Mongabay.co.id

Nasib Warga Pohuwato Ketika Proyek Bioenergi Datang

  • Hutan Pohuwato, Gorontalo dalam beberapa tahun belakangan ini tergerus antara lain jadi perkebunan kayu untuk bioenergi. Bencana banjir pun warga rasakan lebih parah dari sebelumnya, seperti yang terjadi Juni tahun lalu. Berbulan-bulan warga harus tinggal di pengungsian.
  • Sebagian besar sumber pendapatan dan penghidupan warga dari hutan, seperti rotan dan madu. Desa Lomuli, Pohuwato, misal, terkenal dengan madu murni dan berkualitas. Bahkan, permintaan banyak dari luar daerah. Namun, semua berubah ketika hutan alam yang jadi habitat lebah liar, terbabat. Kini, hasil madu tak lagi melimpah dulu. Praktis, hal itu berdampak kepada alternatif pendapatan warga lokal.
  • Walhi Gorontalo Oktober lalu mengeluarkan laporan hasil kajian terkait keberadaan kebun energi di Pohuwato. Dari temuan mereka, korporasi energi di Pohuwato melakukan pembukaan lahan (land clearing) di hutan alam, termasuk daerah hulu sungai yang menjadi sumber air bagi masyarakat sekitar. Aktivitas ini secara langsung berdampak terhadap perubahan bentang alam dan meningkatnya risiko banjir serta longsor di wilayah itu.
  • Data Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat, hingga 2023, hutan alam tersisa di Gorontalo tinggal 693.795 hektar, atau 57% dari luas daratan. Dalam rentang waktu enam tahun terakhir (2017–2023), provinsi ini kehilangan 35.770 hektar tutupan hutan.

Opan Munu memilih tidur cepat hari itu. Dia sedang tak enak badan. Tiba-tiba ada yang membangunkan dengan sedikit kasar,  malam itu. Pada 20 Juni tahun lalu sekitar pukul 23.00 WITA itu kondisi gelap dan suram. Listrik padam. Ketika dia membuka mata, terlihat jelas wajah panik dari tante dan dua keponakannya.

Saat terbangun dia mendapati lantai rumah sudah tak terlihat, hanya ada air kecoklatan. Air sudah hampir mencapai pahanya. Opan berinisiatif mengambil tangga, mereka berempat naik ke loteng.

“Tolong! Tolong kami!” teriak mereka.

Jarak rumah mereka dengan rumah warga cukup jauh, sekitar 100  meter. Sesekali mereka mendengar sahutan warga dari kejauhan. Tak ada yang bisa mereka lakukan, dalam kondisi gulita air naik begitu cepat, dalam sepersekian jam bahkan hampir mencapai loteng.

Sesekali suara dentuman terdengar menghantam dinding. Saat itu,  bukan hanya air, juga kayu-kayu gelondongan berukuran besar yang hanyut entah dari mana.

Pada dentuman ke sekian, rumah pun roboh. Hanyut terbawa arus deras.

Ingatan terakhir pria 28 tahun ini dalam situasi kacau itu dia berhasil meraih dan berpegangan pada sebuah ranting pohon, sampai dia ditemukan warga keesokan harinya.

Dari mereka berempat, dia dan keponakannya yang berusia balita, selamat. Dua lainnya, tante dan keponakan perempuannya sudah tak bernyawa.

Opan adalah satu dari sekian banyak penyintas banjir yang melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Saat ditemui beberapa bulan pasca bencana itu, dia masih tinggal di pengungsian berwarna oranye di Desa Tuweya, Kecamatan Wanggarasi, Pohuwato.

“Sebenarnya,  sudah tidak mau (trauma) tinggal di sini lagi. Tapi tidak ada pilihan, harus kerja juga,” katanya, Oktober lalu.

Rumah Opan membelakangi sekira 20 meter bibir sungai.  Pasca kejadian itu, tak ada yang tersisa dari bangunan rumah mereka. Hanya ada puing-puing.

Terlihat satu daster merah muda mendiang tantenya, mainan dan baju anak keponakan-keponakannya, serta beberapa batang pohon berukuran besar.

Keluarga Opan paling terdampak paling parah dari insiden banjir bandang itu, selain ribuan keluarga lain.

Opan Munu berdiri di puing-puing rumahnya yang hancur diterjang banjir bandang. Foto: Franco Bravo Dengo

Di Desa Tuweya, ada beberapa rumah dan ternak hanyut, juga lahan pertanian rusak dan gagal panen.

Lebih dari itu, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah ((BPBD) Gorontalo, banjir Juni 2025 sedikitnya merendam 1.613 rumah. 

Desa Tuweya, merupakan area lintas salah satu sungai besar di Wanggarasi, sungai yang meluap dan berakibat banjir bandang malam itu.

Menurut warga, hulu dari sungai berada di kawasan hutan dan pegunungan di Kecamatan Lemito, di bagian selatan. Meskipun mereka tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi di sana.

Melalui citra satelit Google Earth, saya menelusuri jalur hulu sungai dari belakang rumah keluarga Opan dan pemukiman warga di Desa Tuweya. Hasilnya, memang jalur sungai mengarah ke arah selatan jauh ke bagian hutan dan pegunungan.

Jalur itu mengarah pada konsesi proyek perkebunan energi, atau hutan tanaman energi (HTE) PT Banyan Tumbuh Lestari (BTL) dan PT Inti Global Laksana (IGL), bagian dari grup PT Biomass Jaya Abadi (BJA).

Sebelumnya, warga tak pernah tahu dengan nama-nama perusahaan dan proyek mereka. Belakangan baru tahu ketika pasca banjir, ada yang mengatasnamakan BJA membagikan beberapa mie instan kepada korban banjir di desa.

 Di Desa Lomuli, Kecamatan Lemito, Pohuwato, juga terdampak. Secara geografis, desa ini berada lebih dekat dan berbatasan langsung dengan konsesi kebun energi yang berlabel energi ‘hijau’

Posisi dataran lebih tinggi tak cukup untuk menghindari anomali banjir di wilayah itu. Bahkan, cuaca di Lomuli bisa jadi faktor penentu akan munculnya bencana rutin itu.

“Dulu,  di sini jarang sekali banjir. Sekarang, hujan dua atau empat jam di sini, tenggelam satu kecamatan,” kata Abdul Kadir Yunus,  Kepala Desa Lomuli.

Citra satelit jalur sungai dari Desa Tuweya yang mengarah ke kawasan konsesi PT Banyan Tumbuh Lestari. (Google Earth)

Hutan berkurang, lebah hilang

Sedari awal, Desa Lomuli menolak proyek kebun energi ini. Kadir bilang, waktu itu perusahaan datang melakukan sosialisasi untuk proyek perkebunan sawit, sekira 2019.

Sebelum akhirnya izin berubah menjadi perkebunan energi atau hutan tanaman energi seperti sekarang.

Waktu itu, Kadir belum menjadi kepala desa, bersama warga lain lakukan penolakan. Alasan mereka jelas, sejak dulu warga Desa Lomuli punya ikatan kuat dengan hutan di sana.

Sebagian besar sumber pendapatan dan penghidupan warga dari hutan, seperti rotan dan madu.

Desa Lomuli terkenal dengan madu murni dan berkualitas. Bahkan,  permintaan banyak dari luar daerah. Namun, semua berubah ketika hutan alam yang jadi habitat lebah liar, terbabat.

Kini, hasil madu tak lagi melimpah dulu. Praktis, hal itu berdampak kepada alternatif pendapatan warga lokal.

“Hutan, habitat lebah dirusak. Jadi lebahnya menjauh. Makin sulit warga untuk dapat madu lagi,” katanya.

Kadir bilang, beberapa tahun belakangan ini perusahaan sedang membersihkan hutan lewat pembukaan lahan atau land clearing.

Kehadiran proyek hutan energi ini tak hanya bahaya bagi pencarian dan kehidupan warga juga menimbulkan konflik.

Warga di desa-desa tetangga, katanya, banyak terusik dan terusir dari kampung halaman. Belum lagi, bagaimana nasib generasi selanjutnya ketika mereka tak lagi punya hutan.

Ilustrasi Yayat Gokzi

Deforestasi dan bencana ekologis

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia gencar menggadang-gadang biomassa, termasuk wood pellet solusi energi terbarukan lebih ramah lingkungan dan mampu menurunkan emisi karbon dari energi. Lewat co-firing: teknik pembakaran menggunakan dua bahan berbeda batubara dan biomassa, dalam satu tungku.

Mencampur batubara sebagai upaya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil ini sekilas terdengar masuk akal. Apalagi sekitar 67% pembangkit listrik negara masih menggunakan energi kotor penyumbang polutan terbesar dan salah satu penyebab utama pemanasan global.

Gorontalo lewat grup BJA menjadi salah satu produsen wood pellet terbesar di Indonesia. Pada 2024, BJA yang beralamat di Desa Trikora, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato mengekspor lebih 15.000 ton wood pellet hampir Rp34 miliar. Kemudian, pada 2025, mereka ekspor lagi 10.500 ton lebih Rp25 miliar.

Nilai ekspor terbilang cukup besar itu seiring dengan masifnya kehilangan tutupan hutan.

Data Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat, hingga 2023, hutan alam tersisa di Gorontalo tinggal 693.795 hektar, atau 57% dari luas daratan. Dalam rentang waktu enam tahun terakhir (2017–2023), provinsi ini kehilangan 35.770 hektar tutupan hutan.

Dalam tulisan Mongabay sebelumnya, analisis Trend Asia menyatakan, Pohuwato mengalami deforestasi lebih 17.000 hektar, sepanjang 2020-2024. Bahkan riset mereka secara spesifik menyebut sebagian besar pengurangan tutupan hutan itu karena ada kehadiran kebun energi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biomassa.

Sejak mulai aktif beroperasi pada 2024, BTL bersihkan hutan seluas 1.832 hektar dan IGL 66 hektar.

IGL dan BTL terbit izin pemanfaatan hutan hak dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Pohuwato pada 2020. Izin IGL seluas 11.860 hektar dan BTL 15.493 hektar.

Walhi Gorontalo  Oktober lalu mengeluarkan laporan hasil kajian terkait keberadaan kebun energi di Pohuwato. Dari temuan mereka, korporasi energi di Pohuwato melakukan pembukaan lahan (land clearing) di hutan alam, termasuk daerah hulu sungai yang menjadi sumber air bagi masyarakat sekitar.

Aktivitas ini secara langsung berdampak terhadap perubahan bentang alam dan meningkatnya risiko banjir serta longsor di wilayah itu.

Walhi Gorontalo melakukan penelitian di dua desa yang berdekatan dengan konsesi. Hasil penelitian menunjukkan, 81,82% warga Desa Butungale dan 63,64% warga di Desa Lomuli sama sekali tidak memiliki gambaran tentang tujuan hutan tanaman energi (HTE).

Defry Sofyan, Direktur Eksekutif Walhi Gorontalo mengatakan, kondisi ini memperlihatkan mekanisme konsultasi publik dalam pengelolaan sumber daya alam lemah. Terutama di wilayah yang secara ekologis penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat lokal.

“Riset ini membuktikan proyek HTE di Gorontalo melanggar prinsip dasar keadilan ekologis. Tidak ada FPIC (persetujuan awal tanpa paksaan dan berdasarkan informasi), tidak ada transparansi, dan tidak ada keadilan bagi masyarakat lokal,” katanya.

Senada dengan itu, Auriga Nusantara dalam analisis temuan mereka menjelaskan penebangan hutan oleh BTL dan IGL di area hulu sungai tidak hanya menurunkan daya dukung lingkungan, juga ikut mempertebal potensi banjir di wilayah itu.

“Banjir di daerah atau desa-desa penyangga  kedua konsesi ini dugaan kami merupakan salah satu dampak penebangan. Terutama di daerah aliran sungai (DAS) Sungai Popayato dan Sungai Lemito,” kata Supintri Yohar, Direktur Kehutanan Auriga Nusantara.

Hutan terbabat di Pohuwato untuk bioenergi. Foto: Auriga Nusantara

Energi dan elegi 

Grup BJA biasa adakan acara tahunan family gathering. Pada 22 November 2025, mereka adakan acara itu di Lapangan Proklamasi, Kecamatan Popayato, Pohuwato bertajuk: merayakan penanaman 20 juta pohon gamal.

Dalam sambutan, Zunaidi, Direktur BJA menyatakan,  perusahaan dalam melakukan operasional tidak melakukan deforestasi, melainkan reforestasi.

Setelah melakukan penyiapan lahan, perusahaan segera menanami dengan bibit gamal. Menurut dia, ini dibuktikan dengan pencapaian penanaman gamal 20 juta di atas lahan sekitar 4.000 hektar.

“Komitmen kami terhadap keberlanjutan diwujudkan melalui penanaman 20 juta pohon gamal dalam rangka pembangunan industri energi terbarukan yang bebas deforestasi.”

“Ini sejalan dengan program pemerintah untuk energi terbarukan. Apa yang kami tanam hari ini untuk menghijaukan masa depan,” kata Zunaidi, seperti dilansir media lokal Gorontalo Post.

Dalam acara itu antara lain hadir, Bupati Pohuwato, mantan bupati, beberapa anggota DPRD, perwakilan kepolisian, dan lain-lain.

Syaipul Mbuinga  Bupati Pohuwato, menyatakan,  kehadiran proyek kebun energi berhasil mengurangi tingkat kemiskinan di Pohuwato.

“Tinggalkan opini-opini yang menyesatkan. Banyak daerah yang mengharapkan investasi datang ke daerah mereka. Kita diberikan keberkahan berupa sumber daya alam yang kita kelola dengan baik dan profesional,” kata Syaipul.

BJA merupakan perusahaan yang terbentuk oleh sejumlah perusahaan. Berdasarkan data perusahaan pada Ditjen AHU Kementerian Hukum, pemegang saham BJA adalah PT Hijau Energi Bersama (41,76%) PT Sekawan Artha Lestari (34,53%), Hanwa Co Ltd (20%), dan Andy Kelana (3,69%).

Dalam dokumen audit resmi yang Equality Indonesia rilis, menyebutkan, dalam periode Juli 2024-Juni 2025, BJA ekspor 19 kali. Jumlah produk ekspor sebanyak 219.599,87 ton dengan kode HS 4403.31.00, merupakan  kode klasifikasi ekspor yang merujuk pada produk wood pellet dari jenis meranti bakau, keruing, dan lain-lain yang dikirim dari negara Asia Tenggara.

Dalam audit itu, BJA tidak menjual produk wood pellet  dari gamal dan kaliandra–sesuai izin yang mereka pegang.

Yang mereka kirim justru wood pellet dari jenis kayu bayur (Pterospermum celebicum),  bintangur (Calophyllum sp), jambu-jambu  (Eugenia sp), meranti (Shorea sp), mersawa (Anisoptera sp) dan nyatoh (Madruca sp).

Hanwa mengekspor pelet kayu dari BJA ke Jepang.

Jepang menargetkan 3,7– 4,6% bauran energi 2030 berasal dari biomassa, sementara Korea Selatan menargetkan 20% energi terbarukan pada 2031.

default

Belum lama ini, lima organisasi lingkungan dari Indonesia maupun Jepang yakni, Walhi Nasional, Friends of the Earth (FoE) Jepang, Walhi Gorontalo, Forest Watch Indonesia (FWI), dan Trend Asia, mengirimkan surat resmi kepada Hanwa Co., Ltd.

Dalam surat itu, organisasi-organisasi ini mendesak Hanwa untuk mengambil langkah konkret, antara lain menghentikan segera seluruh impor pelet kayu dari sumber yang tidak dapat dipastikan bebas dari deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia. Juga dari kayu yang tak menjalankan proses konsultasi dan persetujuan bebas, didahului, dan diinformasikan (free, prior and informed consent/FPIC) kepada masyarakat Gorontalo.

Junichi Mishiba, Pengampanye Hutan dari Friends of the Earth Japan, menyampaikan,  pembangkit listrik biomassa masuk skema feed-in tariff (FIT) sebagai inisiatif yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan.

“Menjadi kontraproduktif ketika ini justru menyebabkan penebangan dan konversi hutan alam Indonesia yang kaya,” katanya.

Pemerintah dan perusahaan Jepang harus kembali menyadari bahwa sistem FIT merupakan skema publik dari dana pungutan dari tagihan listrik. “Kebijakan ini harus segera ditinjau ulang.”

BJA tidak merespon permintaan wawancara mengenai berbagai persoalan ini. Saya sudah coba mendatangi langsung Kantor BJA pada 13 Oktober 2025, namun tak diterima. Begitu juga dengan upaya konfirmasi melalui pesan Whatsapp juga tidak mendapatkan jawaban hingga berita ini terbit.

Ketika industri ‘energi hijau’ terus jalan,  masyarakat sekitar hidup dengan rasa was-was. Mereka was-was ketika hutan hilang bisa menyulitkan mencari sumber penghidupan, krisis air bersih sampai bencana. Elegi masyarakat lokal untuk pemenuhan energi terbarukan di Korea dan Jepang.

Kadir bilang, kesejahteraan yang selalu digembar-gemborkan dengan kehadiran perusahaan hanya menjadi ilusi semata.

“Tolong juga pertimbangkan kami. Karena kami yang paling akan menerima dampak.”

 

*****

 

Kala Koalisi Minta Jepang Setop Impor Biomassa Indonesia

 

 

Exit mobile version