Mongabay.co.id

Asa Pemulihan Bencana Warga Aek Parira dari Tenda Pengungsian

  • Warga Aek Parira, Sumatera Utara, hanya bisa merayakan natal dan tahun baru di pengungsian karena bencana banjir dan longsor yang menimpa akhir November 2025.
  • Dalam perayaan tersebut, mereka mendoakan pemulihan dan semangat bangkit di tengah trauma. Mereka berharap adanya perbaikan rumah dan material banjir yang menutupi desa.
  • Rumah-rumah dan harta benda mereka hancur. Karena itu, mereka berharap ada kejelasan untuk rekonstruksi dan bantuan material untuk mendirikan kembali tempat tinggal.
  • Bencana banjir dan longsor yang menimpa merupakan yang terburuk selama warga hidup di Aek Parira. 12 rumah hilang, 8 rusak berat dan sisanya rusak ringan.

Suara riuh terdengar dari dalam tenda darurat di Aek Parira, Sibolga, Sumatera Utara, 23 Desember lalu. Saat itu, warga bersiap untuk perayaan Natal di tengah keterbatasan setelah banjir dan longsor menghajar rumah dan harta benda mereka.

Perayaan tahunan itu berlangsung kurang dari 90 menit sejak pukul 18.30. Hujan yang turun mengiringi aktivitas orang tua dan anak-anak di pengungsian.

Mereka memasak lemang dan kue bolu lalu makan dan berdoa bersama. Anak-anak main kembang api, ada juga main petasan.

“Semua dibuat gembira, meski saat itu hujan turun,” ucap Mustar Hutagalung, Kepala Lingkungan 1 Kelurahan Aek Nauli pada Mongabay.

Meski demikian,mereka tidak bisa sembunyikan kegelisahan yang timbul karena bencana  yang merusak segala.

Aek Parira, salah satu desa terdampak banjir dan longsor akhir November 2025. Mongabay melihat jelas jejak kehancuran di desa yang berpenghuni 125 keluarga itu.

Rumah-rumah hancur langsung menyambut ketika masuk ke desa. Makin ke dalam, cuma terlihat hamparan tanah, lumpur, kayu-kayu, dan batu-batu besar di lokasi yang tadinya berdiri rumah-rumah warga.

Catatan Mustar, ada 1 korban jiwa dari bencana yang menimpa desa.

Tenda darurat berdiri di dataran yang lebih tinggi. Dia bilang, sekitar 35 keluarga tinggal di sana. Tahun baru pun tidak mereka sambut antusias karena masih trauma.

“Semangat untuk bangkit ada. Tapi terbentur keterbatasan.”

Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
kehancuran rumah di Aek Parira, Sibolga, Sumatera Utara karena banjir dan longsor. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia.

Bertahan dan memulihkan diri

Bagi warga Aek Parira, tahun baru kali ini bukan soal perayaan. Melainkan tentang bertahan, memulihkan diri, dan berharap ada perhatian nyata agar bisa kembali memiliki rumah dan rasa aman.

Harapan itu timbul karena sudah lebih dari sebulan mereka menetap di tenda darurat beralaskan terpal. Beberapa warga yang Mongabay temui mengeluhkan rumahnya yang hancur dan material bawaan banjir yang menutupinya.

Tidak ada penanganan. Mereka pun mulai tidak betah, dan tidak mau selamanya tinggal di pengungsian.

Erni, warga dari Gang Karya, Lingkungan 4, salah satunya. Di pengungsian dia dia tidur di atas tikar bersama tiga anak dan suaminya.

Harta benda mereka rusak, terendam lumpur dan air sungai yang meluap.

“Saat banjir datang, hanya kepikiran menyelamatkan diri, apapun tidak ada yang terbawa. Kami mengungsi tidur di masjid dan baru kembali seminggu ini, karena tidak enak rasanya kalau terus-terusan tidur di masjid,” katanya.

Dia mendapat pasokan makanan cukup dari dapur umum selama di pengungsian tetapi  karena semua mulai terjatah, anak-anak pun mulai merasa lapar.

“Saya pernah meminta mie instan sebungkus karena anak kelaparan dan tidak diizinkan. Akhirnya saya dan beberapa warga memilih kembali ke rumah, kami tahan-tahankan-lah, terpenting di rumah sendiri.”

Sekarang dia tinggal di rumah yang belum rapi. Tidur pun hanya beralaskan tikar.

Dia berusaha menata diri setelah bencana dengan mencuci pakaian yang masih layak. Itu pun menggunakan air sungai berwarna cokelat di belakang rumah.

“Kami masih kesulitan air bersih.”

Warga di Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah memanfaatkan air sungai yang masih meluap di halaman rumah untuk mencuci pakaian karena kesulitan air bersih. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia.

Perbaikan rumah

Selain kesulitan air bersih, warga perlu perbaikan rumah dan pembersihan material yang terbawa banjir. Erni masih bisa kembali ke rumah, namun tidak demikian dengan beberapa orang yang kehilangan tempat tinggal.

Menurut Mustar, banjir dan longsor menyebabkan 12 rumah hilang atau rata dengan tanah, dan delapan rusak berat. “Lainnya masuk rusak ringan.”

Risnawati Sagala kehilangan rumah. Kayu dan batu yang terbawa air turut menyapu kediamannya. Kejadian itu, hanya berlangsung dalam hitungan detik.

“Rumah kami hancur semua, sudah tidak punya apa-apa,” katanya.

Perempuan 51 tahun itu bilang, bantuan makanan dan sembako pada warga sudah lebih dari cukup. Mereka berharap mendapat bantuan untuk membangun rumah kembali atau membersihkan material yang terbawa banjir.

Kegelisahan soal tempat tinggal, rasa aman dan bagaimana memulai kembali hidup dari nol. Suaminya,  merupakan buruh harian lepas masih belum bekerja. Mereka memiliki dua anak berusia di bawah 10 tahun.

“Masih memikirkan rumah yang tinggal lantai. Kami sudah pasrah dan menerima, hanya saja tidak mungkin kan selamanya kami tinggal di posko pengungsian.”

Bencana ini menjadi yang terparah bagi warga Aek Parira. Warga, katanya, tidak menyangka sungai kecil dari hulu bisa membawa banjir bandang yang hebat, hingga meluap merendam pemukiman.

Masih terang dalam ingatannya saat sungai tiba-tiba surut sebelum kejadian. Padahal, waktu itu hujan deras mengguyur mereka selama tiga hari tanpa henti.

“Harusnya air makin besar karena hujan terus, tapi ini malah surut.”

Tak lama setelah itu, suara gemuruh terdengar dari hulu. Kakaknya yang tengah berada di luar rumah memindahkan induk babi seraya berteriak.

“‘Air bah!’

“Jam 1.00 siang itu saya lihat air datang. Pohon-pohon di pinggir sungai bunyi ‘kruk, kruk’ dihantam air. Airnya seperti ombak.”

Dia terperangah. Dalam hitungan detik, banjir bandang menerjang.

“Saya berteriak ‘Tuhan Yesus, Tuhan Yesus’ sambil lari. Air sudah di belakang kami.”

Gelombang pertama membawa lumpur setinggi mata kaki. Rumah belum roboh, namun gelombang kedua datang lebih ganas, membawa batu-batu besar dan gelondongan kayu.

“Itu yang merobohkan rumah kami. Kejadiannya sekejap mata saja.”

Seorang remaja laki laki memanggul lemari di punggungnya yang selamat dari banjir bandang melanda desa nya di Desa Aek Parira, Kelurahan Angin Nauli, Kota Sibolga. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia.

Bunganir Sagala juga mengalami hal serupa. Rumahnya dan harta bendanya hilang tersapu air yang datang dalam hitungan detik.

“Kalau kejadian itu seandainya malam, saya rasa banyak yang meninggal, karena kejadiannya siang, kami masih bisa melihat dan lari. Itupun ada juga warga yang hanyut dan rumah-rumah sudah rata,” ucapnya.

Rumah orang tuanya pun jadi korban. Barang-barang mereka tidak terselamatkan, tertimbun lumpur dan material kayu serta batu yang memenuhi Desa.

Masih belum terang nasib warga Aek Parira pasca bencana. Belum ada wacana relokasi ataupun info terkait rekonstruksi rumah mereka yang terpendam lumpur.

Menurut Mustar, masih banyak yang trauma karena kehilangan harta benda tersebut.

“Kami belum tahu bagaimana soal relokasi atau konstruksi. Belum ada info dari pemerintah.”

Lorong 4, Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah menjadi titik terparah yang terdampak banjir bandang pada akhir November 2025. Terlihat kayu gelondongan masih berserakan di antara rumah penduduk. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia.

*****

Kerusakan Lingkungan Picu Banjir dan Longsor di Sumatera?

Exit mobile version