Mongabay.co.id

Quoll, Karnivora Mungil yang Jadi “Harimau” Papua

Hutan dan savana Papua menyimpan satu karnivora mungil yang jarang disebut. Tubuhnya berbintik putih, moncongnya runcing, dan ia aktif berburu di malam hari. Satwa ini dikenal dengan nama quoll. Di alam, ia bergerak lincah di lantai hutan, memanjat batang pohon untuk mencari mangsa, atau menyelinap ke pemukiman ketika gelap. Nama quoll mungkin asing bagi banyak orang Indonesia, tetapi bagi masyarakat Papua, keberadaannya sudah lama menjadi bagian dari keseharian.

Sebagian warga menganggap quoll sebagai hama karena sering memangsa ayam. Ada juga yang memburunya untuk dijadikan sumber protein. Namun, di balik pandangan itu, quoll adalah predator penting. Ia memangsa serangga, reptil, dan hewan kecil lain, menjaga keseimbangan rantai makanan di ekosistem hutan dan savana. Peran ini membuatnya layak disebut sebagai “harimau kecil” Papua.

“Papua tidak memiliki karnivora sebesar harimau. Quoll merupakan satu-satunya mamalia karnivora terbesar di Papua,” kata Hari Suroto, peneliti Balai Arkeologi Papua sekaligus dosen Universitas Cenderawasih, dikutip Tempo.co.

Mengenal Quoll Papua

Quoll berasal dari keluarga marsupial pemangsa, genus Dasyurus. Spesies yang hidup di Papua adalah Dasyurus albopunctatus, dikenal juga sebagai gumben jen atau gumbem Papua. Inilah karnivora marsupial terbesar kedua di pulau New Guinea, setelah kerabatnya yang hidup di Australia. Meski tidak sebesar harimau atau macan tutul di Nusantara barat, quoll menempati posisi penting dalam rantai makanan di Papua.

Tubuh quoll relatif kecil. Panjangnya 25–75 sentimeter, ekor berbulu 20–35 sentimeter. Warnanya coklat dengan totol putih yang kontras, membuatnya mudah dikenali di antara semak dan pepohonan. Sekilas mirip tikus besar, tetapi moncongnya runcing, giginya tajam, dan kukunya kuat untuk memanjat. “Bentuknya mirip tikus, bulu berwarna coklat dengan totol-totol putih dan berkuku tajam,” jelas Hari Suroto. Dengan kemampuan itu, quoll bisa berburu di lantai hutan sekaligus memanjat untuk mengejar mangsa.

Seekor quoll dengan bulu coklat bertotol putih tampak berjalan di lantai hutan, salah satu predator berkantung endemik Papua dan PNG. Foto: Joshua Cunningham/CC BY

Seperti hewan berkantung lain, betina membawa anak di dalam kantung hingga cukup besar untuk keluar dan belajar mencari makan. Perjalanan hidup jantan berbeda. Setelah musim kawin, tubuhnya kelelahan, kehilangan berat badan drastis, dan biasanya mati. Hidup singkat ini membuat populasi jantan selalu berganti setiap tahun, sementara keberlangsungan generasi baru sangat bergantung pada betina.

Walau mungil, quoll adalah predator yang tangguh. Ia memburu serangga, reptil kecil, burung, dan tikus. Bahkan, menurut catatan, quoll kadang memangsa kanguru kecil atau tikus tanah berkantung yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri. Dengan gigi dan kuku tajam, ia mampu mengatasi mangsa yang terlihat lebih besar dari kemampuannya.

Peran ini penting bagi ekosistem. Quoll menjaga keseimbangan populasi hewan kecil, mencegah ledakan tikus atau serangga yang bisa merusak tanaman dan ekosistem hutan. Tanpa predator seperti ini, rantai makanan bisa terganggu dan keseimbangan savana maupun hutan Papua terancam.

Seekor New Guinean quoll (Dasyurus albopunctatus), mamalia karnivora berkantung endemik Papua dan Papua Nugini.Foto: Hamsandweech/CC BY-SA 4.0

Namun, hubungan dengan manusia tidak selalu harmonis. Banyak warga pedalaman Papua menganggap quoll hama karena sering menyerang ayam. Hewan ini juga dijadikan sumber protein, ditangkap dengan jerat atau diburu dengan anjing. Dalam keseharian, quoll menimbulkan ambivalensi: dibenci karena merugikan, tetapi juga diandalkan sebagai bahan pangan. Kondisi ini menjelaskan mengapa konservasi quoll tidak bisa hanya berbicara soal melindungi satwa, tetapi juga bagaimana menjembatani kepentingan manusia dan ekologi.

Selain dua spesies di Papua, quoll sebenarnya terdiri dari enam spesies di seluruh Australasia. New Guinean quoll (Dasyurus albopunctatus) tersebar di pegunungan Papua, Indonesia, dan Papua Nugini, sedangkan bronze quoll (D. spartacus) hanya hidup di savana Trans-Fly di bagian selatan Papua / PNG. Empat lainnya ada di Australia: northern quoll (D. hallucatus), yang populasinya terancam serius oleh racun katak tebu; tiger quoll atau spotted-tailed quoll (D. maculatus), spesies terbesar dengan tubuh bisa mencapai lebih dari satu meter; eastern quoll (D. viverrinus), yang dulu ada di daratan Australia namun kini hanya bertahan di Tasmania; serta chuditch atau western quoll (D. geoffroii), yang hidup di sebagian wilayah Australia Barat. Keenam spesies ini bersama-sama memperlihatkan keragaman marsupial karnivora unik di kawasan Australasia.

Ancaman yang Mengintai

Populasi quoll di Papua sulit dipastikan karena riset masih minim. Hampir tidak ada survei jangka panjang yang bisa memberi gambaran tren jumlah individu. Namun pengalaman dari Australia menjadi alarm. Northern quoll di sana menyusut drastis sejak kedatangan katak tebu (Rhinella marina). Hewan invasif ini beracun, dan setiap kali quoll memangsa katak, ia mati keracunan. IUCN Red List mencatat penurunan signifikan sehingga spesies ini kini berstatus Terancam Punah.

Peta sebaran enam spesies quoll (Dasyurus albopunctatus, D. geoffroii, D. hallucatus, D. maculatus, D. spartacus, dan D. viverrinus) di Australia dan New Guinea, termasuk Papua, Indonesia, dan Papua Nugini. Sumber: Frank Bennett, modifikasi oleh savetheoceans (Flickr)/CC BY 2.0

Di Papua, ancamannya berbeda, tetapi sama serius. Habitat savana Trans-Fly di bagian selatan New Guinea adalah rumah utama bagi bronze quoll (Dasyurus spartacus). Kawasan ini membentang dari selatan Papua, Indonesia, hingga ke Papua Nugini, terdiri atas padang rumput luas, rawa musiman, dan mosaik hutan kecil. Ekoregion ini dikenal unik karena menjadi tempat pertemuan satwa Australasia dan New Guinea, sehingga banyak spesies hanya ditemukan di sini. Bronze quoll termasuk di antaranya, dengan distribusi sangat terbatas dan bergantung pada bentang savana ini untuk bertahan hidup.

Namun, Trans-Fly juga merupakan salah satu ekoregion yang paling rentan terhadap gangguan. Kebakaran berulang, baik yang terjadi secara alami maupun akibat ulah manusia. sering mengubah struktur vegetasi, mengurangi tutupan pohon kecil, dan mengganggu rantai makanan. Pembukaan lahan untuk pertanian skala kecil, perkebunan, serta infrastruktur juga makin menekan ruang jelajah satwa. Fragmentasi habitat membuat populasi bronze quoll terpecah menjadi kelompok kecil yang lebih sulit bertahan. Menurut IUCN, populasi bronze quoll diperkirakan kurang dari 10 ribu individu dewasa, sehingga tekanan terhadap habitat Trans-Fly berdampak langsung pada kelangsungan hidup spesies ini.

Peta ekoregion Trans-Fly savanna and grasslands (ungu) di selatan Papua, Indonesia, dan Papua Nugini, yang menjadi habitat utama bronze quoll (Dasyurus spartacus). Sumber: Every-leaf-that-trembles/Natural Earth II/CC BY-SA 4.0

Sementara itu, di wilayah pegunungan Papua, ancaman lain menanti. Hutan yang menjadi habitat New Guinean quoll (D. albopunctatus) terus menghadapi perambahan. Aktivitas penebangan liar dan perluasan ladang mempersempit ruang satwa. Ancaman tambahan datang dari predator domestik seperti anjing dan kucing liar yang kian banyak di desa-desa pinggiran hutan.

Seekor chuditch (Dasyurus geoffroii), salah satu spesies quoll asal Australia, tampak menguap di Perth Zoo. Foto: S J Bennett/CC BY 2.0

Konflik dengan manusia juga memperburuk keadaan. Banyak warga menganggap quoll sebagai hama ayam. Ketika ternak mereka diserang, quoll sering diburu balas dendam menggunakan jerat atau anjing. Praktik ini mengurangi populasi lokal secara cepat. Padahal, quoll punya peran penting dalam ekosistem sebagai pengendali populasi mangsa kecil.  Quoll adalah satu-satunya mamalia karnivora terbesar di Papua, sehingga hilangnya satwa ini akan meninggalkan celah ekologi besar. IUCN saat ini menggolongkan quoll Papua sebagai Near Threatened, status yang bisa memburuk bila tekanan tidak segera dikendalikan.

Harapan dari Riset Terbaru

Sejumlah studi mutakhir di Australia memberi pelajaran berharga tentang bagaimana quoll bisa dipulihkan dan bertahan di tengah ancaman. Penelitian di Mulligans Flat Woodland Sanctuary pada 2024 lalu menemukan, quoll yang dilepas ke habitat baru ternyata bisa diterima oleh populasi lama. Setelah masa adaptasi, mereka bahkan berbagi sarang. Temuan ini memberi harapan: jika suatu saat Papua perlu memulihkan populasi quoll, pelepasan bertahap bisa berhasil tanpa memicu konflik sosial antarindividu.

Studi lain di Pilbara, Australia Barat menunjukkan, quoll yang hidup di sekitar tambang harus berjalan lebih jauh untuk mencari makan. Energi yang terkuras membuat mereka lebih rentan terhadap predator. Situasi ini bisa jadi cermin bagi Papua, di mana proyek tambang dan pembukaan lahan juga menekan habitat satwa. Riset perilaku terbaru bahkan mengungkap bahwa quoll tidak aktif sepanjang malam secara merata, tetapi punya dua puncak aktivitas: awal malam dan menjelang pagi. Informasi ini penting agar survei kamera jebak di Papua bisa dipasang di waktu yang tepat untuk memperoleh data akurat.

Seekor tiger quoll (Dasyurus maculatus) sedang beraktivitas malam di Barren Grounds Nature Reserve, New South Wales, Australia. Foto: JJ Harrison/CC BY-SA 3.0

Upaya konservasi juga menghadirkan inovasi. Ilmuwan di Australia melatih quoll agar tidak memakan katak tebu dengan memberikan umpan kecil yang menimbulkan rasa mual, sebuah metode yang disebut conditioned taste aversion. Hasilnya positif: quoll belajar menghindari katak setelah itu, meningkatkan peluang hidup di habitat yang sudah terinvasi . Strategi lain adalah menciptakan populasi cadangan di pulau-pulau bebas predator invasif, dikenal sebagai island arks. Dengan cara ini, ada “bank populasi” yang bisa menjadi cadangan genetik. Bagi Papua, konsep serupa bisa diterapkan di lembah pegunungan terpencil. Dan yang tak kalah penting, pengetahuan adat harus dilibatkan. Warga kampung tahu jalur jelajah, musim kemunculan, hingga lokasi sarang. Jika pengetahuan lokal dipadukan dengan riset ilmiah, konservasi akan lebih kuat dan berakar di masyarakat.

Pengalaman dari Australia memperlihatkan bahwa upaya menyelamatkan quoll tidak bisa hanya mengandalkan satu cara. Konservasi berhasil ketika habitat dijaga, konflik dengan manusia dikelola, dan ada ruang untuk inovasi. Setiap pendekatan saling melengkapi.

Di Papua, langkah awal adalah mengetahui berapa banyak quoll yang masih tersisa. Survei dengan kamera jebak bisa menjadi pintu masuk, apalagi jika melibatkan masyarakat adat yang sudah mengenal jalur jelajah satwa ini. Pengetahuan warga tentang musim kemunculan dan lokasi sarang dapat melengkapi data ilmiah. Konflik dengan peternak bisa berkurang lewat cara sederhana, seperti kandang ayam yang lebih aman dan ditutup pada malam hari.

Quoll mungkin kecil, tetapi perannya besar. Ia memangsa serangga, reptil, hingga tikus yang bisa mengganggu keseimbangan hutan dan kebun. Kehilangannya berarti hilangnya satu lapisan penting dalam rantai ekologi.

Exit mobile version