Mongabay.co.id

Pekerja Konservasi: Profesi yang Dibangun di Atas Harapan, Tertekan oleh Kehilangan

  • Laporan dari seluruh sektor konservasi menunjukkan peningkatan tingkat kelelahan, depresi, dan tekanan, yang disebabkan oleh paparan terus-menerus terhadap penurunan lingkungan di samping pendanaan yang tidak aman, jam kerja yang panjang, dan dukungan institusional yang terbatas. Survei menunjukkan bahwa sebagian besar profesional—terutama staf yang baru memulai karier dan perempuan—mengalami tekanan psikologis sedang hingga berat.
  • Pekerjaan ini membawa beban emosional yang berbeda. Banyak konservasionis menjalin hubungan yang mendalam dengan spesies dan tempat, hanya untuk menyaksikan degradasi atau kehilangan mereka, menghasilkan bentuk kesedihan yang terus-menerus dan seringkali tidak dikenali di luar bidang ini.
  • Kondisi struktural memperburuk masalah ini. Gaji rendah, hibah jangka pendek, isolasi di tempat terpencil, dan stigma budaya seputar kesehatan mental menciptakan lingkungan di mana kerja berlebihan dinormalisasi dan mencari bantuan dapat membawa risiko profesional.
  • Laporan dan tulisan komentar baru-baru ini, --termasuk liputan oleh Mongabay, turut mempertajam perhatian pada apa yang digambarkan oleh beberapa orang sebagai "epidemi penderitaan" dalam konservasi. Menjadikan kasus ini bukan hanya bersifat individual, tetapi masalah sistemik, sehingga penting menempatkannya dalam upaya mengakui kehilangan, mendokumentasikan beragam pengalaman hidup, dan dukungan bahwa mereka yang bekerja melindungi alam perlu didukung dan dipertahankan.

Tulisan ini dibangun berdasarkan laporan dan refleksi mereka, dan juga mengacu pada karya saya sebelumnya, termasuk  Tekanan diam-diam konservasi: Para pelindung alam menghadapi krisis kesehatan mental, bersama dengan tulisan lain yang telah saya buat tentang kehilangan, kesedihan, dan ketahanan di lapangan.

Tulisan ini juga sejalan dengan Proyek Obituari Alam, serangkaian penghormatan kepada para konservasionis, ilmuwan, dan pembela lingkungan yang telah berpulang kepada Pencipta, yang berakar pada keyakinan bahwa orang-orang yang melindungi kehidupan di Bumi bukanlah orang yang dapat dikorbankan.

Saya tidak menulis sebagai seorang klinisi di sini. Saya menulis sebagai seseorang yang mendengarkan apa yang terus digambarkan oleh para konservasionis, di berbagai peran dan wilayah.

Tulisan asli artikel ini ada di tautan ini.

*****

Ada jenis kelelahan tertentu yang tidak semata berasal dari jam kerja yang panjang. Ia muncul dari kebiasaan untuk terus memperhatikan.

Para pekerja konservasi dilatih untuk melihat hal-hal yang sering luput dari perhatian: terumbu karang yang kehilangan warna dan vitalitasnya, hutan yang tak lagi dipenuhi burung seperti dulu, sungai yang membawa semakin sedikit kehidupan dari musim ke musim. Mereka dilatih untuk menghitung, mengukur, dan mendokumentasikan perubahan dengan disiplin. Namun mereka juga orang-orang yang memasuki bidang ini karena kecintaan pada sesuatu di luar diri mereka: spesies, tempat, dan dunia hidup yang dianggap layak untuk dilindungi.

Cinta itu bukan kelemahan. Ia adalah sumber tenaga. Namun belakangan, ia juga menjadi sumber rasa sakit.

Jalan setapak di Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Foto: Rhett Ayers Butler

Pada akhir 2024, Rachel Graham, ilmuwan kelautan sekaligus direktur eksekutif MarAlliance yang berbasis di Belize, menulis di LinkedIn bahwa ia mengenal lima ilmuwan konservasi yang meninggal karena bunuh diri dalam satu tahun tersebut. Tanggapan yang muncul bersifat langsung: duka, pengakuan, dan banyak orang yang menyatakan secara terbuka bahwa mereka juga sedang berjuang.

Unggahan itu menyebar karena mengungkap sesuatu yang selama ini banyak dipendam. Banyak pekerja konservasi mengenali perasaan itu—dalam tubuh mereka sendiri dan dalam cara rekan-rekan berhenti merespons. Mereka menyaksikan orang-orang yang kompeten menghilang dari lapangan tanpa banyak perhatian. Mereka juga mulai khawatir pada pikiran mereka sendiri setelah minggu kerja yang terasa sangat berat.

Ini bukan kisah tentang segelintir individu yang rapuh. Ini adalah gambaran tentang sebuah sektor yang menuntut dedikasi tinggi, namun kerap tidak mampu menyediakan stabilitas, keamanan, maupun dukungan yang memadai.

Sebuah survei besar terhadap profesional konservasi yang dipublikasikan pada 2023 menemukan bahwa lebih dari seperempat responden mengalami tekanan psikologis tingkat sedang hingga berat. Temuan ini bukan berarti para pekerja konservasi lebih rentan terhadap gangguan mental. Namun menunjukkan bahwa banyak dari mereka memikul beban yang terlalu besar, terlalu sering, dengan dukungan yang terbatas.

Perempuan dan pekerja di tahap awal karier termasuk kelompok yang paling berisiko. Pola ini lebih mencerminkan bagaimana pekerjaan tersebut diatur, daripada kelemahan individu.

Mulai dari hal yang paling jelas: pekerjaan itu sendiri.

Lanskap hutan hujan Amazon yang rusak akibat tambang emas terbuka di Peru. Foto: Rhett Ayers Butler

Upaya melindungi kehidupan di Bumi saat ini berlangsung dalam konteks yang ditandai oleh kehilangan. Populasi satwa liar menurun tajam dalam beberapa dekade terakhir. Perikanan berada di bawah tekanan. Perubahan iklim terjadi dengan kecepatan yang sering melampaui rencana yang ada.

Bagi banyak pekerja konservasi, ini bukan sekadar tren abstrak. Ini adalah realitas di lapangan—tanah yang mereka pijak, air tempat mereka menyelam, suara alam yang semakin berkurang dalam pemantauan malam hari, serta individu-individu satwa yang mereka kenali.

Di dalamnya terdapat duka, tetapi juga sesuatu yang lebih tajam: kesadaran bahwa penderitaan ini bukanlah kebetulan. Banyak di antaranya merupakan akibat dari pilihan manusia dan sistem yang menopangnya. Ketika bekerja dekat dengan kerusakan, kehilangan tidak selalu terasa sebagai bagian dari “alam”. Ia terasa sebagai konsekuensi.

Hal ini dapat memunculkan apa yang disebut sebagai cedera moral: tekanan batin yang muncul ketika seseorang menyaksikan kerusakan, peduli secara mendalam, namun merasa tidak mampu menghentikannya. Bahkan ketika segala upaya telah dilakukan, skala persoalan yang tak dapat diubah tetap terasa berat. Seiring waktu, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: apakah semua ini cukup?

Duka tersebut nyata. Namun para pekerja konservasi jarang memiliki ruang sosial untuk mengolahnya. Tidak ada upacara yang diakui secara luas untuk lahan basah yang rusak. Tidak ada cuti untuk ekosistem yang telah melewati ambang batas. Bahkan, dalam beberapa situasi, mereka diminta untuk tetap “rasional”, seolah-olah duka adalah kegagalan profesional, bukan bentuk keterikatan.

Akibatnya, duka menjadi urusan pribadi. Ia muncul dalam bentuk mudah marah, sulit tidur, rasa hampa, atau perasaan sia-sia yang sulit dijelaskan. Kadang terlihat sebagai kelelahan kerja. Kadang berkembang menjadi depresi. Kadang menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Kondisi ini diperkuat oleh cara sektor ini beroperasi.

Para konservasionis berjalan di Indonesia. Foto: Rhett Ayers Butler

Konservasi sering dipahami sebagai panggilan moral. Hal ini dapat memberi makna, tetapi juga menciptakan jebakan. Ketika pekerjaan dianggap sebagai panggilan, penderitaan kerap dilihat sebagai bagian dari komitmen. Jam kerja panjang menjadi tanda keseriusan. Upah rendah dianggap sebagai bukti dedikasi. Menolak pekerjaan bisa terasa seperti pengkhianatan.

Model pendanaan turut memperkuat dinamika ini. Banyak organisasi bergantung pada hibah jangka pendek, anggaran terbatas, dan ketidakpastian yang berkelanjutan. Tim diminta mencapai target ambisius sambil terus menghadapi ketidakpastian soal keberlanjutan operasional.

Pengembangan staf sering kali sulit didanai. Dalam banyak kasus, tidak tersedia anggaran untuk dukungan kesehatan mental, pelatihan, atau bahkan jumlah staf yang memadai. Pesan yang tersirat menjadi jelas: proyek lebih penting daripada orang yang menjalankannya.

Pesan ini, seiring waktu, menjadi bagian dari budaya kerja.

Ketika seseorang bekerja melampaui kapasitas dalam jangka panjang, tubuh pada akhirnya merespons. Istilah “burnout” sering digunakan, tetapi kondisi yang terjadi kerap lebih luas: pikiran dan tubuh menolak melanjutkan pola yang tidak lagi dapat dipertahankan.

Ada pula tekanan lain yang jarang tercatat dalam laporan. Pekerjaan lapangan dapat bersifat terisolasi. Banyak yang tinggal jauh dari rumah, dalam konteks budaya yang berbeda, dan di tempat di mana mengakui tekanan dapat membawa stigma atau risiko profesional. Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.

Sebagian pekerjaan berlangsung di wilayah konflik. Penjaga hutan diserang. Rekan kerja kehilangan nyawa. Dalam situasi seperti itu, istilah “perawatan diri” sering terasa tidak memadai.

Selain itu, terdapat ketimpangan yang memperburuk keadaan.

Kupu-kupu di tangan seorang pria di Madre de Dios. Foto: Rhett Ayers Butler

Perempuan dalam sektor ini menghadapi banyak tantangan: diskriminasi, pelecehan, kesenjangan upah, serta beban tambahan untuk membuktikan kompetensi. Banyak juga yang memikul tanggung jawab pengasuhan. Dalam beberapa kondisi, tekanan tersebut berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup.

Sementara itu, laki-laki mungkin lebih enggan mencari bantuan dalam budaya yang mengaitkan keteguhan dengan kekuatan. Sikap ini dapat berdampak serius. Di banyak tempat, mengakui kesulitan masih dianggap sebagai kelemahan.

Dalam bidang yang sangat bergantung pada reputasi, kekhawatiran dianggap “tidak cukup tangguh” bukanlah hal yang berlebihan. Inilah biaya dari kepedulian: merasakan beban dunia dalam sistem yang sering memperlakukan manusia sebagai sesuatu yang dapat digantikan.

Namun, ini bukan keseluruhan cerita.

Jika demikian, sektor konservasi kemungkinan sudah jauh lebih menyusut.

Banyak orang tetap bertahan. Bukan karena mengabaikan realitas, tetapi karena menemukan cara—meski tidak selalu mudah—untuk tetap terhubung dengan hal-hal yang memberi makna pada pekerjaan mereka.

Pertanyaannya bukan apakah mereka harus menjadi lebih kuat. Melainkan kondisi seperti apa yang memungkinkan kepedulian itu tetap berlanjut tanpa mengorbankan kesehatan.

Sebagian jawabannya bersifat personal, sebagian lainnya bersifat kolektif.

Hutan redwood di California Utara. Foto: Rhett Ayers Butler

Pada tingkat individu, salah satu penyesuaian yang sering disebut membantu adalah memisahkan identitas dari hasil.

Ketika nilai diri sepenuhnya bergantung pada keberhasilan menyelamatkan sesuatu, risiko kelelahan menjadi tinggi dalam dunia yang penuh ketidakpastian. Ini bukan berarti kepedulian berkurang, melainkan menempatkan batas pada apa yang dapat ditanggung oleh satu individu.

Seseorang dapat mencintai suatu tempat tanpa menjadikan nasibnya sebagai ukuran nilai diri.

Penyesuaian lain adalah bekerja berdasarkan kapasitas, bukan kebutuhan. Kebutuhan akan selalu lebih besar daripada kemampuan tim mana pun. Pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Jika segala hal diperlakukan sebagai keadaan darurat, maka keadaan darurat menjadi permanen. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan melelahkan siapa pun.

Kapasitas bukan tanda kurangnya komitmen. Ia adalah batas yang memungkinkan keberlanjutan.

Faktor lain adalah komunitas. Banyak pekerja konservasi merasa terisolasi, bahkan ketika bekerja bersama orang lain. Namun ketika tersedia ruang untuk berbicara secara terbuka tanpa risiko penilaian atau konsekuensi profesional, dinamika dapat berubah.

Dalam beberapa kasus, kesadaran bahwa orang lain mengalami hal serupa sudah memberikan dampak berarti.

Cagar Alam Khusus Dzanga-Sangha di Republik Afrika Tengah. Foto: Rhett Ayers Butler

Pada tingkat organisasi, terdapat prinsip yang mendasar: kesejahteraan tenaga kerja bukan hal tambahan. Ia merupakan bagian dari fondasi.

Program konservasi tidak dapat berjalan jika orang-orang di dalamnya terus kelelahan. Tidak mungkin mengklaim melindungi kehidupan sambil mengabaikan kesejahteraan staf sendiri.

Langkah-langkah yang dapat diambil mencakup pemantauan kondisi secara rutin, pelatihan untuk mengenali tanda-tanda tekanan, pengaturan beban kerja yang realistis, perlindungan waktu istirahat, mekanisme pelaporan yang aman, serta dukungan kesehatan mental sebagai standar. Ini bukan fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar.

Pemberi dana juga memiliki peran penting. Menuntut hasil ambisius tanpa mendukung biaya operasional dan kesejahteraan berarti menciptakan kondisi yang rentan terhadap kelelahan. Pendanaan yang fleksibel bukan hanya soal keuangan, tetapi juga memungkinkan organisasi merencanakan, mempertahankan tim, dan bekerja dengan lebih stabil.

Pelangi di atas hutan Jambi, Indonesia. Foto: Rhett Ayers Butler.

Kemudian ada pertanyaan tentang harapan.

Harapan sering disalahartikan sebagai penyangkalan. Padahal, dalam konteks ini, ia lebih tepat dipahami sebagai pendekatan.

Ia dimulai dengan memfokuskan perhatian pada hal-hal yang dapat dipengaruhi, menghubungkan upaya dengan hasil, serta mencatat keberhasilan kecil sebagai bukti bahwa tindakan memiliki dampak. Ia juga melibatkan penyampaian kisah keberhasilan secara jujur, agar dapat dipelajari dan direplikasi. Ini bukan untuk meniadakan keputusasaan, melainkan agar keputusasaan tidak menjadi satu-satunya narasi.

Kisah keberhasilan tidak menghapus kehilangan. Namun ia mencegah anggapan bahwa kehilangan adalah satu-satunya kemungkinan. Ia juga memulihkan sesuatu yang mendasar: kemampuan untuk bertindak.

Ketika orang merasa tidak berdaya, mereka cenderung menarik diri. Ketika mereka melihat hubungan antara tindakan dan hasil, mereka bertahan.

Inilah salah satu alasan banyak pekerja konservasi terus melanjutkan pekerjaan mereka. Bukan karena yakin akan keberhasilan, melainkan karena pernah menyaksikan momen yang menunjukkan kemungkinan lain.

Momen-momen tersebut bukan keseluruhan gambaran. Namun demikian juga dengan keputusasaan.

Dunia tidak hanya mengalami kerusakan. Ia juga menunjukkan ketahanan. Ia beradaptasi. Di banyak tempat, ia juga dipulihkan—secara perlahan dan tidak selalu terlihat.

Seorang anak sedang memegang seekor kadal air di California. Foto: Rhett Ayers Butler

Merawat dunia yang sedang mengalami penurunan memang memiliki biaya. Namun biaya tersebut tidak sepenuhnya tak terhindarkan. Ia dipengaruhi oleh cara pendanaan disusun, bagaimana organisasi dikelola, serta bagaimana manusia di dalamnya dihargai.

Sebuah gerakan yang bertujuan melindungi kehidupan perlu menjadi lebih baik dalam melindungi para pelakunya.

Bukan karena mereka rapuh, tetapi karena mereka manusia. Dan karena pekerjaan ini bersifat jangka panjang.

Menghadapi kesulitan dalam bidang ini bukan berarti gagal. Hal itu bisa menjadi tanda bahwa seseorang telah terlalu lama memikul beban tanpa dukungan yang memadai.

Kepedulian tidak perlu dihentikan. Namun cara menjaganya mungkin perlu disesuaikan.

Harapan tidak terletak pada keyakinan bahwa semua akan terselamatkan. Harapan terletak pada kemungkinan bahwa kepedulian dapat dipertahankan.

Seekor anak gajah di Dzanga Bai di Republik Afrika Tengah. Foto: Rhett Ayers Butler.

Konservasi selalu merupakan kerja lintas generasi. Bukan tentang memikul seluruh beban dunia. Melainkan tentang menjaga bagian masing-masing, cukup lama, agar orang lain dapat melanjutkannya.

Di situlah pemulihan sedang berlangsung.

Satu orang. Satu tim. Satu tempat. Satu langkah, yang diperoleh dengan usaha, setiap waktu.

Exit mobile version