<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?post_type=post&#038;byline=wahyu-mulyono" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/wahyu-mulyono/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 21 May 2026 11:59:47 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Jawa Timur Gerbang Perdagangan Emas Ilegal  di Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 10:59:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20091256/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-00.19.16-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128076</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas, gudang berkelir putih itu terlihat biasa saja, tak ubahnya bangunan lain di komplek kawasan industri Berbek, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Namun, penggeledahan oleh Bareskrim Polri pada tengah Maret lalu mengubah kesan tersebut. Hari itu, Kamis (12/3/26) tim penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah kantor dan gudang PT Simba Jaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/">Jawa Timur Gerbang Perdagangan Emas Ilegal  di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas, gudang berkelir putih itu terlihat biasa saja, tak ubahnya bangunan lain di komplek kawasan industri Berbek, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Namun, penggeledahan oleh Bareskrim Polri pada tengah Maret lalu mengubah kesan tersebut. Hari itu, Kamis (12/3/26) tim penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah kantor dan gudang PT Simba Jaya Utama (SJU) terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang rugikan negara hingga Rp25, 8 triliun. Praktik lancung yang libatkan jaringan gelap dan saling terhubung; tambang emas ilegal, industri pemurnian dan pelaku perdagangan. Hingga pertengahan Mei, lima orang polisi tetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Teddy Wijaya, pemilik toko emas di Nganjuk, DW dan BSW, serta dua tersangka terbaru, DHB dan VC. “Berdasarkan alat bukti yang cukup, penyidik menetapkan dua tersangka baru yang diduga kuat turut serta dalam  pertambangan tanpa izin dan tindak pidana pencucian uang,” kata Ade Safri Simanjuntak, Direktur Dittipideksus dalam keterangan resminya, Rabu (13/5/26). Dia  katakan, DHB merupakan Direktur SJU periode 13 Agustus 2021-14 September 2022. Sedangkan VC, adalah Direktur SJU dari 14 September 2022- sekarang. “DHB diketahui merupakan putra dari SB alias A, yang sebelumnya diduga memiliki peran penting dalam jaringan tersebut,” katanya. Penelusuran Mongabay, inisial DHB merujuk pada Denny Handoko Bahar, anak Siman Bahar alias Bong Kim Phin, pemilik PT Loco Montrado (LM), perusahaan pemurnian emas yang berlokasi di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Sedangkan VC, adalah Valenthio Chandra, staf administrasi di LM. Dalam data Direktorat Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum, pada 18 Mei lalu, VC sebagai direktur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kepiting Tapal Kuda, Hewan Darah Biru yang Bukan Kepiting</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 09:50:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/03/22040752/BELANGKAS-MATI-TERLILIT-JARINGFAM_6897-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128164</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Namanya sering dikaitkan dengan kepiting, namun ia justru bukan bagian dari kepiting. Kepiting tapal kuda merupakan fosil hidup dari periode Ordovisium, periode 485,4 juta hingga 443,8 tahun lalu. Penamaan kepiting muncul karena kemiripan fisik hewan laut tersebut dengan kepiting. Di Indonesia, hewan purba ini dikenal dengan sebutan banyak nama. Selain belangkas, nama lain yang populer [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/">Kepiting Tapal Kuda, Hewan Darah Biru yang Bukan Kepiting</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Namanya sering dikaitkan dengan kepiting, namun ia justru bukan bagian dari kepiting. Kepiting tapal kuda merupakan fosil hidup dari periode Ordovisium, periode 485,4 juta hingga 443,8 tahun lalu. Penamaan kepiting muncul karena kemiripan fisik hewan laut tersebut dengan kepiting. Di Indonesia, hewan purba ini dikenal dengan sebutan banyak nama. Selain belangkas, nama lain yang populer adalah mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Hewan tersebut menjadi bagian dari Ordo Xiphosura. Dalam buku “Bioekologi Kepiting Tapal Kuda” terbitan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, tahun 2025, dijelaskan tiga spesies kepiting tapal kuda di Indonesia. Ada Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda. Satu spesies lain yang tidak ada di Indonesia adalah kepiting tapal kuda amerika (Limulus polyphemus). Jenis ini berada di sepanjang perairan Atlantik Amerika Utara, sementara tiga lainnya ada di perairan Indo-Pasifik yang masuk dalam kawasan Asia Tenggara. Kepiting tapal kuda yang dikenal juga dengan nama belangkas. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Khusus di Indonesia, sebarannya ada di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (Kalimantan Timur); Aceh; Medan, Sibolga, dan Langkat (Sumatra Utara); Bintan (Kepri); Rokan Hilir (Riau); Tanjung Jabung (Jambi); Bangka; dan Sambas (Kalimantan Barat). Lalu, Barru (Sulawesi Selatan); Muna (Sulawesi Tenggara); Serang dan Pandeglang (Banten); Subang, Indramayu, dan Cirebon (Jawa Barat); Brebes, Tegal. Kendal, Pati, Jepara, dan Demak (Jawa Tengah); Tuban, Situbondo, Gresik dan Bangkalan (Jawa Timur), dan Sumatra Barat. Kepiting tapal kuda sudah mendapatkan perlindungan penuh di Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehutanan No.12/Kpts-II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999. Ketiganya dilindungi bersama dengan sumber genetik. Pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pentingnya Inovasi Teknologi untuk Adaptasi Krisis Iklim Kelompok Rentan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 02:30:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Della Syahni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20173716/petani-perempuan-peri-urban-sleman-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128108</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Adaptasi krisis iklim tidak akan berjalan tanpa inovasi yang tepat. Peran riset dan teknologi pun krusial untuk menyediakan inovasi yang memudahkan kelompok-kelompok rentan. Hal ini tergambar dalam knowledge and innovation exchange (KIE) Jakarta Summit 2026, akhir April. Salah satunya dalam bentuk The Coupled Seaweed and Solar Salt Farming (CSSSF) di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Teknologi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/">Pentingnya Inovasi Teknologi untuk Adaptasi Krisis Iklim Kelompok Rentan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Adaptasi krisis iklim tidak akan berjalan tanpa inovasi yang tepat. Peran riset dan teknologi pun krusial untuk menyediakan inovasi yang memudahkan kelompok-kelompok rentan. Hal ini tergambar dalam knowledge and innovation exchange (KIE) Jakarta Summit 2026, akhir April. Salah satunya dalam bentuk The Coupled Seaweed and Solar Salt Farming (CSSSF) di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Teknologi ini memadukan tambak garam tradisional menjadi kawasan produksi terpadu yang menghasilkan air bersih, energi hijau, dan pangan berkelanjutan secara mandiri. Inisiatif ini hadir dari tim peneliti Universitas Trunojoyo, the University of Newcastle, the Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia membuat petambak garam tradisional bisa dapat penghasilan tambahan dari budidaya rumput laut, listrik dari tenaga surya, juga air bersih dari desalinasi air laut. Fathur Rokhim, petambak garam tradisional, menyebut,  krisis iklim membuatnya dan banyak petani garam tradisional lain nelangsa. Pasalnya, selain membuat budidaya yang hanya bisa mereka lakukan dalam tujuh bulan musim kemarau ini rentan, praktik mereka yang mengandalkan tenaga manusia dan pompa diesel ini pun tinggi emisi. Sementara, dia tidak pernah terpikirkan punya penghasilan lain, termasuk rumput laut. “Selama ini petani garam belum pernah budidayakan rumput laut,” katanya. Wahyudi Agustiono, peneliti Universitas Trunojoyo, menjelaskan, prototype ini menampung air laut yang petambak garam proses secara manual ke dalam kolam yang sudah berisi rumput laut. Kemudian  memisahkan dengan desalinasi yang membantu kristalisasi lebih cepat, sehingga panen pun lebih cepat. Teknologi ini juga menggunakan sistem Organic Rankine Cycle (ORC), memanfaatkan panas untuk menghasilkan energi pengubah panas yang bisa menjadi sumber energi.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Selina Aurora, Upaya Merawat Ingatan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 00:30:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20150452/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-16.59.20-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=128088</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Lahan Basah, Masyarakat Adat, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selina Aurora, penulis muda asal Papua terpilih sebagai Emerging Writers Makassar International Writers Festival 2026. Melalui podcast ini, dia bercerita tentang bagaimana masa kecilnya di Merauke dan bertumbuh hingga remaja. Rawa, mangrove, sungai dan laut sudah menjadi bagian dalam ingatan dan pengalaman hidupnya sebagai orang Papua. Banyak tulisan Selina menyoroti tentang pembangunan di Papua yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/">Selina Aurora, Upaya Merawat Ingatan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selina Aurora, penulis muda asal Papua terpilih sebagai Emerging Writers Makassar International Writers Festival 2026. Melalui podcast ini, dia bercerita tentang bagaimana masa kecilnya di Merauke dan bertumbuh hingga remaja. Rawa, mangrove, sungai dan laut sudah menjadi bagian dalam ingatan dan pengalaman hidupnya sebagai orang Papua. Banyak tulisan Selina menyoroti tentang pembangunan di Papua yang seringkali merampas hak masyarakat adat dan lingkungan, terutama perempuan. Baginya, orang Papua bukan anti pembangunan, tapi mereka memiliki sikap kritis ketika pembangunan mengancam hutan dan laut yang menjadi bagian bagi masyarakat adat. Tak hanya di Merauke, Selina juga merawat ingatan tentang Papua dari pengalaman hidupnya di Waropen dan Manokwari sebagai pengajar dan pendeta. Dia punya mimpi agar cerita Papua tidak hanya dibaca dari sudut konflik atau pembangunan semata. Bagi Selina, menulis adalah cara untuk menjelaskan Papua secara lebih utuh dan jernih. Melalui sastra, ekoteologi, dan suara perempuan, dia mengajak pembaca melihat Papua sebagai rumah bersama yang menyimpan pengetahuan, martabat, dan perjuangan untuk menjaga kehidupan. Sampai ketemu episode podcast BERISIK: ruang untuk cerita dari lapangan yang berisi, ada isi dan mengajak kamu untuk berisik dari Mongabay Indonesia ! (Editor podcast: Hidayaturohman M. Suri) Selina Aurora bersama anak-anak didik di Sekolah Pendidikan Guru Jemaat (SPGJ) GKI Lahai Roi dalam pembelajaran ekoteologi dan aksi peduli lingkungan di Pulau Lemon, Manokwari. Foto: Dokumentasi Selina Aurora The post Selina Aurora, Upaya Merawat Ingatan Papua appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Perjanjian Indonesia dan Amerika Serikat Ancam Kedaulatan Sumber Daya Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 23:55:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20165929/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-09.57.02-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128100</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah pihak menilai agreement of reciprocal trade (ART) antara Indonesia-Amerika menyusul kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat  bukan sekadar kesepakatan tarif. Lebih dari itu, kesepakatan itu sebagai jebakan AS yang berisiko mengubah struktur ekonomi, lingkungan, bahkan kedaulatan negara. Yani Taufik, Guru Besar Antropologi Haluoleo katakan, perjanjian yang ditandatangani 19 Februari itu tidak hanya sebagai instrumen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/">Ketika Perjanjian Indonesia dan Amerika Serikat Ancam Kedaulatan Sumber Daya Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah pihak menilai agreement of reciprocal trade (ART) antara Indonesia-Amerika menyusul kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat  bukan sekadar kesepakatan tarif. Lebih dari itu, kesepakatan itu sebagai jebakan AS yang berisiko mengubah struktur ekonomi, lingkungan, bahkan kedaulatan negara. Yani Taufik, Guru Besar Antropologi Haluoleo katakan, perjanjian yang ditandatangani 19 Februari itu tidak hanya sebagai instrumen perdagangan juga sebagai instrumen politik ekonomi yang dapat mempengaruhi kebijakan nasional. &#8220;Khususnya sumber daya alam dan lingkungan hidup,” katanya  dalam sebuah diskusi di Kendari, belum lama ini. Dia bilang, terdapat sejumlah persoalan strategis yang biasanya terjadi pada perjanjian antar negara. Pertama, national treatment, yakni ada tekanan untuk tidak mengistimewakan perusahaan nasional. Padahal, saat ini, sektor industri nasional sedang dalam fase pertumbuhan yang cukup baik. Kedua, most favoured nation (MFN), jika Indonesia memberikan perlakuan khusus pada suatu negara, maka perlakuan yang sama harus diberikan kepada semua negara mitra. Sikap ini akan mengurangi fleksibilitas diplomasi ekonomi. Ketiga, investor protection.  Regulasi lingkungan bisa dianggap sebagai hambatan investasi, berpotensi menimbulkan regulatory chill atau negara takut membuat aturan baru. Hal itu berpotensi memicu investor-state dispute settlement (ISDS). ISDS adalah mekanisme hukum internasional yang memungkinkan investor asing atau perusahaan multinasional menggugat negara atau pemerintah di hadapan arbitrase internasional jika kebijakan dianggap merugikan investasi mereka. Diskusi multipihak untuk mengkritisi perjanjian dagang internasional Indonesia yang dinilai banyak merugikan. Foto: Christ Belseran/Mongaay Indonesia. Dalam satu dasawarsa terakhir, Indonesia mendorong hilirisasi agar nilai tambah tidak keluar negeri. Namun, kebijakan ini berpotensi dianggap mengganggu investor dan dapat digugat. Nah, disinilah paradoks itu terjadi. Pasalnya, terdorong kekhawatiran digugat, pemerintah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Torobulu Protes Tambang Nikel Makin Dekati Pemukiman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 23:37:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20232511/Torobulu-Irfan-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128114</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, pencemaran, Pertambangan, dan transisis energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>  “PT WIN (Wijaya Inti Nusantara) semakin membabi buta, menambang di pemukiman warga, apakah kalian tidak melihat penderitaan kami?” teriak Hermina, Perempuan Desa Torobulu ketika menyampaikan aspirasi di halaman Kantor DPRD Konawe Selatan, 12 Mei lalu. Kala itu, puluhan warga Torobulu dan aktivis berunjuk rasa protes terkait penambangan nikel WIN.  Mereka juga mendatangi Kantor Dinas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/">Warga Torobulu Protes Tambang Nikel Makin Dekati Pemukiman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[  “PT WIN (Wijaya Inti Nusantara) semakin membabi buta, menambang di pemukiman warga, apakah kalian tidak melihat penderitaan kami?” teriak Hermina, Perempuan Desa Torobulu ketika menyampaikan aspirasi di halaman Kantor DPRD Konawe Selatan, 12 Mei lalu. Kala itu, puluhan warga Torobulu dan aktivis berunjuk rasa protes terkait penambangan nikel WIN.  Mereka juga mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Konawe Selatan. Warga Torobulu makin cemas karena pertambangan begitu dekat dengan rumah mereka. Pemerintah seakan tak memperhatikan keluhan ini karena hingga kini tetap membiarkan perusahaan beraktivitas tanpa memperdulikan nasib masyarakat. Ayunia Muis, perempuan Desa Torobulu mengatakan, keresahan mereka sudah berlangsung lama. Protes demi protes mereka lakukan, namun tak membuahkan hasil. “Pemerintah mengizinkan desa kami dirusak. Orang tua kami sudah hampir pada kehilangan nyawanya karena kerusakan yang dibiarkan.” Pemerintah ibarat bagian yang melindungi perusahaan agar terus beraktivitas tanpa mempedulikan masyarakat sekitar tambang.  Padahal, dampak kerusakan lingkungan sudah terpampang. “Sampai hari ini tidak ada sama sekali yang bertindak atas kerja mereka (WIN) yang terlalu parah.” Penampakan Desa Torobulu yang berdekatan dengan tambang nikel dari atas. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Perusahaan ini merupakan bagian dari Tridaya Group, yang juga menambang batubara. WIN mulai eksplorasi pada 2017 di pesisir Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra). WIN  ini mendapatkan kepastian hukum operasional melalui izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi untuk nikel dengan masa berlaku dari 29 November 2019 hingga 28 November 2029. Wilayah konsesi tambang seluas 1.931 hektar. Perusahaan ini mengambil alih lahan bekas konsesi PT International Nickel Company (kini Vale Indonesia) setelah membeli&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Khawatir Perairan Rusak,  Nelayan Tolak Tambang Pasir di Laut Bintan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 16:03:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20152920/m3-INI-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128060</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Perikanan Kelautan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan nelayan pesisir Bintan berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) untuk menolak rencana penambangan pasir laut berkedok pengelolaan sedimentasi, Selasa (12//5/26). Selain merusak ekosistem, rencana itu akan berdampak pada sumber penghidupan nelayan. Para nelayan datang menggunakan truk dari berbagai pulau dan menempuh perjalanan dua jam. “Nelayan rela tidak melaut untuk ikut menyuarakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/">Khawatir Perairan Rusak,  Nelayan Tolak Tambang Pasir di Laut Bintan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan nelayan pesisir Bintan berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) untuk menolak rencana penambangan pasir laut berkedok pengelolaan sedimentasi, Selasa (12//5/26). Selain merusak ekosistem, rencana itu akan berdampak pada sumber penghidupan nelayan. Para nelayan datang menggunakan truk dari berbagai pulau dan menempuh perjalanan dua jam. “Nelayan rela tidak melaut untuk ikut menyuarakan aspirasi penolakan, ini belum semuanya turun,” kata Rudi Herdiawan, Ketua Aliansi Nelayan Pesisir Bintan-Lingga juga koordinator aksi itu. Para nelayan bergantian berorasi dengan membentangkan spanduk bernada protes. Mereka juga membubuhkan tanda-tangan di atas spanduk berukuran besar sebagai bukti penolakan. “Kalau laut kita sudah dikeruk, pasti rusak. Kemana lagi kita mencari makan, keluarga kita hidup dari nelayan ini, anak-anak kita sekolah dari nelayan ini,” kata Mardialis,  seorang nelayan dalam orasinya. Sekitar 15 menit kemudian, Misni, Sekretaris Daerah (Sekda) Kepri keluar temui para peserta aksi. Di hadapan Misni, nelayan menyampaikan kekesalan karena merasa dibohongi. Nelayan bilang, saat aksi pertama Misni berjanji datang ke kampung nelayan untuk melihat dampak pengerukan pasir laut. Hingga aksi kedua ini, Misni tak kunjung datang. “Sebenarnya kami kecewa terhadap ibu (Misni), kami bertanya apakah pemerintah daerah ini mendukung nelayan atau mendukung perusahaan, kami minta hari ini keputusan segera untuk menghentikan aktivitas sedimentasi laut di perairan Numbing,” kata Adit orator lainnya. Misni berjanji  menemui warga di Pelabuhan Kijang Bintan, tempat nelayan menjual hasil tangkapan dan meneruskan tuntutan mereka ke pemerintah pusat. “Besok saya janji akan datang kesana bersama KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan).” Keesokan harinya nelayan kembali berkumpul di Pelabuhan Kijang. Dalam pertemuan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gurun Terkering di Bumi Di Tengah Benua Es, Sudah Kering Selama 2 Juta Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 08:20:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20081819/McMurdo-Dry-Valleys-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128070</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kalau diminta menebak di mana tempat terkering di Bumi, mungkin sebagian besar dari kita  akan menjawab Gurun Sahara di Afrika Utara,  atau mungkin Atacama, gurun gersang di pesisir barat Amerika Selatan yang sering disebut sebagai &#8220;tempat paling mirip Mars di Bumi&#8221;. Jawaban itu tentu masuk akal, tapi keliru. Keduanya memang kering, tapi tempat terkering yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/">Gurun Terkering di Bumi Di Tengah Benua Es, Sudah Kering Selama 2 Juta Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kalau diminta menebak di mana tempat terkering di Bumi, mungkin sebagian besar dari kita  akan menjawab Gurun Sahara di Afrika Utara,  atau mungkin Atacama, gurun gersang di pesisir barat Amerika Selatan yang sering disebut sebagai &#8220;tempat paling mirip Mars di Bumi&#8221;. Jawaban itu tentu masuk akal, tapi keliru. Keduanya memang kering, tapi tempat terkering yang sesungguhnya bukan ada di sabuk panas katulistiwa, bukan di hamparan pasir yang membakar telapak kaki, melainkan di ujung paling selatan planet ini, di benua yang justru dikenal sebagai lautan es: Antartika. Di sana, tersembunyi di balik barisan pegunungan yang menjulang, terdapat tiga lembah yang sudah tidak mengenal hujan selama hampir dua juta tahun. Bukan dua ratus tahun. Bukan dua puluh ribu tahun. Dua juta tahun. Ketika leluhur kita masih hidup berpindah-pindah di savana Afrika, lembah-lembah ini sudah kering. Dan sampai hari ini, kondisinya nyaris tidak berubah. Anomali di Tengah Benua Es Antartika adalah benua terbesar kelima di Bumi, menutupi sekitar 14 juta kilometer persegi, dan hampir seluruh permukaannya tertutup lapisan es yang di beberapa titik mencapai ketebalan 4.800 meter. Es itu bukan sekadar hamparan tipis, melainkan lapisan raksasa yang telah terakumulasi selama jutaan tahun. Maka wajar jika kita membayangkan Antartika sebagai tempat yang seragam: putih, beku, dan mati. Salah satu gletser yang mengapit McMurdo Dry Valleys — es ini berhenti tepat di tepi lembah, tidak pernah benar-benar masuk ke dalamnya. Di sinilah angin katabatik mengambil alih, menyublimasi setiap tetes kelembapan sebelum sempat menyentuh tanah. (Foto: U.S. Department of State/Public Domain) Kenyataannya tidak sesederhana itu. Di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ambu Halimun, Menjaga Habitat Owa Jawa dengan Ecoprint</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 05:39:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20052954/Kain-ecoprint-di-Basecamp-Ambu-Halimun-Foto_-Falahi-Mubarok-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128051</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Owa Jawa: Suara Perjuangan di Sisa-sisa Hutan Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Deretan kain ecoprint motif dedaunan tergantung rapi di sebuah rumah kayu di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di antara corak tersebut, tampak siluet owa jawa tercetak samar pada selembar kain putih. Ini penanda bahwa hutan tak hanya sekedar latar kehidupan warga, namun juga sumber inspirasi yang dijaga bersama. Pagi itu, rumah yang jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/">Ambu Halimun, Menjaga Habitat Owa Jawa dengan Ecoprint</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Deretan kain ecoprint motif dedaunan tergantung rapi di sebuah rumah kayu di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di antara corak tersebut, tampak siluet owa jawa tercetak samar pada selembar kain putih. Ini penanda bahwa hutan tak hanya sekedar latar kehidupan warga, namun juga sumber inspirasi yang dijaga bersama. Pagi itu, rumah yang jadi basecamp Ambu Halimun, dipenuhi aktivitas. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan dalam upaya menjaga kelestarian hutan Halimun dan kehidupan Hylobates moloch. Mirna Maharani (30), anggota Ambu Halimun, mengatakan dedaunan yang dulu dianggap gulma kini memiliki nilai penting. Tak hanya untuk kerajinan, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan alam. “Kalau ambil daun ya secukupnya saja. Seperlunya,” ujar ibu dua anak ini, Senin (11/5/2026). Kelompok ini terbentuk tahun 2020. Tujuannya sederhana, memberi ruang aktivitas bagi ibu rumah tangga di sekitar hutan Halimun. Warga menyadari lingkungan sekitar mereka kaya tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan motif alami pada kain. Hasilnya, mereka menemukan lebih dari 100 spesies tumbuhan yang bisa digunakan untuk ecoprint. Sebagian tanaman, kini sudah dibudidayakan sendiri oleh Ambu Halimun di kebun kecil mereka. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan/ecoprint di di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Cara pandang terhadap alam Bagi Mirna dan perempuan lain di Citalahab, perubahan terbesar bukan hanya soal penghasilan tambahan. Ada perubahan cara pandang mereka terhadap alam. Tanaman yang dulunya dianggap liar dan mengganggu, kini dirawat dan ditanam kembali. “Sekarang kami pelihara.”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konflik Agraria Petani Pakel vs  Perusahaan Perkebunan Tak Berkesudahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 02:42:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14174001/WhatsApp-Image-2026-05-14-at-10.31.15-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127779</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan petani dan warga Desa Pakel, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) memenuhi halaman  Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, Rabu (6/5/26). Kedatangan mereka sebagai bentuk solidaritas pada dua anggota Rukun Tani Sumberejo Pakel (RTSP), Suwarno dan Sagidin, yang kena gugat PT Bumi Sari Maju Sukses (BMS)  secara perdata.  Sebelumnya perusahaan perkebunan ini juga menggugat Harun, petani Desa Pakel, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/">Konflik Agraria Petani Pakel vs  Perusahaan Perkebunan Tak Berkesudahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan petani dan warga Desa Pakel, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) memenuhi halaman  Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, Rabu (6/5/26). Kedatangan mereka sebagai bentuk solidaritas pada dua anggota Rukun Tani Sumberejo Pakel (RTSP), Suwarno dan Sagidin, yang kena gugat PT Bumi Sari Maju Sukses (BMS)  secara perdata.  Sebelumnya perusahaan perkebunan ini juga menggugat Harun, petani Desa Pakel, miliaran rupiah. Melalui perkara nomor 306/Pdt.G/2025/PN Byw, BMS menggugat Suwarno membayar ganti rugi Rp500 juta. Sedangkan  Sagidin, perusahaan menuntut bayar Rp528 juta, sebagaimana perkara nomor: 305/Pdt.G/2025/PN Byw. Perusahan juga meminta pengadilan menyita harta benda kedua tergugat. Bagi warga Pakel, gugatan itu bukan sekadar perkara hukum biasa. “Kalau petani dituntut ratusan juta sampai rumahnya mau disita, ini bukan lagi soal hukum biasa. Ini cara membuat warga takut,” teriak  seorang petani yang ikut dalam aksi solidaritas di depan pengadilan. Dalam aksi solidaritas itu juga hadir kelompok tani dari Kaligedang, Kecamatan Ijen, Bondowoso. Mereka datang karena merasa mengalami nasib serupa yaitu konflik agraria, ketimpangan penguasaan tanah, dan ancaman kriminalisasi. Dalam gugatannya, BMS menuduh Suwarno dan Sagidin melakukan perbuatan melawan hukum karena memasuki area yang diklaim sebagai hak guna usaha (HGU) dan merusak  tanaman kopi maupun cengkih mereka. Tm pendamping hukum warga membantah tudingan itu. Ahmad Taufiq dari Tim Advokasi Untuk Kedaulatan Agraria (Tekad Garuda) menilai, konstruksi hukum gugatan perusahaan rapuh dan problematik sejak awal. “Perusahaan tidak memiliki legal standing yang kuat. Warga mengelola lahan untuk mempertahankan ruang hidup yang dirampas,” katanya kepada Mongabay. Menurut Taufiq, gugatan perusahaan justru mengabaikan fakta sejarah penguasaan tanah warga Pakel yang berlangsung jauh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Selundupan 760 Botol Merkuri ke Filipina, Aksi Bertahun-tahun Baru Terungkap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 17:31:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/19170113/Merkuri-1-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128030</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok gagalkan penyelundupan 760 botol merkuri ilegal ke Filipina, penghujung April lalu. Modusnya, peti kemas berisi merkuri pelaku laporkan sebagai tekstil. Komisaris Besar Victor Dean Mackbon,  Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengatakan, kasus ini terungkap di Pos Pemeriksaan Bea [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/">Menyoal Selundupan 760 Botol Merkuri ke Filipina, Aksi Bertahun-tahun Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok gagalkan penyelundupan 760 botol merkuri ilegal ke Filipina, penghujung April lalu. Modusnya, peti kemas berisi merkuri pelaku laporkan sebagai tekstil. Komisaris Besar Victor Dean Mackbon,  Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengatakan, kasus ini terungkap di Pos Pemeriksaan Bea dan KPU Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta Utara. Unit II Subdit IV Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok mendapati peti kemas tujuan Takasi Kin Hardware Trading di Room 369, Manila, Filipina. Temuan berawal dari pemeriksaan awal Bea Cukai yang menemukan ketidaksesuaian antara dokumen ekspor dengan muatan barang di dalam peti kemas. “Merkuri tersebut dikirim ke Filipina menggunakan dokumen kepabeanan yang dimanipulasi, sehingga muatannya seolah-olah berupa tekstil, pakaian, dan karpet,” kata Victor kepada Mongabay, Sabtu(16/5/26). Dalam penggeledahan itu, petugas menemukan 760 botol berisi cairan berwarna perak dengan label “Mercury Gold 1 kg.” Botol-botol itu tersimpan dalam selongsong karton dan terselip di antara 145 gulungan karpet. Modus pelaku ialah menyembunyikan merkuri di dalam gulungan karpet agar tak terdeteksi. Ratusan botol merkuri itu adalah milik tersangka berinisial MAL yang dipesan saudara AB, warga Filipina yang tinggal di Mani Forest, Davao. Berdasarkan hasil pengembangan penyidikan, MAL memperoleh merkuri dari tersangka H, sebagai penjual. Dari pengakuan para tersangka, praktik pengiriman merkuri ke Filipina sudah berlangsung sejak 2021. Dalam aksinya, MAL bertugas mencari sekaligus mengirimkan merkuri sesuai pesanan AB. Dari setiap kilogram penjualan merkuri, MAL memperoleh keuntungan sekitar Rp300.000, dengan omzet mencapai Rp2,7 juta per&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Energi Sampah  RDF di Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 13:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18195034/IMG_0728-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127985</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah jadi energi sedang jadi sorotan termasuk di Kalimantan Selatan. Walhi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengkritik bahan bakar sampah dengan teknologi refuse derived fuel (RDF) di PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) di Kotabaru. Perusahaan gunakan RDF ini sebagai salah satu upaya transisi energi mereka. Walhi menilai, pengelolaan sampah sebagai sumber energi ini hanyalah solusi palsu atasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/">Menyoal Energi Sampah  RDF di Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah jadi energi sedang jadi sorotan termasuk di Kalimantan Selatan. Walhi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengkritik bahan bakar sampah dengan teknologi refuse derived fuel (RDF) di PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) di Kotabaru. Perusahaan gunakan RDF ini sebagai salah satu upaya transisi energi mereka. Walhi menilai, pengelolaan sampah sebagai sumber energi ini hanyalah solusi palsu atasi masalah sampah, karena tidak menyelesaikan dari akarnya. Raden Rafiq, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalsel, mencatat, teknologi yang sama juga akan ada di Kota Banjarbaru dan Banjarmasin. Dia bilang, kalau kebutuhan sampah cacah untuk suplai RDF harus terpenuhi setiap hari, maka besaran volume sampah plastik akan membengkak. “Akibatnya, kondisi ini membuat RDF terkesan hanya menjadi solusi palsu yang diklaim mendukung transisi energi, tanpa benar-benar menyelesaikan persoalan sampah dari akarnya,” katanya. Pemerintah daerah, katanya, tidak selektif dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan penerima RDF. Terlebih, katanya, ITP pernah terlibat konflik agraria dan sosial dengan warga sekitar tanpa penyelesaian yang jelas, terutama pada 2004-2012. Kondisi ini akan menambah kompleksitas persoalan dalam rantai pengelolaan RDF.  Masalah, katanya, tidak hanya menyangkut aspek teknis pengelolaan sampah, juga berkaitan erat dengan aspek sosial dan tata kelola yang perlu perhatian serius. Proses pembakaran sampah pun hasilkan masalah, karena bahan utama plastik dari industri skala besar yang berisiko hasilkan emisi berbahaya seperti dioksin, furan, dan partikel halus PM 2.5. Zat ini, katanya, berisiko terhadap sistem pernapasan, memicu iritasi, alergi, hingga penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling berdampak pada kelompok rentan, seperti anak-anak. “Ancaman tersebut semakin besar ketika teknologi pengendalian emisi tidak optimal atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pakar Soroti Kebijakan Transisi Energi Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 07:19:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/09005631/kawasan-industtri-nikel-di-Sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128012</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para pakar hukum lingkungan menyoroti kebijakan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112/2022 soal Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Alih-alih menjadi instrumen percepatan energi bersih, regulasi ini mereka nilai menyimpan paradoks mendasar yang berpotensi menghambat transisi energi nasional. Mohamad Nasir,  Akademisi Hukum Sumber Daya Alam Universitas Balikpapan mengatakan, secara normatif, perpres ini lahir dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/">Para Pakar Soroti Kebijakan Transisi Energi Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para pakar hukum lingkungan menyoroti kebijakan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112/2022 soal Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Alih-alih menjadi instrumen percepatan energi bersih, regulasi ini mereka nilai menyimpan paradoks mendasar yang berpotensi menghambat transisi energi nasional. Mohamad Nasir,  Akademisi Hukum Sumber Daya Alam Universitas Balikpapan mengatakan, secara normatif, perpres ini lahir dengan semangat besar namun dalam pasal-pasal operasional justru membuka ruang luas bagi keberadaan PLTU captive berbasis batubara yang dibangun khusus untuk kebutuhan industri. Negara, katanya,  ingin berlari menuju energi bersih tetapi regulasi yang sama memberikan “karpet merah” pada energi fosil. “Kalau saya menyebutnya sebagai kebijakan yang paradoks. Tentu saja ini tidak konsisten,” katanya dalam diskusi “Menata Kembali Kebijakan Transisi Energi Nasional: Revisi Perpres 112 / 2022 Menurut Pandangan Ahli Hukum Lingkungan dan Perubahan Iklim” April lalu. Sektor industri nikel yang kerap muncul sebagai bagian dari ekosistem energi hijau global pun dalam situasi ironis. Dalam proses produksi sangat bergantung pada energi fosil terutama batubara. Malah makin kompleks ketika mengaitkan dengan komitmen politik tingkat tinggi. Dalam forum internasional seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Rio de Janeiro, Presiden Prabowo Subianto menyatakan,  Indonesia akan menutup seluruh PLTU pada 2040. Berbeda dengan perpres itu justru membuka peluang operasional PLTU captive hingga 2050. Perbedaan satu dekade ini menampakkan sinyal kebijakan yang saling bertabrakan. “Kepala negara sudah menyatakan 2040 akan menutup semua PLTU di Indonesia. Ternyata perpres ini justru sebaliknya membuka peluang bagi keberadaan PLTU itu sampai 2050,” ujar Nasir. Dia mengatakan,  kebijakan itu malah menampakkan tarik-menarik kepentingan. Misal, PLTU captive masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Persoalan Sampah, Ancaman Kesehatan dan Lingkungan di Jawa Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 06:46:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233546/PENCEMARAN-SAMPAH-PLASTIK-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128003</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, jawa, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah tidak hanya menimbulkan penyakit tetapi juga mengganggu ekosistem lingkungan. Adhimas Setyo Wicaksono, Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat, Universitas Surabaya, mengatakan sampah anorganik yang tidak mudah hancur dan tidak terkelola dengan baik dapat mengundang penyakit demam berdarah dan berbagi virus. Sedangkan sampah organik, meski hancur alami, namun dapat memunculkan penyakit iritasi dan gatal-gatal, bila tidak dipilah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/">Persoalan Sampah, Ancaman Kesehatan dan Lingkungan di Jawa Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah tidak hanya menimbulkan penyakit tetapi juga mengganggu ekosistem lingkungan. Adhimas Setyo Wicaksono, Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat, Universitas Surabaya, mengatakan sampah anorganik yang tidak mudah hancur dan tidak terkelola dengan baik dapat mengundang penyakit demam berdarah dan berbagi virus. Sedangkan sampah organik, meski hancur alami, namun dapat memunculkan penyakit iritasi dan gatal-gatal, bila tidak dipilah dari sumber asalnya. “Sampah yang ditumpuk dan berbau biasanya ada bakteri yang ikut terbang ke udara dan terhirup masyarakat,” jelasnya, Jumat (8/5/2026). Penyakit lain yang berpotensi muncul adalah leptosirosis. Bakteri atau virus yang dibawa tikus sebagai vektor ini, dapat mengancam kesehatan para pekerja pengumpul sampah. Gejelanya seperti demam. Selain itu, bahaya tetanus juga harus diwaspadai. Penyakit ini muncul di bambu atau besi berkarat, yang dibuang bercampur sampah. Pemakaian masker, sarung tangan karet, sepatu booth, dan pakaian khusus, dapat menjadi sarana mencegah risiko penyakit pada pekerja pengangkut sampah. “Dari sisi kedokteran, mereka harus diberi vaksinasi tetanus, untuk mencegah.” Pemilahan sampah harus menjadi kunci utama mengurangi timbunan sampah di rumah maupun di tempat pembuangan sementara. “Sampah organik dan anorganik, harus terpilah dari awal pengumpulan.” Tumpukan sampah plastik yang mencemari dasar Sungai Brantas, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Risiko pekerja pengangkut sampah Seniman (46), warga kampung Klumprik, RT 04 RW 02, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Surabaya, Jawa Timur, sudah 11 tahun menjadi penarik gerobak sampah. Tiga kali dalam seminggu, dia mengambil sampah di setiap rumah warga. Rendahnya pendapatan yang diterima, sekitar Rp1,3 juta, tidak sebanding dengan tingginya risiko yang mengancam, terutama kesehatan. “Seringnya gatal-gatal.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Tambang Emas Ilegal di Sumbar Terus Marak?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 04:04:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18090305/solok-tambang-emas3-Alat-berat-milik-penambang-emas-ilegal-sedang-mengeruk-emas-di-aliran-sungai-Pamong-besar-kecamatan-Sangir-Solok-selatan.-Foto-Vinolia.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127969</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas pertambangan emas ilegal di Sumatera Barat (Sumbar) sudah berlangsung lama hingga kini terus marak. Upaya penindakan selama ini nyaris tanpa hasil. Alih-alih setop, tambang emas ilegal terus meluas dan memakan banyak korban. Berdasarkan catatan Walhi Sumatera Barat, sedikitnya 48 orang meninggal dunia akibat peti sejak 2012-Mei 2026, termasuk insiden  Kamis (14/5/26). Jumlah ini adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/">Mengapa Tambang Emas Ilegal di Sumbar Terus Marak?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas pertambangan emas ilegal di Sumatera Barat (Sumbar) sudah berlangsung lama hingga kini terus marak. Upaya penindakan selama ini nyaris tanpa hasil. Alih-alih setop, tambang emas ilegal terus meluas dan memakan banyak korban. Berdasarkan catatan Walhi Sumatera Barat, sedikitnya 48 orang meninggal dunia akibat peti sejak 2012-Mei 2026, termasuk insiden  Kamis (14/5/26). Jumlah ini adalah yang mampu terpantau di media sosial. Ada kemungkinan angka sebenarnya jauh lebih besar atau lebih banyak. “Korban terus berjatuhan, sementara tambang ilegal tetap beroperasi secara terbuka menggunakan alat berat, merusak kawasan hutan lindung, mencemari sungai, dan menghancurkan daerah aliran sungai,” kata Tomi Adam, Direktur Eksekutif Walhi Sumbar kepada Mongabay. Dari pengamatannya, beberapa sungai besar di sejumlah wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) rusak, seperti DAS Batang Hari, Batahan, Pasaman, Indragiri, hingga Kampar. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menegaskan, peristiwa maut itu menjadi bukti kegagalan negara dalam melindungi keselamatan rakyat dan kelestarian lingkungan dari praktik peti. Selain itu, menegaskan lemahnya penegakan hukum secara serius. “Persoalan mematikan ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Sumatera Barat. Pada awal September 2024, kejadian serupa juga terjadi di Nagari Sungai Abu, Kabupaten Solok, yang menewaskan 15 korban jiwa,” kata  Adrizal, Kepala Divisi Advokasi LBH Padang. Dia meyakini, insiden serupa akan terus berulang sepanjang upaya penegakan hukum oleh aparat hanya menyasar pelaku di lapangan. Sementara aktor intelektual atau pemodal bebas melenggang. “Pada akhirnya, pembiaran ini memicu bahaya dan risiko yang lebih besar terhadap lingkungan serta masyarakat, baik berupa bencana ekologis yang sempat melumpuhkan berbagai titik di Sumatera akhir November lalu, maupun potensi menghadirkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mirip Ular tapi Bukan Ular, dan Matanya Bisa Berkedip</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 02:41:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/19023621/Common_slowworm_Anguis_fragilis-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127991</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tidak semua reptil bertubuh panjang tanpa kaki adalah ular. Salah satu contoh yang sering menimbulkan salah identifikasi adalah slow worm (Anguis fragilis) atau cacing lambat, sejenis kadal tanpa kaki yang secara penampilan memang menyerupai ular, tetapi secara taksonomi merupakan spesies kadal sejati dari famili Anguidae. Tubuhnya silindris, ditutupi sisik halus mengkilap berwarna cokelat, abu-abu, hingga kemerahan seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/">Mirip Ular tapi Bukan Ular, dan Matanya Bisa Berkedip</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tidak semua reptil bertubuh panjang tanpa kaki adalah ular. Salah satu contoh yang sering menimbulkan salah identifikasi adalah slow worm (Anguis fragilis) atau cacing lambat, sejenis kadal tanpa kaki yang secara penampilan memang menyerupai ular, tetapi secara taksonomi merupakan spesies kadal sejati dari famili Anguidae. Tubuhnya silindris, ditutupi sisik halus mengkilap berwarna cokelat, abu-abu, hingga kemerahan seperti tembaga. Pada beberapa individu, tampak garis tipis memanjang di sepanjang punggung. Perbedaan paling mendasar dan paling mudah diamati adalah kemampuan berkedip. Slow worm atau cacing lambat memiliki kelopak mata yang dapat digerakkan secara aktif, sesuatu yang tidak dimiliki ular sama sekali. Mata ular selalu terbuka dan hanya dilindungi oleh sisik transparan yang disebut brille. Selain kelopak mata, slow worm juga memiliki lidah yang berbentuk pipih dan bercabang, berbeda dari lidah ular yang lebih ramping dan sangat lentur. Perbedaan-perbedaan anatomi ini bukan sekadar detail kecil; semuanya mencerminkan jarak evolusi yang cukup jauh antara dua kelompok reptil yang berpenampilan serupa. Perilaku Reproduksi dan Termoregulasi Aktivitas slow worm atau cacing lambat meningkat pada musim kawin, yaitu periode peralihan suhu setelah musim dingin. Setelah keluar dari hibernasi yang berlangsung antara Oktober hingga Maret, reptil ini aktif mencari makan dan memulihkan kondisi tubuh. Jantan umumnya lebih banyak terlihat di awal musim semi, sementara betina lebih sering dijumpai pada musim panas ketika mereka sedang bunting. Di area perkebunan dan taman, mereka kerap ditemukan berkumpul di bawah tumpukan papan, batu, atau lembaran logam bekas. Dua ekor slow worm (Anguis fragilis) terekam di habitat alaminya di Rosis, Hérault, Prancis. Spesies ini tersebar luas di kawasan Eurasia dan terlindungi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Burung Migran di Pesisir Banda Aceh Perlahan Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 01:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/01/22081541/Koloni-Burung-Pantai-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127805</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekelompok burung biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) menyisir dataran tambak berlumpur di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh, Aceh. Kaki rampingnya melangkah dengan hati-hati sambil sesekali menusukkan paruh untuk mencari makan. Tak jauh dari situ, ada burung trinil kaki merah (Tringa totanus) tengah  mematuk-matuk lumpur basah, bergerak maju secara perlahan dan menyapu setiap area [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/">Burung Migran di Pesisir Banda Aceh Perlahan Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekelompok burung biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) menyisir dataran tambak berlumpur di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh, Aceh. Kaki rampingnya melangkah dengan hati-hati sambil sesekali menusukkan paruh untuk mencari makan. Tak jauh dari situ, ada burung trinil kaki merah (Tringa totanus) tengah  mematuk-matuk lumpur basah, bergerak maju secara perlahan dan menyapu setiap area untuk berburu mangsanya hingga sebelum matahari terbenam. Pesisir Banda Aceh berada di jalur migrasi East Asia-Australasian Flyway (EAAF), salah satu jalur terbang terbesar dan penting bagi banyak burung migran di dunia. Karena itu, kawasan pesisir Banda Aceh tidak pernah kosong dari kehadiran burung migran. Meski kini, ruang itu kian menyempit, hutan-hutan mangrove terus tergerus.  Heri Tarmizi, Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH), bilang,  pesisir Banda Aceh juga menjadi jalur akhir migrasi terutama bagi banyak burung dari tempat pembiakan di Siberia, Asia Utara untuk menghindari musim dingin.  Ketika  mangrove menghilang, rantai panjang perjalanan itu ikut terancam.  “Ketika mangrove tergerus, mereka tidak akan singgah lagi ke pesisir Banda Aceh karena tidak ada sumber makanan. Dampaknya bukan hanya kehilangan, burung-burung ini juga menjaga keasrian alam dengan perannya dan bunyi-bunyiannya. Jika tidak ada lagi, maka Kota Banda Aceh akan seperti kota mati,” katanya April lalu. Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman.  Kawasan mangrove ini tersebar di lima kecamatan di Kota Banda Aceh, meliputi Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Pesta Babi, Merauke, dan Ujian Kebijakan Publik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 17:41:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Benidiktus Hery Wijayanto*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/29004319/papua-food-estate-pusaka-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127981</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Masyarakat Adat Papua, termasuk di Merauke, tanah bukan sekadar ruang produksi. Bagi Masyarakat Adat Papua, tanah adalah ruang hidup, tempat identitas, relasi sosial, sejarah, dan warisan masa depan. Karena itu, ketika proyek pembangunan skala besar masuk ke satu wilayah, yang dipertaruhkan sesungguhnya bukan hanya angka produksi atau investasi, juga keberlanjutan cara hidup masyarakat yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/">Opini: Pesta Babi, Merauke, dan Ujian Kebijakan Publik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Masyarakat Adat Papua, termasuk di Merauke, tanah bukan sekadar ruang produksi. Bagi Masyarakat Adat Papua, tanah adalah ruang hidup, tempat identitas, relasi sosial, sejarah, dan warisan masa depan. Karena itu, ketika proyek pembangunan skala besar masuk ke satu wilayah, yang dipertaruhkan sesungguhnya bukan hanya angka produksi atau investasi, juga keberlanjutan cara hidup masyarakat yang telah lama bertaut dengan ruang itu. Film dokumenter Pesta Babi mengingatkan kita pada hal itu. Film ini tidak sekadar menampilkan potret keresahan masyarakat adat atau menyajikan kritik terhadap pembangunan. Ia membuka pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana sebuah kebijakan publik dirumuskan, dijalankan, dan memperoleh legitimasi di tengah masyarakat yang akan menanggung dampaknya. Sebagai seseorang yang bekerja cukup lama di bidang perkebunan dan terlibat dalam dinamika tata kelola perizinan sumber daya alam di Tanah Papua, saya memandang Pesta Babi penting terbaca bukan semata sebagai karya dokumenter, tetapi sebagai cermin untuk menilai kualitas kebijakan publik kita. Sebagian hutan di Papua Selatan, sudah berubah bentuk untuk PSN. Bagi Masyarakat Adat Papua, hutan itu tak sekadar pepohonan, tetapi tempat mereka bergantung hidup, dari segala keperluan pangan, obat-obatan sampai budaya ada di sana. Foto: Yayasan Pusaka Dalam konteks proyek strategis nasional (PSN) pangan di Merauke, Papua Selatan, perdebatan yang muncul sering sebagai pertentangan sederhana antara pembangunan dan penolakan masyarakat. Padahal,  persoalannya jauh lebih kompleks. Pertanyaannya,  bukan sekadar apakah proyek pangan perlu atau tidak, tetapi apakah proses kebijakan terrancang secara adil, partisipatif, dan sesuai konteks sosial-ekologis Papua. Dalam ilmu kebijakan publik terdapat pelajaran penting: kebijakan yang baik bukan hanya ditentukan oleh tujuan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 09:57:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18095126/pexels-pyae-phyo-aung-2155057942-34078646-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127975</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Antara tahun 1876 hingga 1879, dunia mengalami salah satu bencana iklim terbesar dalam sejarah modern. Sebuah peristiwa El Niño yang luar biasa kuat memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Australia. Tidak ada satu pun wilayah yang bisa menjadi penyangga bagi wilayah lain, karena semua menghadapi krisis pada waktu yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/">Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Antara tahun 1876 hingga 1879, dunia mengalami salah satu bencana iklim terbesar dalam sejarah modern. Sebuah peristiwa El Niño yang luar biasa kuat memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Australia. Tidak ada satu pun wilayah yang bisa menjadi penyangga bagi wilayah lain, karena semua menghadapi krisis pada waktu yang hampir bersamaan. Akibatnya, ini bukan sekadar gagal panen di satu sudut dunia, melainkan sebuah krisis pangan global yang tersinkronisasi, yang berujung pada kematian antara 30 hingga 60 juta jiwa dalam kurun waktu kurang dari empat tahun. Para ilmuwan kini menyebut peristiwa ini sebagai salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah. Rekonstruksi iklim menggunakan data dari terumbu karang dan cincin pertumbuhan pohon menunjukkan bahwa intensitas El Niño 1877-1878 setara dengan dua peristiwa El Niño paling kuat di era modern, yaitu 1997/98 dan 2015/16. Namun ada satu perbedaan mendasar: dunia pada 1877 tidak memiliki sistem peringatan dini, tidak ada jaringan bantuan internasional yang terorganisasi, dan bahkan tidak ada pemahaman ilmiah yang memadai tentang apa yang sedang terjadi. Pemerintah-pemerintah di berbagai belahan dunia bereaksi terlambat, sering kali dengan kebijakan yang justru memperburuk keadaan. Hasilnya adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah dicatat oleh sejarah, dan ironisnya, salah satu yang paling jarang dibahas. Mengapa El Niño 1877 Begitu Dahsyat? El Niño adalah bagian dari siklus iklim yang disebut El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Dalam kondisi normal, angin pasat di Samudra Pasifik bertiup dari timur ke barat, mendorong air hangat ke arah Asia dan Australia, sementara wilayah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kematian Gajah dan Harimau, Amankah Koridor Satwa di Bentang Alam Seblat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 08:30:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18064833/Gajah-Seblat2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127950</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bentang Alam Seblat resmi menyandang status Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), akhir 2017 lalu. Koridor ini diharapkan dapat menjamin kehidupan gajah sumatera serta satwa lainnya, termasuk harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) –yang berada di luar kawasan konservasi. “Koridor gajah adalah jalur hidup satwa. Kalau koridor terputus, maka populasi akan terancam. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/">Kematian Gajah dan Harimau, Amankah Koridor Satwa di Bentang Alam Seblat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bentang Alam Seblat resmi menyandang status Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), akhir 2017 lalu. Koridor ini diharapkan dapat menjamin kehidupan gajah sumatera serta satwa lainnya, termasuk harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) –yang berada di luar kawasan konservasi. “Koridor gajah adalah jalur hidup satwa. Kalau koridor terputus, maka populasi akan terancam. Ini tanggung jawab kita semua untuk menjaganya,” kata Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, saat mengunjungi Bengkulu pada akhir Desember 2025 lalu. Ironisnya, kematian gajah dan harimau di Bentang Alam Seblat terus berulang. Berdasarkan data Koalisi Selamatkan Bentang Seblat, sejak KEE diresmikan, sekitar tujuh ekor gajah sumatera dan satu ekor harimau sumatera ditemukan mati. Kasus matinya gajah ini, termasuk yang terbaru induk betina dan anak serta satu harimau sumatera (jantan, umur dua tahun)– yang dilaporkan pada Kamis (30/4/2026). “Itu baru yang terekam, jumlah sesungguhnya sangat mungkin lebih besar, mengingat keterbatasan pemantauan di lapangan,” tulis Koalisi Bentang Alam Seblat dalam rilisnya, Jumat (1/5/2026). Koalisi ini terdiri Kanopi Hijau Indonesia, Auriga Nusantara, Genesis Bengkulu, Lingkar Inisiatif Indonesia, dan Save Gajah Seblat. Bentang Alam Seblat merupakan habitat alami gajah sumatera. Foto: Instagram#savegajahseblat Iswadi, Ketua Lingkar Inisiatif Indonesia menambahkan, untuk kematian harimau, yang ditemukan secara lansung memang satu individu. “Tetapi indikasi harimau mati terkena jerat pemburu setidaknya ada 5 kematian,” jelasnya kepada Mongabay Indonesia, Senin (18/5/2026). Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa harimau sudah mati sejak 5–6 hari sebelum ditemukan. Sementara, dua gajah sudah mengalami pembusukan lanjut, dan diperkirakan sudah mati 8–10 hari. Iding Achmad Haidir, Ketua Forum HarimauKita (FHK),&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>