- Selama lebih dari dua dekade, John Wompere membudidayakan gaharu di Kampung Imbari, Distrik Warsa, Biak Numfor—berangkat dari rasa ingin tahu hingga menjadikannya sebagai jalan hidup berbasis konservasi dan ekonomi restoratif.
- Bersama Kelompok Tani Hutan Sadar Sendiri, John berhasil membibitkan sekitar 80 ribu pohon gaharu, terutama jenis Aquilaria filaria, yang mengantarkannya meraih Kalpataru 2014.
- Bagi John, nilai gaharu tidak berhenti pada kayu atau gubal bernilai tinggi; daun, buah, hingga kulitnya diolah menjadi minyak herbal, teh, dan berbagai produk turunan lain sebagai bagian dari ekonomi sirkular berbasis hasil hutan bukan kayu.
- Di tengah keterbatasan alat dan minim dukungan, John tetap meyakini gaharu bukan sekadar sumber ekonomi masa depan, melainkan investasi ekologis—menjaga tutupan lahan, memperbaiki tanah, dan melindungi sumber air kampungnya.
Di halaman rumahnya di Kampung Imbari, Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, John Wompere (67) berdiri di samping sebuah bedeng persemaian berukuran sekitar empat kali empat meter.
Deretan bibit kecil berjajar rapi di dalam polybag hitam. Dengan tangan yang sigap, ia menunjuk satu per satu tanaman muda itu.
“Ini bibit gaharu yang saya kembangkan dari biji,” katanya sambil tersenyum. “Gaharu ini menarik sekali.”
Di samping persemaian itu, beberapa peralatan penyulingan sederhana tersusun rapi. Dari tempat yang tampak sederhana inilah, selama lebih dari dua dekade, John menanam harapan—ribuan pohon gaharu yang perlahan mengubah hidupnya, juga wajah kampungnya.
Semua bermula dari rasa penasaran.
John pertama kali mengenal gaharu saat merantau ke Papua Nugini pada awal 2000-an. Saat itu, ia melihat banyak orang keluar-masuk hutan mencari gaharu—komoditas yang disebut-sebut bernilai tinggi.
“Saya dengar kalau dijual harganya mahal. Itu yang bikin saya penasaran,” ujarnya.
Awalnya, motivasinya sederhana: memperoleh uang cepat. Namun saat itu, ia belum benar-benar memahami seperti apa pohon gaharu, bagaimana menanamnya, atau bagaimana memperoleh manfaat dari tanaman itu.
Rasa ingin tahu itulah yang kemudian mendorongnya belajar sendiri. Secara autodidak, John mulai memahami pembibitan, penanaman, perawatan, hingga pengolahan hasil tanaman gaharu.
Satu pelajaran penting yang dia pahami kemudian: gaharu bukan tanaman untuk mereka yang ingin hasil cepat. “Tidak ada yang instan. Gaharu itu mengajarkan kesabaran,” katanya.
Budidaya yang Bertumbuh Bersama Waktu
Dari awalnya hanya mencoba-coba, gaharu perlahan berubah menjadi jalan hidup John.
Selama lebih dari dua dekade, hidupnya nyaris tak pernah jauh dari tanaman berkayu ini. Ia membudidayakan setidaknya dua jenis gaharu, yakni Aquilaria malaccensis dan Aquilaria filaria—spesies terakhir dikenal sebagai gaharu asli Papua.
Namun bagi John, budidaya gaharu bukan hanya soal mengejar gubal, bagian kayu bernilai tinggi yang selama ini paling banyak diburu pasar.
“Banyak orang salah paham. Mereka pikir semua batang gaharu bernilai mahal. Padahal tidak,” katanya.
Gubal—bagian kayu inti yang terbentuk ketika batang pohon terinfeksi mikroorganisme tertentu. Sebagai respons alami, pohon menghasilkan resin berwarna coklat tua hingga hitam yang menimbulkan aroma khas ketika dibakar.
Dari resin inilah lahir bahan baku dupa, minyak atsiri (essential oil), hingga parfum mewah berbasis oud yang pasar utamanya banyak berasal dari Timur Tengah dan Asia Timur. Harganya tentu mahal.
Namun John memahami satu hal penting: tidak semua pohon akan menghasilkan gubal. Karena itu, ia memilih melihat peluang lain. Menurutnya, daun, kulit bahkan hingga batang gaharu itu justru menyimpan potensi ekonomi yang lebih cepat dirasakan masyarakat.
Dalam rentang satu hingga lima tahun setelah ditanam, daun gaharu sudah dapat dipanen. Dari daun itu, John memproduksi minyak herbal yang dikombinasikan dengan virgin coconut oil (VCO), diolah menjadi baby oil, sabun, hingga bahan baku teh gaharu.
“Kalau menunggu gubal bisa terlalu lama. Tapi daun bisa langsung dimanfaatkan,” katanya. Inovasi jadi kata kunci.
Dari eksperimen kecil di rumahnya, lahirlah berbagai produk turunan yang perlahan dikenal lewat pameran dan promosi dari mulut ke mulut. Bahkan, beberapa produknya pernah dibawa hingga ke Eropa.
“Mereka suka produk saya, tapi saya belum bisa memenuhi semuanya,” katanya. “Masalahnya alat pengolahan saya masih terbatas.” Ia sekarang sedang mencari mitra kerjasama untuk mengembangkan usahanya.
Dalam sebulan, John mengaku mampu memproduksi hingga sekitar 200 liter minyak sulingan dari daun gaharu—semuanya berasal dari pohon yang mulai ia tanam sejak 2003.
Dari Pekarangan Menuju Kalpataru
Apa yang dimulai dari pekarangan rumah perlahan menjalar ke seluruh kampung. Awalnya banyak tetangga memandang skeptis. Menanam pohon yang hasil utamanya baru terlihat belasan tahun kemudian terdengar tidak masuk akal.
Namun John terus membagikan bibit. “Sebelumnya pohon gaharu banyak di sini. Sekarang tinggal kita restorasi saja,” katanya.
Di Pulau Biak yang didominasi bentang karst dan tanah kapur, John percaya gaharu cocok tumbuh. Menurutnya, kombinasi tanah kapur, pasir, dan kandungan fosfor di wilayah itu membantu pertumbuhan tanaman.
Bersama kelompok yang mereka namai Kelompok Tani Hutan Sadar Sendiri, John dan warga berhasil menanam lebih dari 80 ribu bibit gaharu, terutama jenis gaharu papua (Aquilaria filaria).
Kerja panjang itu akhirnya mendapat pengakuan nasional. Pada 2014, John bersama kelompoknya menerima Penghargaan Kalpataru, penghargaan tertinggi pemerintah di bidang lingkungan hidup, dalam kategori Pembina Lingkungan.
Bagi John, penghargaan itu bukan akhir.
Ia justru melihat gaharu sebagai bagian dari upaya restorasi ekologis: menjaga tutupan lahan, memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, serta melindungi sumber air kampung.
Jalan Masih Panjang
Setelah menerima Kalpataru, nama John semakin dikenal. Ia kerap diundang berbicara tentang gaharu—mulai dari forum daerah di Papua hingga pertemuan di Jakarta, bahkan diundang hingga ke Banda Aceh.
Namun kesehariannya tetap sama: menyemai bibit.
Dari pembibitan kecil di samping rumah, ia bisa menghasilkan sedikitnya 500 bibit dalam satu siklus. Setiap bibit dijual sekitar Rp25 ribu, di luar pendapatan dari minyak gaharu yang kini menjadi salah satu sumber penghidupannya.
Saat ini, John juga tengah terlibat dalam program penanaman gaharu bersama sebuah lembaga pemerintah. Meski demikian, ketika ditanya apakah ia puas dengan capaian yang diraihnya, jawabannya singkat.
“Belum. Jalan masih panjang.”
Sebagai “duta” gaharu—meski ia sendiri tak pernah menyebut dirinya demikian—John ingin lebih banyak orang memahami bahwa gaharu bukan sekadar komoditas mahal. Baginya, gaharu adalah warisan. Warisan yang dapat menghidupi warga, tanpa harus merusak hutan.
“Kalau orang kampung bisa hidup baik dari gaharu, tanpa merusak hutan,” katanya pelan, “Itu kebanggaan terbesar saya.”
Foto utama: John Wompere dengan biji gaharu yang dibudidayakannya di Kampung Imbari. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia
*****
Petani Muda Lombok Ini Pulihkan Lahan dengan Gaharu dan Buah-buahan
