Mongabay.co.id

Warna Alam: Eksotika Kain Tenun Tapobali

 

 

Menjelang malam, Mikael Doni masih menenun di pondok sederhananya, di Desa Tapobali, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (7/8/2025). Dalam budaya etnis Lamaholot, hanya kaum perempuan yang biasanya menenun, termasuk masyarakat di Desa Tapobali.

Mikael belajar menenun pada 2007, mulai dari memintal kapas menjadi benang, mewarnai benang, hingga membuat motif. Dia juga menginisiasi mama-mama di desanya, membentuk kelompok tenun ‘Ina Tula Tani’. Kelompok yang beranggotakan 25 orang.

Alumni S1 Kesehatan Masyarakat, Universitas Pejuang Republik Indonesia, Makassar, ini menggali berbagi motif lokal untuk ditenun lagi.

“Saya belajar dari mama-mama di kampung.”

Mikael Doni, mantan ketua kelompok tenun Ina Tula Tani di Desa Tapobali, Kabupaten Lembata, NTT, merupakan satu-satunya penenun laki-laki dan mendobrak tradisi menenun. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Proses tenun dimulai mengolah kapas sebagai bahan baku benang.

“Kapas digulung, dibersihkan bijinya dan dipisahkan seratnya. Berikutnya, pemintalan benang menggunakan alat tradisional.”

Selanjutnya, menentukan motif yang diinginkan dan proses pewarnaan alami. Setelah benang kering, peminyakan dilakukan lalu motif ditenun menggunakan alat tradisional.

“Untuk menghasilkan sebuah kain tenun, butuh waktu berbulan. Makanya, harga jualnya lebih mahal dibandingkan benang pabrik dan pewarna kimia,” ucapnya.

Inilah alat tenun tradisional kelompok tenun Ina Tula Tani di Desa Tapobali, Kabupaten Lembata, NTT. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Theodora Niga, ketua kelompok tenun “Ina Tula Tani” mengatakan anggota kelompoknya berusia di atas 50 tahun. Kelompoknya, hanya menenun motif warisan leluhur sekitar 12 motif tradisional.

“Masing-masing anggota miliki kebun kapas sendiri.”

Hasil tenun kelompok ini dikirim ke Denpasar, Bali untuk dijual di galeri. Juga, dijual di Maumere dan beberapa wilayah lain. Di Denpasar, pada kain tenun dituliskan nama penenun, pembuat ikat motif, pewarna, filosofi motif, serta asal daerah.

“Menenun bukan saja mewarisi budaya, namun juga sebagai sumber penghasilan kami laku dijual,” ucapnya.

Benang dari bahan kapas yang sudah dicelup menggunakan pewarna alam dan siap ditenun. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Identitas budaya

Kain tenun dibutuhkan saat acara kelahiran hingga kematian. Dalam tradisi masyarakat etnis Lamaholot yang tersebar dari Kabupaten Flores Timur, Lembata hingga Alor, kain tenun dipergunakan dalam setiap ritul budaya.

Tulisan Lusiana Limono berjudul “Mode Lambat dan Wawas Lingkungan sebagai Kearifan Lokal dalam Kriya Tekstil” menjelaskan bahwa kain tenun bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar kain penutup tubuh. Tetapi, merupakan identitas, simbol status, dan sistem kekerabatan.

“Perilaku kurang baik seorang penenun, seperti berkata buruk, akan berpengaruh terhadap hasil kerja yang seharusnya menjadi karya tenun indah.”

Benang dari bahan kapas yang sudah dicelup warna alam ini akan ditenun menjadi kain. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Setiap perempuan penenun, mempunyai motif yang diwariskan ibunya. Seseorang tidak boleh menenun atau meniru motif dari keluarga lain, karena berkaitan dengan identitas keluarga. Dalam kehidupan moderen, ini bisa dikaitkan dengan hak cipta yang dilindungi undang-undang, yaitu undang-undang adat.

“Penenun diwajibkan menyisir dan merapikan pakaian yang dikaitkan dengan kesiapan mental dan suasana hati, sebelum menenun.”

Sisa benang hasil tenun dan ampas pewarna, dikumpulkan dan dikubur pada tempat khusus.

“Keseluruhan aturan mengandung nilai luhur berupa penghormatan kepada alam, mengambil sesuai kebutuhan, dan menunjukkan kedekatan perempuan penenun dengan alam,” jelasnya.

Benang yang menggunakan pewarna alam ini hasil produksi kelompok tenun Ina Tula Tani di Desa Tapobali, Kabupaten Lembata, NTT. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Warna alam

Mikael menambahkan, kain tenun yang dihasilkan kelompoknya konsisten menggunakan pewarna alam. Warna alam memang agak sulit, karena perlu waktu dan penyesuaian takaran.

Warna merah menggunakan kulit dan akar mengkudu ditambah daun lobak yang diambil dari Ende. Warna biru sampai hitam pakai tumbuhan tarum atau nila (Indigofera tinctoria).

Untuk warna kuning memakai batang nangka, kulit batang mangga yang asam, dan sedikit kunyit. Variasi kuning bergantung takaran. Semakin banyak kunyit, warnanya lebih kuning.

“Setiap warna dari bahan bumbu dapur cepat pudar, sehingga kami mencampurnya dengan daun lain seperti kepadek, sejenis daun lokal. Untuk meminyaki benang, kami menggunakan kemiri dan dedaunan lain sebagai pengikat benang,” ucapnya.

Pewarna alam jauh lebih bagus, sebab dari sisi kesehatan tidak berpengaruh pada penenun dan pengguna kain, seperti iritasi kulit dan lainnya.

“Limbah bahan alam juga bisa dipergunakan sebagai pupuk yang tentunya tidak merusak lingkungan.”

Kain tenun dengan pewarna alam ini hasil kerajinan kelompok tenun Ina Tula Tani di Desa Tapobali, Kabupaten Lembata, NTT. Foto: Nopri Ism/iMongabay Indonesia

 

Agutinus Bala Ledun, Kepala Desa Tapobali, mengaku bersyukur anak-anak muda di desanya kreatif dan menjadi penggerak berbagai kelompok.

Ada komunitas Gebetan, kelompok pangan lokal, lalu kelompok “Ina Tula Tani” yang konsisten menganyam dan menenun untuk dijual ke luar daerah.

Untuk kelompok tenun, mentornya pemuda yang terus berinovasi dengan membuat motif sendiri, tanpa menghilangkan motif aslinya,

“Kain tenun dan anyaman, menggunakan pewarna alam. Anak-anak muda ini menggali potensi lokal dan mewarisi budaya serta pangan lokal,” jelasnya, Kamis (7/8/2025).

Thedora Niga, Ketua Kelompok Tenun Ina Tula Tani Desa Tapobali, Kabupaten Lembata, NTT mengenakan kain tenun dari benang kapas pewarna alam. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Margaretha Barek, warga Dusun Walet, yang merupakan pembuat anyaman seperti tas perempuan, tempat tisu, maupun vas bunga, mengatakan setiap anyaman yang dihasilkan menggunakan pewarna alam.

Warna cokelat didapatkan dari kulit kayu sepang atau pucuk jati lokal. Batang dalamnya direbus dengan daun lontar. Setelah daun lontar berubah warna, diangkat dan dijemur hingga kering, lalu dianyam.

Warna kuning dihasilkan dari parutan kunyit yang direbus bersama daun lontar selama dua jam.

“Pewarna alam lebih tahan lama dan tidak luntur,” tuturnya.

 

*****

 

Hanya Sorgum di Hati Ambrosia Ero

Exit mobile version