Mongabay.co.id

Upaya Petani Ngawi Beralih dari Pupuk Kimia ke Organik

  • Banyak petani di berbagai daerah di Indonesia, gunakan pupuk kimia. Kondisi ini menimbulkan berbagai masalah. Bersyukur, mulai muncul petani-petani yang menyadari betapa pertanian bebas zat berbahaya itu baik bagi lingkungan juga kesehatan manusia, mereka pun mulai berani dari pertanian gunakan bahan kimia ke alami.
  • Petani seperti Burhanudin Khulyubi, dari Ngale, Ngawi, mulai tergerak terapkan pertanian organik. Dia bikin sendiri pupuk organik, dari kotoran sapi, kambing, hingga ayam, campur dengan daun-daunan dan buah-buahan sebagai bahan pengurai aktif. Burhanudin membangun pertanian terintegrasi, punya kandang sapi dan domba, lengkap dengan fasilitas pembuatan pupuk organik.
  • Syafi’i Latocunsina, praktisi pertanian sekaligus Dewan Pakar Majelis Pemberdayaan Muhammadiyah (MPM), mengatakan, kalau pemerintah mau, sebenarnya tidak perlu memberi subsidi pupuk kimia, tetapi membangun sistem pertanian berkelanjutan. Caranya, dengan membantu petani memelihara hewan ternak sesuai luas pertaniannya, kotoran jadi pupuk. Petani punya ‘pabrik’ pupuk sendiri.
  • Banyak sumber pupuk alami, salah satu jerami. Bonjok Istiaji, dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mengatakan, jerami punya kandungan kalium cukup tinggi. Sayang sekali kalau harus petani bakar sehabis panen. Sehabis panen, tebar jerami di areal lahan dan beri dekomposer supaya proses pelapukan jerami lebih cepat. Dekomposer bisa dibuat dengan pupuk kandang dan air.

Menjelang panen padi, para petani Ngawi, Jawa Timur,  risau karena padi mereka terkena penyakit, batang memerah.

Hartono, petani Desa Ngale, Kecamatan Paron, Ngawi, mengalami itu. Dia tidak begitu tahu apa yang menyebabkan padinya merah-merah seperti itu.

Dia mengaku, setelah beri pupuk, batang padi tiba-tiba memerah.

“Bukan tempat saya saja, yang lain juga,” kata Hartono saat ditemui di Ngale, 23 Januari.

Tak hanya memerah, tanaman padi juga kerdil walau kini sudah mulai berbuah.

Hartono mulai bertani sejak akhir 70-an dari awal sudah pakai pupuk kimia. Alasan dia tak pakai pupuk organik karena keterbatasan tenaga kerja.  Para buruh tani, katanya, nyatakan gatal saat pasang pupuk organik, hingga terkadang tidak mau bekerja untuknya.

Temannya pernah juga menawati pupuk kandang gratis, tetapi dia tidak mau. Alasan sama, ketersediaan tenaga kerja.

“Daripada nanti kita gak dapat orang kerja, ya, lebih baik tidak saya pakai kimia saja.”

Dia pernah pakai pupuk organik, ketika beli pupuk kimia harus beli yang organik.

Dalam satu hektar lahan, Hartono bisa menghabiskan enam kuintal pupuk kimia. Dalam keadaan normal, dia bisa panen 7,5-8 ton per hektar. Panen tiga kali dalam setahun.

Bonjok Istiaji, dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mengatakan,  daun padi memerah dari ujung sampai pangkal itu diduga penyakit kresek/hawar daun bakteri (bacterial leaf blight/BLN) karena bakteri Xanthomonas oryzae pv. Oryzae.

Daun padi dengan warga coklat kemerahan di sawah petani Ngawi, Jawa Timur. Foto: dokumen Riana

Dia masih menduga karena tidak melihat langsung padi di Ngawi untuk bisa memastikan penyakitnya, hanya berdasarkan foto yang Mongabay tunjukkan.

Bakteri itu, katanya,  menyebar lewat angin. Kemunculannya biasa bersamaan dengan angin barat, cuaca panas tetapi ada hujan. Itu kondisi bagus bagi bakteri menyebar dan berkembang. Penyakit ini lumrah bagi tanaman padi.

Untuk tanaman kerdil, beda lagi. Padi kerdil itu biasa terkena virus kerdil rumput tipe dua. Virus timbul dari tanaman yang sakit. Ia akan diperburuk ketika terdapat serangga wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada padi.  Terlebih,  bila terserang wereng sejak masih pembibitan, virus bisa makin merata.

Track record-nya cukup menyeramkan itu. Tahun 2016-2017 petani sampai menanam berkali-kali dalam satu musim itu,” kata Bonjok. 23 Februari lalu.

Saat itu, katanya, petani menanam ulang sampai lima kali, setiap 40 hari, ketika sudah ketahuan tidak sukses, mereka traktor dan tanam ulang. Pada 2010,  juga pernah terjadi hal serupa.

Penyebabnya,  karena terjadi ketidakseimbangan antara kalium, nitrogen, dan unsur hara tanah. Terkadang, nitrogen tinggi tetapi kalium rendah hingga sel-sel dalam tanaman padi mudah ditembus penyakit. Penyebab lainnya, bisa karena penyemprotan pestisida berlebihan.

Fasilitas pertanian terpadu milik Burhanudin, terdapat kandang sapi, kambing, fasilitas pembuatan pupuk organik, dan lain sebagainya. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia

Tekuni pertanian organik

Perubahan kondisi tanaman padi dan hasil pertanian juga Burhanudin Khulyubi, petani Ngale, rasakan. Dia bilang, pertanian awal 2000-an dan sekarang sudah berbeda. Kondisi tanah mulai jenuh dan terjadi penurunan hasil panen.

Pada 2000-an, katanya, petani panen 8-10 ton merupakan hal mudah, sekarang untuk enam ton saja sulit.

“Waktu itu, pupuknya memang satu hektar satu ton,” katanya, 23 Januari.

Penggunaan pupuk kimia, menuntut porsi pupuk lebih banyak dari sebelumnya. Hal itu membuat kesuburan tanah menurun.

Burhanudin pun beralih pada pupuk organik. Sejak empat tahun terakhir dia tidak pakai pupuk kimia sama sekali.

Dia bikin sendiri pupuk organik, dari kotoran sapi, kambing, hingga ayam, campur dengan daun-daunan dan buah-buahan sebagai bahan pengurai aktif.

“Kemarin ini kan bermasalah semua toh, padi merah-merah semua, tempat saya gak ada itu, gak ada sama sekali, nanti bisa dilihat,” kata Burhanudin.

Selama empat musim terakhir ini, pertanian Burhanudin tidak kena penyakit.

Dia menyadari, perlu proses lama untuk sampai pada tahap stabil dalam membangun pertanian organik. Jarang petani telaten ketika beralih dari kimia ke organik.

Saat awal peralihan, hasilnya cenderung berkurang dari sebelumnya. Tetapi, kesuburan tanah dan hasil panen akan berangsur baik. Masa panen juga tidak lebih lama daripada pertanian kimia.

Saat panen terakhir, Burhanudin termasuk yang menanam terakhir, tetapi tidak panen terakhir.

“Nanti akhirnya sama atau lebih baik. Cuma itu kan proses,” katanya.

Burhanudin membangun pertanian terintegrasi. Beberapa ratus meter di selatan rumahnya ada kandang sapi dan domba, lengkap dengan fasilitas pembuatan pupuk organik. Mulai dari kotoran sampai kencing hewan-hewan ternak itu dia olah jadi pupuk.

Dalam satu fasilitas itu juga ada kolam ikan sampai kolam buat budidaya rumput azola.

Di kandang itu ada lima sapi dan 75 domba.

Tumpukan pupuk cair yang siap digunakan. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia

Syafi’i Latocunsina, praktisi pertanian sekaligus Dewan Pakar Majelis Pemberdayaan Muhammadiyah (MPM), mengatakan,  sistem pertanian Burhanudin inilah yang seharusnya Indonesia kembangkan dan pemerintah dukung.

Dia sejak menjadi praktisi pertanian dan perkebunan berkali-kali berupaya memperkenalkan pertanian organik.

Apa yang datang dari alam harus kembali kepada alam. “Itulah filosofi dasar yang perlu dibangun dalam sistem pertanian Indonesia.”

Dia bilang, kalau pemerintah mau, sebenarnya tidak perlu memberi subsidi pupuk kimia, tetapi membangun sistem pertanian berkelanjutan. Caranya,  dengan membantu petani memelihara hewan ternak sesuai luas pertaniannya, kotoran jadi pupuk. Petani punya ‘pabrik’ pupuk sendiri.

“(Pemerintah) mau enggak, karena pupuk kimia itu bagian dari bisnis pemerintah dengan masyarakat,” katanya.

Hitungannya, satu sapi hasilkan 20-30 kg kotoran dan 15-20 liter kencing per hari, tergantung makannya. Jika dikumpulkan dalam satu bulan, setidaknya 600 kg kotoran dan 450 liter kencing.

“Lalu ditambah dengan jerami, proses jadi pupuk, sudah bisa untuk setengah hektar,” jelas Syafi’i.

Jerami dan sekam padi bisa jadi pupuk organik dalam bentuk biochar. Biochar berbentuk arang, sejatinya bukan hanya dari sekam padi, juga dari tumbuhan lain yang dibakar menjadi arang, tidak sampai menjadi abu, dengan proses tertentu.

Selain menjadi pupuk, biochar ini mampu menahan air lebih lama hingga kebutuhan tanaman terhadap air lebih tercukupi.

Berdasarkan penelitian Ali Rahmat, peneliti BRIN, biochar dari sekam padi tidak mampu meningkat pH tanah secara signifikan, tetapi biochar mampu meningkatkan kandungan karbon tanah.

Pembuatan biochar menggunakan sekam padi bisa secara mandiri oleh petani, begitu pula dengan pembuatan pupuk organik lainya.

Nah, ini tugas pemerintah lewat departemen pertanian untuk mengajarkan itu kepada petani-petani, kepada masyarakat, harusnya … tidak dengan menjadi agen-agen pupuk kimia buat para petani,” kata Syafi’i.

Dengan sistem pertanian seperti itu, biaya pertanian menjadi jauh lebih sedikit dan kualitas tanah serta hasil panen juga lebih baik.

Kalau pertanian terus tergantung pada pupuk kimia, selain biaya mahal, bayang-bayang gagal panen akan selalu menghantui para petani.

Mulsa yang dibuat siswa SMPN 3 Paron diaplikasikan pada tanaman pot di sekitar sekolah. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia

Bonjok berpandangan sama. Jerami, katanya,  salah satu sumber pupuk alami dengan kalium cukup tinggi. Sayang sekali kalau harus petani bakar sehabis panen.

“Bagusnya, jerami itu enggak boleh dibakar.  Bagusnya jerami itu dibusukkan, dikomposkan di lahan.”

Dia menyarankan, sehabis panen, tebar jerami di areal lahan dan beri dekomposer supaya proses pelapukan jerami lebih cepat.

Dekomposer bisa dibuat dengan pupuk kandang dan air. Takarannya, jika tiga ember pupuk kandang, maka tujuh ember air. Keduanya diaduk sampai rata dan disaring.

“Itu yang paling gampang kalau mau bikin,” katanya.

Sisi lain, bila jerami belum terurai dengan baik saat di tanah lalu lahan mulai ditanami, bisa berdampak negatif. Ia rentan terkena penyakit asam-asaman karena terjadi perebutan unsur hara antara tanaman dengan mikroba pengurai.

“Itu biasanya nanti tanamannya akan menunjukkan gejala kekurangan nitrogen, daunnya kuning,” jelas Bonjok.

Kejadian seperti ini bisa terjadi ketika petani tidak mengistirahatkan lahan setelah panen, sisa-siswa jerami langsung mereka traktor, atau benamkan, dan langsung tanam dalam waktu dekat.

Idealnya, kata Bonjok, lahan perlu istirahat dan jerami terurai paling cepat selama satu bulan.

Dia lebih merekomendasikan para petani menanam padi dua kali dalam satu tahun untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Tempat pembuatan mulsa milik SMPN 3 Paron yang menggunakan tandon bekas. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia

Belajar dari sekolah

Belajar pupuk alami tak hanya oleh petani, sekolah pun mulai lakukan pengenalan, seperti di SMPN 03 Paron. Sekolah ini mulai mengenalkan kepada siswa soal pertanian organik dengan pupuk alami, salah satu dari jerami.  SMPN 03 Paron berdiri di antara hamparan sawah nan luas.

Riana Fathonah Qoidah, guru di SMP itu merupakan salah satu guru pembaharu Ashoka. Dia bikin Komunitas Mulsa Jerami Padi (Mujepa).

Mujepa ini adalah salah satu programnya sebagai guru pembaharu yang dia mulai sejak 2025. Komunitas itu membuat mulsa dari jerami padi.

Tempat pembuatan mulsa di samping SMP. Dia pakai tandon air bekas yang ditanam ke tanah berkapasitas 1.200 liter.

Melihat jerami yang begitu banyak setelah musim panen dan tidak dimanfaatkan kecuali jadi pakan ternak dan dibakar. Dia berpikir,  asap pembakaran itu turut menyumbang krisis iklim.

Riana mencoba menghubungi Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Aneka Kacang, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Kementerian Pertanian, di Paron.

Dia bertanya, apa saja yang bisa dia lakukan untuk memanfaatkan jerami dan bisa diajarkan kepada para siswa.

Dari situ, Riana berkolaborasi dengan Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Aneka Kacang di Paron untuk mengajarkan dan membuat mulsa jerami.

Purwati, Kepala Sekolah SMPN 03 Paron, mengatakan, selalu mendukung inisiatif-inisiatif baik para guru.

Sejak tahun ajaran baru lalu, dia membuat program pohon asuh untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap lingkungan, dan alam sekitarnya. Program itu mengharuskan wali murid mendonasikan pohon buat sekolah dan siswa yang merawat.

“(Program ini akan dilaksanakan) setiap awal semester baru, baru dimulai.”

Riana dorong kenalkan pertanian dari masa sekolah karena melihat pertanian hadapi berbagai tantangan, dari cuaca hingga hama, penyakit,  bahkan, generasi muda yang minim minat jadi petani.

Padahal,  petani adalah garda terdepan dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, hanya 2,14 persen Gen Z yang tertarik terhadap pertanian.

Dia pun berusaha mendekatkan siswanya dengan dunia pertanian. Tak jarang dia membawa para siswanya bertemu dengan para petani untuk saling bertanya berbagai hal terkait dunia pertanian.

“Dari situ juga kami mengajarkan,  petani bukan profesi kedua,” kata Riana.

Instalasi pengolahan pupuk cair organik milik Burhanudin di Ngawi. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia

 

 

*Liputan ini didukung oleh Ashoka Indonesia dan Tempo Institute.

 

 

*****

 

Cerita Samanhudi, Penggerak Pertanian Organik dari Banyuwangi

Exit mobile version