- Sejak ditemukan pada 2008, sumber air di Gua Pulejajar, Kalurahan Jepitu, baru bisa dimanfaatkan optimal pada 2025 karena kendala topografi karst yang berbukit. Melalui jaringan pipa sepanjang 41 km, air kini mengaliri sekitar 300 hektar lahan milik 375 petani, memanfaatkan perbedaan ketinggian 19 meter antara sumber air dan mulut gua sehingga aliran bisa mengandalkan gravitasi.
- Seluruh proses pembangunan hingga pengelolaan dilakukan secara swadaya oleh warga yang tergabung dalam Komunitas Merawat Bumi (Kombi). Warga bergotong royong memasang pipa selama empat bulan, membeli lahan gua secara kolektif untuk mencegah klaim privat, serta menolak upaya korporasi yang ingin mengambil alih sumber air tersebut.
- Biaya air dari gua lebih murah (Rp2.000/m³) dibanding PDAM (Rp3.500/m³), membantu meringankan beban petani. Akses air memungkinkan petani meningkatkan frekuensi dan variasi tanam, mengurangi ketergantungan pada sistem tadah hujan, serta menunjang kebutuhan ternak dan aktivitas di lahan yang jauh dari rumah.
- Ekspansi hotel dan resort di kawasan karst Gunungkidul, termasuk pembangunan sumur bor dalam, berpotensi merusak sistem hidrologi bawah tanah. Data Walhi Jogja menunjukkan ekstraksi air industri wisata mencapai puluhan juta liter per tahun dan telah merusak puluhan hektar karst di Kawasan Bentang Alam Karst Gunungsewu, yang dilindungi regulasi nasional.
Lima selang berbagai ukuran menjulur keluar dari mulut goa yang tak seberapa lebar itu. Selang-selang ini mengarah ke bak penampungan air berkapasitas enam dan 30 meter kubik. Dari sana air dialirkan lagi lewat empat pompa aneka jenis.
Air dari Goa Pulejajar di Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul ini warga manfaatkan untuk pertanian. Ada sekitar 300 hektar sawah warga teraliri air ini dengan panjang total pipa mencapai 41 kilometer. Terdapat 375 petani yang memanfaatkan jaringan pipa ini sejak 2025.
Sumber air ini sejatinya sudah warga temukan sejak 2008. Karena topografi wilayah yang berbukit khas kawasan karst membuat kesulitan dan baru bisa memanfaatkannya pada 2025.
Sebelumnya, warga mesti mengambil secara manual dengan memikul air dari mulut gua ke lahannya. Baru pada 2019 air bisa dipindahkan dengan pompa, tapi kapasitas masih kecil.
Kehadiran sumber tirta ini jadi berkah bagi warga Jepitu karena krisis air sudah berlangsung di pesisir selatan Gunungkidul ini. Berkah itu harus dicari dengan menyusuri Gua Pulejajar yang karakternya vertikal dengan kedalaman 1.200 meter dari mulutnya.
Awalnya, Komunitas Merawat Bumi (Kombi) yang berisi pemuda-pemuda Jepitu membuat pemetaan gua dan sumber airnya. Dari peta itu, terlihat kedalaman gua berkelok-kelok. Beberapa aliran di bawah tanah itu juga memiliki lebar bervariatif.
Meski berada di bawah tanah, ternyata sumber air di dalam gua memiliki ketinggian di atasnya. Rubiyanto, Ketua Kombi mengatakan, selisih tinggi sumber air dengan mulut gua itu 19 meter.
“Karena lebih tinggi sumber air maka tinggal memanfaatkan gravitasi untuk mengalirkannya,” katanya pertengahan Januari.
Posisi sumber air yang lebih tinggi dari mulut gua merupakan karakter alami sistem karst Gunungkidul. Air di kawasan karst mengalir dan tersimpan dalam jaringan rongga dan sungai bawah tanah yang saling terhubung, dikendalikan tekanan hidrologi dari daerah imbuhan yang lebih tinggi.
Air di dalam gua tidak mengikuti kontur permukaan tanah di luarnya. Lorong gua yang tertutup membuat air tertahan meski pintu gua lebih rendah, sehingga aliran dapat dimanfaatkan dengan gravitasi lewat pipa yang dipasang warga.
Swadaya warga dan pengelolaan mandiri
Selama penemuan sumber air dari 2008 sampai bisa mengalir ke lahan pertanian warga pada 2025 semua warga Jepitu lakukan secara mandiri.
“Lama waktunya karena semua swadaya, beberapa kali ada donatur yang membantu tapi sifatnya tidak permanen,” kata Rubiyanto.
Saat membangun pipa yang menghubungkan sumber air dalam gua sampai keluar ke permukaan saja perlu waktu empat bulan. Prosesnya dengan gugur gunung atau kerja bakti gotong royong pada akhir pekan.
Gugur gunung ini dilakukan seluruh warga, jelas Rubiyanto, dengan pembagian tugas seperti kelompok perempuan memasak, pemuda masuk ke gua untuk memasang pipa, hingga laki-laki dewasa mengerjakan pipa di permukaan tanah.
“Lahan di gua itu juga kami beli secara mandiri atas nama kelompok,” katanya.
Pembelian lahan menggunakan uang iuran bersama untuk menjaga air yang ada di dalamnya agar dikuasai secara komunal. Selain itu juga untuk mengantisipasi konflik mengingat air jadi kebutuhan mahal di sana yang langganan kekeringan.
Kini tidak ada yang bisa mengklaim sumber air disana milik perorangan. “Soalnya pernah ada korporasi yang mencoba mengambil air di sini, kami menolaknya karena sudah susah payah menemukan, mengeluarkan airnya, dan mengelolanya.”
Tantangan yang mereka hadapi kini dari pengelolaan sumber air ini adalah menekan biaya. Sebab, tiap bulan rata-rata perlu Rp2.000.000, hanya untuk pembayaran listrik.
Sebelumnya pernah dipasang panel surya kini sudah rusak. Daya listrik untuk menghidupkan pompa juga mencapai 11.000 watt hingga energi dari pembangkit surya itu tak cukup.
Rubiyanto sedang mengembangkan pompa hidrolik yang tak membutuhkan listrik. Sistem kerjanya menggunakan debit air yang terpancar karena gravitasi.
“Sudah ada satu yang terpasang dan berhasil mengalirkan air, tapi perlu dikembangkan lagi supaya bisa memenuhi kebutuhan.”
Sementara ini untuk menopang kebutuhan menggunakan pompa listrik sebanyak tiga unit. Penggerak aliran air dari permukaan rendah ke wilayah yang lebih tinggi ini juga dikendalikan secara jarak jauh dengan jaringan internet.
Sistem pengelolaan otomasi ini dia kembangkan secara otodidak. Dia dan tim dari Kombi yang mengelola sumber air di Gua Pulejajar ini hanya bermodal video pembelajaran di Youtube sebagai panduan untuk belajar.
“Kebetulan ada ahlinya dari Mojokerto, kami belajar dari sana secara mandiri juga. Kedepan akan terus dikembangkan dengan tujuan menekan biaya operasional agar tidak membebani ekonomi warga.”
Lebih murah
Meski mandiri biaya langganan air dari Gua Pulejajar justru lebih murah dari PDAM Gunungkidul. Tiap petani yang memanfaatkan air ini hanya terbebani Rp2.000 per meter kubik.
Padahal harga air dari PDAM Gunungkidul Rp3.500 per meter kubik. Jumbidan, petani di Jepitu yang jadi salah satu penerima air ini mengaku sangat terbantu dengan pengelolaan Kombi.
Sebelum menggunakan air dari Gua Pulejajar, Jumbidan harus memikul jerigen berisi 20 liter air dengan jergien sejauh satu kilometer. “Memikulnya itu berat sekali, terutama karena jalannya naik turun apalagi usia juga sudah tua begini.”
Air yang dipikul itu terutama untuk memenuhi kebutuhan minum sapinya. Petani di Jepitu memang menaruh kandang ternaknya di lahan pertaniannya yang rata-rata jaraknya 7 kilometer dari rumahnya.
Tiap lahan biasanya terdapat gubuk yang ditinggal petani untuk istirahat siang atau bermalam menjaga tanamannya jika hendak panen. Gubuk-gubuk ini seperti rumah kedua bagi mereka yang membutuhkan air untuk operasionalnya, seperti memasak.
Selama ini lahan pertanian di kawasan karst ini hanya panen sekali dalam setahun dengan sistem tadah hujan. Jumbidan yakin setelah ada air sampai lahannya ini produktifitas panennya akan meningkat.
Dia berencana menanam palawija saat kemarau dan komoditas hortikultura ketika menjelang musim hujan. “Karena sekarang sudah ada air pasti jadi lebih mudah dan tidak waswas gagal panen akibat kekeringan, kami juga berencana menambah masa tanam,”katanya.
Giyem, petani perempuan di Jepitu yang turut mendapat akses air ini menyebut ongkos pertaniannya jadi lebih hemat. “Setidaknya bisa memasak di gubuk, jadi tidak perlu bolak-balik rumah soalnya jauh juga,” katanya.
Dia berencana menanam cabai saat musim kemarau pada 2026 ini. Kekhawatirannya hanya sambungan pipa yang bocor sehingga air terbuang sia-sia.
“Pernah sekali bocor, entah sejak kapan tapi setelah saya mengetahuinya lalu laporan langsung diperbaiki,” katanya dalam bahasa Jawa.
Dalam sebulan Giyem rata-rata membayar Rp16 ribu untuk biaya air tersebut. Pengeluarannya itu tak memberatkan perekonomiannya karena hasilnya juga meningkatkan produksi pertanian dan peternakannya.
Ancaman fasilitas pariwisata
Meski belasan tahun tidak pernah mati, sumber air di dalam Gua Pulejajar ini bukan berarti akan bertahan selamanya. Apalagi melihat tren alih fungsi lahan di pesisir selatan Gunungkidul yang masif terutama untuk industrialisasi pariwisata.
Masifnya pembangunan pariwisata ini mengancam kelestarian karst di sana. Bila kawasan ini rusak maka sifatnya permanen mengingat gugusan batu gamping ini terbentuk selama ratusan tahun.
Tak jauh dari Gua Pulejajar bahkan terdapat beberapa hotel dan resort, paling dekat jaraknya hanya 2 kilometer. “Kami juga khawatir mengganggu sumber air kami karena karst ini kan terhubung kawasannya, kalau satu titik rusak bisa mengancam wilayah lain,” kata Juwanto, pengurus Kombi.
Pembangunan resort dan hotel di sana tanpa sosialisasi ke warga Jepitu. Penelusuran Kombi menunjukan salah satu industri wisata eksklusif ini membangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air di dekat lokasinya dengan kedalaman 120 meter.
Padahal tinggi area wisata mewah itu hanya 30 meter dari permukaan laut. “Makanya kami juga rutin menanam tanaman konservasi juga untuk memastikan cadangan air terjaga terus di desa kami,” kata Juwanto.
Kekhawatiran Juwanto itu bukannya tanpa dasar, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja menyebut ekstraksi air bawah tanah industri pariwisata di Gunungkidul cukup besar. Perhitungan lembaga ini mencatat setidaknya tiga hotel dan restoran yang dikajinya membutuhkan 83,45 juta liter dalam setahun.
Puluhan juta liter air untuk melayani wisatawan itu bertolak belakang dengan kondisi Gunungkidul yang langganan kekeringan. Rizki Abiyoga, Ketua Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Jogja menjelaskan industrialisasi pariwisata ini juga menyumbang kerusakan karst.
Dari 13 hotel dan restoran yang dikajinya, total 34,46 hektar karst yang sudah rusak karena alih fungsi lahan.
Abi menyebut lahan yang sudah berubah jadi wisata premium ini berada di Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gununugsewu.
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 3045 K/40/MEM/2014 jadi dasar hukum penetapan kawasan dan perlindungannya. “Alih fungsi karst dan ekstraksi air yang didalamnya jelas melanggar aturan tersebut.”
*****
Raffi Ahmad Mundur dari Proyek Beach Club di Karst Gunungkidul