Mongabay.co.id

Kajian Ungkap Udara Jawa Timur Terpapar Mikroplastik

 

 

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan atau Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menemukan udara di Jawa Timur (Jatim) mengandung mikroplastik. Kabupaten Gresik tertinggi dengan 141 partikel per dua jam, kemudian  Sidoarjo 50 partikel, Jombang 16 partikel, Surabaya (13), dan Mojokerto 12 partikel.

Ecoton menilai,  pemerintah lamban dalam mengendalikan polusi mikroplastik di udara. Alaika Rahmatullah, Koordinator Pendidikan dan Kampanye Ecoton, menuturkan,  tubuh manusia terpapar mikroplastik. Paparan kontinyu mikroplastik terutama melalui inhalasi atau saluran pernapasan capai 0,1-5 gram per pekan.  “Udara menjadi salah satu sumber utama masuknya mikroplastik ke dalam tubuh Manusia,” katanya.

Pada Mei 2025, Ecoton  uji mikroplastik di udara pada lima desa dan kawasan alun-alun Kabupaten Sidoarjo. Kelima desa itu adalah Desa Tropodo, Wonoayu, Waru, Sepanjang, Sukodono. Hasilnya, udara terkontaminasi mikroplastik jenis fiber, fragmen dan filamen.

Total  172 partikel mikroplastik di keenam lokasi  itu. Sedangkan di area pabrik tahu Desa Tropodo ad 13 fiber dan 12 filamen. Kelimpahan mikroplastik tertinggi berada di Wonoayu dengan 65 partikel per tiga jam. Wonoayu berjarak sekitar tiga kilometer dari Desa Tropodo.

Pada Februari 2025, Ecoton juga meneliti kandungan mikroplastik di udara di Gresik. Penelitian berlangsung di sembilan lokasi di tiga Kecamatan.  Temuannya,  kadar mikroplastik capai 141 partikel per dua jam di Pasar Benjeng, Kecamatan Benjeng, Gresik.

Alex, sapaan Alaika Rahmatullah, kandungan mikroplastik di udara salah satunya  dari kebiasaan masyarakat Jatim membakar plastik.  Dari survei  sebelumnya temukan sekitar 57% penduduk Jatim terbiasa membakar sampah plastik.

Menurut dia, pembakaran sampah plastik menghasilkan gas dan sebaran partikel mikroplastik ke udara.

Selain pembakaran, partikel mikroplastik di udara juga  karen gesekan ban kendaraan bermotor di jalan dan gesekan alas kaki berupa sepatu dan sandal.

Paparan itu juga berasal dari sistem pembuangan sampah open dumping, yakni metode pembuangan sampah  terbuka tanpa penutup memadai dan  open burning,  pembakaran material di luar ruangan. Juga,  dari daur ulang plastik, penggunaan personal care, dan pakaian atau tekstil polyester. Menurut Alex, mikroplastik di udara berdampak serius terhadap kesehatan manusia, seperti gangguan sel imun otak.

Alexander J. Nihart, peneliti Departemen Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi, The University of New Mexico, Amerika Serikat mempublikasikan penelitian berjudul Bioaccumulation of microplastics in decedent human brains (bioakumulasi mikroplastik di otak manusia yang telah meninggal) pada Maret 2025.

Penelitian itu menemukan akumulasi mikroplastik dalam otak manusia yang memicu gangguan neuroimflamasi atau peradangan dan autoimun.

“Jaringan otak mengandung proporsi polietilena yang lebih tinggi dibandingkan komposisi plastik di hati atau ginjal,” jelas Alex.

Sifat mikroplastik yang terisolasi dalam otak, sebagian besar merupakan fragmen seperti pecahan berskala nano yang mengendap di dinding serebrovaskular atau pembuluh darah di otak. Keberadaannya akan mempengaruhi dan mengganggu aliran darah dan sel imun.

Seorang peneliti mengumpulkan mikroplastik di perairan Manta Bay, Nusa Penida, Bali. Foto : Marine Megafauna Foundation

 

Bahaya bagi kesehatan

Polietilen dalam otak menjadi peringatan keras bagi masyarakat Indonesia, lantaran selama ini penduduk Indonesia terkontaminasi mikroplastik 15 gram per bulan. Penemuan ini, katanya, menempatkan penduduk Indonesia sebagai manusia dunia yang paling banyak mengkonsumsi mikroplastik.

Ecoton  mendesak pemerintah mengendalikan sumber timbulan mikroplastik di udara dan  melakukan penegakan hukum atas larangan pembakaran sampah plastik. Juga, menetapkan baku mutu mikroplastik di lingkungan dan dalam seafood.

Cesarius Singgih Wahono, ,Koordinator Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang, menjelaskan, akademisi dari The University of New Mexico pernah melakukan penelitian dengan mengotopsi mayat pada 2016 dan 2024.

Hasilnya, mikroplastik di organ-organ termasuk otak, lebih banyak pada 2024 dibandingkan mayat 2016. “Ini menunjukkan pencemaran mikroplastik semakin buruk,” kata dokter spesialis penyakit dalam- konsultan reumatologi ini.

Selain di otak, paparan mikroplastik itu banyak  di  liver  dan plasenta. Selain itu, juga di pembuluh darah, jantung, dan otot jantung. Mikroplastik juga  pada organ reproduksi, laki-laki dan perempuan yang menyebabkan infertilitas atau ketidaksuburan.  Mikroplastik mendukung dan mempengaruhi sistem imunitas tubuh, kekebalan tubuh menurun atau terjadi autoimun.

“Autoimun penyebabnya banyak sekali, macam-macam. Mikroplastik bukan penyebab tunggal tapi multifaktor,” katanya.

Sedangkan mikroplastik di dalam plasenta akan mempengaruhi janin, seperti mengganggu pertumbuhan, kecerdasan, dan bisa menyebabkan gangguan syaraf.

Singgih yang juga staf medik RSU Saiful Anwar, Malang ini  mengatakan,  mikroplastik masuk ke  tubuh melalui makanan, pernapasan, dan kulit. Dari makanan, mikroplastik masuk melalui berbagai seafood yang terkontaminasi dari sampah plastik di lautan.

Sedangkan pernapasan, mikroplastik berasal dari udara yang mengandung residu ban mobil karena gesekan dengan aspal dan degradasi plastik dari sampah plastik yang dibakar, dari degradasi baju berbahan polyester.

Sementara mikroplastik yang masuk melalui kulit karena penggunaan beragam produk kosmetik dan perawatan kulit yang mengandung mikroplastik. “Paling banyak mikroplastik masuk melalui makanan dan minuman,”  kata pria yang juga pengampu bidang imunologi, mahasiswa kedokteran, pendidikan dokter spesialis di Universitas Brawijaya ini.

 

Ecoton mengampanyekan bahaya mikroplastik dengan membuat monumen dari plastik. Foto: Dokumen Ecoton.

Bagaimana mencegahnya?

Temuan Ecoton tentang udara Sidoarjo terkontaminasi mikroplastik mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  menghentikan pembakaran sampah plastik sejak 2022. Namun, hasil verifikasi lapangan menemukan industri tahu masih menggunakan sampah plastik, karet, spon, dan styrofoam.

Ditemukan konsentrasi partikel debu halus, PM 2,5—partikel berkurangan lebih kecil dari 2,5 mikrometer—dalam kondisi melebihi ambang batas. Partikel terdeteksi tersebar hingga radius 300 meter dari cerobong asap.

“Paparan mikroplastik membahayakan kesehatan warga, bisa memicu ISPA, pneumonia, dan penyakit pernapasan lainnya,” kata  Bahrul Amiq, Kepala DLH.

DLHK Sidoarjo pun menerbitkan surat edaran (SE)  melarang penggunaan bahan bakar dari limbah non-organik di industri tahu Tropodo. Selain itu juga bersama aparat penegak hukum menindak pemasok sampah plastik yang menjadi bahan bakar.

Mengacu UU  Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang melanggar dijatuhi sanksi pidana 10 tahun penjara, denda Rp10 miliar.

“Kami akan intensifkan pengawasan. Kami tidak segan menindak tegas jika ada pelanggaran,” ujar Amig.

Aturan itu  dinas sosialisasikan ke 14-51 pengusaha tahu agar tak lagi menggunakan limbah karet, spons, styrofoam, dan plastik untuk bahan bakar tahu. Padahal, sampah itu  kategori jenis bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sementara, mengutip Suaraindonesia.co.id  Kepala Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo,  Haris Iswandi meminta kesadaran kolektif pengusaha tahu untuk menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan.

Juga mengajak para pelaku industri kecil menengah (IKM)  menggunakan bahan bakar lain yang ramah lingkungan. “Perlu kesadaran bersama demi menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat,” katanya.

 

Ecoton menemukan 50 persen dari 80 produk kosmetik dan perawatan diri mengandung mikroplastik. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia

*****

 

Plastik adalah Maut: Krisis Global dan Dampak Mikroplastik untuk Kesehatan Manusia

Exit mobile version