Mongabay.co.id

Opini: Jalan Panjang Penyelamatan Kukang Bangka

Kukang bangka [Nycticebus bancanus]. Foto: Randi Syafutra

 

Setiap 13 September, kita peringati sebagai Hari Kukang Internasional.

Di Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung, ada satu nama satwa lokal yang mungkin hanya bergaung di ruang-ruang kecil percakapan masyarakat desa, tetapi menyimpan makna ekologis besar: beruk semundi. Nama ini merujuk pada kukang bangka atau Bangka Slow Loris.

Bagi sebagian orang, Nycticebus bancanus (Lyon, 1906) hanyalah satwa kecil bermata bulat. Namun, di balik tatapan matanya, tersimpan kisah panjang tentang ancaman kepunahan, perburuan, perdagangan ilegal, dan kelalaian kita menjaga primata nokturnal yang hidup di hutan Bangka ini.

Kukang bangka (Nycticebus bancanus) yang statusnya dilindungi. Foto: Randi Syafutra

 

Kukang bangka berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List 2020, akibat hilangnya lebih dari 80 persen habitat aslinya. Penelitian lapangan yang saya lakukan sejak 2017 hingga 2024, menunjukkan bahwa spesies ini masih ada, meski dengan populasi terbatas.

Pada 2017, survei di enam desa (Namang, Petaling, Zed, Kemuja, Paya Benua, dan Mendo) menunjukkan, rerata kepadatan populasi kukang mencapai 32,22 individu per kilometer persegi. Angka itu masih memberikan harapan bahwa spesies ini bisa bertahan.

Namun pada 2024, rerata kepadatannya hanya 7,50 individu per kilometer persegi. Penurunan lebih dari 75 persen ini merupakan peringatan keras bahwa kondisinya berada di tepi jurang kepunahan.

Pada 2017 juga, kukang bangka relatif lebih mudah ditemukan ketimbang primata malam lainnya, yakni tarsius Horsfield (Cephalopachus bancanus bancanus), atau dikenal dengan nama lokal mentilin. Namun situasi itu berbalik pada 2024.

Kukang bangka yang berada di PPS Alobi, Bangka, Kepualauan Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Prioritas konservasi

Mengapa konsisi ini terjadi? Perbedaan intensitas perhatian konservasi, perlu ditelisik. Tarsius Horsfield dalam beberapa tahun terakhir mendapat perhatian besar, sehingga kesadaran publik meningkat.

Sebaliknya, kukang masih dianggap tidak begitu penting “dilindungi” dibandingkan primata lain. Akibatnya, permintaan perburuannya sebagai hewan peliharaan eksotis tetap tinggi. Media sosial bahkan menjadi jalur perdagangan gelap yang sulit dikendalikan.

Padahal, kukang bangka masuk daftar 25 primata paling terancam di dunia versi Primates in Peril 2025, hasil kolaborasi International Primatological Society, IUCN, dan Re:wild. Andie Ang, Wakil Ketua IUCN Primate Specialist Group Asia, menekankan bahwa hewan kecil, nokturnal, dan endemik pulau-pulau kecil Indonesia, seperti kukang bangka bisa punah dengan sangat cepat tanpa disadari.

Di Bangka, habitat alami kukang terkikis akibat alih fungsi lahan. Kelekak, sistem agroforestri tradisional masyarakat Bangka yang memadukan tanaman hutan dan tanaman pertanian, menjadi benteng terakhir yang menyelamatkan keberadaan satwa ini.

Di area kelekak, kukang masih sering terlihat mendekati pohon nangka, cempedak, atau durian, bahkan menjilat getah karet (Hevea brasiliensis). Kelekak merupakan model konservasi berbasis masyarakat yang pantas dipertahankan. Jika kelekak hilang, digantikan sawit atau tambang timah ilegal, maka kukang akan benar-benar kehilangan rumahnya.

Kelekak, areal yang ditumbuhi berbagai pohon khas hutan Pulau Bangka seperti pelawan, sebagai habitatnya kukang bangka. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Peran ekologis kukang

Sebagai omnivor atau pemakan segala (termasuk nektar dan serangga), kukang membantu penyerbukan serta mengendalikan hama yang berpotensi merusak tanaman produktif masyarakat. Tanpa mereka, keseimbangan agroekosistem bisa goyah.

Kukang bangka mencerminkan wajah konservasi primata di Indonesia lebih luas. Dari orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di Batang Toru, owa jawa (Hylobates moloch), hingga bekantan (Nasalis larvatus) yang habitatnya terus tergerus. Semua berbagi nasib serupa: berjuang hidup dalam ruang yang semakin sempit. Bahkan, primata yang lebih sering berinteraksi dengan manusia seperti beruk (Macaca nemestrina), juga menghadapi tekanan habitat dan konflik dengan manusia yang tidak kalah serius.

Penyelamatan kukang bangka menuntut langkah kolaboratif. Penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar perlu diperketat, sementara kawasan perlindungan berbasis kelekak perlu diperluas.

Penyelamatan kukang bangka bukan hanya tugas ilmuwan atau lembaga konservasi, melainkan juga tanggung jawab kita bersama.

 

* Randi Syafutra, Dosen Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Kandidat Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University. Tulisan ini opini penulis.

 

Referensi

Ismi, N. (2022, February 22). Kelekak, “Rumah Terakhir” Kukang Bangka yang Terancam Punah. Mongabay Indonesia. https://www.mongabay.co.id/2022/02/22/kelekak-rumah-terakhir-kukang-bangka-yang-terancam-punah/

Kukangku. (2023, September 19). Kukang Bangka, Primata Endemik yang Kian Langka. Kukangku. https://kukangku.id/kukang-bangka-primata-endemik-yang-kian-langka/

Kukangku. (2025, January 2). Simalakama, Pertaruhan Terakhir Kukang Bangka [Video recording]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=S2RI9-GFTHE

Nekaris, K. A. I., & Marsh, C. (2020). Nycticebus bancanus. The IUCN Red List of Threatened Species 2020: E.T163015864A163015867. https://doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T163015864A163015867.en

Rakotovao, M. (2025, August 5). New List of Primates in Peril Aims to Focus Attention and Inspire Action. Mongabay. https://news.mongabay.com/2025/08/new-list-of-primates-in-peril-aims-to-focus-attention-and-inspire-action/

Syafutra, R. (2018). Final Project Report of Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund: Bangka Slow Loris (Nycticebus bancanus) [Unpublished report]. https://www.speciesconservation.org/case-studies-projects/bangka-slow-loris/15782

Syafutra, R. (2025a). Research Report on the Bangka Slow Loris (Nycticebus bancanus) from 2017 to 2024 [Unpublished report]. Natural Resources Conservation Department, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Syafutra, R. (2025b, September 8). Beruk Bukan Hama! Kumparan. https://kumparan.com/randi-syafutra-unmuh-babel/beruk-bukan-hama-25o98QUtbsx

Syafutra, R. (2025c, September 9). Orangutan Tapanuli: Pantaskah untuk Diselamatkan? Kompasiana. https://www.kompasiana.com/randisyafutraunmuhbabel1325/68bf63a4ed641523d652fa72/orangutan-tapanuli-pantaskah-untuk-diselamatkan?page=all

 

*****

 

Kelekak, “Rumah Terakhir” Kukang Bangka yang Terancam Punah

Exit mobile version