Bagi masyarakat Trenggalek, berita tentang rencana investasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) memicu harapan sekaligus kecemasan. Harapan akan solusi atas tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) -yang ironisnya, berdiri di atas ekosistem karst. Saat yang sama, muncul kekhawatiran sebuah trauma kolektif akan polusi asap dan pencemaran dari fasilitas serupa di beberapa daerah lain di Indonesia.
Di tengah dilema ini, perusahaan teknologi asal Amerika, Concentric Industries, selaku investor proyek menawarkan narasi berbeda. Bukan sekadar membangun insinerator atau pabrik pengolah limbah yang seringkali hanya memindahkan masalah dari darat ke udara. Kabar ini, bagi sebagian orang, mungkin terdengar seperti janji-janji “hijau” lainnya yang sering kita dengar. Namun, bagi sebagian lainnya, ini bisa menjadi eksperimen teknologi yang berpotensi mengubah cara kita memahami dan menangani polusi.
Setelah menelisik serangkaian dokumen teknis dan “proposal bisnis” mereka (Circular carbon: Practical, Proven, Profitable) yang Chief Technology Officer (CTO) perusahaan, J. Garrett Smith, P.E. bagikan, saya menemukan konsep yang memaksa kita untuk membuang jauh-jauh bayangan tentang cerobong asap hitam dan limbah beracun.
Concentric datang dengan janji yang terdengar seperti alkimia dari masa depan: mengubah sampah dan emisi karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan menjadi grafena (graphene)—sebuah material super canggih—secara menguntungkan dan, yang paling penting, tanpa polusi.
Pertanyaannya kini menjadi jauh lebih mendalam. Bukan lagi “bagaimana cara kita mengelola atau membakar sampah?” melainkan “bisakah kita membongkar sampah hingga ke level atom dan menyusun kembali menjadi harta karun?”
Sebagai pegiat lingkungan, saya selalu mencurigai setiap industri yang mengklaim dirinya ‘hijau’.
Apa yang Concentric paparkan jelas memaksa kita untuk bertanya: apakah ini sebuah lompatan kuantum dalam teknologi iklim? Atau sekadar fatamorgana yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan? Yang terpenting, apa artinya ini bagi Trenggalek dan ambisi NZE yang pemerintah kabupaten gaungkan?
Regulasi buntu di tengah ambisi hijau
Perlu memahami konteks keresahan masyarakat. Di berbagai daerah di Indonesia, proyek waste-to-energy seringkali menjadi pedang bermata dua. Satu sisi, niat baik untuk mengurangi timbunan sampah dipuji sebagai langkah progresif. Sisi lain, implementasinya kerap menimbulkan masalah baru: asap pekat, bau menyengat, hingga residu beracun yang mengancam kesehatan warga.
Trenggalek berada dalam dilema serupa, namun dengan kompleksitas lebih tinggi lantaran TPA di wilayah karst, zona ekosistem esensial yang sangat rentan. Membiarkan sampah terus menggunung di atas batuan kapur adalah bom waktu ekologis. Air hujan yang meresap melalui timbunan sampah berpotensi menghasilkan lindi (leachate) beracun yang bisa mencemari sungai bawah tanah, merusak sumber air bersih warga secara permanen.
Ironisnya, di tengah ancaman nyata ini, instrumen hukum daerah justru berjalan di tempat. Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan lingkungan hidup, kawasan ekosistem esensial karst, hingga penyesuaian rencana tata ruang wilayah (RTRW) belum juga tuntas.
Banyak kebijakan tumpang tindih, saling menunda, atau tidak terlaksana dengan sungguh-sungguh. Padahal, tanpa dasar hukum yang tegas, arah pembangunan lingkungan akan terus gamang—dan proyek-proyek berisiko bisa lolos tanpa pengawasan memadai.
Saat yang sama, Pemkab Trenggalek terus menggulirkan ambisi besar: menjadi kabupaten net-zero emission dan pelaku aktif dalam perdagangan karbon. Visi ini patut diapresiasi, namun akan kehilangan makna tanpa dukungan regulasi yang kuat dan sistem pengelolaan lingkungan yang transparan.
Sayangnya lagi, kawasan karst yang tersebar luas di Trenggalek belum menjadi perhatian utama dalam kebijakan daerah, padahal ekosistem ini berperan penting sebagai penyerap dan penyimpan karbon alami.
Melalui proses pelapukan batuan kapur dan interaksi dengan air tanah, karst membantu menyeimbangkan kadar karbon dioksida di atmosfer. Dengan kata lain, mengabaikan perlindungan kawasan ini sama saja dengan melemahkan fondasi utama dari upaya pengendalian emisi karbon.
Di tengah kebuntuan regulasi dan persoalan TPA sampah di kawasan karst, Concentric Industries sepertinya hadir dengan menawarkan solusi alternatif yang mereka klaim lebih ramah lingkungan.
Mereka memperkenalkan teknologi “dekonstruksi molekuler”—bukan metode pembakaran konvensional yang menghasilkan asap dan residu berbahaya, melainkan proses pemecahan sampah menjadi komponen karbon tanpa polusi udara. Lewat konsep carbon capture & commerce, Concentric sepertinya mencoba menjawab dua tantangan sekaligus: mengurai krisis TPA di kawasan sensitif karst, dan mendukung ambisi net-zero emission yang tengah digaungkan Pemerintah Trenggalek.
Membongkar kotak ajaib “The Carbon Resonance®“
Berdasarkan dokumen paten bertajuk “The Carbon Resonance®,” mereka menawarkan teknologi ekosistem sirkular tertutup. Bayangkan fasilitas PLTSa yang tidak menghasilkan asap beracun, atau pabrik yang terhubung langsung dengan cerobong asap pabriknya sendiri atau pabrik lainnya.
Secara sederhana, prosesnya dapat diuraikan seperti ini:
- Paru-paru Fotosintetik: Asap panas dari pabrik disedot masuk. Panasnya tidak dibuang, melainkan “diperas” untuk menghasilkan listrik melalui teknologi Organic Rankine Cycle. Setelah dingin, gas yang kaya akan CO₂ ini dialirkan ke dalam sebuah bioreaktor raksasa. Di dalamnya, miliaran mikroalga (ganggang super kecil) yang telah direkayasa secara khusus “memakan” CO₂ tersebut melalui fotosintesis, sama seperti tumbuhan, namun ribuan kali lebih cepat. Mereka mengubah polusi menjadi biomassa yang padat.
- Teknologi Laser: Biomassa alga yang telah dipanen kemudian dimasukkan ke dalam sebuah reaktor khusus. Sebuah laser berenergi tinggi menembak biomassa tersebut dalam sebuah proses yang disebut pirolisis laser. Ini bukan pembakaran biasa. Ini adalah proses presisi tinggi yang memecah biomassa menjadi komponen-komponen dasarnya.
- Harta Karun dari Karbon: Hasil dari “pemanggangan” laser ini yang disebutkan sebagai hasil yang sungguh menakjubkan. Sebagian besar biomassa berubah menjadi grafena murni, sebuah material yang sering disebut “material ajaib”. Grafena adalah lembaran atom karbon setebal satu atom, 200 kali lebih kuat dari baja, super ringan, dan konduktor listrik terbaik yang pernah ada. Produk lainnya adalah bahan bakar gas, yang kemudian diolah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) dan solar.
Menurut dokumen itu, sistem ini terancang untuk tidak menghasilkan limbah. Solar yang mereka hasilkan untuk menyalakan generator internal yang memasok seluruh kebutuhan listrik pabrik, bahkan menghasilkan surplus yang bisa dijual.
Panas dari mesin generator dialirkan untuk menghangatkan kolam akuaponik, menghasilkan ikan dan sayuran sebagai produk sampingan. Semua terhubung. Tidak ada yang terbuang. Nol limbah, nol polusi, dan jejak karbon negatif. Mungkin ini adalah antitesis dari model industri ekstraktif yang selama ini kita kenal.
Jawab target lokal visi global?
Rencana ini tampaknya bukan hanya tentang teknologi, juga strategi jangka panjang. Pemerintah Trenggalek menyatakankan komitmen menuju pembangunan berkelanjutan dan menargetkan net zero carbon. Investasi Concentric Industries datang seolah menjawab panggilan ini secara langsung.
Dengan mengubah sampah dan emisinya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, Trenggalek tidak hanya membersihkan lingkungan juga berpotensi menjadi pemain dalam “perdagangan karbon” sesungguhnya.
Setiap ton CO₂ yang tidak terlepas ke atmosfer dan diubah menjadi grafena adalah “kredit karbon” yang bisa diperdagangkan. Mungkin ini bisa menjadi contoh dari ekonomi sirkular, di mana keberlanjutan lingkungan dan keuntungan ekonomi berjalan beriringan.
Rencana investasi Concentric Industries di Trenggalek akan menjadi ujian sesungguhnya bagi teknologi ini. Jika berhasil, dampaknya akan luar biasa. Bayangkan, satu kabupaten di Jawa Timur menjadi pusat produksi material paling canggih di dunia, yang bahan bakunya adalah polusi dari industri lokal. Ini akan memposisikan Trenggalek, bahkan Indonesia, di peta teknologi hijau global.
Namun, keberhasilan teknologi harus berbarengan dengan tata kelola yang kuat. Janji di atas kertas harus terbukti dengan kerja di lapangan. Tanpa pengawasan ketat, transparansi publik, dan kajian dampak lingkungan yang komprehensif, proyek ini berisiko melahirkan persoalan baru.
Agar ambisi net-zero tidak menjadi sekadar jargon, urgensi penataan ruang dan perlindungan lingkungan harus jadi prioritas. RPPLH dan RTRW harus segera tersusun secara terintegrasi agar pembangunan benar-benar sejalan dengan daya dukung dan kelestarian lingkungan, termasuk perlindungan karst sebagai ekosistem sensitif dan penyerap karbon alami.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kita melihat proposal yang tidak hanya berbicara tentang “mengurangi dampak buruk”, tetapi tentang “menciptakan dampak baik” dari masalah yang ada. Ini perubahan cara pandang yang fundamental.
Proyek di Trenggalek sepertinya bukan hanya investasi, melainkan pertaruhan sains, inovasi, dan model bisnis berkelanjutan dapat memecahkan tantangan zaman. Jika berhasil, Trenggalek bisa menjadi cetak biru industri hijau masa depan Indonesia. Maka, publik wajib mengawalnya dengan harapan dan kewaspadaan yang seimbang.
*****
*Penulis merupakan penanggung jawab operasional Sima Swatantra Indonesia, Trenggalek. Tulisan ini adalah pendapat dan menjadi tanggung jawab penulis.
Rakyat dan Pemerintah Trenggalek Menolak, Kementerian ESDM Tetap Beri Lampu Hijau Tambang Emas