Mongabay.co.id

Perbandingan Dua Ular Raksasa: Sanca Sulawesi Lebih Panjang, Namun Anaconda Lebih Berat

Tim peneliti yang sedang merekam program TV untuk National Geographic menemukan spesies anakonda raksasa baru di Amazon Ekuador. Spesies ini diberi nama Eunectes akayima.

Tim peneliti yang sedang merekam program TV untuk National Geographic menemukan spesies anakonda raksasa baru di Amazon Ekuador. Spesies ini diberi nama Eunectes akayima.

Dunia herpetologi baru saja mencatat sejarah besar yang bermula dari pedalaman Sulawesi. Guinness World Records secara resmi mengonfirmasi “Ibu Baron”, seekor sanca kembang (Malayopython reticulatus), sebagai ular liar terpanjang yang pernah tercatat secara ilmiah hingga saat ini. Penemuan di awal tahun 2026 ini bukan sekadar klaim sepihak. Pengukuran ketat menunjukkan angka 7,22 meter yang melampaui panjang kontainer pengiriman standar. Prestasi Ibu Baron ini sekaligus mengukuhkan kembali posisi Indonesia sebagai rumah bagi reptil terpanjang di planet bumi. Rekor ini mematahkan anggapan lama bahwa ular liar di habitat asli sulit mencapai ukuran ekstrem akibat tekanan lingkungan dan perburuan manusia.

Namun, pengukuhan Ibu Baron ini kembali memicu perdebatan klasik yang telah berlangsung selama puluhan tahun di kalangan peneliti. Pertanyaan besarnya tetap sama. Mana yang lebih unggul antara sang pemegang rekor panjang dari Asia melawan sang penguasa bobot dari Amazon? Meskipun sanca kembang Sulawesi unggul dalam hal jangkauan tubuh, anaconda hijau (Eunectes murinus) dari Amerika Selatan tetap tidak terkalahkan dalam hal massa otot dan volume tubuh. Riset genetik terbaru pada tahun 2024 bahkan mengungkapkan adanya spesies baru anaconda utara yang memiliki kekuatan lilitan luar biasa. Hal ini memperjelas bahwa evolusi telah menciptakan dua jenis monster yang berbeda. Satu berevolusi untuk kelincahan dan jangkauan di hutan tropis Asia, sementara yang lain berevolusi menjadi “tank” air yang masif di rawa-rawa Amazon.

Karakteristik Biologis dan Adaptasi Sanca Kembang Sulawesi

Ibu Baron yang ditemukan di wilayah Sulawesi memiliki keunggulan utama sebagai ular dengan tubuh terpanjang di dunia. Dengan panjang resmi mencapai 7,22 meter di alam liar, spesies sanca kembang (Malayopython reticulatus) ini memiliki morfologi tubuh yang cenderung ramping dengan susunan otot yang memanjang. Struktur fisik yang aerodinamis ini menjadikannya predator penyergap yang sangat lincah di daratan. Meskipun memiliki panjang yang ekstrem, bobot Ibu Baron yang tercatat sekitar 96,5 kilogram memungkinkan ular ini untuk tetap memiliki rasio kekuatan terhadap berat yang ideal. Hal ini sangat krusial agar ia tetap gesit saat bergerak di lantai hutan yang bergelombang atau bahkan memanjat pohon besar demi mengintai mangsanya dari ketinggian.

Ular ini diberi nama Ibu Baron. Saat ini ia berada dalam perawatan konservasionis lokal Budi Purwanto di Maros. Ia dievakuasi segera setelah ditemukan untuk mencegah pembunuhan oleh warga. Foto: Guiness Book of Records

Secara biologis, sanca kembang seperti Ibu Baron mengandalkan kecepatan serangan dan jangkauan gigitan yang luas. Tubuhnya yang panjang berfungsi layaknya pegas yang bisa meluncur dengan sangat cepat untuk menyergap mamalia besar seperti rusa atau babi hutan. Keberadaan individu dengan ukuran fenomenal ini di Sulawesi memberikan bukti ilmiah yang kuat bahwa ekosistem di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, masih memiliki integritas lingkungan yang cukup untuk menyediakan ruang bagi pertumbuhan maksimal predator puncak. Pertumbuhan hingga mencapai 7,22 meter memerlukan ketersediaan mangsa yang stabil dan habitat yang minim gangguan manusia selama puluhan tahun.

Kapasitas Massa dan Volume Tubuh Anaconda Hijau

Di belahan bumi lain, anaconda hijau (Eunectes murinus) dari Amerika Selatan memegang predikat yang berbeda sebagai ular terberat dan terkuat di planet ini. Meskipun panjang maksimalnya secara ilmiah biasanya berada di kisaran 6,3 hingga 6,5 meter, anaconda memiliki diameter tubuh yang sangat masif dan jauh lebih besar dibandingkan sanca kembang. Otot-otot pada tubuh anaconda tumbuh sangat tebal dan padat sehingga volumenya jauh melampaui sanca kembang meskipun keduanya berada pada panjang yang sama. Sebagai predator yang menghabiskan sebagian besar waktunya di air (semi-akuatik), anaconda sangat mengandalkan daya apung air untuk menopang berat tubuhnya yang luar biasa masif.

Anakonda hijau utara, spesies baru yang ditemukan di Ekuador, sedang memangsa seekor kadal besar. Foto oleh Jesus Rivas.

Adaptasi evolusioner ini memungkinkannya menjadi pemburu yang mematikan di wilayah perairan Amazon yang tenang. Di dalam air, berat badan anaconda yang bisa mencapai lebih dari 200 kilogram tidak menjadi beban, melainkan berubah menjadi energi kinetik dan kekuatan lilitan yang menghancurkan. Kekuatan lilitan dan massa tubuh yang sangat padat ini menjadi senjata utama bagi anaconda untuk melumpuhkan mangsa yang sangat kuat dan berbahaya, seperti kapibara atau bahkan kaiman (buaya Amazon). Strategi ini sangat kontras dengan sanca kembang yang lebih mengandalkan fleksibilitas daratan. Anaconda adalah representasi dari kekuatan murni melalui volume, sementara sanca kembang adalah representasi dari efisiensi melalui panjang tubuh.

Exit mobile version