- Bumi memiliki ‘bulan kedua’ bernama 2025 PN7, sebuah asteroid kecil yang telah mengikuti orbit Bumi sejak sekitar 60 tahun lalu dan akan menjauh pada 2083.
- 2025 PN7 bukan satelit sejati, tetapi quasi-bulan yang mengorbit Matahari dengan jalur hampir sama seperti Bumi sehingga tampak seperti mengelilingi planet kita.
- Penemuan ini penting karena membantu ilmuwan mempelajari dinamika orbit asteroid dekat-Bumi dan bisa menjadi target pengujian misi antariksa di masa depan.
Selama lebih dari enam dekade, Bumi ternyata memiliki ‘bulan kedua’ yang tidak pernah benar-benar disadari keberadaannya. Objek kecil ini baru ditemukan setelah para astronom memeriksa kembali data orbit yang terekam selama bertahun-tahun. Mereka menemukan pola yang menunjukkan bahwa benda ini telah mengikuti jalur orbit Bumi di sekitar Matahari sejak pertengahan abad ke-20. Penemuan ini menambah daftar fenomena menarik dalam sistem tata surya bagian dalam yang semakin sering terungkap berkat peningkatan kemampuan observasi astronomi modern.
Asteroid tersebut diberi nama 2025 PN7. Ia bukan satelit alami seperti Bulan yang mengorbit Bumi secara langsung, tetapi merupakan asteroid yang jalur orbitnya sangat mirip dengan orbit planet kita. Dalam istilah astronomi, ia dikategorikan sebagai quasi-bulan atau satelit semu. NASA memastikan bahwa 2025 PN7 akan tetap berada di sekitar orbit Bumi hingga sekitar tahun 2083 sebelum akhirnya perlahan menjauh karena pengaruh gravitasi Matahari dan planet lain.
Fenomena quasi-bulan terjadi ketika sebuah objek ruang angkasa tidak benar-benar terperangkap oleh gravitasi Bumi, tetapi tetap terlihat seperti bergerak bersamanya dalam jangka waktu lama. Orbitnya mengelilingi Matahari, bukan Bumi, namun karena kecepatan dan jalur orbitnya sangat mirip, ia tampak seperti mengawal planet kita dari kejauhan. Dari permukaan Bumi, gerakannya tampak menyerupai orbit satelit alami, padahal sebenarnya ia hanyalah “tetangga kosmik” yang berjalan beriringan.
Penemuan dan Karakteristik Sang”Bulan Kedua”
Asteroid ini pertama kali terdeteksi pada musim panas 2025 oleh observatorium Pan-STARRS di Hawaii, sebuah fasilitas yang dikenal dengan survei langit beresolusi tinggi untuk mendeteksi objek kecil di tata surya. Hasil pengamatan dan analisis orbitnya diterbitkan dalam Research Notes of the AAS, jurnal singkat dari American Astronomical Society. Menariknya, pengamatan awal yang menyingkap sifat unik objek ini justru datang dari seorang astronom amatir, Adrien Coffinet, yang memperhatikan perilaku orbitnya.
Menurut laporan penelitian itu, 2025 PN7 menjadi quasi-bulan kedelapan yang diketahui pernah menyertai Bumi. Salah satu penulis studi, Carlos de la Fuente Marcos, menjelaskan kepada Live Science bahwa objek ini merupakan yang terkecil dan paling tidak stabil di antara semuanya. Diameter asteroid ini diperkirakan hanya 18 hingga 36 meter, seukuran bangunan kecil bertingkat dua. Dengan tingkat kecerahan sekitar magnitudo 26, ia termasuk sangat redup sehingga sulit dideteksi kecuali ketika berada cukup dekat dengan Bumi.
Para astronom memperkirakan 2025 PN7 telah mengikuti orbit serupa dengan Bumi sejak tahun 1950-an atau 1960-an. Artinya, ia mungkin sudah ada di sekitar kita saat penerbangan luar angkasa manusia pertama kali dimulai. Orbitnya yang tidak sepenuhnya stabil membuatnya akan tetap menemani Bumi selama sekitar enam dekade ke depan sebelum perlahan keluar dari resonansi orbit pada sekitar tahun 2083.
Jaraknya dari Bumi sangat bervariasi, mulai dari sekitar 4 juta kilometer pada posisi terdekat (sekitar sepuluh kali jarak Bulan) hingga bisa mencapai 17 juta kilometer ketika berada di titik terjauh. Variasi besar ini disebabkan oleh interaksi gravitasi kompleks antara Bumi, Matahari, dan planet-planet lain, terutama Venus dan Jupiter. Karena itu, meskipun disebut quasi-bulan, orbitnya tidak bersifat permanen. Ia hanyalah “pengembara sementara” yang kebetulan berjalan beriringan dengan Bumi selama satu periode panjang.
Mengapa Penemuan ini Penting?
Penemuan objek seperti 2025 PN7 memberi peluang unik bagi ilmuwan untuk memahami dinamika orbit benda kecil di sekitar Bumi. Quasi-bulan memungkinkan pengamatan jangka panjang karena mereka tetap berada dalam jangkauan teleskop untuk puluhan tahun. “Quasi-satelit menarik karena siklusnya memungkinkan kita mempelajari asteroid kecil dalam waktu lama,” ujar astronom amatir Sam Deen kepada Sky & Telescope.
Asteroid kecil seperti ini juga menjadi laboratorium alami bagi para ilmuwan untuk menguji model gravitasi dan prediksi orbit asteroid dekat-Bumi atau Near-Earth Asteroids (NEA). Menurut para peneliti, karakteristik orbit yang unik menjadikan mereka kandidat potensial untuk misi antariksa di masa depan, misalnya uji coba teknologi pendaratan atau pengambilan sampel. Karena lokasinya yang relatif dekat dan pola orbitnya yang dapat diprediksi dalam beberapa dekade, quasi-bulan bisa menjadi target yang hemat energi untuk dijangkau wahana antariksa.
Selain quasi-bulan, Bumi juga berbagi orbit dengan jenis asteroid lain, seperti asteroid Trojan yang berada di titik stabil di depan atau di belakang planet, serta asteroid tapal kuda (horseshoe orbit) yang tampak bergerak maju-mundur terhadap Bumi. Jupiter, misalnya, memiliki ribuan asteroid Trojan yang kini menjadi target utama misi Lucy milik NASA untuk mempelajari awal terbentuknya tata surya. Banyak quasi-bulan Bumi pada akhirnya akan berpindah ke orbit Trojan atau tapal kuda seiring waktu.
