- Sektor bangunan akan menjadi sorotan utama pada COP31 di Turki pada November 2026. Ini menyusul seruan aksi Belem untuk perumahan berkelanjutan dan terjangkau. United Nation Environmental Programme (UNEP) bersama Global Alliance for Building and Construction baru-baru ini meluncurkan laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026 yang mengajak pemangku kepentingan mengubah cara pandang melihat bangunan bukan hanya sebagai bagian dari masalah, juga platform solusi bagi iklim, keterjangkauan dan ketahanan secara bersamaan.
- Di Indonesia, sejumlah kajian menunjukkan, bangunan hijau (green building) efektif menurunkan emisi. Kajian International Finance Corporation menyebutkan sektor bangunan menyumbang sekitar 30% konsumsi energi Indonesia dan bakal naik menjadi 40% pada 2030. Bangunan hijau menghasilkan 30-80% biaya utilitas lebih rendah dibanding bangunan biasa. Sisi lain, kajian CLASP menunjukkan hanya sekitar 6% rumah tangga Indonesia yang memiliki air conditioner (AC). Permintaan tumbuh cepat dengan perkiraan pada 2050, 85% rumah tangga di Indonesia akan punya AC.
- Yu Sing, arsitek dan pendiri Anakoma Studio yang dikenal dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan mengatakan, Indonesia perlu paket kebijakan yang bisa mendorong desain bangunan baik rumah maupun gedung minim emisi sejak awal. Masalahnya, untuk perkotaan, desain minim energi saja tak cukup. Harus didukung dengan perencanaan kota yang minim polusi.
- Dalam laporan berjudul Building Fast, Falling Short as Climate Risks Rise and Cities Grow, Oliver Rapf, Direktur Eksekutif Buildings Performance Institute Europe yang menjadi bagian dari kajian ini mengatakan, sektor bangunan ini sangat signifikan. Selain mewakili sekitar 11-13% PDB rata-rata global, bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 37% emisi CO2 terkait energi global, mengonsumsi sekitar sepertiga energi dunia, dan bertanggung jawab atas hampir 50% ekstraksi material global.
Sektor bangunan akan menjadi sorotan utama pada COP31 di Turki pada November 2026. Ini menyusul seruan aksi Belem untuk perumahan berkelanjutan dan terjangkau. United Nation Environmental Programme (UNEP) bersama Global Alliance for Building and Construction baru-baru ini meluncurkan laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026 yang mengajak pemangku kepentingan mengubah cara pandang melihat bangunan bukan hanya sebagai bagian dari masalah, juga platform solusi bagi iklim, keterjangkauan dan ketahanan secara bersamaan.
“Karena sebagian besar ruang bangunan masa depan belum dibangun, keputusan hari ini akan menentukan emisi, kesehatan dan kualitas hidup selama puluhan tahun mendatang. Solusi sebenarnya sudah tersedia, mulai dari efisiensi energi hingga integrasi energi terbarukan dan material yang ramah lingkungan,” kata Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP saat peluncuran laporan ini.
Dalam laporan berjudul Building Fast, Falling Short as Climate Risks Rise and Cities Grow, Oliver Rapf, Direktur Eksekutif Buildings Performance Institute Europe yang menjadi bagian dari kajian ini mengatakan, sektor bangunan ini sangat signifikan. Selain mewakili sekitar 11-13% PDB rata-rata global, bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 37% emisi CO2 terkait energi global, mengonsumsi sekitar sepertiga energi dunia, dan bertanggung jawab atas hampir 50% ekstraksi material global.
“Luas lantai bangunan global kini mencapai sekitar 273 miliar meter persegi, tumbuh 1,7% hanya dalam satu tahun,” kata Oliver.
Pertumbuhan ini sekitar empat kali luas kota Berlin atau dua puluh kali Delhi. Pertumbuhan yang sangat signifikan ini, katanya, 77% terdiri dari bangunan hunian perumahan. Sekitar 70% kebutuhan energi bangunan berasal dari hunian.
Dengan mengembangkan pelacak Global Buildings Climate Tracker tim riset menemukan, sejak 2015, emisi yang mestinya turun 30% agar sesuai jalur dekarbonisasi ideal Perjanjian Paris, justru naik 6,5%.
Sisi lain, meskipun lebih lambat dari pertumbuhan luas bangunan, konsumsi energi bangunan masih terus meningkat.
Secara regional, di semua wilayah kecuali Eropa, permintaan energi masih meningkat. Di Eropa, konsumsi energi bangunan menurun berkat paket kebijakan Uni Eropa yang sudah diterapkan bertahun-tahun dan memang berdampak nyata.
Di wilayah lain, terutama Sub-Sahara Afrika, Timur Tengah, Eurasia dan Asia Pasifik, pertumbuhan masih sangat besar dan mendorong kenaikan konsumsi energi global.
Meskipun intensitas energi per meter persegi terus menurun, katanya, belum di jalur ideal untuk mencegah kenaikan suhu bumi di atas 2 derajat celcius. Masih ada kesenjangan yang harus ditutup dan itu bisa dengan mempercepat pengurangan intensitas energi.
Sejak 2015, pangsa energi terbarukan naik 4,7 poin persentase. Ini juga masih tertinggal dari jalur ideal, terutama energi terbarukan untuk pemanas dan pendinginan yang belum menjadi praktik utama.
Investasi yang masuk untuk mengurangi konsumsi energi bangunan juga terus meningkat setiap tahun. Angka investasi global efisiensi energi bangunan sekitar US$270–US$300 miliar per tahun dengan target kumulatif US$5,9 triliun sampai 2030.
Namun ini baru dua pertiga dari kebutuhan ideal meskipun sertifikasi bangunan hijau meningkat tiga kali lipat.
“Singkatnya, sektor bangunan dan konstruksi berada di jalur yang salah. Namun bukan berarti tidak ada solusi,” kata Hanane Hafraoui Programme Officer, Global Alliance for Buildings and Construction.
Untuk itu, perlu membalik tren peningkatan emisi agar sesuai dengan jalur net zero. Karena itu harus ada renovasi bangunan yang sudah ada dan perlu menggunakan dana publik dengan lebih strategis. Jadi, pemerintah tidak hanya membangun juga menciptakan permintaan terhadap solusi rendah karbon.
Kemudian, untuk intensitas energi, bangunan harus menggunakan jauh lebih sedikit energi per meter persegi. Jika merujuk laporan ini setidaknya pengurangan 25% pada 2030. Di sinilah kode bangunan, standar minimum performa, desain pasif dan retrofit menjadi sangat penting.
“Karena energi paling bersih adalah energi yang tidak perlu kita gunakan,” kata Hanana.
Setelah itu, meningkatkan pangsa energi terbarukan untuk bangunan perlu ditingkatkan hampir tiga kali lipat dalam enam tahun.
“Bangunan juga menjadi bagian aktif dalam transisi energi. Lewat elektrifikasi, penyimpanan energi, dan sistem pintar, kita dapat mengurangi emisi dan menurunkan ketergantungan terhadap harga bahan bakar fosil yang fluktuatif,” katanya.
Performa energi dan emisi dengan tambahan bangunan ini sangat ditentukan kode bangunan, efektivitas kode bangunan dan seberapa ketat kode bangunan diterapkan.
Secara global, banyak negara dengan pembangunan konstruksi sangat pesat belum punya kode bangunan yang efektif untuk mengatur performa energi bangunan.
Oliver Rapf menjelaskan, meningkatnya luas bangunan baru dan penggunaan pendingin ruangan menjadi faktor penting kenaikan konsumsi energi sektor bangunan.
Bangunan hijau efektif turunkan emisi?
Di Indonesia, sejumlah kajian menunjukkan, bangunan hijau (green building) efektif menurunkan emisi. Kajian International Finance Corporation menyebutkan sektor bangunan menyumbang sekitar 30% konsumsi energi Indonesia dan bakal naik menjadi 40% pada 2030. Bangunan hijau menghasilkan 30-80% biaya utilitas lebih rendah dibanding bangunan biasa.
Sisi lain, kajian CLASP menunjukkan hanya sekitar 6% rumah tangga Indonesia yang memiliki air conditioner (AC). Permintaan tumbuh cepat dengan perkiraan pada 2050, 85% rumah tangga di Indonesia akan punya AC.
Kondisi ini, berisiko karena saat ini AC yang beredar di pasar Indonesia lebih banyak dengan efisiensi rendah. Tanpa regulasi efisiensi dan perubahan pasar, menurut kajian ini, peningkatan jumlah pengguna AC akan menambah emisi dan penggunaan listrik yang mengancam target iklim nasional dan meningkatkan tagihan listrik masyarakat.
Riset ini menyebutkan cara termudah dan paling efektif membuat AC lebih efisien dan terjangkau adalah dengan meningkatkan kebijakan nasional yang mengatur efisiensi energi dari peralatan yang dijual di pasar.
Dalam uji lapangan di Jakarta, Medan dan Bali ditemukan bahwa AC inverter–yang dapat menyesuaikan jumlah daya sesuai kebutuhan pendinginan ruangan– mengkonsumsi listrik lebih sedikit dari pada AC non inverter dan kondisi serupa.
Pengukuran di Jakarta menunjukkan penghematan sekitar 28% selama periode pengujian.
Meskipun AC inverter lebih mahal, namun konsumsi listrik yang rendah dapat menutup biaya tambahan tersebut dan penghematan tagihan listrik.
Sebelumnya, survei CLASP juga menemukan bahwa 10 alat dengan konsumsi listrik tertinggi menyumbang 98% penggunaan listrik di rumah tangga Indonesia.
Setelahnya pemerintah mengenalkan kebijakan efisiensi energi untuk kipas angin, televisi, lemari es, AC, rice cooker, lampu LED dan lemari pendingin display (show case). Kebijakan ini diperkirakan dapat mengurangi emisi CO2 100 megaton dan menghemat energi hingga 136 terawatt pada 2030.
Lantas siapa yang harus membiayai dekarbonisasi sektor bangunan ini? Menurut Martin, pendanaan publik, termasuk hibah tak akan cukup. Perlu kombinasi dengan swasta. Perlu kerjasama dengan arsitek dan pengembang bangunan untuk memasukkan teknologi serta langkah efisiensi energi dan pendinginan sejak tahap awal desain.
“Jika itu dilakukan sejak awal, dan bukan sebagai retrofit setelah bangunan selesai, maka biayanya juga akan jauh lebih murah,” katanya.
Seringkali, katanya, jika elemen desain seperti ini diterapkan pada bangunan baru, investasi akan terbayar dengan sendirinya karena biaya listrik penghuni menjadi lebih rendah. Hal ini, katanya, akan menarik bagi masyarakat karena mereka tahun tagihan bulanan mereka akan lebih rendah dibanding bangunan yang tidak hemat energi.
Oliver katakan, menggunakan arsitektur vernakular yang berasal dari budaya lokal dan prinsip-prinsip arsitektur yang disesuaikan dengan kondisi iklim setempat adalah strategi yang sangat berhasil.
“Jadi bukan teknologinya yang kurang. Pertanyaannya, apakah teknologi tersebut diterapkan saat merancang bangunan, apakah dipertimbangkan dalam proses desain, dan apakah ada mekanisme dukungan untuk meningkatkan penetrasi pasar teknologi tersebut.”
Perlu paket kebijakan rumah rendah emisi dan kota minim polusi
Yu Sing, arsitek dan pendiri Anakoma Studio yang dikenal dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan mengatakan, Indonesia perlu paket kebijakan yang bisa mendorong desain bangunan baik rumah maupun gedung minim emisi sejak awal.
Menurut dia, bahkan rumah atau gedung mewah sekalipun bisa menggunakan desain pasif yang minim AC, hemat air dan menggunakan material modern yang berasal dari perkebunan berkelanjutan.
Indonesia, katanya, punya banyak inspirasi desain rumah vernakular seperti yang disarankan dalam laporan UNEP. Dia contohkan rumah adat Kanekes (Badui) atau kampung naga yang memanfaatkan material dari alam.
“Ketika kita menggunakan material dari alam yang dikelola secara berkelanjutan, kita pasti ikut menjaga alam,” katanya.
Masalahnya, untuk perkotaan, desain minim energi saja tak cukup. Harus didukung dengan perencanaan kota yang minim polusi.
“Pasang AC hemat energi, kran hemat air, material yang pas itu penting. Namun perlu juga memberi ruang untuk penanaman pohon seperti green corridor untuk menurunkan suhu. Targetnya kan penurunan suhu bumi, bahkan bangunan hijau tetap membutuhkan energi sehingga perlu ditopang perencanaan kota rendah emisi.”
*****