- Ilmu pengetahuan telah menemukan jawaban mengapa kepiting berjalan miring. Sendi kaki kepiting tersusun sedemikian rupa sehingga lebih mudah digerakkan ke samping ketimbang ke depan.
- Artikel berjudul “Evolution of sideways locomotion in crabs,” menerangkan bahwa kepiting hampir semuanya bergerak menyamping. Kepiting memiliki lebih dari 7.904 spesies, jauh lebih banyak dari kerabat dekatnya seperti Astacidea (lobster bercapit, udang karang). Habitatnya beragam, dari laut dangkal, air tawar, daratan, hingga laut dalam.
- Dari analisis perbandingan filogenetik atau berdasarkan sejarah evolusinya, dapat diketahui bahwa semua kepiting yang berjalan menyamping berasal dari leluhur kepiting yang berjalan maju. Beberapa spesies diketahui kembali berjalan maju setelah sempat berjalan miring.
- Para peneliti memperkirakan, leluhur kepiting bergerak menyamping muncul sekitar 200 juta tahun lalu, atau pada era Jurassic paling awal, pasca kepunahan Trias Jurassic. Periode ini ditandai dengan perubahan lingkungan seperti pecahnya benua raksasa Pangea, perluasan habitat laut dangkal, dan revolusi Laut Mesozoikum awal yang memaksa hewan laut mengembangkan cangkang lebih keras.
Mengapa kepiting (Branchyura) berjalan miring? Ilmu pengetahuan telah menemukan jawabannya. Sendi kaki kepiting tersusun sedemikian rupa sehingga lebih mudah digerakkan ke samping ketimbang ke depan.
Ini memungkinkan kepiting membuat gerakan ke samping lebih panjang dan cepat dibandingkan jika harus bergerak ke depan. Sehingga, saat melarikan diri dari ancaman predator, kepiting lebih efektif bergerak ke samping daripada mundur atau memutar tubuh.
Kepiting merupakan infraordo Decapoda yang mencakup hampir semua kepiting yang kita kenal. Termasuk yang hadir di meja makan, kepiting bakau dan rajungan. Kepiting memiliki karapas lebar dengan abdomen pendek, serta 4 pasang kaki dan 1 pasang capit.
Artikel berjudul “Evolution of sideways locomotion in crabs,” menerangkan bahwa kepiting hampir semuanya bergerak menyamping. Kepiting memiliki lebih dari 7.904 spesies, jauh lebih banyak dari kerabat dekatnya seperti Astacidea (lobster bercapit, udang karang). Habitatnya beragam, dari laut dangkal, air tawar, daratan, hingga laut dalam.
Sejak kapan kepiting mulai bergerak ke samping? Pertanyaan inilah yang ingin dijawab oleh sekelompok peneliti yang bekerja untuk institusi Jepang, Taiwan, dan Amerika.
“Asal-usul evolusi dari perilaku unik ini belum diketahui. Prevalensi pergerakan menyamping mencerminkan asal evolusi tunggal dari nenek moyang yang bergerak maju,” tulis Yuuki Kawabata bersama rekan, dalam artikel yang diterbitkan di eLife itu.
Menurut mereka, dari 50 spesies kepiting yang dipelajari, pergerakan kepiting dapat dipisahkan menjadi dua jenis. Yaitu, bergerak maju dan menyamping. Menariknya, tidak ada yang berada di antara keduanya sekaligus.
Dari analisis perbandingan filogenetik atau berdasarkan sejarah evolusinya, dapat diketahui bahwa semua kepiting yang berjalan menyamping berasal dari leluhur kepiting yang berjalan maju. Beberapa spesies diketahui kembali berjalan maju setelah sempat berjalan miring. Mereka juga menyimpulkan bahwa garis keturunan kepiting yang bergerak menyamping jauh lebih beragam. Hasil ini memperlihatkan bahwa pergerakan menyamping telah bertindak sebagai inovasi kunci.
Jadi, kemampuan bergerak menyamping merupakan keunggulan penting dalam evolusi. Cara bergerak ini memberi mereka peluang untuk masuk, berlindung, mencari makan, dan bertahan hidup di berbagai lingkungan berbeda. Karena dapat memanfaatkan banyak jenis habitat dan sumber daya, kepiting berkembang menjadi beragam bentuk dan jenis yang menempati berbagai ceruk ekologis.
Data genomik
Untuk bisa menjawab kapan leluhur kepiting mulai bergerak ke samping, para peneliti menentukan spesies kepiting apa saja yang bergerak ke samping. Mereka menyiapkan 50 spesies kepiting hidup yang diperoleh dari lapangan. Mulai dari koleksi pribadi, laboratorium, hingga pasar ikan. Kepiting hanya dipelihara selama diperlukan untuk rekaman perilaku dan kemudian dikembalikan ke habitatnya sesuai pedoman perawatan hewan.
Selanjutnya, setiap kepiting diletakkan di sebuah tempat lalu pergerakannya direkam. Hasilnya, dari 50 spesies, 35 spesies diklasifikasikan bergerak menyamping dan 15 spesies bergerak ke depan.
Selanjutnya, mereka memeriksa pohon filogenetik berbasis data genomik. Data yang mereka temukan dari perekaman itu lalu “ditempel” ke pohon filogenetik. Dari sana bisa dilihat kapan sifat menyamping muncul dan bertahan, atau berubah lagi.
“Hasil ini menunjukkan bahwa evolusi pergerakan menyamping jarang, tetapi setelah ditetapkan, cenderung dipertahankan secara stabil. Pengembalian ke gerak maju (dan pengembalian berikutnya kembali ke gerak menyamping) terjadi di bawah spesialisasi ekologi tertentu, menghasilkan pola evolusi yang kompleks di seluruh kepiting sejati,” tulis laporan itu.
Dari kumpulan data perilaku gerak kepiting juga diketahui bahwa gerak menyamping hanya berasal dari nenek moyang yang bergerak maju. Dalam kerajaan hewan, evolusi gerakan menyamping terbilang sangat jarang. Baru tiga hewan yang teridentifikasi mengalaminya. Selain kepiting, evolusi serupa mungkin terjadi pula pada laba-laba kepiting, dan nimfa wereng.
Mengutip laporan itu, keuntungan adaptasi dari gerak menyamping ini, kepiting punya kemampuan bergerak cepat ke arah samping kanan atau kiri. Memiliki lebih dari satu arah sangat menguntungkan dalam upaya melarikan diri dari pemangsa. Sebab, bisa membuat arah pelarian kepiting lebih sulit diprediksi, selain menyediakan beberapa rute pelarian yang optimal.
Para peneliti memperkirakan, leluhur kepiting bergerak menyamping muncul sekitar 200 juta tahun lalu, atau pada era Jurassic paling awal, pascakepunahan Trias Jurassic. Periode ini ditandai dengan perubahan lingkungan seperti pecahnya benua raksasa Pangea, perluasan habitat laut dangkal, dan revolusi Laut Mesozoikum awal yang memaksa hewan laut mengembangkan cangkang lebih keras.
“Dengan mengintegrasikan pengamatan perilaku langsung dengan kerangka filogenetik yang kuat, penelitian ini memperluas pemahaman kita tentang bagaimana mode lokomotor hewan melakukan diversifikasi dan bertahan melalui waktu evolusi,” tulis Kawabata di ujung laporan.
Secara keseluruhan, seperti diakui peneliti, studi ini menyediakan dataset perilaku komparatif terbesar tentang lokomosi atau mekanisme bergerak kepiting. Selain itu penelitian juga menjadikan gerak menyamping sebagai contoh langka bagaimana sebuah inovasi perilaku dapat membentuk biodiversitas hewan selama ratusan juta tahun.
Kepiting dan rajungan
Dalam pohon filogenetik, kepiting yang biasa dikonsumsi maupun rajungan termasuk dalam kelompok kepiting sejati. Keduanya memang mirip, sekalipun berada dalam cabang berbeda.
Keduanya termasuk dalam ordo Decapoda atau hewan yang memiliki 10 kaki, yang berbagi leluhur yang sama sekitar 200 juta tahun lalu. Kepiting dan rajungan mewarisi gerak menyamping yang dimiliki kebanyakan anggota kepiting.
Di pasar ikan, yang disebut kepiting biasanya merujuk pada kepiting bakau, kepiting dari Genus Scylla. Sebuah terbitan KKP menerangkan, ada dua spesies kepiting yang banyak dibudidayakan di Indonesia, yaitu Scylla serrata dan Scylla olivacea. Dalam Bahasa Inggris disebut Mud Crabs.
Ciri-ciri kepiting bakau, tubuhnya lebih bulat, dengan daging tebal, dan capit yang besar dan kuat. Habitat utamanya adalah perairan payau, hutan mangrove, dan muara sungai.
Sementara rajungan adalah kepiting dari Genus Portunus, spesies pelagicus. Dalam Bahasa Inggris disebut Blue Swimming Crab. Mendapatkan nama itu karena rajungan adalah perenang ulung. Kaki belakangnya pipih seperti dayung. Dalam artikel berjudul Analisis Morfometri dan Meristik Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) di Perairan Utara Jepara, Ulya Melly Naili Rohmah, dkk. merinci ciri-ciri rajungan.
Tubuhnya lebih ramping dan lebar, dengan capit panjang dan ramping, dan duri karapas yang tajam. Biasanya berwarna dasar biru pada jantan dan cokelat pada betina dengan bercak putih di karapasnya. Habitatnya terbatas di laut dengan salinitas tinggi, berpasir dan berlumpur.
Kepiting bakau memiliki cangkang tebal untuk melindungi dirinya dari predator maupun lingkungan. Sementara rajungan mengembangkan kemampuan berenang cepat untuk menghindari predator di perairan terbuka. Meski keduanya berbeda, namun sama-sama sukses secara ekologis berkat warisan evolusi gerak menyamping yang memungkinkan manuver cepat ke arah yang diinginkan.
Referensi:
Taniguchi, J., Inoue, T., Kohara, K., Huang, J.F., Hirai, A., Mizumoto, N., Takeshita, F., Kawabata, Y. (2026). Evolution of sideways locomotion in crabs. eLife 15:RP110015. https://elifesciences.org/reviewed-preprints/110015v1
Rohmah, U. M., Sabdaningsih, A., & Rudiyanti, S. (2024). Analisis morfometri dan meristik rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) di perairan utara Jepara. Jurnal Pasir Laut, 8(1), 20–24. https://doi.org/10.14710/jpl.2024.61751
*****
