- Ikan pemanah merupakan ikan predator unik yang berburu mangsa di alam berbeda. Senjatanya adalah semburan air yang keluar dari mulutnya untuk memangsa serangga di darat yang hinggap di dedaunan.
- Ikan ini seperti memanah dan dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Ia melakukannya dengan menyemburkan tetesan air yang dirancang secara presisi untuk mencapai target dengan daya hantam maksimal.
- Ikan ini mampu mengatur semburannya agar terkonsentrasi tepat sebelum mengenai mangsa. Untuk target yang lebih jauh, ikan menyembur dalam durasi lebih lama dengan bukaan mulut yang lebih gradual.
- Uniknya lagi, ikan pemanah ini mampu melakukan adaptasi motorik yakni dengan belajar dari kesalahan dan menyesuaikan tembakan berdasarkan pengalaman.
Di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk wilayah Indonesia, hidup ikan unik berukuran tidak lebih dari 20 sentimeter yang memiliki kemampuan luar biasa. Namanya ikan pemanah (Archer Fish), dikenal sebagai predator air yang berburu mangsa di alam berbeda. Itu bisa terjadi karena makanan utamanya serangga. Ya, ikan ini akan berburu mangsanya di dedaunan, namun dengan senjata yang tidak biasa, yaitu semburan air.
Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) merupakan jenis yang berwarna keperakan, bertubuh pipih, dan memiliki kepala bermoncong segitiga. Jenis ini memiliki totol khas berbentuk semi-segitiga sepanjang sisi tubuhnya.
Kemampuan semburan air bukanlah sekadar meludah biasa. Ikan ini seperti memanah dan dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Ia melakukannya dengan menyemburkan tetesan air yang dirancang secara presisi untuk mencapai target dengan daya hantam maksimal.
Tantangan utama bukanpada kekuatan semburan, melainkan fisika itu sendiri. Ketika melihat mangsa dari dalam air, posisi serangga yang sebenarnya berbeda dari yang tampak akibat pembiasan cahaya.
Penelitian klasik berjudul “Refraction and the spitting behavior of the archerfish (Toxotes chatareus), yang dilakukan Lawrence M. Dill pada 1977, menemukan bahwa ikan pemanah mampu mengoreksi efek refraksi dengan akurasi tinggi. Ikan tidak menembak langsung dari bawah mangsa, tetapi menyesuaikan sudut tembakannya secara presisi untuk berbagai posisi mangsa berbeda.
“Ikan pemanah tidak menembak dari posisi tepat di bawah mangsa, tetapi dapat mengatur sudut semburan dengan benar untuk mengkompensasi refraksi. Ikan dapat mengoreksi efek refraksi besar terhadap elevasi semu atau tinggi semu mangsa,” tulis Dill dalam jurnal Behavioral Ecology and Sociobiology.
Selain pembiasan cahaya, ikan pemanah juga harus memperhitungkan kelengkungan lintasan tetesan air yang jatuh akibat gravitasi. Dengan kecepatan semburan yang relatif konstan, ikan mengatur sudut tembak untuk memastikan lintasan yang akurat.
Studi lebih lanjut berjudul “Archerfish Actively Control the Hydrodynamics of Their Jets”, mengungkap rahasia di balik daya hantam semburan ikan pemanah. Tim peneliti dari University of Bayreuth, Jerman, yang dipimpin Stefan Schuster menemukan bahwa ikan ini mampu mengatur semburannya agar terkonsentrasi tepat sebelum mengenai mangsa.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada September 2014 ini, melatih ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) untuk menembak target sambil direkam kamera kecepatan tinggi.
Penelitian ini memantau beberapa aspek produksi dan propagasi semburan saat ikan menembak sasaran pada jarak yang jauh lebih luas daripada yang pernah dieksplorasi sebelumnya.
“Bagian belakang semburan air menyusul bagian depannya tepat sebelum mengenai mangsa, memastikan bahwa gaya terpusat menjadi satu hantaman keras,” jelas para peneliti dalam laporannya.
Ikan ini mencapai efek tersebut dengan mengubah bentuk mulut saat menyemburkan air. Mereka membuka dan menutup mulut pada laju yang berbeda tergantung jarak target. Untuk target lebih jauh, ikan menyembur dalam durasi lebih lama dengan bukaan mulut lebih gradual.
Belajar menembak dari kesalahan
Keunikan lainnya, kemampuan menembak ikan pemanah tidak sepenuhnya bawaan lahir. Penelitian lainnya berjudul, “The archerfish uses motor adaptation in shooting to correct for changing physical conditions”, yang dipublikasikan di jurnal eLife pada 2024 menunjukkan bahwa ikan ini mampu melakukan adaptasi motorik yakni dengan belajar dari kesalahan dan menyesuaikan tembakan berdasarkan pengalaman.
Tim peneliti yang dipimpin Svetlana Volotsky dari Ben-Gurion University of the Negev, menemukan bahwa ikan pemanah dapat beradaptasi terhadap perubahan kondisi fisik, seperti gangguan aliran udara, dengan menyesuaikan perintah motorik yang mereka hasilkan.
Para peneliti menjelaskan bahwa kemampuan luar biasa ini dipelajari melalui proses adaptasi motorik dengan cara coba-coba. Penelitian ini menguji kemungkinan tersebut dengan mengkarakterisasi kemampuan ikan pemanah untuk beradaptasi terhadap gangguan di lingkungan guna melakukan penyesuaian yang tepat pada tembakannya.
“Kami memperkenalkan aliran udara yang mengganggu di atas tangki air ikan pemanah yang dilatih untuk menembak sasaran. Untuk setiap percobaan tembakan, kami mengukur kesalahannya, yaitu jarak antara pusat sasaran dan pusat semburan air yang dihasilkan ikan,” tulis para peneliti.
Namun segera setelah gangguan aliran udara, terjadi peningkatan kesalahan tembakan. Kemudian, setelah beberapa kali percobaan, kesalahan tersebut berkurang dan akhirnya mencapai titik stabil. Setelah gangguan dihapus, terdapat efek sisa, di mana kesalahan bergerak ke arah berlawanan namun menghilang setelah beberapa percobaan tembakan.
“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan pemanah mampu beradaptasi terhadap gangguan aliran udara dan mampu melakukan adaptasi motorik.”
Ikan pemanah, secara umum, bisa ditemukan di habitat mangrove, muara sungai, hulu air payau dan air tawar di seluruh Asia Tenggara, terutama Indonesia. Mereka umumnya memakan serangga seperti lebah, capung, laba-laba, lalat dan serangga kecil lainnya.
Referensi:
Dill, L. M. (1977). Refraction and the spitting behavior of the archerfish (Toxotes chatareus). Behavioral Ecology and Sociobiology, 2(2), 169-184. https://link.springer.com/article/10.1007/BF00361900
Gerullis, P., & Schuster, S. (2014). Archerfish actively control the hydrodynamics of their jets. Current Biology, 24(18), 2156-2160. https://www.cell.com/current-biology/fulltext/S0960-9822(14)00922-1?_returnURL=https%3A%2F%2Flinkinghub.elsevier.com%2Fretrieve%2Fpii%2FS0960982214009221%3Fshowall%3Dtrue
Volotsky, S., Donchin, O., & Segev, R. (2024). The archerfish uses motor adaptation in shooting to correct for changing physical conditions. eLife, 12. https://elifesciences.org/articles/92909
*****
Dinyatakan Punah 66 Juta Tahun Silam, Ikan Purba ini Ada di Laut Indonesia