Mongabay.co.id

Peneliti Temukan Spesies Ular Berkumis Sepanjang Hampir 1 Meter

Leptophis mystacinus, ular nuri berkumis dari sabana Cerrado Brasil. Garis hitam di moncongnya menyerupai kumis, ciri khas yang membedakannya dari kerabat dekatnya. Foto © Jonathan Kolby (CC BY-NC-ND), via iNaturalist.

Leptophis mystacinus, ular nuri berkumis dari sabana Cerrado Brasil. Garis hitam di moncongnya menyerupai kumis, ciri khas yang membedakannya dari kerabat dekatnya. Foto © Jonathan Kolby (CC BY-NC-ND), via iNaturalist.

Sabana Cerrado di Brasil sering disebut sebagai sabana paling kaya biodiversitas di dunia. Kawasan ini mencakup hampir seperlima daratan Brasil, dengan luas lebih dari 1,8 juta kilometer persegi, melebihi gabungan luas Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, dan Inggris. Vegetasinya sangat beragam, mulai dari padang rumput terbuka, semak belukar, savana berpohon, hingga hutan galeri yang mengikuti aliran sungai. Kombinasi habitat ini melahirkan keragaman hayati luar biasa, termasuk ribuan spesies tumbuhan, burung, mamalia, reptil, dan amfibi. Banyak di antaranya endemik, hanya ditemukan di kawasan ini.

Cerrado juga berfungsi sebagai “menara air” bagi Brasil dan Amerika Selatan. Air tanah dan mata air dari sabana ini mengalir ke sejumlah sungai besar seperti São Francisco, Tocantins, dan Paraná, yang menopang kehidupan jutaan orang serta sektor pertanian. Namun, lebih dari separuh vegetasi aslinya telah hilang akibat ekspansi kedelai, tebu, dan padang penggembalaan. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat deforestasi Cerrado bahkan melampaui Amazon. Tekanan ini menjadikan setiap penemuan spesies baru bukan sekadar catatan ilmiah, tetapi juga penanda betapa rapuhnya ekosistem ini.

Peta distribusi bioma utama Brasil. Warna hijau menunjukkan Amazon, oranye menunjukkan Cerrado, dan hijau tua menunjukkan Hutan Atlantik. Cerrado, sabana terkaya biodiversitas di dunia, adalah habitat asli ular nuri berkumis (Leptophis mystacinus). Peta © Richard van der Hoff, via ResearchGate

Di tengah ancaman itu, ilmuwan menemukan spesies baru ular hijau ramping dengan tanda hitam menyerupai kumis di moncongnya. Seekor ular sepanjang hampir 1 meter yang tersimpan selama bertahun-tahun di koleksi Brasil akhirnya diidentifikasi sebagai spesies baru dan diberi nama Leptophis mystacinus. Ular ini termasuk kelompok parrot snake atau ular nuri, dan karena ciri khasnya, bisa disebut juga “ular nuri berkumis”. Penemuan ini menambah daftar panjang keanekaragaman hayati Cerrado dan sekaligus menjadi pengingat mendesak untuk memperkuat perlindungan kawasan ini.

Ciri khas ular berkumis

Pada 30 Januari 2025, tim peneliti yang dipimpin Diego Santana dari Federal University of Mato Grosso do Sul (UFMS), bersama Nelson Albuquerque dan kolega, resmi mendeskripsikan Leptophis mystacinus dalam jurnal ilmiah PeerJ. Spesies ini termasuk dalam genus Leptophis, kelompok ular hijau ramping yang dikenal luas dengan nama parrot snake atau ular nuri. Kelompok ini tersebar dari Meksiko hingga Amerika Selatan, hidup di pepohonan maupun semak belukar, dan terkenal karena tubuhnya panjang, ramping, serta warna hijau terang yang menyatu dengan vegetasi.

Ciri paling menonjol L. mystacinus adalah garis hitam tebal di bagian moncong hingga ke belakang kepala, menyerupai kumis yang mencolok. Pola ini menjadi pembeda visual yang langsung terlihat dibandingkan spesies Leptophis lain. Selain itu, ular ini memiliki dua garis hijau di sisi tubuh yang dipisahkan oleh garis pucat di bagian punggung. Kombinasi warna hijau terang dan garis-garis kontras membuatnya sulit dibedakan dari vegetasi, sehingga berfungsi juga sebagai kamuflase alami.

Perbandingan morfologi kepala pada holotipe spesies Leptophis dari sabana kering Amerika Selatan. (A–B) Leptophis mystacinus sp. nov. (ZUFMS-REP 4702), ular nuri berkumis dari Cerrado Brasil; (C–D) L. marginatus (AMNH 5514); (E–F) L. dibernardoi (CHUFC 1104). Foto © D. J. Santana. DOI: 10.7717/peerj.18528/fig-6

Dari segi anatomi, L. mystacinus menunjukkan perbedaan jumlah sisik dan gigi yang konsisten dibanding kerabatnya. Peneliti mencatat 21–25 gigi di rahang atas, jumlah ventral 158–173, dan subkaudal 141–164. Karakter ini penting karena Leptophis dikenal sebagai kelompok yang sulit dibedakan hanya dari warna tubuh. Spesimen terbesar yang ditemukan mencapai 97 sentimeter, sehingga dijuluki juga ular nuri berkumis hampir satu meter.

Untuk memastikan statusnya sebagai spesies baru, tim menggunakan pendekatan taksonomi integratif. Mereka menggabungkan analisis morfologi, pola sisik, ukuran tubuh, dan pewarnaan dengan analisis DNA mitokondria gen 16S. Hasilnya menunjukkan L. mystacinus merupakan kelompok monofiletik yang berbeda jelas dari kerabat terdekatnya, khususnya Leptophis dibernardoi dari Caatinga, ekoregion kering di timur laut Brasil. Rata-rata perbedaan genetik mencapai 2–8 persen dibanding spesies lain dalam genus yang sama.

Holotipe Leptophis mystacinus (ZUFMS-REP004702), ular nuri berkumis yang baru dideskripsikan dari sabana Cerrado, Brasil. Tampak lateral kanan (A) dan kiri (B) kepala spesimen hidup dari Pium, negara bagian Tocantins. Foto © L. A. Silva. DOI: 10.7717/peerj.18528/fig-4

Nama mystacinus berasal dari kata Yunani mystax yang berarti kumis, merujuk pada tanda hitam khas di bagian wajah. Epithet ini dipilih karena pola tersebut menjadi ciri unik yang stabil pada sebagian besar individu. Perbedaan ini juga konsisten dengan karakter lain, seperti bentuk sisik kepala dan morfologi hemipenis, yang menegaskan statusnya sebagai spesies baru. Dengan kombinasi ciri morfologi, genetik, dan distribusi terbatas di Cerrado, ular ini kini resmi tercatat sebagai salah satu anggota baru dalam daftar reptil Brasil.

Sabana Cerrado sebagai rumah keanekaragaman

Temuan L. mystacinus memperkuat pandangan bahwa Cerrado masih menyimpan banyak spesies yang belum terungkap. Menurut kajian sebelumnya, sabana ini menjadi rumah bagi lebih dari 200 spesies reptil dan sekitar 200 spesies amfibi, banyak di antaranya endemik. Namun, perhatian ilmiah selama ini lebih banyak terfokus ke Amazon dan Hutan Atlantik.

Dalam penelitian yang sama, tim menemukan bahwa distribusi L. mystacinus terbatas di negara bagian Tocantins dan Minas Gerais, dengan catatan sebaran dari hutan galeri hingga mosaik sabana berhutan. Spesies ini kemungkinan memiliki populasi yang lebih luas, tetapi belum terpetakan secara detail. Untuk itu, penelitian lanjutan diperlukan guna memperkirakan ukuran populasi, pola konektivitas habitat, dan potensi ancaman.

Holotipe Leptophis mystacinus, ular nuri berkumis yang baru dideskripsikan dari sabana Cerrado, Brasil. Spesimen ini menjadi acuan resmi untuk identifikasi spesies baru tersebut. Tampak dorsal (A) dan ventral (B). Foto © D. J. Santana. DOI: 10.7717/peerj.18528/fig-3

Keterbatasan perlindungan hukum juga menjadi tantangan. Regulasi di Brasil memberi perlindungan lebih besar pada kawasan Amazon dibanding Cerrado. Sebagian besar tanah di sabana masih dapat secara sah dikonversi untuk perkebunan atau peternakan. Kebijakan ini membuat habitat penting bagi spesies endemik, termasuk L. mystacinus, terus tergerus.

Cerrado sendiri bukan hanya penting bagi biodiversitas, tetapi juga bagi masyarakat. Ekosistem ini mendukung cadangan air tawar Brasil, menyuplai sungai-sungai besar yang menopang pertanian dan energi. Hilangnya vegetasi asli berarti hilangnya fungsi ekologis penting, dari penyimpanan karbon hingga stabilitas iklim lokal.

Peran ekologi dan keterlibatan masyarakat

Ular memainkan peran vital dalam ekosistem. Sebagai predator menengah, mereka mengendalikan populasi hewan kecil seperti tikus, kadal, dan katak. Dengan begitu, ular membantu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberi manfaat langsung bagi manusia, misalnya menekan hama pertanian. Jika predator seperti ular berkurang, efeknya bisa merambat ke seluruh rantai makanan. Memulihkan kembali keseimbangan ini jauh lebih sulit dan mahal dibanding mencegah penurunannya sejak awal.

Selain itu, ular juga memiliki nilai budaya. Sebagian komunitas lokal memandangnya berbahaya, tetapi ada pula yang menghormati ular sebagai penjaga ladang. Dalam penelitian, para peneliti menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam program pemantauan dan konservasi. Pengetahuan petani, masyarakat adat, dan warga pedesaan sering kali membantu ilmuwan menemukan spesies langka yang sulit dijangkau. Partisipasi ini juga membangun dukungan publik yang lebih luas untuk menjaga habitat tetap utuh.

Exit mobile version