Mongabay.co.id

Komitmen Jumawan Jaga Kelestarian Penyu di Cilacap

  • Jumawan, Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah, berkomitmen menjaga kelestarian penyu dari kepunahan.
  • Jumawan giat patroli telur penyu sejak 2019. Dia mengambil telur di pantai, lalu memindahkannya ke area yang lebih aman untuk ditetaskan.
  • Penyu membutuhkan vegetasi alami untuk bertelur, seperti tanaman pandan laut (Pandanus tectorius), pohon kelapa (Cocos nucifera), katang-katang (Ipomea pas-caprae), dan rumput lari (Spinifex littoreus) yang menyerupai bulu babi.
  • Tantangan utama konservasi penyu saat ini adalah hilang dan menurunnya kualitas peneluran karena degradasi lingkungan. Penyu juga kerap tertangkap tidak sengaja oleh kapal perikanan, serta krisis iklim yang menyebabkan meningkatnya suhu pasir.

Jumawan (33) mengangkat ember berisi ikan segar seukuran empat ruas jari orang dewasa, untuk diberikan kepada seekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Patrick, nama penyu tersebut, yang dikarantina di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah.

Tiga tahun lalu, Jumawan menerima sebanyak 90 telur penyu sisik dari nelayan. Dia meneteskannya, lalu sebagian tukik dilepasliarkan, termasuk si Patrick di Pantai Sodong, Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala. Namun, selang sehari, Patrick kembali ke pantai. Jumawan memutuskan mengkarantina, hingga ia benar-benar siap dikembalikan ke alam.

“Penyu hasil pembesaran itu tidak sembarang dilepasliarkan,” ujar Jumawan yang merupakan Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, kepada Mongabay, Sabtu (11/4/2026).

Penyu sisik merupakan satu dari tujuh spesies penyu di dunia. Bentuk tubuhnya datar; dewasa dapat tumbuh sampai satu meter dengan berat 80 kilogram. Umumnya, hidup di perairan tropis Samudra Hindia, Pasifik, dan Atlantik –termasuk di pesisir selatan Asia dan Asia Tenggara, seperti selatan Pulau Jawa.

Populasi penyu sisik secara global diperkirakan tersisa sekitar 15-25 ribu individu betina yang bersarang setiap tahun. Sejumlah enelitian mennjelaskan, populasinya menurun akibat krisis iklim dan ulah tangan manusia, seperti perburuan ilegal, pencurian telur, hingga pencemaran laut.

Penyu lekang di area Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.

Jumawan juga membesarkan satu penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan dua penyu hijau (Chelonia mydas), sejak netas tahun lalu. Menurut Daftar Merah Badan Konservasi Global (IUCN), penyu lekang berstatus Rentan (Vulnerable/VU) sementara penyu hijau digolongkan Risiko Rendah (Least Concern/LC).

Di pesisir Cilacap, Jumawan kerap menemukan telur penyu lekang ketika patroli malam dan pagi hari. Ia mengidentifikasi tiga titik yang sering menjadi lokasi penyu bertelur, di sekitar Pantai Sodong.

Penyu membutuhkan vegetasi alami untuk bertelur, seperti tanaman pandan laut (Pandanus tectorius), pohon kelapa (Cocos nucifera), katang-katang (Ipomea pas-caprae), dan rumput lari (Spinifex littoreus) yang menyerupai bulu babi.

“Pohon pandan agar tidak terlalu panas saat bertelur. Gulung-gulung (Spinifex littoreus), ketika tukik menetas akan berlindung dari mangsa, karena daunnya berduri.”

Rerata, Jumawan menemukan sekitar 116 butir per titik, tetapi tidak semuanya menetas. Menurut penelitian Universitas Airlangga, tingkat keberhasilan penetasan, baik alami maupun konservasi, umumnya mencapai sekitar 70%. Adapun faktor kegagalan, disebabkan suhu pasir tidak ideal, serangan mikroorganisme, serta gangguan manusia atau predator.

Musim penyu bertelur pada April hingga September, puncaknya menurut Jumawan, antara Juni-Juli ketika kemarau dan gelombang air laut relatif stabil atau rendah. Penyu biasa bertelur sore hingga malam, pada puncak pasang air laut tertinggi di hari tersebut.

“Mereka butuh waktu 45-70 menit untuk bertelur.”

Penyu lekang merupakan jenis yang berada di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia

Giat konservasi

Jumawan giat patroli telur penyu sejak 2019. Dia mengambil telur di pantai, lalu memindahkannya ke area yang lebih aman untuk ditetaskan.

Masyarakat banyak mengambil telur penyu, bahkan menjual seharga Rp3-5 ribu per butir. Mereka percaya khasiatnya dapat menambah stamina orang dewasa. Terlebih, kala itu tidak banyak yang tahu bila spesies penyu di Indonesia berstatus dilindungi.

Semula, Jumawan merogoh kocek sendiri untuk segala operasional. Dia bahkan membeli telur penyu yang dijual di Facebook. “Sebanyak 50 butir telur untuk ditetaskan, lalu tukik dilepasliarkan” ucapnya.

Jumawan juga menginisiasi pembentukan kelompok konservasi penyu di Cilacap, akhir 2019. Selanjutnya, dia membangun area konservasi yang juga difungsikan sebagai wisata edukasi untuk pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Tidak ada tarif. Pengunjung dipersilakan menyumbang sukarela untuk operasional konservasi. Sumbangan itu sangat bermanfaat bagi kelangsungan konservasi penyu. Jumawan mengaku tidak bisa terus-menerus merogoh saku sendiri, seperti awal kegiatan.

Selain itu, tantangan serius konservasi penyu adalah aktivitas pembangunan di pesisir Cilacap. Maraknya tambak udang membuat habitat penyu tercemar, begitu juga yang terjadi di Kebumen.

“Banyak tambak buang limbah ke laut, gak bikin IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Itu yang saya prihatinkan. Penyu juga tidak akan mendarat bertelur, jika gemerlap cahaya berlebih dan banyak aktivitas manusia,” ujarnya.

PInilah pnyu hijau yang berada di area Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia

Konservasi penyu

Mujiyanto, peneliti Konservasi Sumber Daya Hayati Laut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan tantangan utama konservasi penyu. Pertama, kehilangan dan penurunan kualitas habitat peneluran karena degradasi lingkungan.

“Abrasi, banjir pasang, pembangunan pesisir, cahaya buatan, dan aktivitas manusia menurunkan keberhasilan peneluran,” ujarnya kepada Mongabay, Sabtu (25/4/2026).

Dalam penelitiannya, Mujiyanto menyebut, vegetasi pantai berfungsi sebagai peneduh alami yang menjaga suhu pasir tetap stabil. Ketika vegetasi hilang, sarang menjadi lebih rentan terhadap panas berlebih. Perubahan struktur pantai juga, dapat mengurangi area layak bertelur.

Tekananan tersebut diperparah meningkatnya aktivitas manusia di pesisir, misal, pariwisata tidak terkelola, pencemaran, hingga pengambilan telur yang menjadi ancaman nyata di berbagai wilayah.

Jumawan menunjukkan penyu hijau di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia

Kedua, bycatch perikanan. Penyu kerap tertangkap tidak sengaja oleh kapal perikanan longline, gillnet, dan alat tangkap lain akibat tumpang tindih habitat. “Bycatch merupakan sumber mortalitas antropogenik terbesar dan terjadi pada hampir semua spesies penyu,” ucapnya.

Sebuah penelitian di perairan luas Atlantik Timur laut menunjukkan, kapal longline berbendera Portugal secara tidak sengaja menangkap ratusan penyu setiap tahun. Berdasarkan pengamatan langsung antara 2015-2020, peneliti mencatat terdapat 177 penyu tertangkap dari 896 set alat tangkap. Spesies yang sering tertangkap adalah penyu tempayan (139 individu) dan penyu belimbing (38 individu).

Menurut Hugo Parra dari University of the Azores, masalah utama penyu tertangkap adalah tumpang tindih habitat. Penyu dan alat tangkap longline beroperasi di zona yang sama, baik secara horizontal (wilayah laut) maupun vertikal (kedalaman).

“Penyu muda tempayan banyak menghabiskan waktu di laut lepas Atlantik Timur Laut. Sementara penyu belimbing bermigrasi jauh dari daerah tropis ke perairan dingin untuk mencari makan.”

Ketiga, krisis iklim menjadi tantangan serius dalam upaya konservasi penyu secara global. Mujiyanto bilang, kondisi ini menyebabkan peningkatan suhu pasir, yang dapat berdampak pada kematian embrio, perubahan rasio jenis kelamin, serta hilangnya habitat akibat kenaikan muka air laut dan badai ekstrem.

 

*****

 

10 Alasan Mengapa Kita Peduli Penyu Laut

 

Exit mobile version