- Salah satu kuliner ekstrem di Minahasa adalah tikus. Namun, tikus yang disantap adalah tikus hutan ekor putih (Maxomys hellwandii) yang memakan biji-bijian dan buah-buahan.
- Tikus hutan yang dikonsumsi adalah tikus yang memiliki ciri khusus, yaitu pada ujung ekor tikus berwarna putih sehingga penduduk setempat menyebutnya “tikus ekor putih”.
- Tikus ini diburu dengan senapan angin, walaupun ada yang masih menggunakan perangkap yang disebut “dodeso”, yakni jerat untuk tikus yang terbuat dari bambu. Umpannya adalah kelapa yang dimasukkan ke dalam “dodeso” agar tikus ini tertarik.
- Menurut IUCN (The International Union For The Conservation of Nature and Nature Resources), status konservasinya yaitu Least Concern, yang keberadaannya masih kurang diperhatikan dan ancaman utama tikus ekor putih adalah perburuan untuk dijual.
Bagi sebagian besar orang, tikus identik sebagai hewan kotor dan pembawa penyakit. Namun, ceritanya berbeda dengan tikus ekor putih (Maxomys hellwandii) yang hidup di hutan-hutan Sulawesi. Hewan ini menjadi kuliner ekstrem yang disukai, khususnya di tanah Minahasa, Sulawesi Utara.
Hidangan yang dikenal dengan nama “Tikus Santang Kering” atau “Tikus Kuah Santan” ini adalah sajian khas dan unik dalam berbagai pesta adat maupun santapan rumahan. Berbeda dengan tikus got (Rattus norvegicus) yang hidup di jalanan atau lingkungan kumuh, tikus ekor putih adalah penghuni hutan yang menjalani kehidupan sangat berbeda.
“Tikus jenis ini diburu malam hari, memakan buah-buahan terutama pisang. Tikus ekor putih berbeda dengan tikus rumah. Tikus ini mempunyai habitat di hutan. Mereka tidak tinggal di tanah melainkan di atas pohon,” ujar Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, kepada Mongabay Indonesia, awal November 2025.
Menurutnya, bentuk tikus ekor putih seperti tikus curut tapi lebih besar dan ujung ekornya berwarna putih. Tikus ini diburu dengan senapan angin, walaupun ada yang menggunakan perangkap yang disebut “dodeso”, yakni jerat untuk tikus terbuat dari bambu. Umpannya adalah kelapa yang dimasukkan ke dalam “dodeso” agar tikus tertarik.
Tikus ekor putih memakan biji-bijian dan buah-buahan di hutan, sehingga sering disebut tikus hutan dan tergolong binatang bersih.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.
Olahan daging tikus hutan ini sering disebut kawok. Tikus ini dimasak dengan kuah santan dan bumbu kuning dengan memasukan segala jenis rempah-rempah, mulai kunyit dan daunnya, jahe, bawang merah, daun bawang, cabe, sereh, dan merica.
Hari menambahkan, biasanya saat membeli tikus ekor putih di pasar, pembeli akan memeriksa ekornya untuk memastikan apakah itu asli tikus hutan atau bukan.
“Jadi tikusnya dalam keadaan dibakar oleh penjual kemudian dikeluarkan isinya, tapi ekornya akan tetap utuh agar pembeli percaya bahwa itu benar-benar tikus hutan,” ungkap Hari.
Sebuah riset berjudul, “Pendampingan Budidaya Tikus Hutan Ekor Putih Pada Pemburu Tikus Desa Ampreng Kecamatan Langowan Kabupaten Minahasa,” disebutkan bahwa tikus hutan telah lama dikonsumsi masyarakat Sulawesi Utara, khususnya penduduk Minahasa yang tinggal di pedesaan dan di pinggir hutan.
Tikus hutan yang dikonsumsi adalah tikus yang memiliki ciri khusus, yaitu pada ujung ekor tikus berwarna putih sehingga penduduk setempat menyebutnya dengan sebutan “tikus ekor putih”. Perburuan terhadap tikus hutan dikarenakan daging tikus dikonsumsi sebagai sumber protein hewani.
Hidup di hutan
Riset tersebut juga menjelaskan bahwa tikus ekor putih yang diperoleh dari hutan, selain untuk dikonsumsi sendiri, sebagian dijual di pasar tradisional terdekat. Harganya bervariasi antara 20-35 ribu Rupiah, tergantung ukuran. Ada juga yang menjual Rp50.000 untuk 3 ekor tikus hutan.
“Kegemaran orang Minahasa menyantap beragam jenis daging hewan menegaskan bahwa manusia benar-benar berada di puncak rantai makanan. Mereka mengasosiasikan cita rasa daging tikus dengan daging ayam yang diberi sedikit rasa manis,” tulis para peneliti.
Dua pasar tradisional yang kerap menjual daging satwa liar adalah Pasar Tomohon dan Langowan. Kedua pasar tersebut menjadi etalase aneka daging satwa liar. Saat itu, hampir semua daging hewan penghuni kebun dan hutan di Sulawesi tersedia di lapak pedagang.
Menyediakan daging satwa liar dalam berbagai pesta adat oleh sebagian masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara sudah menjadi budaya, bahkan beberapa komunitas mengharuskan tersedianya jenis satwa liar tertentu.
“Kontrol terhadap makanan di Minahasa sangat longgar. Orang bisa makan hewan apa saja karena tidak ada larangan. Tradisi itu makin kuat lantaran menyajikan dan menyantap daging hewan liar dianggap bergengsi. Semakin langka daging yang disajikan, semakin dianggap bergengsi,” tulis penelitian tersebut.
Penelitian lainnya berjudul, “Karakteristik Morfologi Tikus Hutan Ekor Putih (Maxomys hellwandii) di Tangkoko Batuangus Bitung”, menjelaskan tikus ini dikenal dengan nama lokal Turean, dan mempunyai 14 spesies tikus ekor putih lainnya.
Menurut IUCN (The International Union For The Conservation of Nature and Nature Resources), status konservasinya yaitu Least Concern, yang keberadaannya masih kurang diperhatikan dan ancaman utama tikus ekor putih adalah perburuan untuk dijual.
Disebutkan bahwa tikus hutan termasuk jenis mamalia kecil yang hidup di hutan primer maupun hutan sekunder. Mamalia kecil ini aktif malam hari.
“Tikus ekor putih juga banyak ditemukan di hutan Tangkoko, Bitung, Provinsi Sulawesi Utara dan juga merupakan salah satu sumber pangan masyarakat sekitar,” ungkap para peneliti.
Referensi:
Laatung, S., Ransaleleh, T., Lapian, H., & Onibala, J. (2024). Pendampingan Budidaya Tikus Hutan Ekor Putih Pada Pemburu Tikus Desa Ampreng Kecamatan Langowan Kabupaten Minahasa. The Studies of Social Sciences, 6(1), 47-56. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/ssj/article/view/53042/44988
Masala, J., Wahyuni, I., Rimbing, S. C., & Lapian, H. F. N. (2020). Karakteristik Morfologi Tikus Hutan Ekor Putih (Maxomys Hellwandii) di Tangkoko Batuangus Bitung. Zootec, 40(1), 207-213.
*****