Mongabay.co.id

Tawa Orangutan dan Simpanse Ternyata Punya Makna

  • Orangutan dan simpanse adalah kerabat manusia yang tergabung dalam Famili Hominidae, terdiri dari orangutan, gorila, simpanse, dan bonobo.
  • Simpanse menjadi kerabat terdekat manusia yang berbagi DNA sekitar lebih dari 98 persen. Mereka hidup dalam kelompok sosial, hirarkis, dan politis. Sementara orangutan menjadi yang terjauh dibandingkan dengan kera besar lainnya, yang berbagi DNA dengan manusia sekitar 97 persen. Bedanya, orangutan lebih penyendiri. Mempelajari mereka sama halnya membuka tabir perilaku leluhur manusia.
  • Pada orangutan yang secara alami memiliki kecenderungan soliter, tawa dan replikasi wajah juga mempunyai makna untuk membangun kepercayaan secara instan. Replikasi yang tepat membantu individu yang jarang berinteraksi merasa aman dan selaras secara emosional dalam waktu singkat.
  • Pada simpanse, tawa bahkan menjadi penanda hierarki. Peneliti menemukan bahwa simpanse sangat selektif dalam melakukan replikasi wajah. Mereka cenderung menghindari meniru wajah tertawa yang memperlihatkan gigi atas saat berhadapan dengan individu yang lebih dominan. Tawa menjadi salah satu bentuk penghormatan.

Pernahkah Anda memperhatikan dua orang berpapasan, saling menatap, lalu berbagi senyum? Kapan manusia mulai mempraktikkan gestur tanda persahabatan ini? Ketika bahasa masih sangat sederhana, bagaimana leluhur manusia mengawali saling berbagi senyum dan tawa?

Sekelompok peneliti coba mencari jawabannya dengan mengamati perilaku orangutan dan simpanse. Seperti diketahui, orangutan dan simpanse adalah kerabat manusia yang tergabung dalam Famili Hominidae, terdiri dari orangutan, gorila, simpanse, dan bonobo.

Simpanse menjadi kerabat terdekat manusia yang berbagi DNA sekitar lebih dari 98 persen. Mereka hidup dalam kelompok sosial, hirarkis, dan politis. Sementara orangutan menjadi yang terjauh dibandingkan dengan kera besar lainnya, yang berbagi DNA dengan manusia sekitar 97 persen. Bedanya, orangutan lebih penyendiri. Mempelajari mereka sama halnya membuka tabir perilaku leluhur manusia.

Laporan penelitian mereka diterbitkan dalam Scientific Reports, dengan judul “Towards the complexity of laugh communication in great apes: exact facial replications in laugh faces of orangutans and chimpanzees” (2026).

Para peneliti mengamati perilaku satwa-satwa itu menirukan wajah tertawa saat berkomunikasi. Mereka menguji apakah orangutan dan simpanse punya kemampuan menirukan wajah tertawa lewat varian otot wajah yang spesifik seperti halnya manusia secara spontan, yaitu di bawah tiga detik.

Replikasi yang tepat dianggap sebagai tanda kecerdasan sosial tinggi karena membantu individu untuk selaras secara emosional dan memprediksi perilaku lawan mainnya.

“Studi kami mengungkapkan bahwa orangutan dan simpanse menunjukkan replikasi wajah yang tepat untuk wajah tertawa dengan gigi atas tidak terbuka, yaitu, jenis varian yang paling tidak terkait dengan permainan kasar atau berisiko,” tulis Diane A. Austry, mewakili sesama rekan peneliti.

Austry adalah pakar perilaku primata dari University of Portsmouth dan Durham University, Inggris.

Baik orangutan maupun simpanse terbukti punya kemampuan melakukan replikasi wajah secara spontan. Jika satu kera menunjukkan wajah tertawa tanpa memperlihatkan gigi atas, lawan mainnya cenderung membalas dengan varian yang sama persis.

Berbeda dengan orangutan, simpanse sangat selektif dalam meniru. Mereka menghindari mereplikasi wajah dengan gigi atas terbuka saat berhadapan dengan individu dominan, untuk menjaga jarak sosial dan menghindari kesan lancang.

Kemampuan meniru mimik wajah lawan bermain ini bisa memberikan keuntungan bagi individu. Selain menyelaraskan secara emosional dengan individu lain, juga memperpanjang waktu bermain. Pada orangutan ditemukan korelasi antara peniruan wajah dengan durasi bermain yang lebih lama.

Sejumlah temuan ini memperkuat gagasan bahwa kemampuan manusia menggunakan ekspresi wajah untuk berkomunikasi secara sosial memiliki akar evolusioner yang dalam.

“Temuan ini menyimpulkan kesinambungan evolusi dari replikasi wajah yang tepat di seluruh kera besar (dan manusia) dan kompleksitas untuk komunikasi tawa pra-manusia. Wajah tertawa kera leluhur pasti sudah kompleks dalam bentuk dan fungsi 10-16 juta tahung lalu, dan kemudian dalam garis keturunan hominin menjadi alat komunikasi sosial sehari-hari yang lebih efektif.”

Simpanse memiliki kemampuan interaksi dengan sesamanya. Foto: Herusutimbul/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Makna tawa

Tawa sering dianggap warisan budaya manusia. Namun, ilmu pengetahuan telah mengidentifikasi bahwa tawa bukanlah eksklusif milik manusia. Kera menjadi hewan yang diketahui mempraktikkan perilaku ini.

Tawa mungkin telah terkunci secara genetis pada Famili Hominidae belasan juta tahun lalu. Kini tawa diketahui merupakan manifestasi komunikasi yang kompleks, memiliki beragam makna dan fungsi. Pada kera, yang awalnya diduga sekadar respons vokal spontan, kini terbukti sebagai instrumen sosial yang penting.

Untuk membuka tabir fenomena komunikasi ini, tim peneliti melakukan observasi mendalam terhadap perilaku sosial kera besar di dua lokasi berbeda, yakni Pusat Rehabilitasi Orangutan Sepilok di Malaysia dan Suaka Margasatwa Chimfunshi di Zambia. Mereka menguji 96 individu kera dari empat kelompok orangutan dan empat kelompok simpanse.

Dengan data rekaman ratusan jam, para ahli menganalisis setiap detil gerakan otot wajah menggunakan sistem pengkodean anatomi yang presisi. Metode ini memungkinkan peneliti membedakan variasi terkecil pada ekspresi mulut dan mata, saat kera-kera tersebut berinteraksi satu sama lain dalam lingkungan yang menyerupai habitat aslinya.

“Selanjutnya, untuk mengeksplorasi fungsi potensial dari replikasi yang tepat dalam penelitian ini, kami memeriksa varian wajah tertawa dalam kaitannya dengan durasi permainan dan intensitas permainan,” tulis laporan itu.

Hasilnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara ketepatan replikasi wajah dengan keberlangsungan interaksi sosial. Ketika seekor kera melakukan replikasi wajah dengan tepat, durasi bermain cenderung menjadi lebih lama. Seolah-olah individu kera yang mereplikasi tawa rekannya mengatakan, “Saya setuju untuk bermain lebih lama.”

Pada orangutan yang secara alami memiliki kecenderungan soliter, tawa dan replikasi wajah juga mempunyai makna untuk membangun kepercayaan secara instan. Replikasi yang tepat membantu individu yang jarang berinteraksi merasa aman dan selaras secara emosional dalam waktu singkat.

Pada simpanse, tawa bahkan menjadi penanda hierarki. Peneliti menemukan bahwa simpanse sangat selektif dalam melakukan replikasi wajah. Mereka cenderung menghindari meniru wajah tertawa yang memperlihatkan gigi atas saat berhadapan dengan individu yang lebih dominan. Tawa menjadi salah satu bentuk penghormatan.

Orangutan sumatera jantan ini hidu di kawasan hutan Stasiun Riset Ketambe, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Tawa variatif

Penelitian lain yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya mengungkap bahwa wajah tertawa orangutan dan simpanse ternyata bervariasi tergantung usia, hubungan sosial, dan jenis kelamin. Penelitian dipublikasikan di jurnal Scientific Reports (2024). dengan judul “Orangutans and chimpanzees produce morphologically varied laugh faces in response to the age and sex of their social partners.”

Peneliti mengamati lebih dari 600 ekspresi wajah dari 31 orangutan dan simpanse juga dari lokasi Malaysia dan Zambia. Riset bertujuan untuk mengetahui apakah wajah tertawa berubah tergantung pada karakteristik teman bermain.

“Hasil pengamatan kami menunjukkan bahwa perbedaan usia, pada tingkat yang lebih rendah, jenis kelamin teman bermain memengaruhi morfologi wajah tertawa di kedua taksa, tetapi dengan cara berlawanan,” tulis Fabio Crepaldi, mewakili rekan-rekanya.

Dia adalah peneliti perilaku hewan dari University of Portsmouth, Inggris, yang mengkhususkan diri pada studi morfologi wajah dan komunikasi sosial pada primata.

Dari data yang teramati menunjukkan orangutan mengekspos gigi atas mereka dan menarik sudut mulut ke belakang ketika berhadapan dengan individu yang lebih muda dan betina. Sementara simpanse menunjukkan paparan gigi atas dan bawah lebih sering ketika berinteraksi dengan individu yang lebih kuat.

Bandingkan dengan penelitian milik Austry dan rekan yang fokus pada replikasi atau peniruan. Simpanse justru akan menutup gigi atas saat mereplikasi tawa sebagai bentuk kepatuhan atau ketertundukan.

“Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk memodifikasi wajah tertawa yang tergantung pada karakteristik pasangan sosial kemungkinan besar telah berevolusi dari sifat-sifat yang sudah ada sebelumnya, setidaknya kembali ke nenek moyang terakhir dari kera besar saat ini, termasuk manusia,” tulis laporan itu.

Kedua penelitian ini memberikan gambaran bahwa senyum dan tawa manusia hari ini bukanlah reaksi spontan semata. Namun merupakan warisan evolusi belasan juta tahun. Senyum dan tawa adalah bahasa purba yang menghubungkan kera besar selama belasan juta tahun, sebelum kata-kata ditemukan. Warisan evolusi ini bahkan masih kita pakai hingga kini untuk mencairkan suasana dan membangun hubungan yang lebih erat dan empatik.

 

Referensi:

Austry, D. A., Bard, K., Gibson, V., Chotard, H., Judge, A., Costantini, C., … & Davila-Ross, M. (2026). Towards the complexity of laugh communication in great apes: exact facial replications in laugh faces of orangutans and chimpanzees. Scientific Reports, 16, 11758 (2026). https://doi.org/10.1038/s41598-026-43992-w

Crepaldi, F., Rocque, F., Dezecache, G., Proops, L., & Davila-Ross, M. (2024). Orangutans and Chimpanzees produce morphologically varied laugh faces in response to the age and sex of their social partners. Scientific reports14(1), 26921. https://www.nature.com/articles/s41598-024-74089-x

 

*****

 

Cara Simpanse Mengembangkan Bahasa Ternyata Mirip Manusia

Exit mobile version