- Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terpantau kamera jebak/trap yang dipasang di kawasan hutan Gunung Lawu, Jawa Tengah.
- Kamera dipasang dua minggu penuh dan rekaman didapat sebelum masa observasi berakhir. Ini memperkuat dugaan bahwa macan tutul rutin melintasi area tersebut.
- Untuk menjaga keberadaan predator puncak ini jangka panjang, pihak tahura merancang strategi perlindungan seperti patroli rutin, pelibatan masyarakat sebagai masyarakat mitra polisi kehutanan (Polhut), hingga edukasi melalui media sosial.
- Macan tutul jawa merupakan satwa prioritas nasional, dilindungi UU No 5 Tahun 1990, dan masuk Daftar Merah IUCN dan Apendiks I CITES. Populasinya diperkirakan 350 individu dewasa di alam liar, yang tersebar di 29 petak habitat kecil dan terfragmentasi.
Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terpantau kamera jebak/trap yang dipasang di kawasan hutan Gunung Lawu, Jawa Tengah. Dalam video yang diunggah Balai Taman Hutan Raya (Tahura) KGPAA Mangkunagoro I, satwa dilindungi itu terlihat melangkah tenang di depan kamera.
Rekaman tersebut merupakan hasil tindak lanjut dari unggahan pendaki yang mengatakan melihat macan tutul di jalur pendakian.
Dhidhit Suryono, ketua tim koordinator lapangan yang juga Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Tahura Mangkunagoro, mengatakan pihaknya merespons informasi itu dengan memasang kamera di lokasi berbeda.
“Pemasangan tidak kami lakukan di titik laporan, karena ingin memastikan hasil observasi optimal. Terutama, menghindari gangguan aktivitas wisata,” jelasnya kepada Mongabay, Selasa (5/8/2025).
Lokasi rekaman, sengaja tidak diungkap ke publik untuk mencegah potensi perburuan liar. Kamera dipasang dua minggu penuh dan rekaman didapat sebelum masa observasi berakhir. Ini memperkuat dugaan bahwa macan tutul rutin melintasi area tersebut.
“Areal pemantauan kami pilih agar peluang rekamannya lebih besar.”
Kegiatan ini melibatkan empat petugas dan dua warga lokal. Dari 10 kamera yang dibawa, hanya 3 unit yang berfungsi ketika di lapangan.
“Saat persiapan lancar, begitu dipasang kameranya tiba-tiba mati,” terang Dhidhit yang juga menjabat Plt. Kasubbag di kawasan seluas 231,1 hektar.
Pemantauan macan tutul
Bambang Doso Pramono, Plt. Kepala Balai Tahura Mangkunagara, kamera jebak dipasang rutin sejak 2012, sebagai bagian pemantauan satwa liar.
“Untuk macan tutul belum diketahui jumlahnya, dikarenakan belum ada inventarisasi,” terangnya Selasa (5/8/2025).
Kemunculan macan tutul bukan satu-satunya indikator keberhasilan konservasi. Sebab, tahura menggunakan metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT) untuk menilai efektivitas pengelolaan kawasan.
Pada 2024, nilai METT Mangkunagoro mencapai 73 poin, naik dua poin dari 2022.
“Keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari munculnya satwa dilindungi, tapi dari efektivitas pengelolaan kawasan.”
METT merupakan alat ukur internasional yang menilai berbagai aspek pengelolaan kawasan konservasi, mulai perencanaan, perlindungan, keterlibatan masyarakat, hingga sistem monitoring.
Untuk menjaga keberadaan predator puncak ini jangka panjang, pihak tahura merancang strategi perlindungan seperti patroli rutin, pelibatan masyarakat sebagai masyarakat mitra polisi kehutanan (Polhut), hingga edukasi melalui media sosial.
“Tahura Pedia merupakan media edukatif yang menampilkan informasi keanekaragaman hayati kawasan Gunung Lawu, juga pentingnya pelestarian.”
Survei macan tutul
Kekhawatiran umum munculnya macan tutul dekat permukiman warga juga dijelaskan Bambang. Hingga kini, belum ada laporan konflik dengan masyarakat sekitar.
“Selama ketersediaan pakan di alam cukup, sangat kecil kemungkinan macan tutul turun. Untuk itu hutan harus dijaga sebagai agar ekosistemnya baik dan masyarakat aman,” terangnya.
Hendra Gunawan dan kolega dalam laporan berjudul “Sebaran Populasi dan Seleksi Habitat Macan Tutul Jawa di Jawa Tengah” menjelaskan bahwa macan tutul jawa tersebar di lima tipe hutan di Jawa Tengah dengan frekuensi tertinggi di hutan pinus (43,8%). Meskipun, luasan paling besar adalah hutan jati (55,3%).
Tulisan yang diterbitkan di Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam itu mencatat 48 lokasi deteksi, termasuk Gunung Lawu, serta 15 yang diperkirakan mengalami kepunahan lokal.
“Konservasi macan tutul harus mendapat perhatian serius, apalagi statusnya saat ini Endangered atau Genting. Gangguan kecil saja bisa membawa spesies ini menuju kepunahan,” jelas Hendra di Bincang Alam Mongabay, pada 22 Mei 2025.
Untuk mengetahui populasi satwa ini, KLHK bekerja sama dengan berbagai pihak memulai Java-Wide Leopard Survey (JWLS), survei se-Pulau Jawa. Survei dilakukan menggunakan kamera trap dan pengumpulan sampel kotoran untuk menganalisis struktur populasi dan pola mangsa.
Macan tutul jawa merupakan satwa prioritas nasional, dilindungi UU No 5 Tahun 1990, dan masuk Daftar Merah IUCN dan Apendiks I CITES. Populasinya diperkirakan 350 individu dewasa di alam liar, yang tersebar di 29 petak habitat kecil dan terfragmentasi.
*****
