Mongabay.co.id

Bioakustik, Melestarikan Keanekaragaman Hayati Melalui Suara Satwa

 

Celepuk Jawa (Otus angelinae), burung hantu endemik Jawa yang berstatus rentan, terlihat bertengger di pohon pasang, Taman Nasional Gunung Merbabu, Mei 2023.  Perjumpaan satwa yang berstatus rentan menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) ini bukan kali pertama, sebelumnya terekam pada Oktober 2018. Ini menjadi catatan baru karena perjumpaan ini berada 400 km dari habitat aslinya di Jawa Barat.

Temuan ini merupakan hasil dari metode Passive Acoustic Monitoring menggunakan rekaman bioakustik oleh para peneliti dari Lembaga Berkarya untuk Bumi dan Manusia (BISA) Indonesia dan Yayasan Kanopi Indonesia pada Agustus 2022-Mei 2023. Adapun ini menjadi sebuah kolaborasi peneliti Indonesia dan Malaysia. 

Burung hantu mini ini sulit terdeteksi karena termasuk satwa nokturnal, ukuran kecil, dan cenderung pendiam. Dari 3000 file suara, ada 69 suara celepuk Jawa yang terdeteksi dari tiga lokasi pada ketinggian 1.800-2.000 mdpl.  

Celepuk Maluku, satu jenis burung hantu yang mendiami hutan di Pulau Moyo. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Wendy Marie Erb, ahli primatologi, perilaku satwa, dan konservasi mengatakan, bioakustik adalah ilmu suara satwa dan memiliki potensi luar biasa untuk mendorong upaya-upaya konservasi. Sebagai ilmu suara satwa, bioakustik bisa mendeteksi spesies yang sulit terlihat, mempelajari perilaku satwa liar, mengetahui reaksi terhadap ancaman manusia, memperkirakan populasi, mengetahui pergerakan satwa, menilai keanekaragaman hayati, hingga mendeteksi perburuan dan penebangan pohon. 

Di Kongo, tim dari Elephant Listening Project memasang 50 alat perekam bioakustik untuk mengetahui pergerakan satwa. Bahkan, suara tembakan senapan pemburu pun bisa terdeteksi. “Memahami di mana dan kapan pemburu menembak satwa liar adalah info yang membantu penjaga untuk mencegah dan menahan pemburu gajah,” ujarnya dalam simposium bioakustik di Universitas Gadjah Mada, tahun lalu. 

Baca juga: Wendy Marie Erb: Impian Mengerti Satwa Terwujud di Indonesia

Wendy mengatakan, ada banyak kemungkinan penerapan penelitian bioakustik yang berhubungan dengan konservasi. Apalagi di Indonesia, masih memiliki sumber daya manusia terbatas, sementara area yang harus diawasi sangat banyak, terpencar, dan luas. Untuk itu, harus ada strategi lebih efisien dalam konservasi.      

Dengan alasan-alasan itu, kata Wendy, bioakustik menjadi pilihan yang harus dipertimbangkan digunakan secara luas di Indonesia. Saat ini, bioakustik sudah digunakan untuk melakukan penelitian pada satwa simakobu di Mentawai, orangutan di Kalimantan, gajah, rangkong, celepuk jawa, gajah dan lain-lain. 

Pohon besar yang terdapat di hutan Tangkoko, Sulawesi Utara. Pohon berpostur kekar merupakan rumah yang ideal bagi kangkareng dan jenis rangkong lainnya. Foto: Rhett Butler

Firman Heru Kurniawan dari Rangkong Indonesia juga menggunakan perekam bioakustik untuk mengamati sarang rangkong di Kalimantan Barat. Rangkong hidup di pohon tinggi dan di tengah hutan lebat. Keadaan ini membuat penelitian tentang rangkong terbatas dan menghambat upaya konservasi dari burung yang populasinya terancam ini. 

Hasilnya berbagai vokalisasi rangkong hitam jantan, betina, anak rangkong, juga suara kepakan sayap terekam. Perekaman suara bisa melengkapi metode pengamatan langsung yang seringkali membutuhkan kehadiran pengamat.

Tak hanya di daratan, metode ini bisa dilakukan di lautan. Di pantai timur Amerika, K Lisa Yang Center for Conservation Bioacoustics memasang 10 pelampung yang dilengkapi alat pendeteksi suara untuk meneliti populasi Paus North Atlantic Right Whale yang  terus menurun. 

Mitigasi konflik satwa 

Muhammad Ali Imron, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan kajian bioakustik sebagai ilmu masa depan di bidang konservasi. Bahkan, katanya, teknologi ini bisa dikembangkan untuk penanganan masalah konflik manusia dengan satwa liar. 

Satu contoh konflik gajah dan manusia. Selama ini, metode pengamatan efektif gajah menggunakan global positioning system (GPS) yang masih memiliki kelemahan, seperti daya tahan baterai. Jadi, untuk mengganti baterai mau tidak mau satwa harus kembali ditangkap dan dilumpuhkan. Model ini dianggap kurang aman bagi petugas maupun satwa sendiri. 

“Gajah itu satwa cerdas. Mereka tahu ada anggota kawanan yang dipasangi GPS. Saat masuk ke lahan penduduk, mereka akan menghalangi satu anggotanya itu agar tetap berada di luar,” ujar Imron juga Kepala Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar UGM. 

Imron bilang, metode bioakustik ini bisa mendeteksi bukan hanya individu yang diwakili gajah berkalung GPS. “Juga semua individu yang masuk ke suatu wilayah,” ujarnya. 

Jadi, integrasi data dengan aplikasi android, machine learning, dan webGIS, metode ini bisa mencegah konflik gajah dan manusia. 

Petugas dari BKSDA Aceh dan Forum Konservasi Leuser (FKL) memasang GPS Collar pada gajah sumatera liar di hutan Ekosistem Leuser, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur pada 06 Maret 2019. Pemasangan GPS tersebut dilakukan pada salah satu gajah yang berkelompok untuk mengetahui jalur lintasan sehingga bisa membantu informasi untuk mitigasi konflik dengan masyarakat dan mencegah perburuan.

Baca juga: Alih Fungsi Hutan Tinggi: Gajah Mati Lagi, Tersengat Pagar Listrik

Imron juga melakukan penelitian di beberapa titik habitat gajah di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Data suara yang terkumpul kemudian dipakai untuk mengembangkan machine learning guna mendeteksi vokalisasi gajah. WebGIS yang terintegrasi dengan aplikasi android lalu dikembangkan untuk membantu memonitor lokasi keberadaan gajah.

“Sistem kami berhasil mendeteksi variasi vokalisasi gajah dari berbagai lokasi, dan machine learning kami mampu mengidentifikasi kehadiran gajah saat diuji coba di bentang alam Bukit Tigapuluh.”         

Sistem ini juga berhasil mengirimkan data secara langsung keberadaan gajah melalui aplikasi android. Jadi, petugas maupun warga bisa turut memantau bahkan melaporkan melalui telepon seluler. 

Dalam kajian sebelumnya, sistem mampu mendeteksi keberadaan gajah hingga jarak 700 meter. Dengan harapan masih ada waktu bagi petugas maupun warga untuk mengantisipasi kedatangan kawanan gajah yang sudah bisa diperkirakan jumlah anggotanya.  

“Di lapangan konflik dengan satwa liar sering terjadi. Konflik itu, titik kuncinya adalah mitigasi. Mengetahui kapan kemungkinan gajah berinteraksi dengan manusia menjadi krusial. Ketika kita bisa deteksi dengan teknologi ini, saya kira pengetahuan itu akan membantu,” ujar Imron.  

Komunitas peneliti bioakustik

Pada November 2023, Fakultas Kehutanan UGM menyelenggarakan simposium bioakustik untuk Indonesia-Malaysia (Symposium for Indonesia-Malaysia BioAcoustics/SIMBA). Simposium ini menandai akhir dari tahun pertama program bantuan penelitian bioakustik yang merupakan kerja sama beberapa lembaga. Yakni, Laboratorium Satwa Liar UGM, Universiti Malaysia Terengganu dan Cornell University khususnya K Lisa Yang Center for Conservation Bioacoustics.

Wendy mengharapkan simposium ini bisa membangun jaringan dan komunitas bioakustik di Indonesia dan Malaysia. Ini bisa menjadi wadah untuk bertukar informasi terkait penelitian dan belajar tentang bioakustik. 

Katanya, ini menjadi kesempatan baginya untuk membagi sumber daya dari Cornell bagi kemajuan penelitian bioakustik di Indonesia melalui K Lisa Yang Center for Conservation Bioacoustics. Baik tenaga ahli, pendanaan, maupun bantuan peralatan perekam Passive Acoustic Monitoring ini. 

Wendy Marie Erb, ahli primatologi, perilaku satwa, konservasi, dan bioakustik. Kini dia bergabung dengan Laboratorium Ornithologi di Cornell University. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

Baca juga: Mitigasi Konflik Satwa hingga Pengamatan Populasi

Cornell University mengembangkan sebuah alat Passive Acoustic Monitoring untuk melakukan pengamatan populasi. Melalui K Lisa Yang Center for Conversation Bioacoustics, alat perekam portable ini menjadi cerita baik dalam kemajuan penelitian bioakustik di Indonesia. 

Dibandingkan sebelumnya yang masih menggunakan alat manual, PAM ini memberikan kemudahan dalam kerja-kerja penelitian. Mulai dari kemampuan dalam merekam suara alam dari frekuensi rendah ke tinggi dan bisa secara real time mengirimkan sinyal ke stasiun pengamatan.  Tentu ini sangat membantu kajian dimana dalam setiap ekosistem memiliki suara satwa yang beragam. 

Tak hanya itu, PAM juga merekam pohon tumbang, suara senapan perburuan liar, pembalakan liar hingga suara mesin di dalam hutan. Data-data temuan yang direkam dalam PAM ini sangat bisa dijadikan bahan kajian sebagai obyek penelitian konservasi. 

 

Exit mobile version