Mongabay.co.id

Ketika Seni Bicara Krisis Iklim

 

Dua belas pelampung berbentuk bundar berjejer menyambut pengunjung dalam Festival Kiamat Ekosistem (FKE) 2025 di Yogyakarta. Beberapa tampak bersih dan berwarna cerah, namun pelampung yang berada di tengah hingga akhir nampak berbeda dan lebih kusam. Beberapa yang berwarna kusam terjerat jaring ikan yang rumit dan tak bisa terpisahkan satu sama lain.

Instalasi itu merupakan karya seniman Rizki Maulana dalam merespon krisis iklim. Jagat Wis Ora Karuan artinya dunia yang sudah tak terbaca menjadi judul karya instalasi tersebut. Pelampung menjadi simbol sebagai ekosistem yang sifatnya memberikan penyelamatan. Melalui karya ini, Rizki bilang mau memperlihatkan 12 pelampung dalam kondisi yang berbeda-beda seiring perubahan waktu.

“Begitu juga bumi ini ada batasnya, jika kerusakan yang disimbolkan oleh lilitan jaring tak segera diperbaiki maka pelampung tak bisa dipakai lagi, bumi juga tak bisa ditinggali lagi jika kerusakannya makin parah,” ujarnya.

Instalasi karya Rizki Maulana yang berjudul ‘Jagat Wis Ora Karuan’ dipamerkan di Festival Kiamat Ekosistem. Ada 12 pelampung yang menggambarkan terkait krisis iklim di laut. Dok Istimewa

Instalasi ini, kata Rizki sebagai respon kritis terkait degradasi ekosistem maritim melalui pendekatan simbolis benda sehari-hari. Rizki menggunakan pelampung dililit jaring itu jadi simbol yang menenggelamkan harapan melalui sampah alat tangkap ikan yang justru merusak ekosistem.

“Riset untuk karya ini dimulai sejak 2019, saya menemukan bermacam alat tangkap ikan yang sangat merusak, contohnya ada garok yang cara kerjanya sampai mengubah dasar permukaan laut,” terangnya.

Lahir dan tumbuh di Brebes, Jawa Tengah membuat dirinya lekat dengan budaya maritim khas pesisir utara Jawa. Sebagai anak seorang nelayan, Rizki melihat praktikan penangkapan ikan yang merusak ekosistem laut terutama terumbu karang. Seniman ini menyebut eksploitasi terhadap laut tak kalah membahayakannya bagi ekosistem.

“Kerusakan ekosistem yang paling banyak diketahui publik terjadi di darat, lewat karya ini harapannya dapat meningkatkan kesadaran serupa untuk yang di laut,” kata pemuda 25 tahun ini.

Baca juga: Cerita dari Danau Sentani Lestarikan Tradisi Seni Sembari Jaga Alam

Seiring permukaan tanah di pesisir utara Jawa Tengah semakin menurun, banyak kerugian dialami masyarakat. Mereka tak punya lagi ruang hidup yang layak. Foto: Moh Tamimi/Mongabay Indonesia

Selain karya Wis Ra Karuan, ada juga instalasi karya Hantu Masa Depan milik Untonk. Instalasi berbentuk pocong yang tampil di salah satu halaman Omah Lor Projects, Yogyakarta. Karya ini mengeksplorasi gagasan bahwa hantu masa depan mungkin tidak lagi terikat pada takhayul atau mistika, melainkan menyoroti isu-isu lingkungan yang mendesak. Khususnya permasalahan sampah.

Rucita Dara, kurator pameran seni FKE 2025 menjelaskan karya tersebut memadukan elemen tradisional dan kontemporer yang mengajak pengunjung untuk merenungkan dampak sampah terhadap ekosistem serta perubahan nilai-nilai kepercayaan dalam masyarakat.

“Sampah sudah jadi hantu di beberapa tempat, contohnya Jogja yang belum tertangani masalahnya sehingga menghantui warganya. Tercecer di berbagai titik, menimbulkan bau yang mengganggu,” jelas Rucita.

Baca juga: Para seniman kampanyekan isu lingkungan melalui membatik

 

Solusi merayakan kiamat ekosistem

Instalasi karya seni Hantu Masa Depan yang berbentuk pocong dengan maksud menggambarkan kemungkinan sumber ketakutan di masa depan bukan takhayul atau mistika lagi tapi masalah penanganan sampah. Foto: Triyo Handoko/ Mongabay Indonesia

Tak hanya menampilkan masalah, FKE 2025 juga menawarkan alternatif solusi yang bisa digunakan untuk bertahan di tengah kiamat ekosistem. Misalnya terkait bagaimana masyarakat mempraktikkan pangan lokal, seperti program Dari Dapur Mama oleh para perempuan Papua.

“Lokakarya ini menyajikan pengolahan pangan yang bersumber dari lingkungan sekitar dan pengetahuan lokal khususnya Papua,” ujar Fiza Raehana, Direktur FKE. Dia menjelaskan alternatif tersebut paling tidak sudah diuji cobakan oleh penggagasnya di wilayah mereka.

FKE merupakan sebuah festival tahunan di Yogyakarta yang menjadi wadah untuk berbagi kegelisahan dan mencari solusi atas kondisi ekosistem saat ini. Mereka menyuarakannya melalui diskusi, lokakarya, seni dan pasar rakyat. Tahun ini, jejaring komunitas yang berpartisipasi meningkat dari berbagai daerah.

“Kami mengerjakan ini secara organik, harapannya ini jadi wadah bersama dan tidak berhenti pada gelaran saja. Ke depan kami berencana mengadakan kunjungan ke komunitas jejaring yang sudah terbentuk ini untuk belajar langsung adaptasi iklim yang mereka lakukan di tempatnya,” jelasnya.

Salah satu instalasi karya seni di Festival Kiamat Ekosistem yang menggambarkan kemunduran demokrasi dan berakibat pada penanganan krisis iklim. Pengunjung dapat berpartisipasi dengan menulis pesan di karya tersebut. Foto: Triyo Handoko/ Mongabay Indonesia

Beberapa komunitas maupun individu pun terlibat dalam festival dengan memperkenalkan produk-produk berkelanjutan. Mandat Berkebun, misalnya yang menjual sabun dan kombucha.

Listia Masruroh, pemilik Mandat Berkebun menggunakan berbagai hasil panen dari pertanian regeneratif yang dilakukannya. “Sebagian bahan dari petani yang memang sudah berjejaring sejak lama sehingga paham proses pertaniannya yang ramah lingkungan,” terangnya.

Produk sabun yang dibikin Listia ini tak menggunakan bahan kimia sama sekali. Awalnya ia hanya memproduksi untuk keluarganya saja, kemudian banyak diminati teman-temanya. “Sabun konvensional kurang cocok dengan tubuhku, terus lihat limbahnya yang masuk tanah jadi bikin tambah khawatir lalu bikin sendiri saja,” ungkapnya.

Begitu juga dengan kombucha atau minuman fermentasi terbuat dari teh, gula, dan bahan lainnya yang ramah lingkungan. Selain Mandat Berkebun, terdapat Sekolah Pagesangan yang menawarkan aneka hasil pertanian berbasis pengetahuan lokal dari Gunungkidul.

Aneka hasil pangan lokal dari Nusa Penida seperti jagung, kacang, dan sorgum. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Aneka kacang, kedelai, hingga umbi-umbian dengan kemasan kedap udara menghiasi meja stannya. Kuliner hasil bahan pangan lokal itu juga tersedia dalam berbagai olahan. “Ini ada jenang jali dengan bahan utamanya jali yang menyerupai gandum, ada tempe koro juga,” jelas Livia Nuryati, pengurus Sekolah Pagesangan.

Livia menerangkan upaya memasarkan produk pertanian ini bagian dari menyebarkan pentingnya keberagaman pangan. “Penyeragaman pangan yang gencar ini jadi keresahan kami, padahal di berbagai daerah punya potensi pangannya masing-masing yang ramah lingkungan,” tandasnya.

 

Limbah Kampanye Pemilu Disulap Menjadi Karya Seni Penuh Kritik di Bali

Exit mobile version