Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal

A. Asnawi 8 Jun 2026
Cerita fitur

Ketika Lingkungan Hidup Terus Dalam Kungkungan Masalah

Achmad Rizki Muazam 7 Jun 2026

Camptostemon philippinensis, Mangrove Langka Habitat Bekantan

M Ambari 7 Jun 2026

Buntut Tuntut Plasma Warga Pohuwato Hadapi Jerat Hukum

Sarjan Lahay 6 Jun 2026
Cerita fitur

Masyarakat Tanah Batak Desak Akui Wilayah Adat Pasca Pencabutan Izin PT TPL

Donny Iqbal 6 Jun 2026
Cerita fitur

Ketika Penampungan Limbah Batubara di Rantau Bakula Jebol Berulang

Rendy Tisna 6 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal

Ketika Lingkungan Hidup Terus Dalam Kungkungan Masalah

Achmad Rizki Muazam 7 Jun 2026

Masyarakat Tanah Batak Desak Akui Wilayah Adat Pasca Pencabutan Izin PT TPL

Donny Iqbal 6 Jun 2026

Ketika Penampungan Limbah Batubara di Rantau Bakula Jebol Berulang

Rendy Tisna 6 Jun 2026

Inisiatif Hutan Wakaf, Upaya Konservasi dari Swadaya Warga

Achmad Rizki Muazam, Junaidi Hanafiah, Petrus Riski 5 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan

Nopri Ismi 30 Mei 2026

Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai

Nopri Ismi 28 Mei 2026

Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai

Nopri Ismi 26 Mei 2026

Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap […]

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra series

Lebih spesial

9 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
7 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

9 cerita

Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Mewaspadai Perdagangan Kucing Kuwuk di Platform Online

Falahi Mubarok 26 Okt 2025

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Pakis Ekor Monyet: Indikator Mata Air Hutan Muria yang Hampir Habis Dipanen

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Di hutan Gunung Muria, ada tumbuhan yang oleh warga lokal dianggap petunjuk alam yang tak pernah salah: di mana pakis ekor monyet tumbuh, di sana ada mata air. “Kalau ada pakis, dekat mata air,” kata Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria).

Tapi tumbuhan yang menjadi penanda kehidupan itu kini justru semakin sulit ditemukan di habitatnya sendiri.

Pakis ekor monyet (Cibotium barometz) adalah tumbuhan purba yang tumbuh lambat. Dari spora hingga dewasa, ia membutuhkan tiga hingga lima tahun, terutama di bawah naungan hutan yang rapat. Ia menyukai tempat teduh dengan kelembapan tinggi, antara 60 hingga 90 persen, dan di Muria banyak ditemukan di lereng curam dekat hutan primer atau sekunder di atas 800 meter dari permukaan laut.

Pada 1990-an, tumbuhan ini tiba-tiba jadi primadona. Tren tanaman hias merebak, dan beredar kepercayaan bahwa bagian dalamnya yang bermotif unik bisa digunakan sebagai “kayu tolak tikus.” Kulitnya laris sebagai media tanam anggrek. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis dalam jumlah besar, dan menjualnya tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. “Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan sejak masih muda,” kata Teguh.

Tren mereda. Tapi dampaknya tidak ikut hilang. Populasi pakis di Muria kini diperkirakan jauh berkurang dibanding masa lalu. “Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang,” ujarnya.

Yang memperburuk situasi, eksploitasi tidak benar-benar berhenti, hanya berpindah lokasi ke wilayah lain. Fragmentasi habitat akibat perkebunan kopi dan agroforestri juga mempersempit sebaran alaminya.

Secara ekologis, kehilangan pakis ini bukan hal sepele. Selain sebagai indikator kesuburan tanah dan keberadaan sumber air, pakis ekor monyet berkontribusi pada kelembapan tanah dan kestabilan ekosistem hutan. Dari sisi ilmiah, tumbuhan ini mengandung lebih dari 100 senyawa aktif, termasuk fenolat, flavonoid, dan triterpenoid yang berpotensi sebagai antioksidan.

Secara hukum, pakis ini dilindungi sebagai flora asli kawasan hutan negara. Pengambilannya tanpa izin adalah tindakan ilegal yang bisa berujung sanksi pidana. Tapi pengawasan di lapangan masih jauh dari optimal. “Kalau ada yang mengambil, sering sembunyi-sembunyi,” kata Teguh Jumadiyanto, Kepala Resort Pemangkuan Hutan Ternadi, KPH Pati.

Ada titik terang. BRIN sudah mengembangkan teknik budidaya dan kultur jaringan yang bisa mempersingkat siklus tanam hingga 1,5 hingga 3 tahun, membuka peluang mengurangi tekanan terhadap populasi liar. Di beberapa desa di lereng Muria, kesadaran warga juga mulai tumbuh. Aturan tidak tertulis mulai ditegakkan, melarang pengambilan pakis dan perburuan di hutan sekitar desa. “Di beberapa tempat sudah ada pengumuman. Sehingga bila ada yang turun hutan membawa pakis, mulai dipantau,” kata Teguh Budi.

Pakis ekor monyet tumbuh sangat lambat. Tapi kerusakannya bisa terjadi dalam sekejap, sebagaimana yang sudah terjadi di Muria tiga dekade lalu.

Di Sumba, Kuda Adalah Segalanya. Tapi Ras Aslinya Semakin Sulit Ditemukan

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Tidak ada tempat di Indonesia yang menghormati kuda seperti Sumba. Di sini, kuda hadir dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ia menjadi mas kawin, hewan kurban, dan dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Dalam bahasa setempat ia disebut ndara, dan statusnya dipandang hampir sejajar dengan arwah nenek moyang. Begitu tinggi kedudukannya, tidak ada kuda di Sumba yang diberi nama pribadi. Memberinya nama terasa terlalu merendahkan.

Dan justru di tempat yang paling mencintai kuda itulah, ras asli kuda Sumba kini semakin sulit ditemukan.

Kuda khas Sumba dikenal dengan nama Sandalwood pony, kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkan di pulau ini selama berabad-abad. Namanya dikaitkan dengan kayu cendana, komoditas ekspor historis dari Nusa Tenggara. Secara fisik tingginya hanya 110 hingga 130 sentimeter, bertubuh serasi dengan dada lebar dan dalam. Yang membuatnya istimewa bukan penampilannya, melainkan staminanya. Kuda Sandalwood mampu bekerja keras di medan sabana yang keras, di bawah terik yang panjang, dengan pakan seadanya.

Kuda inilah yang menghidup-hidupkan Pasola, ritual perang tombak berkuda tahunan yang sudah dikenal hingga mancanegara. “Kuda selalu ada dalam setiap upacara adat Sumba,” kata Palanggarimu, bangsawan dari Prailiu yang akrab dipanggil Umbu Angga. Di antara tiga hewan ternak paling penting dalam kehidupan adat Sumba, yaitu babi, kerbau, dan kuda, kuda adalah yang perannya paling lengkap.

Tapi justru kecintaan masyarakat Sumba pada pacuan kuda yang kini mengancam kemurnian ras ini. Kuda Sandalwood kalah cepat dari kuda impor karena ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Para pemilik kuda pun mulai mengawinsilangkan Sandalwood dengan kuda Australia yang lebih besar, demi mendapatkan kuda pacu yang lebih kompetitif. Praktik ini sebenarnya bukan hal baru, bahkan sudah berlangsung sejak era kolonial Belanda di abad ke-19, ketika kuda Eropa didatangkan untuk dikawinkan dengan kuda Sumba.

Akibatnya, populasi kuda Sandalwood murni terus menyusut. Kepala Dinas Peternakan Sumba Timur, Yohanes Ratamuri, mengakui bahwa empat hingga lima tahun sebelumnya, kuda Sandalwood masih mudah ditemui di hampir seluruh wilayah Sumba Timur. “Tetapi di masa sekarang, hanya bisa ditemukan secara sporadis di daerah-daerah tertentu saja,” katanya. Data 2018 mencatat 32.983 ekor kuda Sandalwood dan kuda silang, tanpa pemisahan yang jelas antara keduanya.

Payung hukum sebetulnya sudah ada. Permentan No.426/2014 menetapkan rumpun kuda Sandalwood, dan Keputusan Menteri Pertanian No.1/2019 menetapkan Kecamatan Matawai La Pawu sebagai wilayah sumber bibit, dengan target pemurnian sekitar 800 ekor. Tapi tanpa data yang akurat tentang berapa kuda murni yang tersisa, upaya pelestarian ini berjalan di atas dasar yang goyah.

Kuda Sandalwood adalah bagian dari identitas Sumba yang sudah berusia berabad-abad. Kehilangannya bukan hanya soal satu ras kuda yang punah, melainkan hilangnya sebagian dari cara hidup, cara mati, dan cara manusia Sumba memahami dirinya sendiri. Di tempat yang paling mencintai kuda, ras aslinya justru perlahan menghilang. Itulah ironinya.

Kerbau Indonesia Diprediksi Punah pada 2031, dan Nyaris Tak Ada yang Peduli

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Imam Supriatna, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, pernah menyampaikan proyeksi yang seharusnya mengejutkan lebih banyak orang. Jika tren penurunan populasi kerbau di Indonesia terus berlanjut tanpa intervensi serius, pada 2031 populasinya mendekati nol. “Anak cucu kita tidak akan melihat kerbau lagi,” katanya.

Hampir tidak ada yang merespons dengan serius.

Data BPS memperlihatkan tren yang konsisten ke arah itu. Dari 2002 hingga 2022, populasi kerbau nasional secara keseluruhan terus menurun. Antara 2021 dan 2022 saja, jumlahnya turun dari 1.143.189 ekor menjadi 1.088.483 ekor. Di Pulau Jawa, seluruh provinsi mencatat penurunan. Dari 38 provinsi di seluruh Indonesia, hanya 13 yang populasi kerbaunya naik.

Penyebabnya tidak tunggal. Peneliti BRIN Peni Wahyu Prihandini dan tim, dalam laporan di jurnal Veterinary World 2023, mencatat rendahnya tingkat reproduksi dan manajemen pemeliharaan yang belum optimal sebagai faktor utama. Ditambah keterbatasan pakan di musim kemarau, alih fungsi lahan penggembalaan, meningkatnya penggunaan mesin pertanian, fragmentasi habitat, dan menyempitnya keragaman genetik.

Ironisnya, kerbau adalah hewan yang secara biologis sangat tangguh. Suhu tubuh, respirasi, dan denyut nadinya lebih rendah dari kebanyakan sapi. Ia mampu menghasilkan susu dan daging berkualitas tinggi meski hanya diberi pakan hijauan berkualitas rendah. Kerbau Sumbawa bertahan hidup di sabana dengan kekeringan lebih dari delapan bulan per tahun. Kerbau Pampangan betah berendam di rawa gambut Sumatera Selatan. Anoa, kerabat terkecilnya yang hidup di hutan Sulawesi dan Buton, bahkan menjadi indikator kelestarian hutan.

Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan ras kerbau yang luar biasa. Ada Anoa, Gayo, Jawa, Kalang, Kuntu, Moa, Murrah, Pampangan, Simeulue, Sumbawa, Toraya, dan beberapa lainnya. Hampir seluruhnya dari jenis kerbau rawa, berbeda dari kerbau sungai yang lebih umum di India dan kawasan barat Asia, yang populasinya justru naik secara global karena permintaan susu dan dagingnya yang tinggi.

Susu kerbau memiliki kandungan lemak dan protein lebih tinggi dari susu sapi, dan bisa diolah menjadi keju, mentega, serta yogurt dengan nilai jual lebih tinggi. Daging kerbau mengandung kolesterol lebih rendah dari sapi. Di tengah perubahan iklim yang mendorong kondisi lebih panas dan lembap, kerbau secara teoritis justru lebih adaptif dibanding ternak lain sebagai sumber protein hewani masa depan.

Tapi potensi itu tidak akan terwujud jika tidak ada yang cukup peduli untuk menyelamatkannya. Pemandangan seorang anak menggembala kerbau di sawah, yang selama ini dianggap pemandangan biasa, mungkin sedang dalam perjalanan menuju kenangan. Dan ketika ia benar-benar hilang, kita baru akan menyadari bahwa ancaman itu sudah lama diumumkan, hanya saja tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

Anaconda Terbesar di Dunia, Lebih Berat dari Gorila, Ditembak Mati Sebulan Setelah Ditemukan

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Sebulan setelah ditemukan oleh ilmuwan, Ana Julia ditemukan mati di Sungai Formoso, Brasil. Tubuhnya yang setebal ban mobil, sepanjang lebih dari enam meter dan seberat 200 kilogram, tergeletak tak bernyawa. Diduga ditembak pemburu liar. Biolog Belanda Freek Vonk, yang sebulan sebelumnya merekam dirinya berenang bersama Ana Julia di dasar sungai selama lebih dari sejam, menulis di Instagram: “Aku mencintaimu, Ana Julia. Aku akan merindukanmu.”

Ana Julia adalah anaconda betina yang ditemukan oleh tim 15 biolog internasional di Amazon Ekuador, atas undangan Kepala Suku Huaorani, Penti Baihua, salah satu dari sedikit izin masuk ke wilayah itu yang pernah diberikan sejak kontak pertama suku tersebut dengan dunia luar pada 1958. Ia bukan sekadar individu yang luar biasa. Ia adalah anggota spesies yang baru dikonfirmasi keberadaannya: Anaconda Hijau Utara (Eunectes akayima), yang secara genetik berbeda 5,5 persen dari Anaconda Hijau Selatan (Eunectes murinus) yang sudah lama dikenal ilmu pengetahuan.

Penemuan dua spesies anaconda hijau yang berbeda ini mengubah cara kita memahami ular terbesar di dunia, sekaligus membuka kembali pertanyaan lama: seberapa besar sebenarnya anaconda bisa tumbuh?

Selama puluhan tahun, Eunectes murinus menjadi tolok ukur. Dr. Jesús Antonio Rivas dari New Mexico Highlands University, setelah lebih dari dua dekade penelitian, mencatat ukuran maksimum terverifikasi untuk spesies ini adalah betina dengan berat 97,5 kilogram dan panjang 5,21 meter. Ana Julia, dengan beratnya yang dua kali lipat angka itu, tiba-tiba membuat batas-batas tersebut terasa jauh lebih cair.

Untuk konteks, gorila jantan terbesar yang pernah tercatat beratnya melampaui 272 kilogram. Ana Julia yang 200 kilogram masih sedikit lebih ringan. Tapi masyarakat adat Waorani di Amazon sudah lama bercerita tentang “ular ibu”, anaconda raksasa dengan panjang lebih dari 7,5 meter dan berat mencapai 500 kilogram. Selama bertahun-tahun cerita itu dianggap mitos. Jika suatu hari terbukti, perbandingan dengan gorila pun akan berubah drastis.

Mengukur anaconda di alam liar bukan perkara mudah. Di habitat sungai dan rawa Amazon yang gelap dan berlumpur, hampir tidak mungkin mendapatkan data yang presisi. Banyak laporan ukuran ekstrem tidak memiliki dokumentasi fisik yang bisa diverifikasi. Pertanyaan tentang batas maksimal E. akayima masih terbuka, dan mungkin akan lama terbuka.

Ana Julia mungkin bukan yang terbesar. Ia mungkin hanya yang terbesar yang pernah kita temukan, dan sempat kita kenal, sebelum pemburu mengakhirinya lebih dulu dari ilmu pengetahuan.

Tim peneliti yang sedang merekam program TV untuk National Geographic menemukan spesies anakonda raksasa baru di Amazon Ekuador. Spesies ini diberi nama Eunectes akayima.

Mengapa Hutan Jawa Melahirkan Lebih Banyak Macan Kumbang?

Akhyari Hananto 6 Jun 2026

Dari 34 individu macan tutul jawa yang berhasil diidentifikasi dalam Survei Nasional Macan Tutul Jawa (Java Wide Leopard Survey/JWLS) yang masih berjalan, 12 di antaranya adalah macan kumbang, varian dengan bulu hitam legam. Angka itu lebih tinggi dari yang diduga banyak orang. Dan ia memunculkan pertanyaan yang menarik: mengapa hutan Jawa tampaknya lebih banyak melahirkan macan hitam dibanding tempat lain?

Jawabannya ada di genetika, dan di hutan itu sendiri.

Macan tutul dan macan kumbang bukan dua spesies yang berbeda. Keduanya adalah Panthera pardus, spesies yang sama, hanya dibedakan oleh satu mutasi genetik yang disebut melanisme. Mutasi ini meningkatkan produksi melanin secara berlebihan, menggelapkan seluruh warna bulu dari kuning berbintik menjadi hitam pekat. “Yang disebut ‘macan kumbang’ adalah macan tutul terkena melanisme,” tulis zoologis Giovanni Giuseppe Bellani dalam bukunya Felines of the World. Di Jawa, nama “kumbang” diambil dari sebutan lokal untuk serangga berwarna hitam legam. Di dunia Barat, yang berbintik disebut leopard, yang hitam disebut panther, tapi secara taksonomi keduanya tetap satu.

Lalu mengapa varian hitam lebih dominan di Jawa? Erwin Wilianto, pendiri SINTAS, memberikan penjelasan yang elegan. “Di lanskap yang lebat di Jawa, macan tutul melanistik lebih sering terlihat, bulu gelapnya berkilau dalam bayangan semak belukar, sementara kerabatnya yang berwarna lebih terang lebih sulit ditemukan dalam ekosistem penuh warna ini.” Hutan Jawa yang rapat, lembap, dan minim cahaya di lantai hutan secara tidak langsung memberi keunggulan bagi varian hitam. Melanisme bukan sekadar soal warna, ia adalah adaptasi evolusioner yang dipilih oleh habitat.

Pola serupa ditemukan di tempat lain. Kajian yang dikutip peneliti Seng Yian Chew dari National University of Singapore mencatat bahwa macan tutul hitam rata-rata muncul di lingkungan hutan lembap dengan tutupan kanopi rapat dan curah hujan yang tidak ekstrem, seperti di Thailand Selatan, semenanjung Malaysia, dan Jawa.

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) sendiri adalah subspesies yang berkembang secara terpisah dalam waktu sangat lama, setelah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan menjadi pulau-pulau tersendiri. Mengapa macan tutul hanya bertahan di Jawa dan tidak di Sumatera atau Kalimantan? Hipotesis utama menyebut kelangkaan mangsa di hutan tropis yang selalu hijau, yang secara signifikan kurang produktif bagi ungulata. Hipotesis lain menunjuk letusan Gunung Toba lebih dari 70 ribu tahun lalu sebagai penyebab kepunahan lokal di Sumatera.

Hari ini, macan tutul jawa adalah satu-satunya predator besar yang tersisa di Pulau Jawa, setelah harimau jawa dinyatakan punah pada 1980-an. Populasinya diperkirakan sekitar 350 individu dewasa, tersebar di kantong-kantong hutan yang semakin terfragmentasi. JWLS yang diluncurkan Februari 2024, kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, Yayasan SINTAS, dan pihak swasta, adalah upaya terbesar yang pernah dilakukan untuk memotret kondisi spesies ini secara menyeluruh di 21 bentang alam target.

Macan tutul dan macan kumbang bukan dua satwa yang bersaing. Mereka adalah satu spesies yang sama, berjuang di sisa-sisa hutan pulau yang sama. Dan hutan Jawa, dengan segala kerimbunannya, rupanya telah lama memilih warna hitam sebagai strategi bertahan yang paling masuk akal.

Kucing Kuwuk, Predator Terkecil Sang Penopang Ekosistem yang Terlupakan

Akhyari Hananto 5 Jun 2026

September 2025, tiga anak kucing kuwuk ditemukan warga di Bali Barat dalam kondisi memprihatinkan, hampir menjadi mangsa anjing setelah induknya menghilang. Dua di antaranya masih dirawat intensif di pusat rehabilitasi Umah Lumba, Buleleng. Satu kasus lain di Bogor, seekor kuwuk bernama Chiki, kini dalam perawatan di Cikananga Wildlife Center, Sukabumi.

Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti berita hewan yang diselamatkan. Bagi para ahli, ini adalah gejala dari pola yang jauh lebih besar.

Kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), atau kucing akar, adalah jenis kucing liar terkecil sekaligus paling adaptif di Asia. Beratnya hanya 3 hingga 7 kilogram, tubuhnya berbintik, dan kemampuannya berburu tikus serta burung menjadikannya penjaga keseimbangan ekosistem yang sesungguhnya. Persebarannya luas, dari Pakistan, India, Tiongkok, Asia Tenggara, hingga Indonesia, menghuni hutan primer, hutan sekunder, agroforestri, sawah, bahkan perkebunan.

Tapi luas sebaran itu menipu. “Kita mengira populasinya stabil karena masih sering ditemukan, padahal banyak kawasan terjadi penurunan signifikan,” tulis kajian IUCN Red List 2022 tentang spesies ini. Di berbagai wilayah Asia Tenggara, populasinya menurun akibat kehilangan habitat dan tekanan manusia. Ironisnya, belum ada satu pun survei komprehensif yang mampu memotret jumlah individu secara akurat.

“Dedicated survey untuk kucing kuwuk belum ada sepertinya,” kata Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group. Sebagian besar data yang ada bersifat anekdot, berasal dari laporan warga atau temuan insidental di lapangan. Ketika survei satwa liar dilakukan, fokusnya hampir selalu pada harimau atau macan tutul. Rekaman kuwuk hanya dianggap data sampingan.

Ancaman terhadap spesies ini tidak datang dari satu arah. Deforestasi untuk sawit, karet, dan kawasan wisata terus menggerus habitatnya. Perdagangan ilegal berlangsung di grup Facebook dan marketplace dengan modus terselubung. Di Bali, Balai Konservasi Sumber Daya Alam bahkan mencatat kasus kepemilikan kuwuk oleh warga asing. Tahun lalu, seorang warga negara Prancis dideportasi setelah kedapatan membawa kucing hutan tanpa dokumen resmi.

Ada satu ancaman lagi yang jarang disorot: hibridisasi dengan kucing domestik. Kawin silang antara kuwuk liar dengan kucing peliharaan menghasilkan “hybrid cat” yang diminati pasar, sekaligus mengaburkan kemurnian genetik spesies liar. “Satwa liar kehilangan jati diri, sementara masyarakat makin sulit membedakan mana yang liar dan hasil persilangan,” kata Femke den Haas, pendiri Jakarta Animal Aid Network.

Meski masuk dalam Appendix II CITES dan dilindungi secara hukum di Indonesia, upaya konservasi kuwuk terus tersandung minimnya data dasar. Tanpa angka populasi yang jelas, sulit merancang strategi penyelamatan yang tepat sasaran.

Para ahli mendorong survei sistematis dengan kamera jebak yang secara khusus menargetkan spesies ini, analisis genetik, penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal, dan edukasi publik tentang peran ekologis kuwuk. Perluasan kawasan lindung untuk mencegah fragmentasi habitat juga mendesak.

Kucing kuwuk bukan satwa yang mudah menarik perhatian. Ia tidak sebesar harimau, tidak sekarismatik orangutan. Tapi di setiap sawah yang terjaga dari ledakan populasi tikus, ada kemungkinan besar seekor kuwuk yang bekerja diam-diam di baliknya. Penopang ekosistem yang terlupakan, bahkan oleh ilmu pengetahuan itu sendiri.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.