Misteri laut dalam kembali terungkap melalui ekspedisi ilmiah yang dilakukan oleh Schmidt Ocean Institute di lepas pantai Argentina pada awal Februari 2026. Menggunakan kendaraan bawah laut ROV SuBastian, tim ilmuwan berhasil mengabadikan sosok Stygiomedusa gigantea atau ubur-ubur hantu raksasa di kedalaman 250 meter dalam kawasan tebing bawah laut Colorado-Rawson. Makhluk ini memiliki empat lengan mulut menyerupai pita panjang yang dapat membentang hingga 10 meter. Ukuran tersebut hampir menyamai panjang satu armada bus TransJakarta tipe tunggal yang sering kita temui di jalanan ibu kota.
Keheningan sempat menyelimuti ruang kendali kapal riset R/V Falkor saat kamera robotik menangkap bayangan ubur-ubur ini muncul di layar monitor. Dr. María Emilia Bravo, ahli biologi laut dari University of Buenos Aires yang memimpin penyelaman tersebut, menggambarkan momen itu sebagai campuran antara kegembiraan dan ketidakpercayaan. Kehadirannya yang halus sekaligus megah di lingkungan ekstrem sangat mengejutkan para peneliti. Bahkan, operator robot bawah laut harus bermanuver dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu lengan panjang sang ubur-ubur yang melambai di kegelapan.
Sejarah Panjang di Kedalaman
Meskipun spesimen pertamanya berhasil dikumpulkan pada tahun 1899, dunia ilmu pengetahuan membutuhkan waktu 60 tahun hingga akhirnya mengakui makhluk ini sebagai spesies yang sah. Selama satu abad terakhir, ubur-ubur hantu raksasa hanya terdokumentasikan sekitar 100 kali di seluruh dunia. Sebagian besar catatan masa lalu berasal dari spesimen yang ditemukan mati dalam jaring pukat harimau, sehingga sulit bagi ilmuwan untuk memahami perilaku asli mereka di alam liar. Baru setelah teknologi robot bawah laut berkembang, manusia bisa melihat keindahan utuh makhluk ini di habitat aslinya.
Steve Haddock, ahli biologi laut dari Monterey Bay Aquarium Research Institute, mencatat bahwa sering kali orang berasumsi spesies laut dalam yang belum terpetakan adalah hewan kecil yang tersembunyi. Namun, Stygiomedusa gigantea mematahkan asumsi tersebut. Makhluk ini memiliki ukuran yang setara dengan cumi-cumi raksasa namun selama ini berhasil lolos dari perhatian manusia. Bagian payung atau belnya dapat tumbuh hingga diameter satu meter yang menjadikannya salah satu invertebrata predator terbesar di samudra.
Berbeda dengan jenis ubur-ubur pada umumnya, Stygiomedusa gigantea tidak memiliki tentakel halus yang menyengat. Ia mengandalkan empat lengan mulut yang sangat lebar dan elastis menyerupai tirai panjang. Lengan ini digunakan untuk menjerat mangsa berupa plankton serta ikan-ikan kecil yang kemudian ditarik perlahan menuju mulutnya. Menariknya, ubur-ubur ini juga menjalin hubungan simbiosis dengan beberapa jenis ikan tertentu yang sering terlihat berenang bebas di sekitar lengan atau di bawah payungnya tanpa terkena bahaya.
Temuan Penting Lainnya dan Ancaman Polusi
Ekspedisi ini juga mengungkap kekayaan hayati lainnya di landas kontinen Argentina. Tim peneliti mengidentifikasi terumbu karang Bathelia candida terbesar yang pernah tercatat dengan luas mencapai 0,4 kilometer persegi. Selain itu, ditemukan pula 28 spesies baru mulai dari cacing laut hingga anemon. Salah satu fenomena langka yang terdokumentasi adalah whale fall atau jatuhnya bangkai paus ke dasar laut yang menjadi sumber nutrisi bagi komunitas pemakan bangkai seperti hiu dan kepiting di kegelapan abisal.
Namun, keindahan ini dibayangi oleh dampak aktivitas manusia. Para peneliti menemukan sampah plastik, jaring ikan, hingga kaset video VHS di dasar laut yang sangat terpencil. Penemuan ini menjadi peringatan keras bagi dunia internasional bahwa wilayah yang paling terisolasi sekalipun tidak luput dari polusi. Keberadaan ubur-ubur hantu sepanjang bus TransJakarta ini menjadi bukti nyata bahwa kekayaan hayati samudra harus dijaga dengan kebijakan perlindungan laut lepas yang lebih ketat sebelum kerusakan permanen terjadi.