- Satu gajah sumatera bernama Ratna mati di Kebun Binatang. Hal ini mendapat perhatian serius penegak hukum dan berbagai kalangan yang konsern satwa ini.
- Kamis (12/3/26), tim penyidik Ditjen Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, turun menyelidiki. Mereka juga melibatkan pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
- Anhar Lubis, dokter hewan yang memimpin tim medis menangani gajah Ratna, menyampaikan, hasil evaluasi klinis menyeluruh, hasil pemeriksaan laboratorium, dan hasil nekropsi pasca kematian, menunjukkan, penyebab utama kematian gajah Ratna karena gangguan fungsi ginjal dan hati. Juga, gangguan pada organ vital lainnya seperti jantung juga saluran pencernaan.
- Sayuti Malik, Elephant Captive Investigator Bio Wildlife, mempertanyakan reputasi R Zoo. Karena sejak berdiri, kebun binatang ini belum pernah bersentuhan langsung atau memelihara gajah, termasuk secara spesifik gajah sumatera.
Kematian satu gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di R Zoo dan Park milik Rahmat Shah, di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut) belum terang. Itu sebabnya, Ditjen Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan (Gakkum Kemenhut) dan pemerhati satwa menaruh perhatian serius.
Kamis (12/03/26), tim penyidik Ditjen Gakkum, turun menyelidiki. Mereka juga melibatkan pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pantauan Mongabay di Kantor BBKSDA Sumut siang itu, penyidik tampak hadir dan melakukan pertemuan tertutup. Hingga sore, mereka masih mondar-mandir di situ sambil membawa sejumlah dokumen.
Ristianto Pribadi, Kepala Biro Humas dan Kerjasama Luar Negeri, Kemenhut, saat Mongabay konfirmasi, Jumat (13/3/26), membenarkan hal ini.
Dia bilang, Ditjen Gakkum rutin mengawasi lembaga konservasi, termasuk kebun binatang, untuk memastikan pengelolaan satwa dilindungi berjalan sesuai ketentuan.
Kematian gajah Ratna di Rahmat Zoo, katanya, saat ini masih dalam proses penyelidikan, guna memastikan penyebab kematian secara objektif dan transparan. Informasi awal, kondisi kesehatan gajah itu sudah mengalami penurunan sejak sebelum penempatannya di lembaga konservasi.
R Zoo, katanya, tidak menempatkan gajah dalam kandang sempit. Tetapi di area yang memungkinkan ruang gerak cukup, serta tetap mendapatkan pengawasan dan pengelolaan dari kiper.
“Proses (pengawasan) tersebut masih berjalan, dan apabila ada perkembangan lebih lanjut tentu akan kami sampaikan kemudian,” katanya.
Menurut dia, penempatan gajah di lebih dari satu lembaga konservasi merupakan bagian dari upaya pengelolaan populasi untuk menghindari terjadinya perkawinan sedarah (inbreeding) serta menjaga keberlanjutan program pengembangbiakan (captive breeding).
“Ke depan, bersama unit pengelola di daerah akan terus memperkuat pengelolaan lembaga konservasi, termasuk pengaturan populasi, program pengembangbiakan, serta peningkatan standar kesejahteraan satwa guna mendukung upaya pelestarian gajah Sumatera.”
Analisis tim medis
Anhar Lubis, dokter hewan yang memimpin tim medis menangani gajah Ratna, menyampaikan, hasil evaluasi klinis menyeluruh. Hasil pemeriksaan laboratorium, dan hasil nekropsi pasca kematian, menunjukkan, penyebab utama kematian gajah Ratna karena gangguan fungsi ginjal dan hati. Juga, gangguan pada organ vital lainnya seperti jantung juga saluran pencernaan.
Dia bilang, gangguan fungsi ginjal pada Ratna diduga bersifat multifaktorial dipengaruhi oleh kondisi fisik awal kurang baik serta faktor usia lanjut.
Kondisi tubuh tidak optimal diduga membatasi kemampuan organ khususnya ginjal dan hati dalam mengolah asupan nutrisi.
“Akumulasi dari berbagai faktor tersebut, menyebabkan penurunan fungsi.”
Sebelumnya, Andar Abdi Saragih, Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) BBKSDA Sumut, menjelaskan, kondisi kesehatan gajah Ratna menurun sebelum mati. Awalnya, ada indikasi fistula kronis di kaki kiri bagian depan hewan tambun itu, sehingga harus mereka operasi.
Luka ini, katanya, secara rutin mahout bersihkan sewaktu masih di pusat latihan gajah Holiday Resort. Setelah operasi, kondisi Ratna semakin membaik. Ketika efek bius sudah hilang, gajah tersebut langsung bangkit dan beraktivitas seperti biasa.
Namun, dari pengamatan mendalam, Ratna terlihat tidak nafsu makan, mencret dan proses penyembuhannya tidak sesuai harapan. Kondisi tersebut membuat dokter hewan menyarankan pengecekan darah, termasuk kimia darah.
Hasilnya, terlihat adanya gangguan fungsi ginjal dan hati gajah Ratna.
“Soal gangguan fungsi ginjal ini harus mendapat penjelasan dari dokter hewan yang berkompeten. Untuk bangkai gajah, beberapa jam setelah kematian langsung dikuburkan dan sampai dengan sekarang belum ada rencana untuk pengawetan,” jelas Andar.
Sayuti Malik, Elephant Captive Investigator Bio Wildlife, menjelaskan, Ratna pernah luka parah di kaki kiri depan saat ua pindah dari Palembang ke pusat pelatihan gajah di Labuhan Batu Selatan, tahun 1995. Petugas di sana, katanya, senantiasa memerhatikan kondisinya termasuk mengobati luka-luka pada bagian kaki yang tampak berlubang.
Seiring waktu, sambil menjalani perawatan pada bagian kaki, satwa terancam punah itu melanjutkan hidup dan melahirkan satu individu gajah yang mendapat nama penanda Louis Figo. Saat ini berada di Aek Nauli melanjutkan hidupnya.
“Tak ada yang tahu penyebab luka pada bagian kaki satwa korban konflik ini. Tetapi yang mengejutkan adalah dia mampu bertahan dan bahkan melahirkan satu individu gajah jantan di pusat latihan gajah dan ini sangat luar biasa,” katanya.
berbagai persoalan muncul di pusat latihan gajah dan membuat situasi tidak kondusif. Gajah-gajah pun harus pindah, salah satunya ke Barumun Nagari, termasuk Ratna. Perawatan kakinya terus berjalan dengan pembersihan menggunakan air hangat serta obat-obatan.
Namun, prahara terjadi di sana, hingga BKSDA memutuskan menarik seluruh gajah di Barumun Nagari dan memindahkan 4 individu ke R Zoo dan tiga individu lagi kembali ke pusat latihan gajah.
Kondisi gajah Ratna, berdasarkan pemantauan mereka di kebun binatang itu, tampak baik pada saat baru tiba, meski luka di bagian kaki belum sembuh.
Menurut Malik, luka yang pihak otoritas sebut jadi salah satu faktor penurunan daya tahan tubuh itu perlu peninjauan lebih jauh ihwal rekam medis Ratna. Terutama melihat kemungkinan adanya luka infeksi di bagian kaki pasca pembedahan.
“Harus ada bukti medis penyebab pasti kematiannya. Perlu lihat hasil nekropsi dan uji laboratorium untuk mengetahui apakah gejala-gejala infeksi itu ditemukan atau tidak.”
Terkait salah satu penyebab kematian gajah Ratna karena masalah ginjal dan hati, menurutnya, ada kaitan dengan pencernaan. Dia menduga itu karena konsumsi air yang tidak bagus.
Di dekat kebun binatang itu, lanjutnya, terdapat ternak sapi dan ayam. Dugaan kuat, limbah atau kotoran dari ternak itu menjadi faktor tercemarnya air yang gajah konsumsi atau gunakan.
“Kalau BBKSDA Sumut bilang sudah ada pemeriksaan terhadap kualitas air dan dinyatakan bagus, maka Saya meragukan itu dan perlu ada tim independen yang harus memeriksa ulang kualitas air di sana yang kami anggap buruk.”
Pertanyakan reputasi
Dia mempertanyakan reputasi R Zoo. Karena sejak berdiri, kebun binatang ini belum pernah bersentuhan langsung atau memelihara gajah, termasuk secara spesifik gajah Sumatera.
Karena itu, dia menduga hewan-hewan ini hanya jadi barang pertunjukan. Mereka dipertontonkan, dan kontaknya dengan manusia jadi banyak, lalu khawatirnya, dilatih untuk atraksi.
Padahal, gajah lebih bahagia saat dekat ke habitat aslinya di alam liar. “Sebenarnya kalau ada kemauan, masih banyak opsi lain selain kebun binatang yaitu Aek Nauli yang habitatnya mirip alam liar,” ucapnya.
Beberapa tahun lalu, katanya, pernah ada pemindahan dua gajah Sumatera dari Barumun Nagari ke Aek Nauli dan hasilnya cuku bagus. Hasilnya pun cukup bagus.
“Sehingga menjadi pertanyaan besar Mengapa harus ke kebun binatang, apalagi R Zoo.”
Arisa Mukharliza, Head of Conservation & Life Science Yayasan Rahmat Indonesia, mengatakan, dalam pengelolaan satwa liar, setiap kondisi kesehatan bersifat kompleks. Sehingga, tidak dapat dikaitkan pada satu faktor tunggal tanpa melalui kajian yang menyeluruh.
R Zoo and Park, katanya, memahami perhatian dari berbagai pihak terkait kejadian ini. mereka memandang hal tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap satwa, khususnya gajah Sumatera yang memiliki nilai konservasi tinggi.
“Penanganan satwa dilakukan berdasarkan observasi langsung, pertimbangan teknis, serta evaluasi internal yang komprehensif sesuai dengan prosedur yang berlaku,” jelasnya, umat (27/03/2026).
Dia bilang, berbagai pandangan yang berkembang merupakan bagian dari perspektif eksternal yang perusahaan hargai. Namun, dalam praktiknya, setiap keputusan penanganan selalu berdasarkan kondisi aktual di lapangan yang memerlukan pendekatan profesional dan kontekstual.
Situasi ini, katanya, bagian dari proses evaluasi berkelanjutan, dari sisi medis, manajemen, maupun aspek kesejahteraan satwa, sebagai upaya untuk terus melakukan penguatan ke depan.
“Kami memandang, bahwa pengelolaan satwa merupakan proses yang dinamis, dan saat ini menjadi bagian dari evaluasi serta penguatan yang terus kami upayakan ke depan.”
*****