- Pohon darah naga (Dracaena cinnabari) hanya tumbuh di Pulau Socotra, Yaman, dan merupakan spesies purba yang selamat dari kepunahan karena isolasi geografis dan iklim mikro yang stabil.
- Pohon ini berperan penting dalam ekosistem kering dengan menangkap embun dan menopang puluhan spesies endemik, namun kini terancam punah akibat perubahan iklim, badai tropis, dan kambing liar.
- Dengan populasi yang menua dan regenerasi yang nyaris tidak terjadi, upaya konservasi berbasis komunitas menjadi satu-satunya harapan agar hutan darah naga tidak lenyap dari muka Bumi.
Di ujung Samudera Hindia, sekitar 240 kilometer dari Tanduk Afrika dan 380 kilometer selatan Jazirah Arab, tersembunyi sebuah pulau bernama Socotra, bagian dari negara Yaman. Pulau ini bukan hanya terpencil secara geografis, tapi juga secara biologis, ibarat dunia yang terlepas dari evolusi daratan utama. Di atas dataran tinggi yang disapu angin dan tebing-tebing batu kapur, tumbuh pepohonan aneh dengan tajuk menyerupai jamur raksasa dan batang yang, ketika terluka, mengalirkan getah merah menyerupai darah.
Mereka dikenal sebagai pohon darah naga (Dracaena cinnabari), spesies purba yang hanya bisa ditemukan di Socotra dan tidak ada di tempat lain di muka Bumi. Pohon ini adalah peninggalan dunia yang lebih tua, saksi bisu dari zaman ketika vegetasi tropis menyelimuti Semenanjung Arab dan Afrika Timur.
Bagi masyarakat lokal Socotra, pohon darah naga bukan sekadar lanskap atau simbol eksotis untuk pariwisata. Ia adalah bagian dari identitas budaya dan spiritual, sekaligus penopang sistem kehidupan di pulau yang gersang ini. Tajuknya yang lebar berfungsi menangkap kabut dan embun laut, meneteskan air ke tanah tandus di bawahnya, dan menciptakan mikrohabitat lembap yang menopang tumbuhan dan hewan lain. Sejumlah penelitian bahkan menyebut pohon darah naga sebagai umbrella species, karena keberadaannya turut menjaga puluhan spesies endemik lain—mulai dari tokek hingga semak berbunga langka.
Baca juga: Sendirian di Padang Pasir: Misteri Pohon yang Bertahan Tanpa Air Selama 400 Tahun
Mengapa Pohon Darah Naga Hanya Tumbuh di Socotra?
Pertanyaan ini telah lama menarik perhatian para ilmuwan. Bagaimana mungkin pohon seunik Dracaena cinnabari, dengan bentuk dan ekologi yang begitu khas, hanya ditemukan di satu pulau kecil di tengah Samudera Hindia?
Para peneliti menduga bahwa pohon darah naga merupakan relik hidup dari zaman yang jauh lebih lembap, sekitar 5 hingga 10 juta tahun lalu, ketika iklim Afrika Timur dan Semenanjung Arab jauh lebih basah dan vegetasi kayu-kayuan menyebar lebih luas. Pada masa itu, kawasan yang kini berupa gurun tandus kemungkinan pernah dipenuhi spesies Dracaena dan kerabatnya.
Bukti fosil dan distribusi genetik menunjukkan bahwa genus Dracaena dulunya tersebar luas di wilayah Mediterania, Afrika Timur, Semenanjung Arab, hingga Asia Selatan. Saat perubahan iklim global mulai mengeringkan wilayah-wilayah tersebut, banyak spesies Dracaena tidak mampu beradaptasi dan akhirnya punah secara lokal.
Namun, Socotra memiliki keistimewaan: pulau ini sangat terpencil, dikelilingi lautan, dan memiliki topografi unik dengan dataran tinggi berkabut yang menciptakan iklim mikro yang relatif stabil selama jutaan tahun. Kondisi ini membuat Dracaena cinnabari bisa bertahan di tempat lain telah musnah. Dalam istilah biogeografi, Socotra menjadi refugia, semacam “kapal Nuh” ekologis yang menyelamatkan spesies-spesies purba dari kepunahan global.
Studi genetika menunjukkan bahwa Dracaena cinnabari di Socotra memiliki struktur genetik yang sangat berbeda dibandingkan kerabat terdekatnya seperti Dracaena draco yang tumbuh di Kepulauan Canary dan Madeira, dua gugusan pulau vulkanik di Samudra Atlantik yang secara geografis berada di lepas pantai Afrika Utara dan secara administratif termasuk wilayah Spanyol dan Portugal. Letaknya sekitar 5.000 kilometer dari Socotra di Samudra Hindia. Jarak geografis yang begitu jauh, ditambah dengan perbedaan lingkungan yang ekstrem, menunjukkan bahwa pohon darah naga Socotra telah terisolasi secara evolusioner selama jutaan tahun, bahkan sejak sebelum kemunculan Homo sapiens di muka Bumi
Fakta-fakta ini menjadikan Socotra tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga sebagai laboratorium alami untuk memahami sejarah evolusi tumbuhan di kawasan tropis kering. Menyelamatkan pohon darah naga dari kepunahan berarti melestarikan jejak hidup jutaan tahun sejarah evolusi tumbuhan Bumi.
Baca juga: Darah Naga, Pohon Aneh di Samudra Hindia
Peran Ekologis yang Tidak Tergantikan
Pohon darah naga memainkan peran vital dalam siklus air dan keberlangsungan keanekaragaman hayati di Socotra. Bentuk tajuknya yang melebar memungkinkan pohon ini menangkap embun dan kabut dari udara, lalu menyalurkan air ke tanah. Proses ini dikenal sebagai horizontal precipitation capture. Dalam ekosistem yang sangat kering seperti Socotra, mekanisme ini menjadikan pohon darah naga sebagai “penara air hidup” yang menopang kehidupan tumbuhan dan hewan lain.
Studi di ScienceDirect menegaskan bahwa area di bawah naungan pohon ini menunjukkan tingkat kelembapan dan keanekaragaman tumbuhan yang jauh lebih tinggi dibandingkan area terbuka. Sebanyak 15 spesies tumbuhan spesialis—termasuk tujuh endemik—hanya ditemukan di bawah tajuk pohon ini. Penelitian lain juga mencatat bahwa lebih dari 10 spesies reptil, termasuk tokek dan satu spesies ular langka, sangat bergantung pada habitat yang disediakan oleh pohon darah naga.
Salah satu ancaman paling serius terhadap kelangsungan pohon ini adalah kelangkaan regenerasi. Pohon darah naga tumbuh sangat lambat—hanya sekitar 2–3 cm per tahun—dan banyak individu saat ini telah berusia ratusan tahun. Namun, bibit-bibit baru hampir tidak bertahan karena langsung dimakan kambing sebelum mencapai ukuran aman. Sebagian besar hutan pohon darah naga kini berada dalam kondisi “over-mature”, dengan struktur populasi sangat tua dan nyaris tak ada regenerasi alami.
Secara total, populasi pohon ini diperkirakan berkisar 80.000 individu, dengan sekitar 40% berada di dataran tinggi Firmihin, berada di bagian tengah Pulau Socotra yang merupakan salah satu kawasan terluas dan tertinggi di pulau tersebut, berketinggian sekitar 600–700 meter di atas permukaan laut. Subpopulasi di wilayah lain umumnya kecil, terfragmentasi, dan sangat rentan punah dalam hitungan dekade tanpa intervensi konservasi.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa pohon darah naga akan kehilangan hingga 45% habitatnya pada tahun 2080 jika tren perubahan iklim dan tekanan ekologis tidak dikendalikan. Saat ini, pohon tersebut hanya menghuni sekitar 10% dari potensi wilayah alaminya di masa lalu.
Namun, Socotra masih menyimpan potensi besar. Sebagai salah satu dari sedikit pulau yang ekosistemnya belum sepenuhnya rusak oleh manusia, Socotra memberi kita satu kesempatan terakhir: untuk menyelamatkan tidak hanya satu spesies pohon yang unik, tetapi juga sejarah hidup jutaan tahun yang tersimpan dalam bentuk cabang dan getahnya.