Mongabay.co.id

Jutaan Ular Menginvasi Pulau Kecil ini, Burung Hilang dan Hutan Terancam

Ular pohon cokelat (Boiga irregularis) memanjat pagar di Pulau Guam. Spesies invasif ini dikenal sebagai predator utama burung endemik Guam dan menjadi salah satu penyebab terganggunya keseimbangan ekosistem pulau tersebut. Foto oleh U.S. Department of Agriculture/Wikimedia Commons (CC BY 2.0).

Keseimbangan ekosistem hutan tropis terbentuk melalui hubungan yang sangat kompleks antarspesies. Burung membantu menyebarkan biji, serangga menjaga siklus dekomposisi, sementara predator mengontrol populasi mangsa agar tetap stabil. Ketika satu spesies asing masuk ke lingkungan yang tidak memiliki mekanisme pertahanan alami, seluruh jaringan ekologis dapat terganggu. Dalam banyak kasus, dampaknya tidak langsung terlihat. Namun di Pulau Guam, sebuah wilayah kecil milik Amerika Serikat di Pasifik Barat, perubahan itu terjadi secara drastis dan kini menjadi salah satu contoh paling ekstrem invasi spesies di dunia.

Pulau seluas sekitar 544 kilometer persegi tersebut mengalami krisis ekologis akibat ledakan populasi ular pohon cokelat (Boiga irregularis). Spesies asal Papua Nugini dan Australia bagian utara itu diduga masuk ke Guam melalui pengiriman logistik militer setelah Perang Dunia II. Pada masa itu, Guam menjadi pusat aktivitas militer penting di kawasan Pasifik. Beberapa ekor ular yang terbawa dalam kargo diperkirakan berhasil bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan baru yang hampir tidak memiliki predator alami.

Lokasi pulau Guam | Sumber: WorldMap

Dalam beberapa dekade, populasi ular meningkat sangat cepat. Berbagai penelitian memperkirakan jumlahnya mencapai  jutaan ekor. Di beberapa area hutan, kepadatan ular dilaporkan dapat mencapai ribuan individu per kilometer persegi. Kondisi tersebut menciptakan tekanan predator yang sangat tinggi terhadap fauna lokal, terutama burung yang sebelumnya berevolusi tanpa ancaman predator semacam ini. Banyak spesies burung di Guam terbiasa bersarang di tempat terbuka dan tidak memiliki perilaku defensif terhadap ular arboreal yang aktif berburu pada malam hari.

Burung Menghilang dari Hutan Guam

Dampak paling terlihat dari invasi ini adalah hilangnya populasi burung hutan. Dari 12 spesies burung asli Guam, sebagian besar kini telah punah di alam liar. Beberapa spesies endemik bahkan tidak lagi ditemukan di habitat aslinya dan hanya bertahan melalui program penangkaran konservasi. Burung raja-udang Guam atau Guam kingfisher (Todiramphus cinnamominus), kipasan Guam atau Guam flycatcher (Myiagra freycineti), serta gagak Guam atau Mariana crow (Corvus kubaryi) termasuk di antara spesies yang mengalami penurunan populasi paling parah sejak 1970-an.

Ular pohon cokelat (Boiga irregularis) di Pulau Guam. Spesies invasif asal Papua Nugini dan Australia ini menyebabkan penurunan drastis populasi burung endemik Guam dan mengganggu regenerasi hutan di pulau tersebut. Foto oleh Soulgany101/Wikimedia Commons (Domain Publik).

Para peneliti mencatat bahwa penurunan populasi burung terjadi sangat cepat setelah ular menyebar ke seluruh pulau. bahkan dalam banyak kasus, populasi burung runtuh hanya dalam waktu beberapa tahun setelah ular mencapai wilayah tertentu. Karena ular pohon cokelat aktif pada malam hari dan mampu memanjat pohon dengan sangat baik, telur, anak burung, hingga burung dewasa menjadi mangsa yang mudah. Bahkan spesies burung berukuran sedang tidak mampu mempertahankan sarangnya dari predator ini.

Burung raja-udang Guam atau Micronesian kingfisher (Todiramphus cinnamominus cinnamominus). Burung endemik Guam ini punah di alam liar setelah populasi ular pohon cokelat (Boiga irregularis) meningkat drastis di pulau tersebut. Foto oleh Flickr/Wikimedia Commons (CC BY 2.0).

Hilangnya burung tidak hanya berarti berkurangnya keanekaragaman hayati. Burung memiliki peran penting dalam menjaga fungsi ekosistem hutan tropis. Banyak spesies pohon di Guam bergantung pada burung untuk menyebarkan biji ke area yang lebih jauh dari pohon induk. Proses tersebut penting untuk menjaga regenerasi hutan dan mengurangi persaingan antarbibit di bawah kanopi yang sama. Ketika populasi burung hilang, proses alami itu ikut terganggu.

Regenerasi Hutan Mulai Melambat

Penelitian yang dilakukan University of Colorado membandingkan proses penyebaran biji di Guam dengan pulau tetangga yang masih memiliki komunitas burung normal. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat besar. Di pulau yang masih memiliki populasi burung sehat, sebagian besar biji berhasil tersebar ke area baru melalui aktivitas makan burung pemakan buah. Sementara di Guam, sebagian besar biji hanya jatuh di sekitar pohon induk.

Beberapa spesies pohon tropis di Guam sangat bergantung pada burung frugivora untuk mempertahankan siklus regenerasinya. Ketika populasi penyebar biji menghilang, pola pertumbuhan vegetasi ikut berubah. Kondisi tersebut menciptakan masalah serius bagi regenerasi hutan. Bibit yang tumbuh terlalu dekat dengan pohon induk harus bersaing mendapatkan cahaya, air, dan nutrisi dalam jumlah terbatas. Risiko terkena jamur dan patogen tanah juga lebih tinggi. Dalam jangka panjang, jumlah pohon muda yang mampu bertahan hingga dewasa terus menurun.

Hutan tropis Guam mengalami perubahan ekologis akibat hilangnya banyak spesies burung penyebar biji setelah invasi ular pohon cokelat (Boiga irregularis). Foto oleh Halenhardy/Wikimedia Commons (CC0 1.0).

Para ilmuwan memperingatkan bahwa banyak pohon besar yang saat ini mendominasi hutan Guam berasal dari generasi sebelum invasi ular terjadi. Pohon-pohon tersebut masih bertahan karena memiliki usia hidup panjang. Namun regenerasi generasi baru berlangsung jauh lebih lambat dibanding sebelumnya. Jika kondisi ini terus berlanjut selama beberapa dekade, struktur hutan Guam dapat berubah secara permanen.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa hilangnya satu kelompok satwa dapat menghasilkan efek berantai yang jauh lebih luas daripada yang terlihat di permukaan. Burung bukan hanya bagian dari lanskap suara hutan, tetapi juga komponen utama yang menjaga siklus reproduksi tumbuhan tetap berjalan.

Ledakan Populasi Laba-Laba dan Perubahan Rantai Makanan

Ketidakseimbangan ekosistem Guam juga terlihat pada kelompok hewan lain. Penelitian menemukan populasi laba-laba meningkat drastis dibanding pulau sekitar yang masih memiliki populasi burung normal. Tanpa burung pemakan serangga sebagai pengontrol alami, jumlah serangga dan laba-laba meningkat tajam di berbagai wilayah hutan. Di beberapa kawasan, jaring laba-laba terlihat menutupi semak, ranting, dan vegetasi dalam jumlah sangat besar. Fenomena tersebut menjadi indikator perubahan trofik, yaitu perubahan hubungan dalam rantai makanan akibat hilangnya predator tertentu. Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai contoh nyata bagaimana perubahan pada satu tingkat rantai makanan dapat memengaruhi keseluruhan struktur ekosistem.

Selain memangsa burung, ular pohon cokelat juga menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi. Ketika populasi burung menurun, ular mulai memangsa kadal, mamalia kecil, hingga hewan lain yang tersedia. Spesies ini juga mampu bertahan di dekat permukiman manusia dan kerap ditemukan di area perkotaan. Kemampuan memanjat ular ini menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi. Peneliti bahkan mendokumentasikan perilaku unik yang disebut lasso climbing, yaitu teknik memanjat dengan membentuk lingkaran tubuh untuk mencengkeram permukaan vertikal yang licin. Adaptasi tersebut memungkinkan ular mencapai lokasi yang sebelumnya dianggap aman bagi sarang burung.

Ular pohon cokelat (Boiga irregularis) memangsa dara-laut putih atau white tern (Gygis alba) di Guam. Predator invasif ini menjadi penyebab utama runtuhnya populasi burung asli Guam sejak pertengahan abad ke-20. Foto oleh Nathan Sablan/U.S. Geological Survey.

Pemerintah Amerika Serikat bersama berbagai lembaga konservasi terus berupaya mengendalikan populasi ular di Guam. Salah satu metode yang digunakan adalah menjatuhkan bangkai tikus rumah atau Mus musculus yang telah diberi acetaminophen menggunakan helikopter atau drone. Bagi manusia, zat ini dikenal sebagai parasetamol. Namun pada Boiga irregularis, senyawa tersebut bersifat mematikan. Metode ini digunakan terutama di sekitar bandara, pelabuhan, dan pangkalan militer untuk mencegah penyebaran ular ke pulau lain di Pasifik. Guam selama bertahun-tahun menjadi sumber kekhawatiran karena ular berpotensi terbawa dalam pesawat atau kapal menuju wilayah lain yang memiliki ekosistem rentan.

Meski beberapa program berhasil menurunkan kepadatan ular di area tertentu, pengendalian dalam skala penuh tetap sangat sulit dilakukan. Hutan Guam yang rapat membuat proses pemantauan membutuhkan biaya besar dan tenaga yang tinggi. Populasi ular yang sudah telanjur menyebar luas juga membuat eradikasi total hampir mustahil dilakukan dalam waktu singkat. Selain ancaman ekologis, ular pohon cokelat juga menimbulkan masalah ekonomi dan sosial. Hewan ini sering masuk ke gardu listrik dan jaringan kabel, menyebabkan pemadaman listrik berulang di Guam.

**

Referensi:

Rogers, H., Buhle, E., HilleRisLambers, J. et al. Effects of an invasive predator cascade to plants via mutualism disruption. Nat Commun 8, 14557 (2017). https://doi.org/10.1038/ncomms14557

Exit mobile version