- Cacing zombi (Osedax) yang memakan tulang paus di laut dalam mulai menghilang, terutama di Barkley Canyon, Kanada. Hilangnya mereka menandakan gangguan serius pada ekosistem laut dalam.
- Osedax berperan penting sebagai “insinyur ekosistem”, menciptakan habitat bagi banyak organisme lain. Tanpa mereka, tulang paus menjadi sumber kehidupan yang mati dan rantai ekologi laut dalam terputus.
- Penurunan kadar oksigen akibat pemanasan laut membuat wilayah laut dalam makin tidak layak huni. Ini menunjukkan dampak perubahan iklim kini juga mencapai dunia tersembunyi di dasar samudra.
Di kedalaman laut yang gelap dan sunyi, tulang paus yang tenggelam biasanya menjadi santapan bagi makhluk aneh bernama Osedax ; cacing pemakan tulang yang sering dijuluki zombi laut. Mereka hidup tanpa mata, tanpa mulut, tanpa usus, tapi dengan satu tujuan sederhana: memakan tulang yang jatuh dari langit biru di atas mereka. Selama jutaan tahun, mereka menjaga keseimbangan kehidupan di dasar laut.
Namun kini, para ilmuwan menemukan sesuatu yang mengganggu. Di perairan Barkley Canyon, lepas pantai British Columbia, Kanada, para peneliti menaruh kerangka paus bungkuk di dasar laut selama bertahun-tahun. Mereka menunggu kehadiran Osedax, tapi tak satu pun datang. Tulang paus dibiarkan membusuk sendirian di dasar laut tanpa satu pun cacing zombi menancap di permukaannya.
Temuan ini membuat para ilmuwan cemas. Hilangnya Osedax bukan sekadar kisah aneh dari dunia bawah laut, tapi sinyal bahaya tentang perubahan besar yang sedang terjadi di samudra. Kehadiran mereka menandai kesehatan ekosistem laut dalam. Jika zombi laut pun tak lagi bisa hidup di sana, berarti laut sedang kehilangan napasnya.
Penjaga Sunyi di Dasar Laut
Osedax bukan sekadar cacing pemakan tulang. Mereka adalah penjaga keseimbangan di ekosistem laut dalam. Tubuh mereka unik—tak memiliki sistem pencernaan konvensional. Sebagai gantinya, mereka memiliki jaringan akar yang mampu mengebor tulang paus, mengeluarkan asam untuk melarutkan mineral di dalamnya, lalu bekerja sama dengan bakteri simbiosis untuk menyerap nutrisi.
Dari luar, mereka tampak seperti benang merah muda yang menari lembut di atas tulang paus. Tapi di balik bentuknya yang lembut, mereka menjalankan fungsi penting: membuka jalan bagi kehidupan lain. Dengan melubangi tulang, Osedax menciptakan ruang baru untuk ratusan spesies kecil seperti siput, krustasea, dan cacing lain. Tanpa mereka, tulang paus hanya akan menjadi benda mati di dasar laut.
Ilmuwan menyebut makhluk ini sebagai insinyur ekosistem laut dalam. Mereka membangun habitat baru tanpa sadar, meningkatkan keragaman hayati di lingkungan ekstrem yang gelap, dingin, dan bertekanan tinggi. Di setiap kerangka paus yang jatuh ke dasar laut (disebut whale fall) hidup komunitas yang bergantung penuh pada Osedax. Jika mereka lenyap, ekosistem kecil ini akan ikut runtuh.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa Osedax memiliki sebaran global yang sangat luas, dari Atlantik hingga Pasifik, dengan berbagai spesies yang beradaptasi terhadap kedalaman dan arus laut berbeda. Temuan ini menegaskan betapa kompleks dan terhubungnya ekosistem mereka di seluruh dunia. Hilangnya satu populasi bisa berdampak jauh melampaui lokasi penelitian tunggal.
Rantai Kehidupan yang Mulai Terputus
Kerangka paus di dasar laut ibarat pulau-pulau kehidupan yang tersebar di tengah samudra luas. Osedax di satu tulang akan melepaskan larva ke kolom air. Larva itu melayang ratusan kilometer hingga menemukan tulang paus lain untuk dikolonisasi. Begitulah cara jaringan kehidupan di laut dalam saling terhubung.
Dr. Fabio De Leo dari Ocean Networks Canada menjelaskan, sistem ini menciptakan “jaringan konektivitas” antara habitat-habitat laut dalam yang terpisah jauh. Namun ketika Osedax menghilang dari satu lokasi seperti Barkley Canyon, rantai ini terputus. Larva tak lagi menyebar, dan populasi cacing zombi di wilayah lain perlahan menyusut.
Kehilangan satu populasi bisa berdampak pada skala lebih luas. Setiap tulang paus yang tenggelam adalah sumber kehidupan baru. Jika tidak ada cacing zombi yang datang, tulang itu menjadi kuburan yang sepi. Lama-kelamaan, keanekaragaman di laut dalam akan berkurang. “Anda bisa mulai kehilangan keragaman spesies Osedax di seluruh wilayah,” kata De Leo.
Eksperimen terbaru yang dipublikasikan di Frontiers in Marine Science memperkuat hal ini: selama lebih dari sepuluh tahun, kerangka paus di Barkley Canyon tak menunjukkan kolonisasi apa pun oleh Osedax. Hasil ini menjadi bukti nyata bahwa cacing pemakan tulang itu bisa lenyap dari wilayah yang seharusnya ideal bagi mereka.
Hilangnya Osedax bukan hanya soal satu spesies punah, tapi soal ekosistem yang saling terikat, dan kini mulai kehilangan simpulnya.
Laut yang Kehabisan Napas
Para ilmuwan menemukan penyebab utama menghilangnya Osedax: penurunan kadar oksigen di perairan Barkley Canyon. Daerah ini memang tergolong zona oksigen minimum (OMZ), wilayah laut dengan kadar oksigen rendah. Tapi dalam dekade terakhir, kadar itu turun ke tingkat yang tak lagi bisa menopang kehidupan cacing zombi.
Fenomena ini berkaitan langsung dengan pemanasan laut akibat perubahan iklim. Air yang lebih hangat menyimpan lebih sedikit oksigen dan mengganggu sirkulasi laut, membuat air kaya oksigen dari permukaan tak lagi turun ke kedalaman. Akibatnya, lapisan laut dalam menjadi miskin oksigen, mematikan kehidupan di dalamnya.
Kajian global yang diterbitkan di Geophysical Research Letters menunjukkan bahwa zona oksigen minimum di lautan dunia terus meluas, baik secara horizontal maupun vertikal, sejak 1960-an. Artinya, kondisi seperti di Barkley Canyon bukan kasus tunggal. Laut dalam di berbagai belahan dunia kini menghadapi ancaman serupa.
Craig Smith, profesor emeritus dari University of Hawaii, menyebut perluasan zona oksigen minimum sebagai “berita buruk bagi ekosistem whale fall dan wood fall di Pasifik bagian timur laut.” Bukan hanya cacing zombi yang terancam, tapi seluruh komunitas yang hidup dari sisa-sisa organik di laut dalam.
Tanpa Osedax, tulang paus akan terurai lebih lambat. Nutrisi yang seharusnya kembali ke rantai makanan laut dalam akan tertahan. Dampaknya menjalar ke seluruh sistem, dari mikroba hingga hewan pemangsa besar.
Selama jutaan tahun, cacing zombi telah bertahan menghadapi perubahan alam. Mereka sudah ada sejak zaman dinosaurus, memakan tulang makhluk raksasa yang tenggelam ke laut purba. Kini, setelah 100 juta tahun bertahan, mereka menghadapi ancaman yang belum pernah ada: laut yang kekurangan oksigen karena ulah manusia.