- Kaum perempuan dari komunitas adat Batin Sembilan di Desa Bungku, Jambi, masih memanfaatkan berbagai tanaman obat hutan untuk pengobatan keluarga, menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat adat dengan hutan.
- Melalui skema kemitraan kehutanan dalam kawasan Hutan Harapan yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia, kelompok perempuan KTH Maju Besamo mengelola hutan seluas 399 hektare secara komunal dengan izin selama 35 tahun.
- Pengetahuan obat tradisional masyarakat Batin Sembilan—mulai dari daun kandis, kulit berumbung, hingga buah gendum untuk ritual Besale—menjadi bagian penting dari sistem kesehatan, budaya, dan spiritual masyarakat adat.
- Menyempitnya ruang hutan dan perubahan pola hidup membuat pengetahuan obat tradisional ini mulai memudar di kalangan generasi muda, sehingga perempuan Batin Sembilan berupaya menjaga hutan demi keberlanjutan hidup dan budaya mereka.
Sore itu Yunani (40) berjalan cepat menuju hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya di Simpang Macan Luar, Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi. Suaminya sedang meriang. Dengan sebilah parang kecil di tangan, perempuan dari komunitas Batin Sembilan itu mencari pasak bumi di dalam hutan.
Akar tanaman itu akan direbus malam ini sebagai obat penurun panas. Bagi Yunani dan masyarakat adat Batin Sembilan, hutan bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga apotek keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pasak bumi yang diperolehnya, dia kupas sebagian akarnya tanpa diambil seluruhnya. Yunani tahu betul cara memanen tanpa merusak pohon.
“Kalau untuk sumber obat-obatan, pokoknya obat-obatnya masih melimpah di sini.” sebut Yunani. Baginya hutan bukan hanya sebagai ladang nafkah, tetapi juga apotek keluarga.
Hutan yang dia maksud adalah bagian dari kawasan Hutan Harapan yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia. Di dalamnya, kelompok Yunani mendapat hak kelola melalui skema kemitraan kehutanan.
Yunani dan keluarganya adalah anggota Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan. Mereka adalah warga adat yang sudah bergenerasi mendiami wilayah DAS Batanghari. Suku ini adalah salah satu rumpun suku asli Melayu Kuno yang ada di Jambi.
Dalam tradisi lisan, komunitas ini merupakan keturunan tokoh leluhur yang menurunkan sembilan kelompok yang menghuni wilayah sembilan sungai (batin), tempat mereka sejak itu bermukim.
“Saya anggota Masyarakat Batin Sembilan sekaligus Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo. KTH ini 90 persen anggotanya adalah perempuan,“ ujarnya. Karena anggotanya didominasi perempuan, kelompok ini menjadi unik.
Melalui skema kemitraan kehutanan, KTH Maju Besamo mengelola 399 hektare hutan secara komunal. Kelompok ini mendapatkan izin melalui SK. 5427/MENLHK-. PSKL/PKPS/PSL.0/8/2018, lahan yang dikelola tidak boleh dijual atau dipindahtangankan. Hak kelola ini berlaku 35 tahun dan dapat diperpanjang.
Di kawasan ini terbit sepuluh Surat Keputusan Pengakuan Perlindungan Kemitraan Kehutanan yang dikenal sebagai Kulin KK. Enam SK diberikan kepada warga imigran dan Melayu di Jambi serta kelompok Rompok Kapas Tengah di Sumatera Selatan.
Empat lainnya menjadi benteng hukum bagi kelompok SAD Batin Sembilan semi-nomaden di Kecamatan Bajubang, Batanghari.
Empat kelompok itu kini memiliki legitimasi komunal: KTH Lamban Jernang Sei Kelompang (23 kepala keluarga, 353 hektare), Kelompok Gelinding Marga Batin Kandang Rebo (9 kepala keluarga, 26 hektare), Kelompok Simpang Tanding (17 kepala keluarga, 675 hektare), dan KTH Maju Besamo(37 kepala keluarga yang mengelola 399 hektare).
Bagi Yunani, status itu penting karena memberi kepastian.
“Tujuannya kami mau ada di Perhutanan Sosial ini. Yang jelas kami pengen bebas, pengen aman. Pengen diakui pemerintah. Kami tak pengen lagi kalau berkebun itu seperti pengalaman dulu, dikejar-kejar [aparat],” katanya.
Dengan pengakuan resmi, mereka tidak lagi merasa bersembunyi di tanah sendiri.
“Pentingnya lahan bagi kami karena ini sumber ekonomi utama kami, sumber kehidupan kami. Mulai dari sekarang sampai turun-temurun memang hanya di sini,” kata Yunani.
Hutan sebagai Tiang Penyangga Keluarga
Para perempuan Batin Sembilan tahu di mana tumbuhan obat yang ada di dalam hutan. Bagi mereka, hutan bukan sekadar ruang produksi, tapi bagian dari kehidupan. Itulah yang menambah motivasi mereka untuk menjaga hutan warisan leluhur.
Sejak kecil, –berdasarkan pengetahuan yang diturunkan dari orangutnya, mereka tahu bahwa pasak bumi dapat digunakan untuk menguatkan tubuh, daun kandis untuk menurunkan deman, dan kulit kayu berumbung dapat digunakan untuk mengobati malaria.
“Tempat tinggal kami di sini. Hutan ini sudah seperti rumah bagi kami, warga Batin Sembilan.”
Hutan itu yang menyediakan ikan dari sungai kecil, daging buruan saat musim memungkinkan, serta sayur-sayuran liar. Kayu untuk memasak dan akar untuk obat tersedia di dalamnya.
Saat seorang bayi dilahirkan, perempuan Batin Sembilan mencari kulit kayu terap. Seratnya yang lentur dipintal untuk mengikat ari-ari. Itu bukan sekadar praktik medis tradisional, melainkan simbol: hidup manusia ditambatkan pada kebaikan hutan.
Ketika demam menyerang anak-anak, daun kandis direbus hingga airnya keruh kecokelatan. Jika campak menampakkan bintik merah, kulit sengkuang menjadi perisai. Saat malaria merayap lewat gigitan nyamuk rawa, kulit berumbung diramu pekat untuk meredakan demam menggigil.
Untuk luka akibat parang atau duri, getah dan urat akar sekriput ditempelkan sebagai penutup alami. Tubuh yang letih setelah menyusuri batas wilayah dipulihkan oleh rebusan akar kait-kait.
Di lapisan tertinggi pengetahuan mereka, berdiri pasak bumi, “raja obat”, yang diyakini menyembuhkan penyakit dalam dan menguatkan tubuh lelaki pemburu.
Hutan bahkan merawat sisi spiritual mereka. Buah gendum (=sejenis sorgum) menjadi syarat sakral dalam Besale, ritual penyembuhan dan pembersihan roh yang menghubungkan manusia dengan arwah nenek moyang. Tanpa buah itu, upacara Besale hanya tinggal cerita.
Namun kondisi sekarang sudah banyak berubah. Dari sekitar 400-an jiwa yang tergabung dalam SAD Batin Sembilan di kawasan ini, kini tak lebih dari 34 orang yang masih bertahan dengan pola hidup nomaden. Sebagian besar terpaksa menetap karena ruang jelajah menyempit dan hutan terdegradasi.
Akibat tidak lagi hidup di hutan khususnya bagi generasi muda, pengetahuan mereka tentang hutan lambat laun luntur.
Tika (21), anggota KTH Maju Besamo, mengatakan banyak remaja perempuan kini tidak lagi mengenal tanaman obat seperti generasi orang tua mereka.
“Sekarang anak-anak perempuan, banyak yang sudah tidak tahu lagi nama-nama obat dari hutan. Kadang cuma dengar dari orang tua, tapi tidak pernah ikut cari,” ujarnya. “Kalau tidak sering masuk hutan, tidak akan tahu mana daun untuk mengobati demam, mana akar untuk obat. Lama-lama semua bisa hilang.”
Guna meneruskan pengetahuan ini kepada generasi berikutnya, Yunani dan kelompoknya bertekad untuk terus menjaga hutan. Menjaga hutan bukan sekedar sikap moral, tetapi juga soal keberlanjutan hidup lintas generasi. Termasuk pelbagai pengetahuan adat yang menyertainya.
“Untuk itulah kami, kaum perempuan ikut turun menjaga hutan ini. Kami inginkan hutan ini jangan sampai habis dirambah para pendatang-pendatang dari luar untuk dijadikan perkebunan sawit,” ujarnya.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Kalau sudah dijadikan perkebunan sawit, hutan tidak ada lagi. Nomor satu, oksigen kita sudah tidak ada lagi. Sudah itu kami mau mencari apapun sudah tidak ada lagi. Jadi kami butuh hutan ini, memang benar-benar kami butuhkan.”
Dari rumah Yunani ke hutan, jaranya hanya 50 meter saja, terlihat dekat. Namun jarak itu pula yang akan menentukan bagaimana eksistensi komunitas SAD Batin Sembilan akan dapat bertahan di generasi mendatang di tengah derasnya perubahan.
*****
Warisan Leluhur yang Terancam Punah, Berikut Tumbuhan Berkhasiat Obat dari Bukit Bulan