan. Ia adalah pemangsa sejati yang memiliki peran ekologis menjaga keseimbangan alam. Statusnya, dilindungi, berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.
Para peneliti menyebut jenis ini sebagai karnivora yang sangat terspesialisasi. Berbeda dari kucing besar seperti harimau atau macan dahan yang memangsa mamalia besar, kucing kuwuk memfokuskan energinya pada mangsa yang lebih kecil dan melimpah.
Namun, bagaimana pola makan kucing kuwuk ketika hutan tempat hidupnya berubah menjadi kebun sawit atau dikonversi menjadi area penggunaan lain?
Kajian IUCN Red List 2022 yang disusun Ghimirey et al., mencatat bahwa kucing kuwuk memangsa beragam hewan kecil: hewan pengerat (rodentia), reptil, burung, amfibi, kepiting, dan serangga. Namun di antara semua itu, mamalia kecil terutama tikus dari Famili Muridae, konsisten menjadi komponen utama diet mereka di hampir seluruh wilayah sebarannya, yang membentang dari Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Asia Timur.
Kekhususan ini bukan kebetulan evolusi. Dengan berat tubuh hanya 3–7 kilogram, kucing kuwuk tidak dirancang untuk memburu rusa atau babi hutan. Sebaliknya, tubuhnya yang lincah, penglihatan malam yang tajam, dan strategi penyergapan (ambush predator) membuatnya sangat efisien dalam memburu hewan pengerat yang aktif malam hari.
Kucing kuwuk bukan satu-satunya kucing liar yang berkeliaran di hutan-hutan Indonesia. Ada delapan spesies lain yang sama-sama dilindungi dan punya strategi makan sangat berbeda.
Namun, kucing kuwuk adalah spesies yang paling banyak diteliti di antara semua kucing liar di Indonesia. Berkat kemampuan adaptasinya yang luar biasa, baik dari hutan primer hingga perkebunan sawit, kucing kuwuk lebih mudah dijumpai dan dipasangi kamera jebak. Data ilmiah tentangnya jauh lebih kaya dibanding saudara-saudaranya.
Penelitian Wang et al. (2026) dengan judul,“Seasonal variation in activity rhythms of leopard cats (Prionailurus bengalensis), their prey and competitors in southern Anhui,” di Scientific Reports, mengungkap pola aktivitas kucing hutan dengan detil. Menggunakan 37 kamera jebak inframerah yang dipasang selama satu tahun penuh (Mei 2023 – April 2024) di Cagar Alam Provinsi Lingnan, Tiongkok, para peneliti menemukan bahwa kucing kuwuk menunjukkan pola aktivitas bimodal atau dua puncak aktivitas utama: menjelang subuh dan menjelang malam.
“Pola ini berkorespondensi kuat dengan jadwal aktivitas mangsa utama mereka, yaitu tikus,” tulis Wang dan kolega.
Lebih menarik lagi, pola ini tidak statis sepanjang tahun. Perbandingan antarmusim menunjukkan bahwa tumpang-tindih temporal antara kucing hutan dengan mamalia satu kawasan meningkat dari musim semi menuju musim dingin, dengan tumpang-tindih yang lebih nyata pada musim panas dan musim dingin. Para peneliti menyimpulkan bahwa dinamika sumber daya dan tekanan iklim memodulasi waktu aktivitas antarmusim.
Dengan kata lain, saat kondisi lingkungan lebih menuntut cuaca ekstrem atau persaingan sumber daya semakin ketat, kucing hutan merespons dengan memperlebar dan menggeser jendela waktu berburunya. Inilah yang disebut plastisitas temporal niche, yakni kemampuan beradaptasi perilaku berburu sesuai kondisi lingkungan yang berubah.
“Kucing kuwuk mengandalkan plastisitas temporal untuk menyeimbangkan efisiensi berburu dan interaksi antarspesies di bawah kondisi lingkungan yang berubah-ubah.”
Para peneliti juga mendokumentasikan bahwa selain dengan tikus, kucing kuwuk menunjukkan tumpang-tindih temporal yang signifikan dengan pesaing nokturnal dan krepuskular mereka, termasuk musang topeng (Paguma larvata) dan luwak Melogale moschata. Sementara dengan burung-burung yang aktif siang hari, tumpang-tindih hampir tidak ada.
Dalam konteks Indonesia yang memiliki dua musim utama (hujan dan kemarau), perilaku serupa kemungkinan besar juga terjadi. Saat musim kemarau, populasi tikus di sawah bisa berfluktuasi, mendorong kucing hutan memperluas wilayah jelajahnya atau beralih ke mangsa alternatif seperti katak, burung kecil, atau serangga besar.
Kemampuan adaptasi
Di perkebunan sawit Kalimantan Tengah, studi berjudul, “Activity and ranging behavior of leopard cats (Prionailurus bengalensis) in an oil palm landscape” yang dilakukan Silmi et al. (2021) yang berlangsung 44 bulan menunjukkan hal lebih gamblang. Kucing hutan dipasangi pemancar radio VHF dan dipantau pergerakannya.
Hasilnya, kucing kuwuk aktif berburu tikus di kebun sawit malam hari, bergerak di permukaan tanah maupun di kanopi pelepah sawit. Penelitian ini secara langsung mendukung potensi kucing hutan sebagai agen kontrol biologis tikus di perkebunan, sesuatu yang selama ini dilakukan petani dengan pestisida beracun.
Meski demikian, kemampuan tersebut bisa menjadi berkah sekaligus ancaman bagi keberlangsungannya. Sebab, penelitian sebelumnya yang dilakukan Rajaratnam et al. (2007) dengan judul, “Diet and habitat selection of the leopard cat (Prionailurus bengalensis borneoensis) in an agricultural landscape in Sabah, Malaysian Borneo”, juga mencatat risiko yang perlu diwaspadai.
Studi ini menemukan bahwa meski kucing kuwuk bisa hidup di kebun sawit, diversitas mangsa mereka di sana jauh lebih sempit dibandingkan di hutan alam. Di kebun sawit, kucing kuwuk hampir sepenuhnya bergantung pada satu spesies tikus: Maxomys whiteheadi. Penyempitan niche makanan ini berpotensi menjadi kerentanan ekologis, jika populasi tikus target anjlok karena wabah penyakit atau perubahan musim, seluruh populasi kucing kuwuk di kawasan tersebut akan terdampak langsung.
Situasi ini berbeda signifikan dari kondisi di hutan primer, ketika kucing kuwuk memiliki repertoar mangsa yang jauh lebih beragam: berbagai jenis tikus hutan, katak, burung kecil, dan kadal. Keanekaragaman mangsa ini mencerminkan kekayaan hutan itu sendiri.
Secara global, kucing kuwuk (kini mencakup takson yang sebelumnya dianggap satu spesies dengan kucing kuwuk sunda) berstatus Least Concern atau Risiko Rendah dalam hierarki IUCN. Namun, status ini menyembunyikan kenyataan yang lebih kompleks.
Ghimirey et al., mencatat bahwa survei komprehensif yang mampu memotret jumlah individu secara akurat belum tersedia untuk sebagian besar wilayah sebaran. Ancaman nyata tetap ada, yakni kehilangan habitat akibat konversi lahan, perburuan dan perdagangan ilegal, termasuk permintaan bulu di pasar internasional, serta konflik dengan manusia.
Di Indonesia khususnya, data populasi kucing kuwuk yang terpilah berdasarkan tipe habitat; hutan primer, hutan sekunder, dan perkebunan, masih sangat minim. Tanpa data dasar yang solid, sulit merancang strategi konservasi yang tepat sasaran.
Referensi:
Ghimirey, Y., Petersen, W., Jahed, Jahed, N., Akash, M., (2022). Prionailurus bengalensis. The IUCN Red List of Threatened Species 2022. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2022-1.RLTS.T18146A212958253.en
Rajaratnam, R., Sunquist, M., Rajaratnam, L., & Ambu, L. (2007). Diet and habitat selection of the leopard cat (Prionailurus bengalensis borneoensis) in an agricultural landscape in Sabah, Malaysian Borneo. Journal of Tropical Ecology, 23(2), 209–217. https://doi.org/10.1017/S0266467406003889
Silmi, M., Putra, K., Amran, A., Huda, M., Fanani, A. F., Galdikas, B. M. F., Anggara, S. P., & Traeholt, C. (2021). Activity and ranging behavior of leopard cats (Prionailurus bengalensis) in an oil palm landscape. Frontiers in Environmental Science, 9, 651939. https://doi.org/10.3389/fenvs.2021.651939
Wang, Y., Zhai, X., Wang, L. et al. (2026). Seasonal variation in activity rhythms of leopard cats (Prionailurus bengalensis), their prey and competitors in southern Anhui. Sci Rep. https://doi.org/10.1038/s41598-026-43879-w
*****
