Sekitar 232 juta tahun lalu, Bumi mengalami salah satu episode iklim paling ekstrem dalam sejarah geologi. Selama lebih dari satu juta tahun, curah hujan meningkat drastis di berbagai wilayah dunia. Daratan yang sebelumnya kering berubah menjadi rawa dan hutan lembap. Sungai baru terbentuk dalam jumlah besar. Danau meluas hingga ke pedalaman benua. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia atau Carnian Pluvial Episode, fase penting pada akhir periode Trias yang mengubah ekosistem global dan membuka jalan bagi kebangkitan dinosaurus.
Sebelum periode ini terjadi, hampir seluruh daratan Bumi masih tergabung dalam satu superkontinen raksasa bernama Pangea. Kondisi tersebut membuat sebagian besar wilayah pedalaman memiliki iklim sangat panas dan kering. Gurun mendominasi banyak area, terutama di bagian tengah benua yang jauh dari pengaruh laut. Penelitian terhadap batuan sedimen dari periode Trias menunjukkan banyak wilayah saat itu dipenuhi endapan gurun dan mineral evaporit, tanda bahwa curah hujan sangat rendah selama jutaan tahun.
Ekosistem yang berkembang pada masa itu harus beradaptasi dengan lingkungan keras. Tumbuhan memiliki akar panjang untuk mencari air tanah. Reptil purba mengembangkan kulit bersisik yang membantu mengurangi kehilangan cairan. Banyak hewan hidup di sekitar sumber air musiman yang terbatas. Dunia Trias awal sangat berbeda dibanding gambaran hutan hijau yang sering diasosiasikan dengan zaman dinosaurus.
Hujan Ekstrem yang Mengubah Planet
Namun sekitar 232 juta tahun lalu, sistem iklim global berubah drastis. Catatan geologi dari berbagai belahan dunia menunjukkan transisi cepat dari kondisi kering menuju lingkungan jauh lebih basah. Lapisan batuan gurun mulai digantikan oleh endapan sungai, rawa, dan lumpur kaya bahan organik. Pola perubahan ini ditemukan di Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika Utara, hingga Asia, menunjukkan bahwa perubahan tersebut terjadi dalam skala global. Curah hujan meningkat selama ratusan ribu hingga lebih dari satu juta tahun. Dampaknya sangat besar terhadap bentang alam Bumi. Sungai mengalir lebih deras dan membawa sedimen dalam jumlah besar. Banjir terjadi lebih sering. Erosi mengubah bentuk lembah dan wilayah pesisir. Banyak area tandus berubah menjadi habitat baru yang dipenuhi vegetasi.
Para ilmuwan menemukan bukti tambahan berupa perubahan isotop karbon pada lapisan batuan dari periode tersebut. Perubahan ini menunjukkan adanya gangguan besar pada siklus karbon global, kemungkinan dipicu oleh pelepasan gas rumah kaca dalam jumlah besar ke atmosfer. Penyebab utama Peristiwa Pluvial Karnia diduga berasal dari aktivitas vulkanik raksasa di kawasan yang dikenal sebagai Wrangellia Large Igneous Province. Wilayah vulkanik purba ini kini berada di sekitar Alaska dan Kanada bagian barat. Berbeda dengan gunung api biasa, Wrangellia merupakan sistem letusan lava berskala sangat besar yang berlangsung selama jutaan tahun.
Letusan tersebut melepaskan karbon dioksida dalam jumlah masif ke atmosfer. Kadar gas rumah kaca yang meningkat memicu pemanasan global. Laut menjadi lebih hangat dan tingkat penguapan meningkat tajam. Atmosfer kemudian menyimpan lebih banyak uap air, menghasilkan curah hujan jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Selain karbon dioksida, aktivitas vulkanik juga melepaskan sulfur dan aerosol yang mengganggu sistem iklim global. Beberapa penelitian menunjukkan kondisi ini kemungkinan menciptakan periode pemanasan dan pendinginan singkat yang terjadi berulang selama fase Karnia.
Bentuk Pangea ikut memperburuk situasi. Karena seluruh daratan hampir menyatu, sistem monsun purba menjadi jauh lebih kuat dibanding monsun modern. Perbedaan suhu besar antara daratan dan lautan menciptakan sirkulasi udara yang mendorong kelembapan masuk jauh ke pedalaman benua. Ketika suhu global meningkat, sistem hujan menjadi semakin intens dan berlangsung sangat lama.
Kebangkitan Dinosaurus Setelah Krisis Global
Perubahan iklim tersebut menyebabkan reorganisasi besar pada ekosistem daratan. Vegetasi yang sebelumnya cocok untuk lingkungan kering mulai berkurang. Sebagai gantinya, tumbuhan yang menyukai kelembapan berkembang luas. Hutan konifer meluas di banyak wilayah. Paku-pakuan dan tumbuhan rawa mendominasi lanskap baru yang lebih basah. Lingkungan lembap memberi keuntungan besar bagi amfibi purba. Beberapa spesies temnospondyl tumbuh hingga ukuran raksasa dan menjadi predator utama di rawa dan sungai. Habitat air tawar yang semakin luas juga mendorong diversifikasi ikan serta reptil semiakuatik.
Namun perubahan ini menjadi bencana bagi banyak spesies lain. Kelompok reptil archosaur non-dinosaurus yang sebelumnya mendominasi mulai mengalami penurunan populasi besar. Banyak spesies gagal beradaptasi terhadap perubahan suhu, kelembapan, dan vegetasi yang terjadi relatif cepat dalam skala geologi. Perubahan besar juga terjadi di lautan. Air tawar dalam jumlah besar mengalir ke laut dan mengubah salinitas di banyak wilayah pesisir. Pada saat yang sama, karbon dioksida yang tinggi membuat laut menjadi lebih asam. Kondisi ini sangat berbahaya bagi organisme laut bercangkang seperti karang dan moluska.
Beberapa ekosistem terumbu purba mengalami kemunduran besar selama periode Karnia. Gangguan terhadap plankton laut juga memengaruhi rantai makanan samudra secara luas. Namun seperti di daratan, kepunahan sejumlah spesies membuka peluang bagi kelompok lain untuk berkembang. Reptil laut seperti ichthyosaurus mulai mengalami diversifikasi lebih besar setelah periode ini. Mereka berkembang menjadi predator penting di lautan purba dan mengisi relung ekologi yang kosong akibat kepunahan spesies lain. Salah satu dampak paling penting dari Peristiwa Pluvial Karnia adalah munculnya peluang evolusi bagi dinosaurus. Sebelum periode ini, dinosaurus masih merupakan kelompok kecil yang belum mendominasi daratan. Mereka hidup berdampingan dengan berbagai reptil purba lain yang lebih besar dan lebih beragam.
Namun ketika banyak pesaing mereka melemah akibat perubahan lingkungan global, dinosaurus mulai berkembang lebih cepat. Beberapa ilmuwan menduga dinosaurus memiliki sistem pernapasan yang lebih efisien dibanding banyak reptil Trias lainnya. Postur tubuh tegak juga membuat mereka bergerak lebih hemat energi. Dalam beberapa juta tahun setelah Karnia, dinosaurus mulai menyebar ke berbagai wilayah Pangea. Fosil dinosaurus awal seperti Eoraptor dan Herrerasaurus menunjukkan bahwa kelompok ini berkembang cepat setelah periode hujan ekstrem tersebut.
Dominasi penuh dinosaurus memang baru terjadi pada periode Jura. Namun banyak paleontolog menganggap Peristiwa Pluvial Karnia sebagai titik awal kebangkitan mereka. Tanpa perubahan iklim besar ini, dinosaurus mungkin tidak pernah menjadi penguasa daratan selama lebih dari 160 juta tahun. Jejak Peristiwa Pluvial Karnia masih tersimpan dalam lapisan batuan hingga sekarang. Endapan rawa, sedimen sungai, dan perubahan fosil dari periode itu membantu ilmuwan memahami bagaimana perubahan iklim dapat mengubah arah evolusi kehidupan di Bumi.
**
Referensi:
Marshall, M. (2019, December 5). A million years of Triassic rain. Nature, 576(7785), 26–28. https://doi.org/10.1038/d41586-019-03699-7
Rafael Spiekermann, Philippe Moisan, Sebastian Voigt, Benjamin Bomfleur, André Jasper, Dieter Uhl, Charcoalified wood remains from the Madygen Fossil-Lagerstätte (SW Kyrgyzstan): evidence of wildfire in the Triassic (Ladinian–Carnian) mid-northern latitudes, Review of Palaeobotany and Palynology, 10.1016/j.revpalbo.2026.105586, 351, (105586), (2026).
