Mongabay.co.id

Kaleng Salmon Kedaluwarsa 40 Tahun ini Isinya ‘Mesin Waktu’ Misteri Bawah Laut

Gambar ilustrasi membuka kaleng salmon kadaluwarsa | Freepik.com

Gambar ilustrasi membuka kaleng salmon kadaluwarsa | Freepik.com

Siapa sangka sebuah kaleng ikan salmon yang diproduksi lebih dari 40 tahun lalu justru menyimpan bukti penting tentang kesehatan ekosistem laut? Kaleng yang seharusnya berakhir di tempat sampah kini berubah menjadi ‘mesin waktu’ yang merekam jejak parasit laut dan perubahan lingkungan sejak era 1970-an. Sebuah studi terbaru dari University of Washington mengungkapkan bahwa kaleng-kaleng salmon yang dilupakan justru menjadi arsip ekologi yang menyimpan informasi penting soal kesehatan ekosistem laut di Alaska. Temuan mengejutkan ini tak hanya memperkaya dunia ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka cara baru dalam memantau perubahan lingkungan dan memahami dampak jangka panjang dari upaya konservasi.

Cerita ini bermula dari telepon tak terduga ke laboratorium Chelsea Wood, ahli ekologi parasit dari University of Washington. Seafood Products Association, sebuah asosiasi industri makanan laut di Seattle, hendak membersihkan gudang bawah tanah mereka yang berisi ratusan kaleng salmon produksi dari tahun 1970-an hingga 2020-an. Alih-alih dibuang, kaleng-kaleng tersebut disumbangkan ke para peneliti. Mereka menyadari bahwa residu biologis, termasuk parasit yang mungkin terawetkan dalam proses pengalengan, bisa memberikan gambaran historis tentang dinamika ekosistem.

Peta lokasi pengalengan untuk setiap sampel salmon kalengan, dengan setiap titik mewakili satu kaleng yang kami bedah, warna mencerminkan spesies salmon yang dikalengkan (chum berwarna merah muda terang, coho oranye, pink berwarna merah muda menyala/pink cerah, dan sockeye merah anggur), dan titik-titik tersebut digeser acak sedikit (jittered) untuk menghindari tumpang tindih. Gambar/figur sisipan menunjukkan jumlah kaleng dari setiap spesies yang dikumpulkan di setiap wilayah. Sebagian besar kaleng berasal dari Teluk Alaska (wilayah Barat, Tengah, dan Tenggara), meskipun beberapa salmon chum, sockeye, dan coho juga dikumpulkan dari wilayah Teluk Bristol

Karena proses pengalengan mematikan namun mengawetkan parasit, kaleng-kaleng ini berfungsi layaknya spesimen museum—namun dalam bentuk makanan.

Bersama mahasiswa doktoralnya, Natalie Mastick, Wood menyambut tawaran ini dengan antusias. Mereka menyadari bahwa cacing parasit yang membeku dalam proses pengalengan bisa memberikan gambaran historis tentang dinamika parasit dalam jaring makanan laut. “Kami benar-benar membuka kaleng yang berisi cacing,” ujar Mastick.

Total 178 kaleng dari empat jenis salmon diteliti:

Hasilnya, para peneliti menemukan total 372 cacing anisakid yang masih utuh, meskipun ikan sudah dimasak dalam proses pengalengan. Sekitar 50% dari semua kaleng yang dibuka mengandung cacing, dengan satu kaleng salmon pink mencatat rekor ekstrem: 115 cacing dalam satu fillet saja.

Cacing Anisakid: Jejak Kesehatan Ekosistem Laut

Anisakid bukan parasit sembarangan. Ia melalui siklus hidup kompleks: dimakan oleh krill, berpindah ke ikan seperti salmon, lalu tumbuh dewasa di usus mamalia laut seperti paus atau anjing laut. Karena membutuhkan semua inang ini untuk berkembang, keberadaan anisakid justru menunjukkan rantai makanan laut yang utuh dan berfungsi.

Ini adalah parasit anisakid yang sudah sangat rusak, ditemukan dari salmon kalengan. Garis skala menunjukkan ukuran 0,5 milimeter. Foto oleh Natalie Mastick/University of Washington.

“Semakin banyak cacing anisakid dalam salmon, bisa jadi itu pertanda ekosistem laut yang sehat,” kata Chelsea Wood.

Hasil studi menunjukkan bahwa jumlah cacing dalam salmon pink dan chum meningkat secara signifikan sejak akhir 1970-an hingga 2020-an. Sebaliknya, jumlah cacing dalam salmon sockeye dan coho relatif stabil. Para peneliti meyakini bahwa peningkatan ini berkorelasi dengan pemulihan populasi mamalia laut setelah diberlakukannya Marine Mammal Protection Act di Amerika Serikat pada tahun 1972.

“Cacing ini hanya bisa berkembang biak dalam tubuh mamalia laut. Jadi ketika jumlah mereka meningkat, itu artinya mamalia laut—seperti paus dan anjing laut—juga meningkat,” jelas Mastick.

Korelasi ini memperlihatkan bagaimana pemulihan populasi paus dan singa laut bisa berdampak pada siklus kehidupan organisme sekecil cacing. Ini adalah contoh nyata bahwa kebijakan konservasi seperti perlindungan mamalia laut dapat memberikan efek positif berantai yang luas dalam ekosistem.

Di Balik Proses Penelitian: Tantangan dan Temuan Tak Terduga

Menariknya, proses penelitian ini tidak mudah. Karena daging salmon dalam kaleng sudah matang dan padat, metode biasa seperti “candling” (penyinaran fillet mentah) tidak dapat digunakan. Tim harus membuka setiap potongan daging secara manual menggunakan pinset, mencari kantung-kantung kecil tempat cacing mengendap. Sebagian dari mereka bahkan “meloncat keluar” ketika kantung tersebut dibuka. Proses manual yang teliti ini krusial untuk memastikan semua spesimen cacing terhitung dan tidak ada yang terlewat, demi akurasi data historis.

(a) Foto nematoda (lingkaran merah) dalam filet salmon kalengan. Nematoda menggulung di dalam otot dan membentuk kantung-kantung yang mudah dideteksi saat dibedah dengan pinset.(b) Nematoda yang ditemukan dari salmon kalengan, dijernihkan dengan larutan laktofenol. Nematoda sangat terdegradasi selama proses pengalengan, hingga bahkan penjernihan spesimen yang ditemukan tidak dapat memberikan informasi yang cukup untuk identifikasi akurat hingga tingkat genus.(c) Nematoda anisakid yang diawetkan dengan etanol dan tidak dijernihkan, diidentifikasi hingga tingkat famili berdasarkan adanya gigi larva (LT) dan pori ekskresi (EP) di bagian ventralnya, seperti yang dijelaskan oleh Hurst (1984).(d) Anisakid yang diawetkan dan tidak dijernihkan. Kutikulanya sangat keruh, dan organ dalamnya tidak terlihat

Meski terdengar menjijikkan, parasit ini tidak membahayakan manusia jika ikannya sudah dimasak. Justru, dari sisi ilmiah, mereka adalah penanda penting kesehatan lingkungan.

“Orang menganggap cacing dalam ikan adalah pertanda buruk. Tapi dari perspektif ekologi, mereka justru membawa kabar baik,” kata Wood.

Yang menarik, hanya dua spesies salmon—pink dan chum—yang menunjukkan peningkatan cacing. Sementara coho dan sockeye tidak mengalami perubahan signifikan. Hal ini membuka peluang penelitian lanjutan, termasuk analisis genetik untuk mengidentifikasi spesies anisakid berbeda yang mungkin memiliki preferensi inang tertentu atau perbedaan dalam jalur migrasi dan pola makan target salmon tersebut.

Perspektif Baru dalam Konservasi Laut

Studi ini tidak hanya menyajikan temuan ilmiah yang menarik, tetapi juga memperkenalkan pendekatan baru dalam ilmu ekologi historis. Menggunakan produk makanan kadaluarsa sebagai arsip ekosistem merupakan langkah kreatif. Di wilayah seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang kaya akan produk laut olahan seperti sarden, makarel, dan beragam jenis tuna kalengan, potensi untuk studi serupa sangatlah besar. Bayangkan jika kita memiliki ‘kapsul waktu’ dari perairan Nusantara yang bisa mengungkap sejarah dampak penangkapan ikan berlebih, polusi, atau perubahan iklim terhadap jejaring makanan lokal. Dengan meningkatnya tekanan pada ekosistem laut dari perubahan iklim dan aktivitas manusia, metode inovatif semacam ini bisa menjadi alat penting untuk memahami masa lalu, menginformasikan kebijakan konservasi saat ini, dan mempersiapkan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Melalui cacing-cacing kecil dalam kaleng, para ilmuwan kini bisa membaca perubahan besar dalam ekosistem laut. “Kaleng-kaleng tua ini adalah jendela ke masa lalu laut kita,” tutup Mastick.

 

Referensi:

Exit mobile version