<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?post_type=post&#038;byline=wahyu-mulyono-manado" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/wahyu-mulyono-manado/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 12 Apr 2026 10:28:49 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Tiga Kali Lebih Berat dari King Cobra: Mengenal Laophis, Ular Berbisa Terbesar dalam Sejarah Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>12 Apr 2026 10:28:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/12102522/lachesis-muta-at-conduru-state-park-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126353</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama ini King Cobra (Ophiophagus hannah) dikenal sebagai penguasa tunggal dalam kategori ular berbisa terbesar di dunia. Reputasinya tidak main-main karena ular ini mampu tumbuh hingga panjang 5.5 meter dengan postur yang sanggup berdiri setinggi manusia dewasa saat merasa terancam. Dari segi bobot, King Cobra modern umumnya memiliki berat sekitar 6 hingga 9 kilogram. Namun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/">Tiga Kali Lebih Berat dari King Cobra: Mengenal Laophis, Ular Berbisa Terbesar dalam Sejarah Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama ini King Cobra (Ophiophagus hannah) dikenal sebagai penguasa tunggal dalam kategori ular berbisa terbesar di dunia. Reputasinya tidak main-main karena ular ini mampu tumbuh hingga panjang 5.5 meter dengan postur yang sanggup berdiri setinggi manusia dewasa saat merasa terancam. Dari segi bobot, King Cobra modern umumnya memiliki berat sekitar 6 hingga 9 kilogram. Namun spesimen yang sangat besar di penangkaran pernah tercatat mencapai berat hampir 13 kilogram. Ukuran masif ini menjadikannya predator puncak di hutan-hutan Asia yang mampu memangsa ular lain dengan mudah. Ular king kobra (Ophiophagus hannah) | Foto oleh Lip Kee CC BY-SA 2.0 Namun sebuah temuan paleontologi mengungkap bahwa jutaan tahun lalu terdapat spesies beludak atau viper yang jauh lebih masif dari sang raja tersebut. Spesies ini bernama Laophis crotaloides. Ular raksasa ini hidup sekitar 4 juta tahun lalu di wilayah padang rumput yang kini dikenal sebagai Yunani. Meskipun King Cobra menang dari segi panjang tubuh secara ukuran fisik linier, Laophis memiliki bobot yang jauh melampaui predator berbisa mana pun yang pernah melata di planet ini. Berdasarkan analisis fosil, berat badannya mencapai lebih dari dua kali lipat catatan rekor King Cobra paling berat sekalipun. Hal ini menempatkan Laophis sebagai kelas berat sejati dalam sejarah evolusi ular berbisa dunia. Sejarah Penemuan Fosil dan Validasi Ilmiah Eksistensi Laophis Crotaloides Kisah penemuan Laophis sebenarnya dimulai pada tahun 1857 melalui tangan Sir Richard Owen. Beliau merupakan ilmuwan yang menciptakan istilah dinosaurus. Owen mendeskripsikan 13 fosil tulang belakang ular yang ditemukan di dekat Thessaloniki, Yunani. Ia menamakannya Laophis crotaloides dan menyebutnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pesta Media: dari Redaksi hingga Hutan Papua,  Suara Perempuan di Tengah Krisis Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>12 Apr 2026 07:11:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/12065810/Marice-Sianggo-tokoh-perempuan-adat-dari-sub-suku-Nakna-Distrik-Konda-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126342</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara-suara itu datang dari panggung kecil di Taman Ismail Marzuki, tetapi gema pesannya melampaui dinding gedung. Perempuan, dari jurnalis sampai para perempuan penjaga hutan, berbicara tentang krisis yang tidak hanya merusak alam, juga memperdalam ketimpangan. Dalam talkshow pembuka Pesta Media AJI Jakarta 2026 bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan,” tiga jurnalis perempuan: Evi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/">Pesta Media: dari Redaksi hingga Hutan Papua,  Suara Perempuan di Tengah Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara-suara itu datang dari panggung kecil di Taman Ismail Marzuki, tetapi gema pesannya melampaui dinding gedung. Perempuan, dari jurnalis sampai para perempuan penjaga hutan, berbicara tentang krisis yang tidak hanya merusak alam, juga memperdalam ketimpangan. Dalam talkshow pembuka Pesta Media AJI Jakarta 2026 bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan,” tiga jurnalis perempuan: Evi Mariani, Nany Afrida, dan Sapariah Saturi, membuka percakapan bagaimana perempuan mengalami dan melaporkan krisis secara berbeda. Krisis iklim tidak hanya sebagai angka statistik atau grafik suhu semata. Ia hadir sebagai cerita tentang tubuh, ruang hidup, dan ketidakadilan. Bagi Nany Afrida, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, persoalan jurnalis perempuan bukan sekadar soal jumlah, juga struktur yang timpang. Salah satu yang dia soroti mengenai proporsi jurnalis perempuan di Indonesia masih begitu kecil, baru sekitar 21,5%, angka yang mencerminkan ketimpangan di industri media. “Diskriminasi ini bersifat sistemik, bukan kasus individual,” katanya. Tekanan yang jurnalis perempuan hadapi, kata Nany, berlapis, dari kekerasan berbasis gender, diskriminasi di ruang redaksi, beban kerja ganda, hingga serangan digital. Dalam banyak kasus, katanya, kekerasan ini bahkan dinormalisasi, sedang mekanisme perlindungan di ruang redaksi masih lemah. Situasi ini, katanya,  membuat jurnalis perempuan tidak hanya berjuang menyampaikan kebenaran, juga mempertahankan ruang aman bagi dirinya sendiri. Sapariah Saturi, Managing Editor Mongabay Indonesia, mengatakan, keberadaan jurnalis perempuan bukan sekadar soal representasi, tetapi kebutuhan mendasar dalam kerja jurnalistik. Talkshow bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” menjadi sesi pembuka dalam rangkaian Pesta Media AJI Jakarta 2026. Diskusi ini menghadirkan tiga jurnalis perempuan, yakni , Evi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Beban Berlapis Perempuan Pesisir di Tengah Krisis Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Apr 2026 06:40:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/11014151/FC363436-26AE-4780-AC72-60688A9A4186-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126285</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan Perikanan Kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Langit kelabu menemani langkah Ani membeli udang sore itu. Sudah lebih setahun ini, dia menyibukkan diri membuat salome berbahan udang untuk dia jual di sekitar kampung. Salome, merupakan jajanan berbentuk pentol -serupa cilok- yang populer di Kampung Jenebora, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim). Ani mengenal jajanan itu sejak usia 10 tahun. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/">Beban Berlapis Perempuan Pesisir di Tengah Krisis Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Langit kelabu menemani langkah Ani membeli udang sore itu. Sudah lebih setahun ini, dia menyibukkan diri membuat salome berbahan udang untuk dia jual di sekitar kampung. Salome, merupakan jajanan berbentuk pentol -serupa cilok- yang populer di Kampung Jenebora, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim). Ani mengenal jajanan itu sejak usia 10 tahun. Di kalangan warga, penganan itu memang cukup populer hingga banyak yang menjualnya. “Salome udang ini yang paling laku, nggak ada bosannya dimakan. Makanya, banyak yang menjualnya,” kata perempuan berusia 31 tahun itu. Ani membuat salome udang untuk bisa menambah penghasilan dan mencukupi kebutuhan harian keluarganya. Maklum, dua tahun belakangan ini, pendapatan suaminya dari melaut tak menentu. “Kadang dapat (ikan), kadang nggak,” katanya,  sambil menyajikan beberapa gorengan dan makanan lain untuk berbuka puasa keluarganya. Biaya untuk melaut, acapkali tak sebanding dengan hasil tangkapan. Malah terkadang, hanya cukup untuk mengganti biaya solar. Padahal, untuk melaut, tak cukup solar sebagai modal. Karena itu, demi bisa menambah penghasilan, Ani putuskan untuk jualan salome. Sekilas, hasil dari jualan memang tak seberapa tetapi bagi Ani, cukup untuk sangu sekolah anak bungsunya. “Alhamdulillah, cukup sekali (untuk) sehari. Ya, mau diapain? Ingat anak-anak, untuk belanja, jajan,” kata Ani,  sambil menyalakan blender untuk menghaluskan udang. Untuk berjualan, katanya, hanya perlu modal Rp70.000. Itu untuk membeli bahan baku udang 1,5 kilogram, tepung kanji 0,5 kilogram, dan sambal pendampingnya. Sehari, Ani bisa mendapat Rp150.000 dari jualan itu, termasuk modal. Masalahnya, bahan baku udang pun kian sulit didapat. Salome atau pentol berbahan dasar udang yang dibuat Ani, memiliki&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisakah Manusia Hidup Berdampingan dengan Buaya Muara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/#respond</comments>
					<pubDate>12 Apr 2026 04:12:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/12040542/Buaya-muara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126337</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Buaya Muara dan Habitat yang Terkikis]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi nelayan, kecipak air di muara kini bukan lagi tanda keberlimpahan ikan. Melainkan, sinyal perlunya kewaspadaan. Sang predator puncak itu mungkin sedang di sana. Reptil purba, yang memiliki kulit bagai zirah, ekor pipih bertenaga, kuat menahan napas berjam di dalam air, dengan gigitan paling mematikan di bumi. Laporan yang dikumpullkan crocattack.org ini bikin miris. Periode [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/">Bisakah Manusia Hidup Berdampingan dengan Buaya Muara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi nelayan, kecipak air di muara kini bukan lagi tanda keberlimpahan ikan. Melainkan, sinyal perlunya kewaspadaan. Sang predator puncak itu mungkin sedang di sana. Reptil purba, yang memiliki kulit bagai zirah, ekor pipih bertenaga, kuat menahan napas berjam di dalam air, dengan gigitan paling mematikan di bumi. Laporan yang dikumpullkan crocattack.org ini bikin miris. Periode 2020 hingga 2024, terdapat 820 serangan buaya di Indonesia. Dari jumlah serangan itu, 414 korban meninggal dunia, yang mungkin diikuti juga oleh terbunuhnya buaya. Catatan itu mengemukakan, lebih dari 95 persen serangan melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus) dan kurang 5 persen buaya senyulong (Tomistoma schlegelii). Padahal, Senyulong dikenal punya karakter pemalu. Jika angka tahunnya diperlebar hingga 2015, jumlah kejadian mencapai 1.167 kasus, dengan korban jiwa mencapai 556 orang. Ini menjadi yang tertinggi di dunia, menyusul India dengan serangan berjumlah 768 kali, dan Papua New Guinea dengan 584 kali. “Yang kami ketahui kini, bahkan tren serangan dan konflik yang melibatkan buaya senyulong juga meningkat,” papar Herdhanu Jayanto kepada Mongabay, Kamis (9/4/2026). Dia adalah ilmuwan konservasi dan manajer program di Yayasan Konklusi, yang fokus pada spesies terancam punah dan terabaikan seperti buaya muara dan senyulong. Di Indonesia, kejadian serangan hampir separuhnya berhubungan dengan aktivitas mencari ikan, yaitu 47,6 persen. Sementara 32,4 persen berhubungan dengan aktivitas domestik water, sanitation, and hygiene.  Anggota IUCN SSC Crocodile Specialist Group ini menambahkan, tidak ada penyebab tunggal mengapa angka konflik itu begitu tinggi. Terdapat banyak faktor, mulai dari kegiatan manusia yang menyebabkan hilangnya habitat buaya, tersudutnya ruang hidup, hingga berkurangnya mangsa alami.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Karena Kenyang, Ilmuwan Ungkap Alasan Kucing Sering Tidak Menghabiskan Makanan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/#respond</comments>
					<pubDate>11 Apr 2026 11:27:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/11112002/isasza-cat-4412839_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126322</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para pemilik kucing mungkin sering melihat peliharaan mereka meninggalkan makanan yang belum habis di mangkuk. Perilaku ini kerap disalahartikan. Banyak orang mengira kucing meninggalkan makanannya karena sudah merasa kenyang sepenuhnya. Sebuah tim peneliti dari Jepang menemukan fakta yang berbeda. Mereka menemukan bahwa aroma memainkan peran yang jauh lebih penting dalam mengatur pola konsumsi hewan tersebut. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/">Bukan Karena Kenyang, Ilmuwan Ungkap Alasan Kucing Sering Tidak Menghabiskan Makanan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para pemilik kucing mungkin sering melihat peliharaan mereka meninggalkan makanan yang belum habis di mangkuk. Perilaku ini kerap disalahartikan. Banyak orang mengira kucing meninggalkan makanannya karena sudah merasa kenyang sepenuhnya. Sebuah tim peneliti dari Jepang menemukan fakta yang berbeda. Mereka menemukan bahwa aroma memainkan peran yang jauh lebih penting dalam mengatur pola konsumsi hewan tersebut. Indra penciuman kucing sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitar mangkuk makan mereka. Tim peneliti dari Iwate University mengonfirmasi bahwa nafsu makan kucing akan berangsur menurun ketika mereka mulai terbiasa dengan aroma makanannya. Kepekaan mereka terhadap makanan yang sama memicu kebosanan penciuman. Paparan terhadap aroma baru justru berfungsi sebagai stimulus positif. Stimulus ini dapat mendorong mereka untuk kembali makan dengan lahap. Studi perilaku hewan ini dipimpin langsung oleh Masao Miyazaki yang merupakan profesor di universitas tersebut. Efek Aroma pada Kebiasaan Makan Penelitian ini berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang dari Januari 2023 hingga Februari 2026. Tim mengamati perilaku 12 ekor kucing ras campuran yang dipastikan sehat. Kelompok uji ini memiliki rentang usia yang bervariasi antara 3 hingga 15 tahun untuk mewakili berbagai tahapan kehidupan satwa. Kucing tersebut dipuasakan dan tidak diberi makan selama 16 jam penuh sebelum eksperimen dimulai. Mereka kemudian diberikan waktu makan selama 10 menit yang diselingi jeda waktu istirahat selama 10 menit. Siklus pemberian makan dan jeda ini diulang sebanyak enam kali secara berurutan. Metode ini dirancang khusus untuk melihat respons langsung hewan terhadap perubahan makanan dan variasi aroma. Kucing terlihat makan di luar ruangan. Penelitian menunjukkan bau makanan memengaruhi nafsu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Ungkap Bahaya Mikroplastik di Laut Dalam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/#respond</comments>
					<pubDate>11 Apr 2026 11:14:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230121/sampah-laut-di-pesisir-kedonganan-dekat-airport-bali.-foto-luh-de-suriyani-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126271</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, pencemaran, produk kelautan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman di daratan atau permukaan laut. Saat ini, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter (mm) itu sudah mengancam laut dalam dengan kedalaman 200-2.000 meter dan mengancam biota. Muhammad Reza Cordova, ahli pencemaran laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan, temuan mikroplastik di laut dalam Indonesia pertama kali terungkap dalam  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/">Riset Ungkap Bahaya Mikroplastik di Laut Dalam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman di daratan atau permukaan laut. Saat ini, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter (mm) itu sudah mengancam laut dalam dengan kedalaman 200-2.000 meter dan mengancam biota. Muhammad Reza Cordova, ahli pencemaran laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan, temuan mikroplastik di laut dalam Indonesia pertama kali terungkap dalam  penelitian 2015 di pesisir barat Sumatera. “Saat itu, dengan alat bantu terbatas, kami menemukan ada mikroplastik di kedalaman lautnya,” katanya kepada Mongabay. Menurut dia, masuknya mikroplastik ke lapisan terdalam lautan adalah karena partikel itu bersifat nonpolar yang terlihat menyerupai material organik, hingga memungkinkan partikel menempel pada marine snow. Marine snow atau salju laut  adalah hujan detritus organik yang terus-menerus jatuh dari lapisan permukaan laut yang kaya cahaya ke dasar laut yang gelap. Marine snow terdiri dari sisa-sisa tanaman/hewan mati, kotoran (feses), dan material anorganik lainnya. Ketika mikroplastik menempel pada salju laut, maka massa gabungan akan semakin berat, karena ada material organik hingga mikroorganisme. “Akumulasi mikroplastik mengganggu siklus karbon, merusak agregat alami, menghambat proses remineralisasi, dan efisiensi penyimpanan karbon secara jangka panjang,” katanya. Dia bilang, apa yang terjadi saat ini, menggambarkan bahwa ancaman sedang mengintai bumi dan berdampak pada penurunan ekologis, misalnya gangguan pada biota laut. Hasil pengujian temukan mikroplastik di hampir seluruh spesimen. Ancaman yang mengintai laut dalam, terutama  kehidupan mikrofauna seperti foraminifera, kopepoda, dan nematoda yang kesulitan membedakan mikroplastik dengan makanan. Hal itu berisiko mengganggu pencernaan dan menyebabkan stres fisiologis. Peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) meneliti kandungan mikroplastik di dalam air hujan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/#respond</comments>
					<pubDate>11 Apr 2026 08:43:40 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05093443/Parijoto3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126293</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gunung Muria berdiri sebagai benteng alam terakhir di pesisir utara Jawa yang menyimpan kekayaan luar biasa. Kawasan ini merupakan ruang hidup bagi predator puncak seperti macan tutul Jawa hingga spesies unik yang baru ditemukan seperti cecak batu. Namun posisi strategisnya sebagai jantung ekologi kini menghadapi tantangan besar akibat alih fungsi lahan dan dampak nyata perubahan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/">Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gunung Muria berdiri sebagai benteng alam terakhir di pesisir utara Jawa yang menyimpan kekayaan luar biasa. Kawasan ini merupakan ruang hidup bagi predator puncak seperti macan tutul Jawa hingga spesies unik yang baru ditemukan seperti cecak batu. Namun posisi strategisnya sebagai jantung ekologi kini menghadapi tantangan besar akibat alih fungsi lahan dan dampak nyata perubahan iklim global. Keberadaan tumbuhan parijoto dan komoditas kopi bukan sekadar hasil bumi, melainkan simbol ketahanan masyarakat lokal yang berusaha menjaga harmoni di tengah habitat yang kian terhimpit. Melindungi Muria berarti menyelamatkan sisa kejayaan ekosistem purba yang dahulu terpisah oleh selat, sekaligus memastikan masa depan bagi keseimbangan alam dan manusia di sekitarnya. The post Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menghidupkan Kembali Tradisi Menanam Sayur di Bangka Belitung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/#respond</comments>
					<pubDate>11 Apr 2026 01:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10072803/Beragam-sayuran-yang-dijual-di-Pasar-Pagi-Kota-Pangkalpinang-sebagian-besar-dipasok-dari-Desa-Balun-Ijuk.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126260</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, sawit, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di masa lalu, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung hidup arif dengan mengelola laut dan kebun (ume). Salah satu pengetahuan yang lahir dari cara hidup tersebut adalah lempah darat, yaitu kuliner yang memanfaatkan beragam sayuran lokal. Bahannya sederhana, ada keladi, buah melinjo, nangka muda, daun pucuk idat, jantung pisang, rebung, dan sebagainya. Semuanya dapat diperoleh dengan mudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/">Menghidupkan Kembali Tradisi Menanam Sayur di Bangka Belitung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di masa lalu, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung hidup arif dengan mengelola laut dan kebun (ume). Salah satu pengetahuan yang lahir dari cara hidup tersebut adalah lempah darat, yaitu kuliner yang memanfaatkan beragam sayuran lokal. Bahannya sederhana, ada keladi, buah melinjo, nangka muda, daun pucuk idat, jantung pisang, rebung, dan sebagainya. Semuanya dapat diperoleh dengan mudah di sekitar kebun, karena ditanam berdampingan dengan komoditas ekonomi (lada). &#8220;Lempah darat menjadi bukti bahwa masyarakat Bangka Belitung punya tradisi kuat untuk menanam dan mengonsumsi sayuran,&#8221; kata Herry Marta Saputra, peneliti sekaligus dosen Agroteknologi dari Universitas Bangka Belitung, kepada Mongabay Indonesia, Senin (30/3/2026). Namun, kebiasaan ini mulai hilang. Saat masyarakat ingin memasak lempah darat, yang menjadi tujuan adalah pasar yang sebagian besar pasokannya berasal dari luar daerah. Mengapa? &#8220;Sudah banyak kebun, ume, atau kelekak yang beralih fungsi,&#8221; lanjut Herry. “Ini juga diperburuk dengan minat menanam sayur yang menurun, dikarenakan candu timah menjadi pesaing terbesar pertanian, yang dalam waktu sehari sudah dapat menghasilkan rupiah.” Situasi demikian, sejalan dengan minimnya daerah di Bangka Belitung yang terkenal sebagai penghasil sayuran. Satu dari sedikit wilayah itu adalah Desa Balun Ijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung (2026), sekitar 60 persen produksi buah-buahan dan sayuran provinsi ini berasal dari Kabupaten Bangka, yang sebagian besar dipasok dari Desa Balun Ijuk. Pada 2025, produksi sayuran di Kabupaten Bangka mencapai 10.225,73 ton, tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya, yang memiliki produksi di bawah 2.000 ton. “Desa Balun Ijuk, sejak lama terkenal sebagai lumbung sayuran di Bangka Belitung,” kata Herry.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Warga Seboyo Terelokasi Demi Proyek PLTA Mentarang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/#respond</comments>
					<pubDate>10 Apr 2026 23:38:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ms Ardan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10233254/Mantarang--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126274</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kunang-kunang kerlap kerlip melintasi orang-orang yang sedang berkumpul di satu teras rumah di RT05 Desa Harapan Maju, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, penghujung tahun lalu. Mereka bercengkrama walau tak saling memandang rupa. Tak ada cahaya maupun lampu yang menyinari permukiman itu pada malam itu. “Listriknya sudah mati satu mingguan, kecuali nanti perusahaan datang untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/">Nasib Warga Seboyo Terelokasi Demi Proyek PLTA Mentarang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kunang-kunang kerlap kerlip melintasi orang-orang yang sedang berkumpul di satu teras rumah di RT05 Desa Harapan Maju, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, penghujung tahun lalu. Mereka bercengkrama walau tak saling memandang rupa. Tak ada cahaya maupun lampu yang menyinari permukiman itu pada malam itu. “Listriknya sudah mati satu mingguan, kecuali nanti perusahaan datang untuk mengganti alat yang rusak, baru bisa hidup,” kata Minggus, warga Desa Harapan Maju. Dia duduk bersila di teras. Perusahaan yang Minggus maksud adalah operator genset komunal yang PT Kayan Hydropower Nusantara  (KHN), sediakan. Sudah tiga tahun, lampu-lampu dari 28 rumah di area yang disebut Paking itu pakai listrik genset komunal. Listrik tak hidup 24 jam di situ. “Ada listriknya dari 6.00 sore sampai 6.00 pagi, sisanya mati,” kata Minggus. Genset pun, sering rusak karena komponen perbaikan tak ada di sekitar desa itu. Alat perbaikan, harus pesan dari luar daerah hingga perlu waktu lama. “Sering alatnya rusak, sejak bulan-bulan berapa itu tahun 2024, sering (rusak) sampai sekarang ini.” Jawi, Ketua RT05 Desa Harapan Maju, membenarkan kondisi itu. Kendati listrik sering padam, katanya, genset turut membantu warga. Warga, tidak perlu bayar tagihan listrik. “Tapi ya seperti itu, sering rusak, hidupnya (listrik) tidak menentu.” Kondisi ini mereka sudah rasakan lebih tiga tahun lalu. Sebelumnya, kata Jawi, warga mendiami area Seboyo, sekitar 15 menit dengan perahu mesin ke hulu Sungai Mentarang. “Kalau di Seboyo,  dulu kita pakai panel surya pribadi, pakai aki saja, itu hidup setiap saat, nanti kalau mati kita ganti air akinya tinggal beli saja,” katanya. Setelah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Auriga Ungkap Lonjakan Deforestasi 2025</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/#respond</comments>
					<pubDate>10 Apr 2026 09:00:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/09041212/deforestasi-di-Sijunjung-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126239</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yayasan Auriga Nusantara merilis Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 yang mengungkap lonjakan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya, dari 261.575 hektar jadi 433.751 hektar. Lonjakan pesat terjadi di Papua, dugaannya, karena sejumlah proyek, dalam program strategis nasional (PSN) termasuk pengembangan pangan sjalaskala besar (food estate). Data itu berasal dari kombinasi pemodelan spasial citra satelit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/">Riset Auriga Ungkap Lonjakan Deforestasi 2025</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yayasan Auriga Nusantara merilis Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 yang mengungkap lonjakan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya, dari 261.575 hektar jadi 433.751 hektar. Lonjakan pesat terjadi di Papua, dugaannya, karena sejumlah proyek, dalam program strategis nasional (PSN) termasuk pengembangan pangan sjalaskala besar (food estate). Data itu berasal dari kombinasi pemodelan spasial citra satelit Sentinel-2 resolusi 10 meter, inspeksi visual, hingga verifikasi lapangan. Selain itu, deteksi area mereka kembangkan dari isyarat deforestasi bulanan dari Universitas Maryland, hingga jangkauan  lebih luas. Timer Manurung, Ketua Yayasan Auriga Nusantara, menyebut, Kalimantan sebagai pulau dengan deforestasi paling tinggi, mencapai 158.283 hektar, naik  28.387 hektar atau 22% dari tahun sebelumnya. “Pulau ini secara berturut-turut menjadi pemuncak deforestasi sejak 2013,” katanya, dalam peluncuran STADI 2025 di Jakarta, 31 Maret. Sumatera jadi pulau kedua dengan deforestasi terbanyak, mencapai 144.150 hektar. Timer bilang, tiga provinsi yang terdampak banjir dan longsor pada akhir 2025 mengalami lonjakan deforestasi. Aceh, misal, melonjak 426%, dari 8.962 hektar menjadi 38.157 hektar. Kemudian, Sumatera Utara naik 281%, dari 7.303 hektar menjadi 20.512 hektar. Lonjakan tertinggi di Sumatera Barat hingga 1.034%, dari 2.606 hektar menjadi 26.940 hektar. Papua berada di urutan ketiga. Deforestasinya bertambah 348%, dari 17.341 hektar menjadi 77.678 hektar. Sulawesi menyusul dengan luasan deforestasi 39.685 hektar pada 2025, meningkat 129%. Maluku 7.527 hektar, meluas 3.990 hektar dari tahun sebelumnya. Bali &amp; Nusa Tenggara mencapai 4.209 hektar, dan Jawa 2.221 hektar. Timer bilang, berbagai kebijakan teridentifikasi sebagai biang kerok lonjakan ini. Bahkan, sekitar 58% deforestasi pada tahun 2025 legal karena terjadi di dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polisi Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Banyumas, Tetapkan Tiga Tersangka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/#respond</comments>
					<pubDate>10 Apr 2026 04:14:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10040644/tambang3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126255</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banyumas, membongkar kegiatan penambangan emas liar di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tim bergerak ke lokasi setelah mendapat laporan masyarakat, Selasa (31/3/26). “Kami mendapati tiga pekerja melakukan pengolahan serta lima pekerja menggali dan mengambil  material di lubang 80 x 80 cm dengan kedalaman 55 meter,” terang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/">Polisi Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Banyumas, Tetapkan Tiga Tersangka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banyumas, membongkar kegiatan penambangan emas liar di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tim bergerak ke lokasi setelah mendapat laporan masyarakat, Selasa (31/3/26). “Kami mendapati tiga pekerja melakukan pengolahan serta lima pekerja menggali dan mengambil  material di lubang 80 x 80 cm dengan kedalaman 55 meter,” terang Petrus P Silalahi,  Kapolresta Banyumas, Senin (6/4/26). Selain itu, polisi juga  temukan lokasi pengolahan emas di desa tetangga, Cihonje. “Total 68 lubang  digali. Bila tidak ada emasnya, ditinggalkan begitu saja dan ini sangat membahayakan.” Dari penertiban itu, polisi tetapkan tiga tersangka yaitu SRO  (51), NM (50), dan SBN  (56). Mereka merupakan pemodal dan pengelola tambang emas ilegal di Desa Paningkaban dan Cihonje. Berdasarkan pemeriksaan,  SRO memulai kegiatan ini sebagai pekerja sejak 2012. Pada 2017, dia membuka tambang mandiri di lahan miliknya di Paningkaban. “Meski sempat gagal di awal, SRO tetap melanjutkan aktivitasnya hingga menemukan kandungan emas dan memperluas operasi dengan membuka beberapa lubang tambang aktif,” jelasnya. Sementara NM, bergerak sejak 2017 setelah mendapatkan informasi potensi emas di wilayah Gumelar. Tanpa mengantongi izin resmi, dia menjalankan kegiatannya berpindah lokasi. Pada Januari 2025, NM bekerja sama dengan SBN, selaku pemilik lahan seluas 3.386 meter persegi di Grumbul Igir Salak, Desa Paningkaban. Penambangan beroperasi pada Maret 2025, dengan melibatkan delapan pekerja yang dibagi dua tim, penggali dan pengolah material. “Mereka memiliki sistem pembagian hasil terstruktur. Sebanyak 30 persen untuk pemodal, 30 persen untuk pemilik lahan, 20 persen operasional, dan 20 persen upah pekerja.” Saat ini, masih ada 68&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waswas Krisis Air,  PLTA Picu Surutnya Danau Kerinci?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/#respond</comments>
					<pubDate>10 Apr 2026 02:12:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10013415/Seorang-warga-tengah-mencari-kupuk-kerang-sungai-di-Sungai-Batang-Merangin-yang-surut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126247</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; “Air ndak biso naik lagi. Tengok sungai macam ini,” kata Mat Dong, warga Desa Pulau Pandan, Kecamatan Bukit Kerman, Kerinci, Jambi. Dia menunjuk ketinggian air Sungai Batang Merangin yang tak lebih dari sejengkal. Mat Dong dan warga desa yang lain khawatir air sungai susut. Danau Kerinci mengalir menuju hulu Sungai Batang Merangin, melewati petak-petak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/">Waswas Krisis Air,  PLTA Picu Surutnya Danau Kerinci?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; “Air ndak biso naik lagi. Tengok sungai macam ini,” kata Mat Dong, warga Desa Pulau Pandan, Kecamatan Bukit Kerman, Kerinci, Jambi. Dia menunjuk ketinggian air Sungai Batang Merangin yang tak lebih dari sejengkal. Mat Dong dan warga desa yang lain khawatir air sungai susut. Danau Kerinci mengalir menuju hulu Sungai Batang Merangin, melewati petak-petak sawah kering dan tanah yang mulai merekah. Di atas jembatan gantung Mat hanya bisa menatap sawahnya yang mulai penuh rumput liar. Dalam tiga bulan setelah panen akhir 2025, sawah terbengkalai karena tak ada air. “Kek mano kami mau nanam, kalau ndak ado air.” Semua bermula pada Januari 2026. Permukaan Danau Kerinci tiba-tiba menyusut drastis. Air yang biasa menelan bebatuan di dasar danau perlahan mundur, menyingkap batu-batu besar yang kini mencuat seperti pulau-pulau kecil. Danau yang berubah wajah itu cepat menyebar di media sosial, membuat Danau Kerinci viral. Banyak warga meyakini perubahan itu bukan kebetulan. Mereka melihat, sejak PLTA Kerinci Merangin Hidro (KMH) dengan pengelola PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), uji coba turbin pada 1–16 Januari 2026, debit air Danau Kerinci berubah drastis. Di hulu Sungai Batang Merangin, Desa Karang Pandan, aliran air nyaris lenyap. Sungai yang biasa mengalir deras mendadak menyempit dan dangkal. Semua aliran air seolah ditarik menuju pintu air yang perusahaan bangun di Desa Pulau Pandan pada 2025—sekitar satu kilometer dari Karang Pandan. Sepanjang 200 meter hulu sungai diubah besar-besaran. Dasar Sungai Batang Merangin dikeruk lebih dari lima meter, lebar menjadi sekitar 17 meter. Tiga pintu besi raksasa, masing-masing berbobot sekitar lima ton,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Penuh Teka Teki</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/#respond</comments>
					<pubDate>09 Apr 2026 15:02:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/08153222/WhatsApp-Image-2026-04-08-at-08.17.27-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126226</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Upaya penyelundupan tiga ton sisik trenggiling yang terbongkar Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Februari lalu sisakan banyak teka-teki. Mulai dari asal muasal barang hingga peran dua perusahaan yang diduga terlibat, yakni,  PT Temu Satu Rasa (TSR) dan PT Viena Trans Mandiri (VTM).  Bea dan Cukai Tanjung Priok terkesan irit bicara saat Mongabay menanyakan perkembangan kasus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/">Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Penuh Teka Teki</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Upaya penyelundupan tiga ton sisik trenggiling yang terbongkar Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Februari lalu sisakan banyak teka-teki. Mulai dari asal muasal barang hingga peran dua perusahaan yang diduga terlibat, yakni,  PT Temu Satu Rasa (TSR) dan PT Viena Trans Mandiri (VTM).  Bea dan Cukai Tanjung Priok terkesan irit bicara saat Mongabay menanyakan perkembangan kasus ini.   “Masih dalam proses penyidikan,” kata Suhartoyo, Kepala Seksi II Penyidikan Kantor Bea Cukai Tanjung Priok, Jumat (3/4/26) melalui pesan pendek.  Pekan ini, Bea Cukai menjadwalkan pemanggilan terhadap sejumlah pihak guna dimintai keterangan terkait kasus itu. Selain itu, berkoordinasi dengan tim Koordinator Pengawasan Polda Metro Jaya dan juga Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jakarta.  “Untuk barang bukti, masih ada di tempat penimbunan kontainer,” katanya.  Solu Batara, Kepala Seksi 1  Jakarta Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Wilayah Jabalnusra, menjelaskan, penanganan kasus ini melibatkan sejumlah lembaga. Terkait pelanggaran kepabeanan, penangkanan dilakukan oleh Bea Cukai. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementerian Kehutanan, spesifik pada pelanggaran perlindungan satwanya. “Komunikasi antar instansi terus dilakukan. Kewenangan awal berada di tangan Bea Cukai karena kasus ini ada terkait juga dengan tindak pidana kepabeanan. Tapi, kami dari Gakkum akan menindak pelanggaran di bidang konservasi dan sumber daya alam hayati, karena trenggiling termasuk satwa yang dilindungi,” kata Solu di Jakarta, Kamis (2/4/26). Sebelumnya, Bea Cukai Tanjung Priok menggagalkan upaya penyelundupan sisik trenggiling ke Kamboja. Barang bukti tiga ton lebih berhasil petugas amankan dan menjadikan sebagai salah satu pengungkapaan terbesar kasus perdagangan sisik trenggiling di Indonesia.  Kasus ini terungkap setelah petugas temukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inilah Rahasia Evolusi yang Membuat Ular Tahan Tanpa Makan Selama Setahun Penuh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/09/inilah-rahasia-evolusi-yang-membuat-ular-tahan-tanpa-makan-selama-setahun-penuh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/09/inilah-rahasia-evolusi-yang-membuat-ular-tahan-tanpa-makan-selama-setahun-penuh/#respond</comments>
					<pubDate>09 Apr 2026 08:20:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/06054723/Ular-cecak-sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126241</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ular merupakan salah satu predator paling efisien di alam semesta yang mampu menelan mangsa berukuran jauh lebih besar dari dimensi kepalanya sendiri seperti rusa, babi hutan, atau bahkan buaya. Namun, kemampuan mereka yang paling mencengangkan sebenarnya terletak pada ketahanan fisik untuk tidak mengonsumsi makanan sama sekali selama berbulan-bulan atau bahkan lebih dari satu tahun tanpa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/inilah-rahasia-evolusi-yang-membuat-ular-tahan-tanpa-makan-selama-setahun-penuh/">Inilah Rahasia Evolusi yang Membuat Ular Tahan Tanpa Makan Selama Setahun Penuh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ular merupakan salah satu predator paling efisien di alam semesta yang mampu menelan mangsa berukuran jauh lebih besar dari dimensi kepalanya sendiri seperti rusa, babi hutan, atau bahkan buaya. Namun, kemampuan mereka yang paling mencengangkan sebenarnya terletak pada ketahanan fisik untuk tidak mengonsumsi makanan sama sekali selama berbulan-bulan atau bahkan lebih dari satu tahun tanpa mengalami degradasi kesehatan yang berarti. Sebuah tim ilmuwan internasional baru saja mengungkap temuan mendalam bahwa rahasia ketahanan luar biasa ini berakar pada perubahan drastis dalam peta genetik mereka yang berbeda secara fundamental dari sebagian besar makhluk hidup lainnya di bumi. Penemuan ini menunjukkan bahwa ular telah berevolusi secara radikal dalam mengelola kebutuhan dasar akan nutrisi demi menyesuaikan diri dengan ketersediaan mangsa yang sering kali tidak menentu di habitat liar mereka. Mekanisme Genetik di Balik Hilangnya &#8216;Alarm&#8217; Kelaparan Penelitian mendalam yang melibatkan analisis genom terhadap 112 spesies reptil termasuk ular, kura-kura, dan buaya menemukan bahwa kelompok ular telah kehilangan gen ghrelin secara permanen. Gen ini secara luas dikenal dalam dunia sains sebagai hormon lapar karena perannya yang sangat krusial dalam mengatur ambang batas nafsu makan dan mengirimkan sinyal aktif ke otak saat tiba waktunya bagi tubuh untuk mengisi kembali cadangan energi. Mode konservasi energi tingkat tinggi. Ular telah berevolusi untuk mematikan sensor lapar mereka, memungkinkan mereka bertahan hidup dalam kondisi lingkungan dengan ketersediaan mangsa yang rendah tanpa menguras cadangan lemak tubuh secara cepat. | Foto&#8221; Piet Spaans/Wikimedia Commons Dalam studi yang diterbitkan melalui jurnal Open Biology, para peneliti mendeteksi bahwa selain kehilangan gen ghrelin, ular juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/inilah-rahasia-evolusi-yang-membuat-ular-tahan-tanpa-makan-selama-setahun-penuh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/09/inilah-rahasia-evolusi-yang-membuat-ular-tahan-tanpa-makan-selama-setahun-penuh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sengkarut Izin Tambang Batubara Masuk Lahan Transmigrasi di Kotabaru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/#respond</comments>
					<pubDate>09 Apr 2026 03:00:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/07094603/file_00000000dd1c720b815f48e45e4066ac-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126202</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Bapak Presiden, lihat ke belakang saya. Lahan saya sudah diginiin sama perusahaan, pak. Tolong, saya hanya rakyat kecil. Saya sebagai orang bodoh tidak bisa apa-apa.&#8221;  Begitu ungkapan Nyoman Darpada, perempuan transmigran di Kotabaru, Kalimantan Selatan, dalam video berdurasi 151 detik yang viral baru-baru ini. Dalam video itu, belasan warga eks transmigran Rawa Indah, Desa Bekambit, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/">Sengkarut Izin Tambang Batubara Masuk Lahan Transmigrasi di Kotabaru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Bapak Presiden, lihat ke belakang saya. Lahan saya sudah diginiin sama perusahaan, pak. Tolong, saya hanya rakyat kecil. Saya sebagai orang bodoh tidak bisa apa-apa.&#8221;  Begitu ungkapan Nyoman Darpada, perempuan transmigran di Kotabaru, Kalimantan Selatan, dalam video berdurasi 151 detik yang viral baru-baru ini. Dalam video itu, belasan warga eks transmigran Rawa Indah, Desa Bekambit, Kabupaten Kotabaru, sambil memegang sertifikat hak milik (SHM), mereka berdiri di lahan yang saat ini tertimpa izin usaha pertambangan (IUP) batubara. Saat Mongabay temui Maret lalu, dia menyatakan, kebingungan karena kebun, sumber penghidupan berubah jadi tambang batubara. Dia sendiri sudah lama tidak mengunjungi lokasi itu. Bukti kepemilikan tanah  dan ratusan warga lain pun tidak berlaku lagi karena pembatalan sepihak Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN) Kalsel. Perusahaan leluasa menggarapnya. Potongan video tiktok Borneo Info yang viral. Memperlihatkan para transmigran yang menangis karena SHM-nya dicap merah, tanda tidak berlaku oleh Kanwil BPN Kalsel. I Ketut Buderana, Ketua eks Transmigran Rawa Indah, menceritakan,  sejarah kawasan yang pernah mereka huni sejak 1986 itu. Dia bilang, secara bertahap hingga 1989, ratusan keluarga pemerintah datangkan mulai dari Bali, Jawa, dan Banjar, Kalsel. Orang-orang merintis kehidupan dari nol. Selama belasan tahun, mereka menetap, membuka lahan, dan mengelola pertanian. Seiring waktu, keinginan mereka tak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Walau sudah ada sekolah dan kesehatan, sebagian fasilitas dasar yang sebelumnya pemerintah janjikan untuk lengkapi belum terpenuhi. Misal, akses jalan tetap rusak sekitar enam kilometer, dan air bersih sulit mereka dapat. Kawasan rawa dekat laut itu memiliki kadar air yang sangat asam. Pengeboran&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belut Moray, Pemalu yang Sekilas Mirip Ular</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/#respond</comments>
					<pubDate>09 Apr 2026 01:31:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/09012020/Belut-Moray-Moray-eel-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126232</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas fisiknya seperti seperti ular, namun dengan bobot lebih berat. Panjang tubuhnya bisa mencapai empat meter. Ia adalah belut moray, dikenal dengan sebutan edor-edor atau armang di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Keberadaannya terbatas, utamanya yang memiliki ekosistem terumbu karang sehat. Walau disebut belut laut, namun hewan ini masuk jenis ikan sidat (Ordo Anguilliformes) yang menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/">Belut Moray, Pemalu yang Sekilas Mirip Ular</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas fisiknya seperti seperti ular, namun dengan bobot lebih berat. Panjang tubuhnya bisa mencapai empat meter. Ia adalah belut moray, dikenal dengan sebutan edor-edor atau armang di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Keberadaannya terbatas, utamanya yang memiliki ekosistem terumbu karang sehat. Walau disebut belut laut, namun hewan ini masuk jenis ikan sidat (Ordo Anguilliformes) yang menjadi Famili Muraenidae. Saat ini, terdapat 200 jenis belut moray yang menyebar luas di berbagai ekosistem perairan dunia. Berdasarkan ukuran panjang tubuh, moray air tawar (Gymnothorax pllyuranodon) dikenal sebagai yang terpendek karena maksimal hanya 11,5 sentimeter. Semetara, moray ramping (Slender moray) menjadi yang terpanjang dengan empat meter. Jika mengacu berat, moray raksasa (Gymnothorax javanicus) menjadi juara karena bisa berbobot 36 kilogram dengan panjang hingga tiga meter. Belut moray bertubuh memanjang, berotot, menyerupai ular, namun tanpa sisik dan dilapisis lendir pelindung. Terdapat lubang insang kecil dan bulat, namun tanpa sirip dada. Mulutnya lebar, dengan rahang dilengkapi gigi kuat dan tajam, yang akan digunakan untuk menyerang mangsa dan musuhnya, termasuk manusia. Mereka akan menyerang manusia jika merasa terganggu. Tak semua belut moray memiliki gigi tajam dan runcing yang digunakan untuk menangkap mangsa licin seperti ikan. Ada juga yang memiliki gigi tumpul mirip gigi geraham belakang (molar) yang berguna untuk menghancurkan mangsa seperti krustasea atau hewan bercangkang. Belut moray yang dikenal pemalu dan senang bersembungi di karang. Foto: Wikimedia Commons/Mstroeck/CC BY-SA 3.0 Perairan Indonesia Perairan Indonesia menjadi lokasi yang disukai belut moray, karena ia mencari wilayah dengan karakteristik tropis dan beriklim sedang. Laut tropis dan subtropis di seluruh dunia,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Risiko Limbah Beracun dari Smelter Nikel Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 23:59:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/16001056/Kawasan-Industri-IWIP--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126229</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia terus membuka peluang eksploitasi nikel yang membawa konsekuensi besar bagi lingkungan dan masyarakat, antara lain, soal limbah tambang.  Teknologi high-pressure acid leaching (HPAL), untuk memproses bijih nikel berkadar rendah menjadi presipitat hidroksida campuran—prekursor penting dalam baterai kendaraan listrik—menjadi penyumbang utama limbah beracun ini. Setiap satu ton logam nikel melalui HPAL memunculkan 133 ton tailing [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/">Risiko Limbah Beracun dari Smelter Nikel Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia terus membuka peluang eksploitasi nikel yang membawa konsekuensi besar bagi lingkungan dan masyarakat, antara lain, soal limbah tambang.  Teknologi high-pressure acid leaching (HPAL), untuk memproses bijih nikel berkadar rendah menjadi presipitat hidroksida campuran—prekursor penting dalam baterai kendaraan listrik—menjadi penyumbang utama limbah beracun ini. Setiap satu ton logam nikel melalui HPAL memunculkan 133 ton tailing beracun. Laporan terbaru dari organisasi lingkungan global Earthworks berjudul “Tailing yang Difilter di Indonesia: Kegagalan Katastrofik dari Teknologi Disruptif” menyebutkan,  regulasi dan pengawasan pemerintah belum mampu mengimbangi pesatnya ekspansi pabrik pengolahan nikel hingga menimbulkan risiko besar bagi masyarakat, pekerja, dan lingkungan. Hingga pertengahan 2025, terdapat tujuh fasilitas HPAL beroperasi di Indonesia, antara lain dua fasilitas Harita Nickel di Pulau Obi, satu fasilitas di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Pulau Halmahera. Lalu, empat fasilitas di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah. Bersama-sama, fasilitas-fasilitas ini menghasilkan sekitar 57 juta ton tailing per tahun. Dengan tambahan dua fasilitas HPAL baru di IMIP, total volume limbah dapat meningkat menjadi 62,6 juta ton per tahun. Lebih jauh lagi, ada 12 proyek HPAL yang memperoleh izin atau sedang dibangun, serta 12 proyek lain dalam tahap proposal. Kalau semua terealisasi akan menghasilkan sekitar 275 juta ton tailing setiap tahun. Riset itu menganalisis fasilitas HPAL beroperasi, termasuk Huafei Nickel Cobalt (HFNC) di IWIP dan PT Halmahera Persada Lygend (HPL) di Harita Nickel di Pulau Obi, menunjukkan bahwa ketinggian fasilitas dan volume limbah lebih besar dibandingkan fasilitas penyimpanan tailing serupa di wilayah lain dengan curah hujan setara. Kondisi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Temukan Dugaan Pelanggaran HAM pada Proyek Panas Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 04:18:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/09/22082951/solok2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125817</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penelitian Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) menemukan dampak negatif dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam proyek panas bumi (PLTP) di Indonesia, seperti di  Tandikat-Singgalang Sumatera Barat (Sumbar) dan Dieng, Jawa Tengah (Jateng). Pusham UII menuangkan studinya dalam laporan berjudul “Metastasis Transisi Energi: Dampak Kebijakan dan Praktik Bisnis Panas Bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/">Riset Temukan Dugaan Pelanggaran HAM pada Proyek Panas Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penelitian Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) menemukan dampak negatif dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam proyek panas bumi (PLTP) di Indonesia, seperti di  Tandikat-Singgalang Sumatera Barat (Sumbar) dan Dieng, Jawa Tengah (Jateng). Pusham UII menuangkan studinya dalam laporan berjudul “Metastasis Transisi Energi: Dampak Kebijakan dan Praktik Bisnis Panas Bumi terhadap Hak Asasi Manusia.” Dalam laporannya, Pusham menemukan proyek PLTP Tandikat-Singgalang di Sumbar dan Dieng  ada dugaan melanggar standar HAM.   “Proyek ini secara sistematis mengabaikan pengalaman dan persetujuan warga lokal yang hidup di wilayah kerja proyek,” kata Sahid Hadi, peneliti bisnis dan HAM Pusham UII. Dia sebutkan pembangkit panas bumi di  Nagari Pandai Sikek dan Desa Kepakisan,gagal memenuhi tanggung jawab mereka menghormati HAM warga lokal. Dugaan pelanggaran itu terjadi sejak awal proyek berlangsung. “Perusahaan-perusahaan itu sejak awal tidak pernah melibatkan warga lokal dalam perencanaan, pembuatan keputusan dan pengembangan proyek. Itu dilakukan secara sistematis dan yang diterima warga lokal hanyalah kerugian,” katanya. Heronimus Heron, peneliti gerakan sosial dan HAM Pusham UII menyebut, negara gagal melindungi HAM warga lokal dari bisnis panas bumi di dua wilayah itu. Kegagalan itu, katanya, terlihat dari tidak ada upaya pemerintah pusat sampai daerah memberikan respon dan langkah perlindungan apapun kepada warga. Dia contohkan,  di Nagari Pandai Sikek, pemerintah mengabaikan hak partisipasi warga lokal dalam kebijakan panas bumi. Sementara itu di kasus Desa Kepakisan, saat warga mengalami dampak buruk proyek panas bumi, pemerintah di tingkat daerah hingga kecamatan tidak melakukan apapun untuk melindungi warga. Asnir Umar, warga Gunung Talang yang menolak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mikroplastik, Ancaman Baru Kucing Bakau di Lahan Basah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 02:22:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001526/Kucing-bakau-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126219</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, Lahan Basah, pencemaran, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Baru berkembang sejak awal abad ke-20, industri plastik kini telah menjadi masalah global–yang mungkin sulit diselesaikan oleh semua negara di dunia. Plastik dapat ditemui di gunung, sungai, hingga lautan. Setelah puluhan tahun, beberapa plastik mungkin masih terlihat utuh, namun sebagian lainnya berubah menjadi butiran makro hingga mikro, lalu menyusup ke rantai makanan, yang tidak hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/">Mikroplastik, Ancaman Baru Kucing Bakau di Lahan Basah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Baru berkembang sejak awal abad ke-20, industri plastik kini telah menjadi masalah global–yang mungkin sulit diselesaikan oleh semua negara di dunia. Plastik dapat ditemui di gunung, sungai, hingga lautan. Setelah puluhan tahun, beberapa plastik mungkin masih terlihat utuh, namun sebagian lainnya berubah menjadi butiran makro hingga mikro, lalu menyusup ke rantai makanan, yang tidak hanya mengancam manusia, tapi juga sejumlah satwa terancam punah. Hal ini dikuatkan melalui penelitian terbaru di Thailand yang menemukan adanya mikroplastik di 26 sampel kotoran kucing bakau (Prionailurus viverrinus), satwa langka yang juga ada di Indonesia dan sangat bergantung pada ekosistem lahan basah. “Keberadaan mikroplastik pada kucing penangkap ikan sebagai predator puncak menunjukkan kontaminasi di seluruh ekosistem yang memengaruhi berbagai tingkat trofik dalam jaring makanan lahan basah,” tulis penelitian Wongson dan kolega (2026) berjudul “Occurrence of Microplastics in Fishing Cat (Prionailurus viverrinus) scat: Hidden Threats to Wetland Ecosystems of Thailand”. Sebelumnya, sejumlah penelitian juga menemukan adanya kontaminasi mikroplastik pada kucing bakau di Sri Lanka dan kucing liar lainnya, termasuk kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) di Taiwan. Kucing bakau terkena polusi plastik karena memakan ikan yang sudah terkontaminasi. Hewan penyaring seperti kerang dan serangga air tidak bisa membedakan plastik dengan makanan alami, sehingga mereka menelan banyak mikroplastik. Ketika hewan-hewan ini dimakan oleh ikan atau udang, plastik tersebut berpindah dan menumpuk di tubuh mereka. “Hal ini kemudian menciptakan jalur yang terdokumentasi untuk transfer mikroplastik ke spesies predator, termasuk kucing penangkap ikan,” tulis penelitian tersebut. Kucing bakau (Prionailurus viverrinus) yang disebut juga Fishing Cat sangat bergantung pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman Hilangnya Kicau Burung di Habitat Aslinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 01:00:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/02/22041019/Kucica-hutan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126214</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[indonesia]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, gaya hidup, hutan indonesia, infrastruktur, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Awal tahun ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali menggagalkan upaya penyelundupan 7.355 burung dari beragam jenis, termasuk spesies yang dilindungi. Ada burung kacamata wallacea, manyar, prenjak, srigunting cucak kombo dan gelatik batu. Angka ini menjadi kasus penyelundupan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/">Ancaman Hilangnya Kicau Burung di Habitat Aslinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Awal tahun ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali menggagalkan upaya penyelundupan 7.355 burung dari beragam jenis, termasuk spesies yang dilindungi. Ada burung kacamata wallacea, manyar, prenjak, srigunting cucak kombo dan gelatik batu. Angka ini menjadi kasus penyelundupan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Di Indonesia, memelihara burung kicau dalam sangkar tak hanya sekedar hobi, tapi bagian dari budaya dan mencerminkan status sosial. Tak hanya itu, popularitasnya kini menjadi industri yang menguntungkan dengan munculnya beragam kontes burung kicau. Berdasarkan data Badan Karantina Indonesia tahun 2022-2024, terdapat 801 kasus penyelundupan satwa liar di Indonesia. Jumlah spesiesnya mencapai 193.000 satwa liar dan 172.000 burung—166.000 merupakan burung kicau. Kanitha Krishnasamy, Direktur Monitoring Perdagangan Satwa Liar TRAFFIC untuk wilayah Asia Tenggara menyebutkan perdagangan burung dan penyitaan besar-besaran kini menimbulkan kekhawatiran. Ini tentu menyebabkan penurunan jumlah spesies secara cepat di alam dan mendorong spesies menuju kepunahan. Perdagangan pun tak hanya di pasar fisik, tapi merambah pasar online di Indonesia. Peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR) mengembangkan Support Vector Machine untuk mengumpulkan semua daftar iklan burung kicau dari pasar online di Indonesia. Mereka menggunakan metode web-scraping dan mengidentifikasi sebanyak 284.118 iklan burung kicau di satu situs e-commerce dalam periode April 2020 hingga September 2021. Dari jumlah itu, tercatat sedikitnya 284.118 individu burung diperdagangkan secara online. Dari data tersebut, lebih dari 6% merupakan spesies yang terancam punah, termasuk jalak suren (Gracupica jalla) dan cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) yang berstatus kritis. Situasi ini kian buruk tanpa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>