Mongabay.co.id

Terkubur dalam Lumpur Purba, Fosil Empat Ular Ini Utuh Setelah 38 Juta Tahun

Biasanya, ketika ilmuwan menemukan fosil ular, yang mereka temukan hanyalah potongan-potongan kecil—tulang belakang yang terpisah, serpihan rusuk, kadang hanya gigi. Tapi tidak dengan temuan luar biasa ini: empat kerangka ular purba yang nyaris utuh, terkubur berdampingan di dalam tanah berusia 38 juta tahun. Keempat ular ini ditemukan oleh tim peneliti di negara bagian Wyoming, Amerika Serikat. Mereka terkubur dalam lapisan tipis batu lumpur halus dari zaman Oligosen awal—masa yang berlangsung sekitar 34 hingga 23 juta tahun lalu.

Pada periode ini, iklim global mulai mendingin secara signifikan setelah masa tropis yang panjang, mengubah lanskap Amerika Utara dari hutan lebat menjadi padang rumput dan sabana yang lebih kering. Perubahan ini memicu lonjakan spesiasi dan adaptasi baru, termasuk di kalangan reptil seperti ular. Fosil-fosil tersebut terlindungi dengan baik berkat letusan gunung berapi di sekitarnya yang menyelimuti dataran banjir dengan abu halus.

Penemuan yang Sangat Langka

“Di museum-museum dunia, ada hampir sejuta fosil tulang belakang ular yang terpisah-pisah. Tapi menemukan satu ular utuh? Itu sangat jarang,” ujar Michael Caldwell, ahli paleontologi dari University of Alberta yang terlibat dalam penelitian ini.

Mayoritas fosil ular yang ditemukan biasanya terfragmentasi—hanya berupa potongan vertebra atau gigi yang sudah lepas dari posisi aslinya. Hal ini karena tubuh ular yang panjang dan ramping mudah terdistorsi saat proses pembusukan, apalagi jika tidak segera terkubur secara sempurna. Karena itu, menemukan bukan hanya satu, tapi empat kerangka utuh yang masih berada dalam posisi alami adalah temuan luar biasa.

Hibernophis adalah ular kecil yang hidup di liang bawah tanah. Panjang tubuhnya hanya sekitar satu meter, dengan tubuh ramping dan adaptasi khas ular penggali | Gambar dari Michael Caldwell, Flinders University/South Australian Museum

Keempat kerangka ini menunjukkan struktur tubuh yang lengkap, dari tengkorak hingga ujung ekor, dengan lebih dari 200 ruas tulang belakang masih tersusun rapi. Dalam ular hidup, jumlah ruas tulang belakang bisa bervariasi antara 200 hingga 400, tergantung spesies dan ukuran tubuh. Temuan ini memberi ilmuwan “peta jalan” anatomi ular purba, memperlihatkan bagaimana setiap bagian tubuh berubah dari kepala ke ekor—sesuatu yang sangat sulit dipelajari dari fosil yang terlepas-lepas.

Yang lebih menarik, tengkorak dan tulang rahang juga ikut terawetkan. Bagian ini sangat rapuh dan biasanya hancur terlebih dahulu dalam proses fosilisasi. Karena itu, temuan ini memungkinkan para ilmuwan membandingkan langsung struktur kepala dan mulut ular purba dengan ular modern, membuka peluang baru dalam memahami bagaimana fungsi menggigit, menelan, dan berburu berevolusi dari waktu ke waktu.

Spesies Baru Bernama Hibernophis breithaupti

Awalnya, para peneliti menduga ular-ular ini termasuk dalam genus yang sudah dikenal, seperti Ogmophis atau Calamagras, dua kelompok ular purba dari zaman yang sama. Namun setelah dilakukan perbandingan mendalam—termasuk pada bentuk rahang, susunan gigi, pola lekukan (keel) pada tulang belakang, dan morfologi tengkorak—semua karakteristiknya justru menunjukkan pola unik yang tidak cocok dengan genus manapun yang pernah dideskripsikan.

Karena konsistensi perbedaan ini terjadi di keempat individu, para ilmuwan sepakat menamai spesies baru ini sebagai Hibernophis breithaupti. Nama genus “Hibernophis” mengacu pada perilaku hibernasi yang diduga dilakukan ular-ular ini saat mati, sedangkan nama spesifik “breithaupti” diberikan untuk menghormati Brent Breithaupt, ahli paleontologi Wyoming yang berjasa besar dalam eksplorasi fosil di wilayah tersebut.

Penemuan empat ular purba yang terkubur berdekatan menunjukkan bahwa mereka mungkin memiliki perilaku seperti ular garter modern, yakni berkumpul bersama untuk perlindungan selama bulan-bulan yang lebih dingin | Foto oleh : Greg Schechter melalui Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Berbeda dengan anggota keluarga boa yang terkenal sebagai pembelit besar seperti anaconda atau boa constrictor, Hibernophis adalah ular kecil yang hidup di liang bawah tanah. Panjang tubuhnya hanya sekitar satu meter, dengan tubuh ramping dan adaptasi khas ular penggali. Pola tulang menunjukkan bahwa mereka bukan predator aktif di permukaan, melainkan kemungkinan pemburu cacing atau vertebrata kecil di dalam tanah.

Perbedaan ukuran di antara keempat individu—yang mencakup panjang, bentuk rahang, serta tingkat pengapuran tulang—menunjukkan tahapan usia dari remaja hingga dewasa. Ini adalah temuan langka yang memungkinkan peneliti melihat bagaimana struktur anatomi ular berubah seiring bertambahnya usia, dari ular muda yang lebih lentur hingga dewasa dengan struktur rahang yang lebih tebal dan sutura (sambungan tulang) yang mulai menyatu.

Dengan kata lain, Hibernophis breithaupti bukan sekadar spesies baru, melainkan jendela waktu yang memperlihatkan proses tumbuh kembang dan adaptasi morfologi ular purba secara langsung.

Evolusi Boa dan Perilaku Sosial Ular Purba

Dengan menggabungkan data morfologi dari fosil-fosil Hibernophis dan data genetik dari ular modern, tim peneliti mampu menyusun ulang cabang evolusi keluarga Boidae—kelompok ular yang dikenal luas melalui spesies seperti boa constrictor, anaconda, dan beberapa spesies pemanjat pohon Amerika Selatan. Analisis tersebut menempatkan Hibernophis breithaupti sebagai bagian dari garis keturunan awal yang berkerabat dengan kelompok boa, namun berada di luar cabang-cabang modern yang dikenal saat ini.

Artinya, ular-ular ini adalah bagian dari fase awal diversifikasi boa, ketika kelompok ini mulai menyebar dan mengembangkan berbagai bentuk adaptasi tubuh. Temuan ini mendukung teori bahwa boa pada masa awal tidak langsung berevolusi menjadi pembelit raksasa seperti sekarang, tetapi berasal dari nenek moyang yang bertubuh kecil dan kemungkinan hidup di bawah tanah—seperti yang ditunjukkan oleh struktur tubuh Hibernophis.

Temuan Fosil Ular Purba 38 Juta Tahun Jadi Petunjuk Asal-Usul Ular Piton dan Boa | Foto oleh: Wikimedia commons/Embreus/CC BY 3.0

Yang tak kalah mengejutkan adalah konteks perilaku sosial yang tersimpan dalam posisi fosil. Keempat ular ditemukan dalam posisi melingkar, berdekatan satu sama lain di dalam ruang bawah tanah yang diduga sebagai hibernakulum—sejenis liang musiman yang digunakan ular untuk berhibernasi secara bersama-sama guna bertahan hidup di musim dingin. Ini adalah bukti perilaku sosial yang sangat jarang ditemukan dalam catatan fosil reptil.

“Ini menunjukkan bahwa perilaku berkelompok untuk bertahan di musim dingin, seperti yang dilakukan ular garter modern, sudah ada sejak jutaan tahun lalu,” jelas Michael Caldwell. Dalam dunia reptil modern yang sebagian besar bersifat soliter, temuan ini menjadi petunjuk penting bahwa interaksi sosial seperti berbagi ruang perlindungan mungkin sudah berevolusi jauh lebih awal dari yang kita duga sebelumnya.

Bahkan saat ini, hanya segelintir spesies ular yang diketahui melakukan hibernasi dalam kelompok besar—ular garter (Thamnophis sirtalis) adalah contoh utamanya, yang dapat berkumpul dalam jumlah ratusan di satu lubang hibernasi di Kanada dan Amerika Serikat bagian utara. Penemuan Hibernophis menunjukkan bahwa strategi sosial seperti ini bukanlah fenomena baru, melainkan perilaku yang mungkin sudah eksis sejak zaman Oligosen awal.

Terkubur oleh Abu, Diselamatkan oleh Waktu

Preservasi luar biasa pada fosil-fosil ini tidak terjadi begitu saja. Menurut para geolog, ular-ular ini kemungkinan besar sedang dalam fase hibernasi musim dingin ketika letusan gunung berapi di sekitar wilayah Wyoming mengirimkan abu halus ke seluruh dataran banjir. Abu ini turun perlahan dan menyelimuti liang tempat para ular bersembunyi, menciptakan segel alami yang kedap udara.

Tak lama kemudian, banjir musiman membawa lumpur halus ke dalam liang, mengisi ruang tersebut dan mengunci posisi tubuh ular dalam keadaan utuh. Kombinasi antara minim oksigen, suhu tanah yang stabil, dan sedimen halus menjadi resep fosilisasi alami yang sempurna—skenario yang sangat jarang terjadi dan nyaris mustahil diulang di laboratorium.

Seluruh proses ini berlangsung dalam satu unit geologi bernama White River Formation, sebuah formasi batuan berusia puluhan juta tahun yang kini dikenal sebagai salah satu ladang fosil paling produktif di Amerika Utara. Formasi ini telah menghasilkan berbagai fosil penting dari mamalia, burung, dan reptil, tapi sangat jarang ditemukan fosil ular dengan kualitas konservasi seperti ini.

Setelah 38 juta tahun tanpa gangguan, keempat ular ini akhirnya ditemukan dalam kondisi yang mengagumkan: tulang belakang masih tersusun rapi, tulang rusuk masih menempel, bahkan bagian tengkorak yang rapuh pun utuh. Temuan ini bukan hanya memberikan gambaran fisik yang luar biasa, tetapi juga membuka jendela ke dalam dunia perilaku ular purba.

Penelitian lengkap mengenai Hibernophis breithaupti telah diterbitkan dalam jurnal Zoological Journal of the Linnean Society dan dipandang sebagai referensi baru yang penting dalam memahami baik aspek anatomi maupun perilaku sosial dalam sejarah evolusi ular—dua bidang yang sebelumnya sangat sulit dijangkau melalui data fosil saja.

Exit mobile version