Mongabay.co.id

Krisis Iklim Ganggu Pangan dan Ritual di Meratus

  • Krisis iklim menyeret warga adat Meratus masuk ke dalam ring pertarungan nasib yang tidak adil. Ongkos bertani semakin mahal, sedangkan risiko gagal panen semakin meningkat.
  • Keterlambatan menanam padi dialami banyak warga Hinas Kiri. Pembersihan lahan tersendat akibat hujan yang turun hampir setiap hari pada Agustus hingga September—masa yang seharusnya kering—sehingga pembakaran lahan tak bisa dilakukan.
  • BMKG Kalsel mencatat Agustus–September 2025 di Pegunungan Meratus, terjadi intensitas hujan di atas normal akibat laut lebih hangat, IOD negatif, La Niña lemah, dan gangguan cuaca harian/mingguan, sehingga musim kemarau menjadi basah—fenomena yang dikategorikan sebagai anomali cuaca.
  • Achmad Rafieq, Ketua Asosiasi Antropolog Indonesia (AAI) Kalsel menyebut masyarakat Meratus hidup dalam kebudayaan perladangan yang sangat bergantung pada siklus alam, sehingga anomali cuaca berulang bukan hanya mengancam hasil panen, tetapi juga ritual, persediaan benih, dan ketahanan pangan mereka.

Imis, dan Sarwani, suaminya, terlihat sibuk membersihkan lahan mereka di Desa Hinas Kiri, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan (Kalsel), akhir November lalu. Di area yang baru mereka buka itu, sisa tebangan pohon tampak menumpuk dan menyesak di sejumlah sudut.

Aktivitas ini mestinya rampung Agustus atas September, ketika kemarau berada di puncak. Karena, saat cuaca panas, pembakaran semak dan batang pohon lebih mudah, dan abunya bisa jadi penyubur tanah alami ladang yang akan mereka tanami padi itu.

Namun, tahun ini curah hujan tinggi mengguyur wilayah masyarakat adat Meratus itu. Periode yang seharusnya kering, justru basah dan membuat aktivitas tahunan mereka terganggu.

“Karena sering hujan, batang pohon sisa tebangan jadi basah. Api tak menempel, sehingga pembakaran tidak bisa maksimal. Makanya perlu dipotong kecil dahulu,” kata Imis.

Kondisi itu membuat mereka cemas. Bahkan, sempat terlintas kemungkinan tidak bisa menanam padi tahun itu. Namun, harapan tetap mereka sematkan dalam doa-doa yang mereka panjatkan saat menjalankan ritual Puja Tampa, permohonan keselamatan dan perlindungan sepanjang tahun.

Seakan mendapat jawaban dan restu, setelah bermunajat, langit menjadi cerah dan mentari semakin terik selama beberapa hari di bulan Oktober. Momentum ini Imis dan keluarganya manfaatkan untuk membabak—membersihkan lahan secara manual dan membakar sedikit demi sedikit. Sesekali, ada keluarga dekat yang turut membantu, memberi mereka asa untuk menanam padi tahun ini.

Namun, mereka belum sepenuhnya bernapas lega. Ada ongkos ekonomi dan tenaga besar untuk Membabak. Terutama untuk membeli obat agar mempercepat sisa tebangan mengering supaya bisa dibakar. Harga satu botol produk tersebut berkisar Rp50.000.

“Makin banyak yang dipakai, makin besar pula pengeluaran,” kata perempuan 35 tahun itu.

Dari sisi tenaga, pekerjaan ini lebih menguras fisik. Batang-batang pohon berukuran besar tak bisa langsung terbakar, melainkan harus mereka potong kecil terlebih dahulu supaya api mudah melahapnya.

“Jadi capek. Badan sering pegal-pegal.”

Tidak jarang, mereka harus beristirahat keesokan harinya setelah kerja seharian. Akibatnya, waktu pengerjaan pun menjadi lebih panjang.

Sebagian lahan memang sudah mulai tampak bersih. Tapi masih perlu dipanduk—membakar sisa tebangan kecil—serta dirangai untuk memastikan lahan benar-benar siap tanam.

Satu sisi, intensitas hujan biasanya meningkat jelang akhir tahun. Kondisi ini membuat upaya pembersihan lahan kian berat. Sementara masa manugal–menanam padi di ladang–kian mendesak.

Jika lewat waktu yang tepat, warga jarang memaksakan diri menanam padi. Sebab, kemungkinan hasil panen kurang baik meninggi.

“Biasanya padi jadi mudah terserang hama—mulai dari ulat, belalang, walang sangit hingga tikus. Bisa juga bulirnya malah hampa (kosong).”

Jika sudah terlanjur lewat masa tanam padi, maka lahan yang sudah mereka siapkan biasanya untuk menanam tanaman sisipan, seperti sisipan, pisang, ubi, dan kacang.

Namun, bukan berarti warga untung. Karena, bagi masyarakat Meratus, tidak menanam padi adalah kerugian besar.

Karena, padi merupakan pangan utama. Mereka tidak menjual beras. Meski hasil panen melimpah, biasanya hanya akan mereka simpan jadi cadangan pangan sekeluarga.

Tidak menanam padi berarti membuat mereka rentan pangan dan terpaksa beli beras dari luar.

“Dampaknya, pengeluaran rumah tangga pun meningkat,” ucap Sarwani.

Padi, katanya, memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan mereka. Dalam kepercayaan setempat, padi diturunkan langsung dari surga oleh para dewa. Karena itu, padi harus mereka jaga dan perlakukan sebaik-baiknya.

Menanam padi pun menjadi sebuah keharusan karena posisinya yang sakral dalam spiritualitas lokal. Inti dari ritus yang masyarakat jalankan adalah merayakan tumbuhnya padi pada ladang-ladang mereka.

Tanpa padi, takkan ada ritual. Artinya, tak ada ibadah yang bisa mereka laksanakan sepanjang tahun. Semacam tak ada hari raya. Mereka percaya, kondisi ini dapat mendatangkan kesialan (pamali).

Sarwani bilang, pernah ada seseorang yang tidak menanam pada satu tahun dengan janji akan menanam pada tahun berikutnya.

“Tetapi ketika janji itu kembali tak ditepati, orang tersebut jatuh sakit. Kami berharap bisa menanam padi tahun ini. Walaupun sedikit tidak apa-apa. Yang terpenting berikhtiar lebih dahulu.”

Imis, dibantu ibu dan anak perempuannya berkutat dalam aktivitas marangai—membersihkan tanah dari sisa serabut akar agar mudah ditugal. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia.

Jundiah, warga Desa Hindas Kiri lain, mengalami kondisi serupa. Dia tengah gundah karena perubahan cuaca mendadak yang kerap terjadi membuatnya belum bisa menanam benih padi yang sudah dia siapkan. Lahannya pun belum siap tanam, karena pembersihan lahan terhambat hujan.

Dia belum tahu kapan akan mulai manugal. Karena, banyak warga masih sibuk mengurus ladang masing-masing, sehingga belum bisa gotong royong di lahannya. Di Meratus, kerja bersama ini mereka sebut sistem besauhan—kebiasaan saling berganti membantu menggarap ladang antarwarga.

Perempuan 50 tahun ini pun terpaksa merogoh kocek sekitar Rp9 juta untuk mengupah orang membuka lahan. Karena, membabak lahan secara manual tidak lagi mudah di usianya yang sekarang.

Sementara, salah satu anaknya pun tahun itu mulai membuka ladangnya sendiri.

“Andaikan lahan bisa benar-benar dibakar, biayanya mungkin tidak akan sebesar itu,” katanya.

Dia berharap bisa manugal tepat waktu. Sebab, selisih hari saja bisa menentukan apakah ladang akan memberikan hasil atau justru menyisakan kerugian.

Pengalaman tahun lalu masih membekas. Penanaman yang agak terlambat, juga karena cuaca yang tak menentu, membuat hasil panennya jauh dari harapan.

Dari sekitar satu hektar lahan, ia hanya mendapat enam karung padi. Padahal, dalam kondisi normal, hasilnya bisa mencapai sekitar 50 karung.

Serangan hama membuat hasil panen merosot. Padahal dari hasil ladanglah ia menggantungkan kehidupan. Situasi ini membuat ekonomi keluarganya rapuh.

Sejak suaminya meninggal, dia tak bisa lagi menggarap lahan yang dulu untuk kebun kopi dan pisang. Walau masih punya kebun karet, tapi kekuatan fisiknya kian terbatas, membuatnya tak lagi sanggup menyadap tiap hari.

“Karena dimakan usia, tenaga saya sudah tidak lagi memungkinkan.”

Sisa panen 2024 jadi sandaran utamanya untuk memenuhi kebutuhan pangan sekeluarga sepanjang tahun. Kebutuhan lain dia gantungkan pada kebun kayu manis yang sekali panen bisa hasilkan 100 kilogram, dengan harga jual Rp40.000 per kilogram.

Para perempuan adat Meratus di Desa Hinas Kiri bergotong-royong, mengisi benih padi dalam prosesi manugal. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia.

Membaca bahasa alam

Masyarakat adat Meratus menggunakan tanda alam untuk mengetahui waktu manugal yang tepat. Jani, warga Desa Hinas Kiri, menyebut waktu yang tepat datang ketika matahari pagi muncul di kisaran sepuluh derajat Lintang Selatan. Puncak-puncak hunung sekitar kampung jadi patokan posisi matahari.

Titik itu menjadi sinyal warga untuk segera menanam.

“Kalau matahari muncul sejajar dengan puncak gunung, artinya bagus untuk manugal. Kalau sudah lewat, tandanya masa baik sudah terlewat,” ucapnya.

Selain itu, mereka juga mengamati gugusan Bintang Karantika, atau bintang tujuh. Waktu tanam mereka anggap baik ketika bintang itu berada di ufuk timur. Sebaliknya, bila berada di sebelah barat, mengisyaratkan masa baik untuk tanam sudah berlalu.

“Adapun beberapa waktu lalu saya lihat posisinya sudah lewat.”

Selain membaca posisi benda langit, warga juga menjadikan pohon buah hutan sebagai penanda. Masa manugal kerap bertepatan dengan musim berbuahnya durian, langsat, rambutan, lahung, kapul, tamburasa, cempedak, patikala, dan kasturi.

“Dahulu buahnya melimpah, tidak cukup perutnya untuk memakan semua. Sekarang, kurang lebih tiga tahun terakhir, pohon yang berbuah bisa dihitung jari. Hanya cukup untuk monyet di hutan.”

Makurban, tetua Kampung di Hinas Kiri, menyebut, tanda-tanda alam kini sukar terbaca. Cuaca, katanya, saat ini makin sulit tetebak.

“Beberapa tahun belakangan ini kondisinya makin parah.”

Hujan sering datang di luar kebiasaan, turun panjang tanpa jeda. Sementara, di tahun-tahun tertentu, panas amat terik, membuat tanah mengeras dan tanaman merana.

Panas berkepanjangan itu, katanya, menghambat pertumbuhan tanaman, sementara hujan yang terlalu sering memaksa sebagian warga menunda waktu tanam. Seperti yang terjadi tahun ini.

“Kini membaca tanda alam untuk menentukan musim tanam juga kian sulit.”

Meski dampaknya saat ini masih bisa dihadapi, Pria 61 tahun itu khawatir kondisi tersebut akan terus memburuk. Krisis iklim akan membawa pengaruh yang jauh lebih besar jika tak diantisipasi.

Dengan tongkat berujung lancip, para pria melubangi tanah supaya selanjutnya diisi dengan benih padi dalam prosesi manugal. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia.

BMKG Kalsel mencatat, selama Agustus–September 2025, curah hujan di wilayah Pegunungan Meratus berada di atas kondisi normal. Jumlah hujan yang turun lebih tinggi ketimbang rata-rata klimatologis pada periode yang sama.

Fenomena ini karena beberapa faktor. Dari suhu muka laut di perairan Indonesia yang lebih hangat dari biasanya hingga meningkatkan penguapan dan pembentukan awan hujan. Selain itu muncul pula Indeks Dipole Mode (IOD) negatif yang cenderung menambah pasokan uap air ke wilayah Indonesia.

Menjelang akhir tahun, ada juga pengaruh La Niña lemah, juga gangguan cuaca skala harian hingga mingguan. Kombinasi faktor-faktor ini memicu hujan turun cukup sering, meski sedang berada pada musim kemarau. Kondisi tersebut sudah masuk kategori anomali cuaca dan iklim.

Catatan BMKG, dalam satu dekade terakhir Indonesia mengalami rangkaian cuaca ekstrem: periode sangat kering pada 2015 dan 2019 akibat El Niño dan IOD positif yang kuat, serta kondisi sangat basah pada 2016–2017, 2020–2022, dan 2024 yang dipengaruhi La Niña dan IOD negatif.

Efek domino

Pola cuaca hujan yang bergeser tidak hanya membuat terlambat penanaman padi. Ada juga peningkatan risiko serangan hama.

Achmad Rafieq, Ketua Asosiasi Antropolog Indonesia (AAI) Kalsel, menjelaskan, fase paling rentan pada tanaman padi—terutama saat vegetatif muda, kerap bertepatan dengan puncak populasi hama di sekitar area pertanaman.

Sementara itu, pada kondisi cuaca tertentu, jumlah predator alami hama justru menurun.

“Membuat keseimbangan ekosistem tidak terjaga,” katanya.

Waktu tanam yang tidak serempak antarwarga juga jadi faktor pengaruh lainnya. Ketika sebagian  telah memasuki masa panen, sementara yang lain baru mulai menanam, tanaman padi yang tersisa menjadi satu-satunya sumber pakan bagi hama.

“Akibatnya, serangan hama pun terkonsentrasi di lahan yang alami keterlambatan.”

Keterlambatan tanam juga berisiko membuat fase pertumbuhan padi bergeser hingga memasuki musim kemarau berikutnya. Jika tanaman mulai berisi pada awal kemarau, ketersediaan air bisa menjadi sangat terbatas.

“Dampaknya, perkembangan bulir padi tidak optimal, bahkan banyak yang hampa. Dalam kondisi kemarau yang sangat kering, risiko gagal panen pun tak terelakkan.”

Masyarakat adat di Meratus, katanya, hidup dalam kebudayaan perladangan yang mengakar sejak ribuan tahun lalu, warisan turun-temurun leluhur mereka. Sehingga, hampir seluruh praktik sosial dan ritual berkaitan erat dengan siklus alam.

Tak mengherankan jika gangguan berladang yang terjadi secara berulang akibat anomali cuaca dalam jangka panjang dapat berdampak serius terhadap kehidupan mereka.

“Ketika perladangan tak bisa dilakukan, ritual-ritual yang menyertainya pun ikut terusik. Padahal, bagi orang Meratus, ritual perladangan adalah bagian penting dari sistem kepercayaan dan cara mereka menjaga keseimbangan hidup dengan alam,” kata akademisi ULM itu.

Sisi lain, kegagalan berladang juga berisiko menggerus persediaan benih. Jika musim tanam terlewat atau gagal berulang kali, cadangan benih padi akan menipis.

Akibatnya, keragaman varietas padi yang selama ini mereka jaga bisa berkurang, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengancam ketahanan pangan masyarakat Meratus.”

Meski demikian, katanya, orang Meratus terbilang tangguh menghadapi situasi ini karena memiliki simpanan gabah yang relatif aman, bahkan cukup untuk kebutuhan pangan selama tiga hingga empat tahun ke depan.

Namun, kekacauan musim hujan seperti yang terjadi tahun ini tetap menghadirkan kesusahan besar. Curah hujan yang tinggi menyulitkan pembakaran lahan, sebuah tahap penting dalam sistem perladangan.

Warga Meratus menyadari betul risiko gagal panen akibat keterlambatan memulai tanam. Namun, menurutnya, mereka tetap memilih menanam padi tahun ini, meski dalam skala terbatas. Setidaknya, penanaman dilakukan agar mereka masih memiliki benih yang cukup dan berkualitas untuk musim tanam berikutnya.

“Menanam sedikit pun penting. Karena, keberlanjutan perladangan adalah soal menjaga benih, ritual, dan kebudayaan agar tetap hidup di masa mendatang.”

Kalender masa tanam masyarakat di Pegunungan Meratus. Infografis diolah Riyad Dafhi Rizki_Mongabay Indonesia.

Negara harus hadir

Torry Kuswardono, Koordinator Sekretariat Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI) menilai, kondisi masyarakat Hinas Kiri merupakan dampak nyata krisis iklim terhadap kehidupan masyarakat adat sebagai kelompok paling rentan.

Perubahan pola hujan, kemarau yang tak lagi kering, serta ketidakpastian musim secara langsung memukul sistem pangan lokal yang selama ini bergantung keseimbangan alam.

Situasi ini, menuntut kehadiran negara untuk melindungi keberlangsungan hidup dan pangan masyarakat adat, termasuk di kawasan Meratus. Namun, katanya, negara masih memaknai ketahanan pangan secara sempit, sebatas produksi padi sawah berskala besar dan berintensitas tinggi.

Sistem pangan masyarakat adat dan komunitas lokal yang telah bertahan ratusan bahkan ribuan tahun justru tak pernah sungguh-sungguh negara hitung sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

“Negara hanya mengukur ketahanan pangan dari angka produksi besar, seperti proyek food estate. Akibatnya, inisiatif-inisiatif lokal terpinggirkan dan dianggap tidak penting.”

Padahal, dalam menghadapi krisis iklim, negara seharusnya belajar dari komunitas lokal. Yaitu, memahami kebutuhan mereka, cara membaca alam, serta strategi adaptasi yang telah lama mereka jalankan.

Pola cuaca yang terus bergeser mendorong negara berperan bukan untuk menggantikan sistem lokal, melainkan membantu masyarakat beradaptasi tanpa memutus akar pengetahuan yang mereka miliki.

Dalam hal ini, perlu adopsi pengetahuan lokal sebagai bagian dari kebijakan negara dan bukan sesuatu yang statis.

“Pengetahuan lokal itu dinamis dan harus dipahami secara sistematis.”

Negara pun harus memfasilitasi komunitas lokal dalam menghadapi krisis iklim dengan mengidentifikasi praktik-praktik yang sudah terbukti efektif. Sekaligus, membuka ruang perbaikan bersama.

Juga, mempelajari secara serius sistem pangan di Meratus. Supaya masyarakat tidak terjebak krisis pangan di masa depan.

Prosesnya harus berbasis pembelajaran bersama antara negara dan komunitas, mencari cara-cara baru yang tetap berakar pada kebutuhan lokal—mulai dari teknik pembukaan lahan, pengaturan naungan, hingga praktik budidaya lainnya.

Di tengah kemarau basah, Dia usul pemerintah memfasilitasi warga tidak lagi bergantung pada pembakaran, tanpa serta-merta menyalahkan praktik yang selama ini lahir dari kebutuhan ekologis.

“Yang dibutuhkan adalah teknik-teknik sederhana, tetapi relevan dengan siklus baru tanah, alam, dan iklim.”

Selain itu, dia memandang penting perumusan yang jelas tentang makna ‘menghormati dan melindungi pengetahuan lokal’. Prinsip tersebut, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai jargon, tetapi harus terwujud dalam kebijakan nyata. Salah satu jalannya, mengalibrasi pengetahuan lokal dengan sains.

Pendekatan semacam ini, sayangnya, masih luput dari perhatian negara. Kebijakan ketahanan pangan nasional di tengah anomali iklim masih didominasi ekspansi lahan dan introduksi teknologi baru, seperti pengairan dan benih tahan iklim. Sementara itu, pendekatan berbasis proses belajar bersama komunitas nyaris tak difasilitasi.

“Negara cenderung memilih solusi yang seragam dan berskala besar, padahal konteks lokal itu beragam,” ucapnya.

Indonesia, katanya, telah memiliki National Adaptation Plan yang mengakui pentingnya pengetahuan lokal. Namun, implementasi masih kaya akan maladaptasi, lewat proyek-proyek besar yang kerap menyulitkan warga.

Karena itu, negara perlu menelusuri lebih jauh sistem pengetahuan yang hidup di komunitas adat. Mulai dari varietas benih yang paling bertahan, hingga praktik bercocok tanam yang paling adaptif.

Selama ini, katanya, negara kerap memperkenalkan kebijakan dan teknologi yang tidak berpijak pada realitas lokal.

“Akibatnya, alih-alih memperkuat ketahanan, kebijakan tersebut justru menambah kerentanan masyarakat adat di tengah krisis iklim yang kian nyata.”

Para perempuan adat Meratus di Desa Hinas Kiri bergotong-royong, mengisi benih padi dalam prosesi manugal. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia.

*****

Mengenal Masyarakat Adat Dayak Meratus

 

Exit mobile version