<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?post_type=post&#038;byline=wahyu-chandra" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/wahyu-chandra/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 08 Mar 2026 21:19:18 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>
				<item>
					<title>Kerbau Rawa, Perenang Tangguh dari Asia Tenggara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/08/kerbau-rawa-perenang-tangguh-dari-asia-tenggara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/08/kerbau-rawa-perenang-tangguh-dari-asia-tenggara/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mar 2026 11:00:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anton Wisuda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/08090353/kerbau-rawa-loncat-dari-kalang-ke-air-rawa-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125472</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kalimantan, Lahan Basah, pangan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagai negara yang dua per tiga wilayahnya perairan, Indonesia mempunyai daerah-daerah atau kawasan hunian yang berdiri atau terbentuk di perairan. Selain diisi oleh peradaban manusia, kawasan itu juga dihuni flora dan fauna endemik yang beradaptasi secara fisiologis dengan habitat setempat. Salah satunya adalah wilayah rawa Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, dengan Hadangan Kalang atau kerbau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/kerbau-rawa-perenang-tangguh-dari-asia-tenggara/">Kerbau Rawa, Perenang Tangguh dari Asia Tenggara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagai negara yang dua per tiga wilayahnya perairan, Indonesia mempunyai daerah-daerah atau kawasan hunian yang berdiri atau terbentuk di perairan. Selain diisi oleh peradaban manusia, kawasan itu juga dihuni flora dan fauna endemik yang beradaptasi secara fisiologis dengan habitat setempat. Salah satunya adalah wilayah rawa Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, dengan Hadangan Kalang atau kerbau rawanya (Bubalus bubalis carabauesis). “Kerbau rawa ini endemik Asia dan banyak terdapat di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Myanmar. Mereka beradaptasi secara fisiologis dengan habitat atau tempat hidupnya” jelas Yude Maulana Yusuf, Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak, Sigoronggorong, kepada Mongabay (7/3/2026). Kerbau rawa tidak hanya dikenal sebagai perenang tangguh tetapi juga penyelam hebat. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Dalam buku “Profil Kerbau Rawa, Ternak Endemik Kalimantan Selatan” karya Neni Widaningsih dan kolega (2023), dijelaskan bahwa kerbau ada dua jenis, yaitu kerbau sungai dan kerbau rawa. Kerbau rawa Kalimantan Selatan telah beradaptasi secara fisiologis sedemikian rupa, sehingga mempunyai kemampuan berenang cukup tangguh. Daya jelajah airnya bisa mencapai 15 km per hari. Namun, di Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir, Hulu Sungai Utara, kerbau rawa hanya berenang sejauh 5 km per hari dan menyelam sekitar 1-2 menit. “Kerbau rawa sangat suka berendam. Tujuannya, untuk menurunkan temperatur tubuhnya. Penyerapan panas terjadi karena warna kulitnya yang hitam,” jelas Yude. Kerbau rawa beradaptasi secara fisiologis dengan habitat atau tempat hidupnya. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Di Desa Tampakang, kerbau rawa dinamakan kerbau kalang karena dipelihara di kalang atau kandang, yang dibuat dari gelondongan kayu di atas rawa.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/kerbau-rawa-perenang-tangguh-dari-asia-tenggara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/08/kerbau-rawa-perenang-tangguh-dari-asia-tenggara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Pelestari Obat Hutan Batin Sembilan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/08/para-perempuan-pelestari-obat-hutan-suku-batin-ix/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/08/para-perempuan-pelestari-obat-hutan-suku-batin-ix/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mar 2026 09:48:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Elviza Diana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/08093151/Gendum-untuk-upacara-adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125476</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, Masyarakat Adat, sawit, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sore itu Yunani (40) berjalan cepat menuju hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya di Simpang Macan Luar, Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi. Suaminya sedang meriang. Dengan sebilah parang kecil di tangan, perempuan dari komunitas Batin Sembilan itu mencari pasak bumi di dalam hutan. Akar tanaman itu akan direbus malam ini sebagai obat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/para-perempuan-pelestari-obat-hutan-suku-batin-ix/">Para Perempuan Pelestari Obat Hutan Batin Sembilan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sore itu Yunani (40) berjalan cepat menuju hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya di Simpang Macan Luar, Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi. Suaminya sedang meriang. Dengan sebilah parang kecil di tangan, perempuan dari komunitas Batin Sembilan itu mencari pasak bumi di dalam hutan. Akar tanaman itu akan direbus malam ini sebagai obat penurun panas. Bagi Yunani dan masyarakat adat Batin Sembilan, hutan bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga apotek keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pasak bumi yang diperolehnya, dia kupas sebagian akarnya tanpa diambil seluruhnya. Yunani tahu betul cara memanen tanpa merusak pohon. “Kalau untuk sumber obat-obatan, pokoknya obat-obatnya masih melimpah di sini.” sebut Yunani. Baginya hutan bukan hanya sebagai ladang nafkah, tetapi juga apotek keluarga. Hutan yang dia maksud adalah bagian dari kawasan Hutan Harapan yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia. Di dalamnya, kelompok Yunani mendapat hak kelola melalui skema kemitraan kehutanan. Yunani dan keluarganya adalah anggota Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan. Mereka adalah warga adat yang sudah bergenerasi mendiami wilayah DAS Batanghari. Suku ini adalah salah satu rumpun suku asli Melayu Kuno yang ada di Jambi. Dalam tradisi lisan, komunitas ini merupakan keturunan tokoh leluhur yang menurunkan sembilan kelompok yang menghuni wilayah sembilan sungai (batin), tempat mereka sejak itu bermukim. “Saya anggota Masyarakat Batin Sembilan sekaligus Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo. KTH ini 90 persen anggotanya adalah perempuan,“ ujarnya. Karena anggotanya didominasi perempuan, kelompok ini menjadi unik. Melalui skema kemitraan kehutanan, KTH Maju Besamo mengelola 399 hektare hutan secara komunal.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/para-perempuan-pelestari-obat-hutan-suku-batin-ix/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/08/para-perempuan-pelestari-obat-hutan-suku-batin-ix/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Membaca Perempuan Rimba Dalam Kacamata Interseksionalitas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/08/opini-membaca-perempuan-rimba-dalam-kacamata-interseksionalitas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/08/opini-membaca-perempuan-rimba-dalam-kacamata-interseksionalitas/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mar 2026 08:10:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yael Stefany*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/09/22044311/Anak-Orang-Rimba-di-sawit-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125466</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional dengan berbagai tema kesetaraan, kepemimpinan, dan pemberdayaan perempuan. Di ruang-ruang kota, terselenggara diskusi, kampanye digital, dan capaian perempuan. Tak begitu di komunitas-komunitas adat, seperti Komunitas Adat di Jambi, perempuan Orang Rimba menjalani realitas jauh dari narasi perayaan. Mereka masih berjalan menyusuri tanah-tanah sisa untuk mencari berondolan sawit, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/opini-membaca-perempuan-rimba-dalam-kacamata-interseksionalitas/">Opini: Membaca Perempuan Rimba Dalam Kacamata Interseksionalitas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional dengan berbagai tema kesetaraan, kepemimpinan, dan pemberdayaan perempuan. Di ruang-ruang kota, terselenggara diskusi, kampanye digital, dan capaian perempuan. Tak begitu di komunitas-komunitas adat, seperti Komunitas Adat di Jambi, perempuan Orang Rimba menjalani realitas jauh dari narasi perayaan. Mereka masih berjalan menyusuri tanah-tanah sisa untuk mencari berondolan sawit, mengurus anak dalam kondisi sanitasi terbatas. Juga hidup dalam ketidakpastian ruang karena hutan yang dulu jadi rumah mereka kini habis secara drastis. Pengalaman perempuan Orang Rimba mengajarkan,  ketidakadilan tak pernah tunggal. Ia berlapis dan saling menguatkan. Untuk membaca situasi ini, pendekatan gender saja tidak cukup. Kita perlu perspektif interseksionalitas, sebuah konsep yang diperkenalkan Kimberlé Crenshaw untuk menjelaskan bagaimana diskriminasi bekerja melalui perpotongan identitas—gender, ras, kelas, dan posisi sosial. Interseksionalitas menolak cara pandang yang memisahkan pengalaman menjadi kategori-kategori terpisah. Seorang perempuan tak hanya mengalami seksisme; dia mungkin juga mengalami diskriminasi karena etnisitasnya, kemiskinannya, atau status hukumnya. Dalam konteks Indonesia, perempuan adat berada di simpul berbagai bentuk marginalisasi: sebagai perempuan dalam struktur patriarki, sebagai anggota komunitas adat yang sering dalam posisi “terbelakang.” Juga sebagai kelompok yang rentan kehilangan ruang hidup akibat ekspansi industri ekstraktif. Di Jambi, perubahan lanskap ekologis berlangsung cepat dalam dua dekade terakhir. Hutan yang menjadi ruang hidup Orang Rimba beralih fungsi oleh konsesi perkebunan sawit dan hutan tanaman industri. Jalan-jalan produksi membelah kawasan yang dulu menjadi jalur jelajah berburu dan meramu. Ruang gerak menyempit, dan sistem hidup yang berbasis hutan pun perlahan hilang. Pemukiman Orang Rimba di Pelakar Jaya. Pemukiman Orang Rimba di Desa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/opini-membaca-perempuan-rimba-dalam-kacamata-interseksionalitas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/08/opini-membaca-perempuan-rimba-dalam-kacamata-interseksionalitas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Meong, Kucing Liar Terkecil di Dunia Ini Mengeluarkan Suara Kicauan Seperti Burung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/08/bukan-meong-kucing-liar-terkecil-di-dunia-ini-mengeluarkan-suara-kicauan-seperti-burung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/08/bukan-meong-kucing-liar-terkecil-di-dunia-ini-mengeluarkan-suara-kicauan-seperti-burung/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mar 2026 04:55:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/08044812/original-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125461</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Menjelajahi kekayaan hayati Amerika Selatan sering kali membawa kita pada penemuan spesies yang menantang logika umum tentang dunia satwa. Salah satu yang paling menarik perhatian para naturalis adalah keberadaan kucing liar yang secara fisik menyerupai macan tutul kerdil namun memiliki suara yang lebih mirip penghuni dahan pohon. Kehadiran satwa unik ini menjadi bukti betapa adaptasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/bukan-meong-kucing-liar-terkecil-di-dunia-ini-mengeluarkan-suara-kicauan-seperti-burung/">Bukan Meong, Kucing Liar Terkecil di Dunia Ini Mengeluarkan Suara Kicauan Seperti Burung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Menjelajahi kekayaan hayati Amerika Selatan sering kali membawa kita pada penemuan spesies yang menantang logika umum tentang dunia satwa. Salah satu yang paling menarik perhatian para naturalis adalah keberadaan kucing liar yang secara fisik menyerupai macan tutul kerdil namun memiliki suara yang lebih mirip penghuni dahan pohon. Kehadiran satwa unik ini menjadi bukti betapa adaptasi evolusi dapat menciptakan karakteristik yang sangat spesifik untuk bertahan hidup di lingkungan yang menantang. Di hutan hujan Valdivian yang membentang di Chile dan sebagian Argentina, hidup seekor kucing liar mungil bernama güiña atau kodkod yang memiliki nama ilmiah . Banyak peneliti mengenalnya sebagai kucing liar terkecil di belahan bumi barat dan salah satu yang paling kecil di dunia, dengan ukuran yang bahkan sering kali lebih kecil daripada kucing rumahan pada umumnya. Karena ukurannya yang sangat ringkas tersebut, satwa ini sering kali luput dari pandangan mata manusia dan hanya bisa terdeteksi melalui teknologi pemantauan jarak jauh di pedalaman hutan yang rapat. Keunikan Fisik dan Suara yang Menipu Ukuran tubuh kucing ini memang sangat mungil dengan berat rata-rata hanya berkisar antara 2 hingga 2,5 kilogram saja. Panjang tubuhnya yang hanya sekitar 40 sampai 50 sentimeter membuat gerakannya sangat gesit saat menyelinap di antara semak belukar yang padat. Tubuhnya dipenuhi bintik hitam dengan latar belakang warna cokelat atau abu-abu, sementara wajahnya sering kali terlihat sangat mirip dengan anak cheetah karena pola garis dan tatapan matanya yang tajam namun anggun. @natgeo Sound up to hear the smallest (and cutest) wildcat in the Americas #NatGeoTikTok ♬ original sound &#8211; National&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/bukan-meong-kucing-liar-terkecil-di-dunia-ini-mengeluarkan-suara-kicauan-seperti-burung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/08/bukan-meong-kucing-liar-terkecil-di-dunia-ini-mengeluarkan-suara-kicauan-seperti-burung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Usulan Penggabungan RUU Perubahan Iklim dan UU Lingkungan Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/08/menyoal-usulan-penggabungan-ruu-perubahan-iklim-dan-uu-lingkungan-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/08/menyoal-usulan-penggabungan-ruu-perubahan-iklim-dan-uu-lingkungan-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mar 2026 02:58:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/05/22050757/Falahi-Mubarok-Banjir-Bandang-di-Pantura-Lamongan-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125458</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rancangan Undang-undang RUU Pengelolaan Perubahan Iklim (RUU-PPI) masuk program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2026 tetapi  Badan Legislatif (Baleg) DPR mengusulkan pembahasan rancangan UU  itu gabung dengan revisi UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Usulan ini jadi perdebatan. Bob Hasan, Ketua Baleg DPR mengatakan, penggabungan kedua UU  ini usulan Komisi XII DPR dengan pertimbangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/menyoal-usulan-penggabungan-ruu-perubahan-iklim-dan-uu-lingkungan-hidup/">Menyoal Usulan Penggabungan RUU Perubahan Iklim dan UU Lingkungan Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rancangan Undang-undang RUU Pengelolaan Perubahan Iklim (RUU-PPI) masuk program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2026 tetapi  Badan Legislatif (Baleg) DPR mengusulkan pembahasan rancangan UU  itu gabung dengan revisi UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Usulan ini jadi perdebatan. Bob Hasan, Ketua Baleg DPR mengatakan, penggabungan kedua UU  ini usulan Komisi XII DPR dengan pertimbangan perlu kehati-hatian dalam penataan regulasi agar tidak terjadi fragmentasi norma. Apalagi, isu perubahan iklim berkaitan dengan lingkungan hidup. Dia khawatir pembentukan UU baru yang substansinya beririsan dengan regulasi lama akan menimbulkan dualisme norma dan tantangan dalam implementasi. “Penggabungan proses legislasi ini direncanakan menjadi UU Perlindungan Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim,” katanya dalam Rapat Pleno RUU Pengelolaan Perubahan Iklim, awal Februari lalu. Dalam kesempatan lain, Ratna Juwita Sari, Anggota Komisi XII DPR Fraksi PKB, menyebut, penggabungan kedua UU  itu masih terjadi tarik ulur. Dia berpendapat, RUU Perubahan Iklim perlu pisah dengan UU Pengelolaan Lingkungan Hidup. “Niat kami tetap teguh, karena itu dua hal yang sangat berbeda. Ini menjadi isu khusus, karena melihat bagaimana ancaman climate change ini sangat nyata, dan merugikan kaum mustad&#8217;afin (termarjinalkan),” katanya  dalam sarasehan RUU Perubahan Iklim inisiasi Research Center for Climate Change Universitas Indonesia, di Depok, Jawa Barat, Jumat (27/2/26). RUU Perubahan Iklim,  mempunyai dua pendekatan utama, yakni, mitigasi dan adaptasi. Menurut dia, mitigasi berupa pengendalian sumber emisi dari pelbagai sektor, seperti energi dan industri. Sedang adaptasi, berkaitan dengan perilaku sosial, ketahanan masyarakat, serta kesiapan ekonomi dalam menghadapi perubahan iklim. Adaptasi iklim di tengah masyarakat tak mudah, membutuhkan jangka waktu panjang. Apalagi,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/08/menyoal-usulan-penggabungan-ruu-perubahan-iklim-dan-uu-lingkungan-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/08/menyoal-usulan-penggabungan-ruu-perubahan-iklim-dan-uu-lingkungan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Hasil Kebun sampai Madu Wadas Tak Seperti Dulu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ketika-hasil-kebun-sampai-madu-wadas-tak-seperti-dulu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ketika-hasil-kebun-sampai-madu-wadas-tak-seperti-dulu/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 20:04:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riza Salman*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011259/Wadas-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125447</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi warga Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah (Jateng),  tanaman perkebunan bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghidupan yang bisa mereka wariskan lintas generasi. Ketika tambang andesit datang, mengubah kebun dan lahan pertanian produktif jadi kolam-kolam galian, sumber kehidupan pun terganggu. Yani, perempuan 45 tahun itu lahir dan tumbuh besar di Wadas, mengenyam pendidikan hingga  SMP. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/ketika-hasil-kebun-sampai-madu-wadas-tak-seperti-dulu/">Ketika Hasil Kebun sampai Madu Wadas Tak Seperti Dulu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi warga Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah (Jateng),  tanaman perkebunan bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghidupan yang bisa mereka wariskan lintas generasi. Ketika tambang andesit datang, mengubah kebun dan lahan pertanian produktif jadi kolam-kolam galian, sumber kehidupan pun terganggu. Yani, perempuan 45 tahun itu lahir dan tumbuh besar di Wadas, mengenyam pendidikan hingga  SMP. Dia tidak sanggup melanjutkan ke jenjang SMA karena jarak terlalu jauh. Rumahnya di pelosok; di lembah sempit  antara kaki-kaki pegunungan terjal berlekuk-lekuk, bertanah subur. Dia menikah ketika berumur 17 tahun. Dari pernikahan, Yani menjadi ibu dari tiga anak dan nenek bagi beberapa cucu. Tak ada pilihan lain selain hidup menua membantu suami mengelola hasil bertani sawah dan berkebun. Sebagian dari hasil panen dia konsumsi, sisanya  jual. “Tapi sejak konflik; (pohon) petai dan durian itu sudah tidak berbuah lagi,&#8230;pohon-pohon nira ditebang, sudah tidak mengeluarkan air,” katanya menunjuk satu area tempat tumbuh menjulang tanaman-tanaman itu, tepat di seberang halaman rumahnya. Dia khawatir bila nanti sumber lauk itu gagal berbuah dalam jangka panjang, berdampak buruk terhadap pemenuhan nutrisi mereka sekeluarga, termasuk tiga cucunya. Beberapa meter dari pohon petai dan durian itu,  sungai kecil mengalir deras, hujan membuat air berubah keruh. Di sini,  banyak anak sungai yang menjadi sumber air bersih utama warga. Sayangnya, belakangan semua keruh. Bahkan salah satu penuh belatung. Situasi mulai warga rasakan sejak pembukaan lahan tambang andesit menggunakan peledak dengan jumlah  tak terhitung. Saking seringnya, ledakan menjadi lumrah sekaligus penanda petaka yang lebih sulit diprediksi akan dampaknya di kemudian hari. Hingga kini, aduan-aduan mereka tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/ketika-hasil-kebun-sampai-madu-wadas-tak-seperti-dulu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ketika-hasil-kebun-sampai-madu-wadas-tak-seperti-dulu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Penyerahan Kucing Kuwuk di Jawa Timur Meningkat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/07/kasus-penyerahan-kucing-kuwuk-di-jawa-timur-meningkat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/07/kasus-penyerahan-kucing-kuwuk-di-jawa-timur-meningkat/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 11:00:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/07080019/Kucing-kuwuk-hasil-rescue-Edukasi-Cakra-yang-kemudian-diserahkan-ke-BBKSDA-Jawa-Timur-Dok_-Edukasi-Cakra1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125454</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasus penyerahan kucing kuwuk dari warga ke BBKSDA Jawa Timur, menunjukkan peningkatan dua tahun terakhir. Deviana Prasindy, Dokter Hewan Ahli Pertama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, menjelaskan sepanjang 2024 pihaknya menerima 5 individu kucing kuwuk. Namun, pada 2025 angka tersebut meningkat menjadi 17 individu. “Sekitar 70 persen yang kami terima berupa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/kasus-penyerahan-kucing-kuwuk-di-jawa-timur-meningkat/">Kasus Penyerahan Kucing Kuwuk di Jawa Timur Meningkat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasus penyerahan kucing kuwuk dari warga ke BBKSDA Jawa Timur, menunjukkan peningkatan dua tahun terakhir. Deviana Prasindy, Dokter Hewan Ahli Pertama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, menjelaskan sepanjang 2024 pihaknya menerima 5 individu kucing kuwuk. Namun, pada 2025 angka tersebut meningkat menjadi 17 individu. “Sekitar 70 persen yang kami terima berupa anakan,” jelasnya, awal Februari 2026. Lonjakan hampir tiga kali lipat ini jadi alarm tersendiri. Walau terdengar kecil dibandingkan satwa liar lain, namun bagi spesies karnivora kecil seperti kucing kuwuk, kondisi ini cukup signifikan untuk menunjukkan perubahan di lapangan. Dikenal dengan nama ilmiah Prionailurus bengalensis, kucing kuwuk merupakan kucing liar yang persebaranya cukup luas di Asia, termasuk Indonesia. Jenis yang disebut juga macan akar ini, menempati habitat pinggiran hutan hingga areal perkebunan yang berbatasan dengan permukiman. Secara ekologis, kucing kuwuk punya daya adaptasi cukup baik. Kucing kuwuk ini hasil penyelamatan yang kemudian diserahkan ke BBKSDA Jawa Timur. Foto: Dok. Lembaga Edukasi Cakra Anakan tanpa induk Deviana menyebut, pada 2025, selain mayoritas kasus penyerahan anakan tanpa induk, ada juga hasil penegakan hukum Polda Jawa Timur. Polanya relatif seragam. Warga menemukan seekor atau beberapa anak kucing liar berdiam diri di kebun, pekarangan, atau semak-semak dekat rumah. Induknya tak terlihat. Setelah ditunggu cukup lama tanpa tanda-tanda kehadiran sang induk, warga kemudian melapor dan menyerahkannya ke petugas. Menurut dia, perilaku ini sebenarnya bagian dari siklus alami kucing kuwuk. Induk biasanya membuat sarang di lokasi yang dianggapnya aman, lalu meninggalkan anaknya sementara waktu untuk cari makan. “Seringkali masyarakat mengira anakan itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/kasus-penyerahan-kucing-kuwuk-di-jawa-timur-meningkat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/07/kasus-penyerahan-kucing-kuwuk-di-jawa-timur-meningkat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Masyarakat Adat Bicoli, Penjaga Alam Halmahera Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/07/cerita-masyarakat-adat-bicoli-penjaga-alam-halmahera-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/07/cerita-masyarakat-adat-bicoli-penjaga-alam-halmahera-timur/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 08:08:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230250/Kawasan-KArst-di-Bicoli-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125443</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para pemuka adat Kesangajian Bicoli berkumpul untuk menghadiri pelantikan dan pengukuhan struktur Masyarakat Adat Sangaji Bicoli, Selasa (21/1/26). Dengan mengenakan pakaian adat yang menandakan jabatan dan peran masing-masing, mereka resmi dilantik sebagai bagian dari struktur adat Kesangajian Bicoli yang berada di bawah Kesultanan Tidore. Sultan Tidore, Husein Sjah memimpin langsung prosesi pelantikan untuk tiga struktur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/cerita-masyarakat-adat-bicoli-penjaga-alam-halmahera-timur/">Cerita Masyarakat Adat Bicoli, Penjaga Alam Halmahera Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para pemuka adat Kesangajian Bicoli berkumpul untuk menghadiri pelantikan dan pengukuhan struktur Masyarakat Adat Sangaji Bicoli, Selasa (21/1/26). Dengan mengenakan pakaian adat yang menandakan jabatan dan peran masing-masing, mereka resmi dilantik sebagai bagian dari struktur adat Kesangajian Bicoli yang berada di bawah Kesultanan Tidore. Sultan Tidore, Husein Sjah memimpin langsung prosesi pelantikan untuk tiga struktur adat itu, yakni,   Kapita, Bobato, dan Gimalaha. Ketiganya berada di bawah Sangaji Bicoli yang membawahi wilayah adat di Kecamatan Maba Selatan dan Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur. Selain prosesi pengukuhan, ada juga sesi diskusi tentang masa depan masyarakat adat serta upaya menjaga sumber daya alam, baik yang ada di darat maupun laut. Kegiatan ini melibatkan masyarakat adat dari sembilan desa di Maba Selatan. Forum serupa pernah digelar pada 27–28 Desember 2024 di Balai Desa Wayamli, Kecamatan Maba Tengah atas fasilitasi LSM lokal Fala Lamo yang tiga tahun terakhir mendampingi masyarakat memetakan potensi perikanan, kehutanan, serta sosial budaya di wilayah Maba Selatan dan sekitarnya. Pengukuhan para pemangku jabatan struktur masyarakat adat Kesangajian Bicoli oleh Sultan Tidore Husain Sjah. Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia. Dalam kesempatan itu, Sultan Tidore Husein Sjah, didampingi Jojau Kesultanan Tidore Ishak Naser, berpesan agar para pemangku adat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. “Amanah yang diberikan tidak boleh dikhianati sebagai tugas dan tanggung jawab,” katanya. Dia mengatakan, masyarakat adat harus berani bersuara jika melihat eksploitasi sumber daya alam yang merusak lingkungan. “Kalau ada masalah terkait investasi dan perusakan alam, sampaikan juga ke media bahwa ada tambang yang merusak lingkungan. Sampaikan bahwa alam tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/cerita-masyarakat-adat-bicoli-penjaga-alam-halmahera-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/07/cerita-masyarakat-adat-bicoli-penjaga-alam-halmahera-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilmuwan Temukan Spesies yang Hilang Sejak Zaman Es di Pedalaman Hutan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 03:24:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/07032158/0e469cce22b7349f3366b2930d8295c3-768x485.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125434</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bentang alam hutan hujan tropis di Semenanjung Vogelkop (Kepala Burung), Papua Barat Daya, baru saja mengungkap rahasia besar yang tersimpan selama ribuan tahun. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Records of the Australian Museum berjudul Found alive after 6,000 years: modern records of an ‘extinct’ Papuan marsupial, Dactylonax kambuayai (Marsupialia: Petauridae) mengonfirmasi keberadaan dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/">Ilmuwan Temukan Spesies yang Hilang Sejak Zaman Es di Pedalaman Hutan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bentang alam hutan hujan tropis di Semenanjung Vogelkop (Kepala Burung), Papua Barat Daya, baru saja mengungkap rahasia besar yang tersimpan selama ribuan tahun. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Records of the Australian Museum berjudul Found alive after 6,000 years: modern records of an ‘extinct’ Papuan marsupial, Dactylonax kambuayai (Marsupialia: Petauridae) mengonfirmasi keberadaan dua spesies marsupial yang sebelumnya hanya dianggap sebagai catatan fosil. Temuan ini dikategorikan sebagai Lazarus taxon. Sebuah istilah yang merujuk pada spesies yang muncul kembali dalam keadaan hidup setelah sebelumnya hanya dikenal dari sisa-sisa material purba. Kedua hewan ini merupakan penyintas dari masa transisi pasca Zaman Es yang sempat diyakini telah punah dari muka bumi sekitar 6.000 hingga 7.500 tahun yang lalu. Hilangnya jejak mereka dalam catatan fosil diduga kuat dipicu oleh dampak jangka panjang dari perubahan iklim global yang drastis, terutama setelah peristiwa pendinginan bumi cepat atau Osilasi Misox yang terjadi sekitar 8.200 tahun lalu akibat pencairan massal gletser sisa Zaman Es. Kusu Kerdil dengan Jari yang Luar Biasa Spesies pertama adalah kusu kerdil jari panjang atau pygmy long-fingered possum (Dactylonax kambuayai). Hewan mungil ini memiliki ukuran tubuh sekitar 17,6 sentimeter dengan ekor sepanjang 18 sentimeter. Secara visual, kepalanya memiliki corak garis hitam dan putih yang tegas, mirip dengan sugar glider (possum). Kusu layang ekor cincin (Tous ayamaruensis) di habitatnya di Papua Barat Daya. Satwa ini merupakan bagian dari genus baru yang sempat dianggap punah selama 6.000 tahun sejak Zaman Es.| Foto: Museum Australia: Peter Schouten Keunikan utamanya terletak pada anatomi tangan. Jari keempat pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lubang Bekas Tambang Batubara Kalsel Telan Korban Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 02:45:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy TisnaRiyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/06125856/danau-kintap-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125418</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lubang bekas tambang telan korban lagi.  Pada  9 Januari lalu seorang anak tewas di lubang bekas tambang batubara di belakang Menara STO Telkom Kintap. Lubang menganga yang terisi air hingga menyerupai danau. Jaraknya sekitar satu km dari rumah NS di Desa Kintap Kecil, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel). Perempuan 33 tahun ini pun kepikiran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/">Lubang Bekas Tambang Batubara Kalsel Telan Korban Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lubang bekas tambang telan korban lagi.  Pada  9 Januari lalu seorang anak tewas di lubang bekas tambang batubara di belakang Menara STO Telkom Kintap. Lubang menganga yang terisi air hingga menyerupai danau. Jaraknya sekitar satu km dari rumah NS di Desa Kintap Kecil, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel). Perempuan 33 tahun ini pun kepikiran nasib putri sulungnya, AN. &#8220;Saya langsung menangis dan berteriak histeris, sambil berlari ke sana. Bahkan tanpa sadar, anak saya paling kecil, saya tinggal di tepi jalan,&#8221; katanya. Di sana, puluhan warga telah berkumpul. Air muka mereka muram, menyiratkan ada malapetaka. NS mendekat, dan mendapati kabar buah hatinya yang berusia 12 tahun itu tenggelam di dalam lubang. Seketika dia limbung. Dada sesak. Tangis pecah mengiringi upaya pencarian anaknya, yang baru ketemu, sudah tak bernyawa, setelah maghrib. &#8220;Saya tidak tahu bagaimana kronologis pastinya. Tapi saya diberitahu kalau anak saya jatuh ketika akan mengambil sandalnya yang terlepas di pinggir lubang. Tanah yang dipijaknya tiba-tiba runtuh. Dia tercebur.” Relawan SAR, katanya, menemukan AN 15 meter di dalam lubang. Tubuh kaku setelah diangkat. NS bilang, remaja kelas satu tsanawiyah itu penurut dan jarang keluyuran jauh, bahkan untuk sekadar jajan ke mini market. Sepulang sekolah, AN biasanya lebih sering berdiam di rumah, mengulang pelajaran. Hari itu, pagi sampai siang, AN pun hanya di rumah. Sebab, sekolah sedang libur saat Jumat, karena ada pelaksanaan pengajian rutin. &#8220;Biasanya ia pergi ke pengajian, tapi hari itu tidak.&#8221; Dia tidak tahu kenapa AN melangkah menuju lokasi maut itu usai menjemput adiknya. Padahal, mereka biasanya cuma&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ramadan di Garis Depan Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 01:40:02 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21233305/Tradisi-membuat-penganan-dari-daging-ikan-seperti-kerupuk-dan-pempek-adalah-tradisi-masyarakat-Sumatera-Selatan.-Di-ramadan-penganan-ini-banyak-dikonsumsi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=125431</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ramadan di Garis Depan Alam]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ramadan di Nusantara terekam sebagai denyut ibadah yang berkelindan erat dengan kedaulatan pangan, kelestarian pesisir, dan pertahanan ruang hidup. Perjuangan masyarakat lokal dalam menjaga benih padi purba serta tradisi kuliner asida hadir di tengah ancaman reklamasi dan ekspansi tambang yang kian masif. Melalui lensa ekologi, bulan suci ini bertransformasi menjadi aksi nyata pembersihan sampah mangrove [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/">Ramadan di Garis Depan Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ramadan di Nusantara terekam sebagai denyut ibadah yang berkelindan erat dengan kedaulatan pangan, kelestarian pesisir, dan pertahanan ruang hidup. Perjuangan masyarakat lokal dalam menjaga benih padi purba serta tradisi kuliner asida hadir di tengah ancaman reklamasi dan ekspansi tambang yang kian masif. Melalui lensa ekologi, bulan suci ini bertransformasi menjadi aksi nyata pembersihan sampah mangrove dan refleksi mendalam atas fenomena gerhana di langit yang kian terpolusi. Kesucian ibadah menjadi mustahil terwujud tanpa tanah yang sehat, air sungai yang bersih, dan hutan yang tetap tegak berdiri. The post Ramadan di Garis Depan Alam appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Trauma Bencana, Warga Tolak Tambang Andesit di Sumbar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mar 2026 20:03:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/07035551/Operasi-pertambangan-yang-baru-jalan-Januari-2026-ini_Jaka-HB_P1222584-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125413</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah ekskavator menggali tanah di pinggir Sungai Batang Kasang, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman, pada Senin (2/3/26) siang. Alat berat itu mengangkut pasir dan batu ke truk merah untuk pengerasan jalan menuju lokasi tambang batu andesit. Tak jauh dari situ, En, lelaki berbadan gempal dengan rambut memutih berdiri berhadapan dengan beberapa orang yang mendukung aktivitas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/">Trauma Bencana, Warga Tolak Tambang Andesit di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah ekskavator menggali tanah di pinggir Sungai Batang Kasang, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman, pada Senin (2/3/26) siang. Alat berat itu mengangkut pasir dan batu ke truk merah untuk pengerasan jalan menuju lokasi tambang batu andesit. Tak jauh dari situ, En, lelaki berbadan gempal dengan rambut memutih berdiri berhadapan dengan beberapa orang yang mendukung aktivitas tambang. pria 60 tahun ini  salah satu pemilik tanah yang dilalui kendaraan menuju lokasi tambang. Sekitar empat orang mengelilinginya setelah mengangkat pagar kayu yang sebelumnya terpasang melintang di jalan—sebuah simbol penolakan terhadap aktivitas tambang. “Malu kita dilihat orang luar, ini untuk jalan,” kata salah seorang kepada En. En bersikeras menolak. Jalan itu sebelumnya dia tanami pohon durian dan berpagar. “Kalau untuk jalan tambang saya tidak setuju. Tapi kalau untuk mengantar hasil tanaman atau yang lain, boleh saja,” katanya. Tak lama kemudian, truk yang mengangkut pasir dan batu dari sungai terdekat kembali melintas di atas tanah miliknya. En geram. Namun sendirian saat itu, dia hanya bisa menahan kesal. Satu dari sekitar 14 rumah di pinggir sungai yang khawatir terdampak aktivitas tambang. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia.  Rita,  ibu rumah tangga di Kasang juga menolak. Bersama 14 keluarga yang tinggal di sekitar Sungai Batang Kasang, dia menolak rencana tambang batu andesit  tak jauh dari sungai itu. Apalagi, November lalu, terjadi di area bukit menuju hulu sungai. Saat mengetahui alat-alat berat perusahaan, Rita  menyampaikan penolakan itu kepada tokoh adat. Usaha itu tak buahkan hasil. Warga, katanya,  pasti akan menjadi pihak pertama yang paling terdampak jika tambang  lanjut. “Kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koalisi Masyarakat Sipil Gugat Perpanjangan Operasi PLTU Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mar 2026 13:37:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/09005631/kawasan-industtri-nikel-di-Sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125408</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Koalisi masyarakat sipil melayangkan dua gugatan kepada Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memperpanjang pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kedua gugatan terdaftar di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Pertama, gugatan terhadap penetapan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060, terdaftar atas nama penggugat Yayasan Trend Asia dan Yayasan Wahana Lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/">Koalisi Masyarakat Sipil Gugat Perpanjangan Operasi PLTU Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Koalisi masyarakat sipil melayangkan dua gugatan kepada Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memperpanjang pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kedua gugatan terdaftar di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Pertama, gugatan terhadap penetapan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060, terdaftar atas nama penggugat Yayasan Trend Asia dan Yayasan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dengan Nomor Perkara 327/G/LH/2025/PTUN.JKT. Kedua, gugatan terhadap penetapan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, dengan Nomor Perkara 400/G/LH/2025/PTUN.JKT pada 26 November 2025. Gugatan ini dari warga terdampak PLTU di berbagai daerah serta organisasi sipil,  Walhi, Trend Asia, dan Greenpeace Indonesia. Daniel Winarta, Tim Advokasi Koalisi dari YLBHI menyebutkan,  ada cacat prosedur dan substansi dari dua dokumen yang Bahlil teken. “Kami merasa ada pelanggaran prosedur, jadi cacat prosedur dan substansi dari kedua objek sengketa ini,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, akhir Februari lalu. Dia bilang, penetapan RUKN mengacu pada rancangan peraturan pemerintah terkait kebijakan energi nasional. Praktik itu menimbulkan ketidakpastian hukum, karena yang namanya rancangan peraturan masih bisa berubah. Selain itu, kedua dokumen dianggap tak selaras dengan UU Energi dan UU Ketenagalistrikan. Sungai Batanghari Jambi jadi jalur pengangkutan batubara. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia Menurut Daniel, kedua dokumen bertentangan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dan Peraturan Presiden 112/2022 karena tidak mempercepat pensiun dini PLTU. Dalam RUKN, pemerintah masih akan mengoperasikan sekitar 54 gigawatt PLTU batubara hingga 2026. Puncaknya, operasi PLTU mencapai 62,4 gigawatt dengan 5-30% co-firing biomassa. Justru pemerintah tak memasukkan peta jalan pensiun dini PLTU dalam dokumen rencana ketenagalistrikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Paus Kepala Melon Dijuluki Paus Pembunuh Palsu?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mar 2026 04:00:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/06034451/Peponocephala_electra-atau-paus-kepala-melon-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125410</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Paus kepala melon (Peponocephala electra) adalah mamalia laut yang hidup di perairan laut dalam tropis dan subtropis. Uniknya, meski bernama depan paus, namun kepala melon masuk famili lumba-lumba samudera (Delphinidae). Penamaan tersebut tak lepas dari kemiripian fisiknya dengan paus, dan kepala bulat menyerupai buah melon. Di Indonesia, paus kepala melon bisa ditemukan di semua perairan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/">Mengapa Paus Kepala Melon Dijuluki Paus Pembunuh Palsu?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Paus kepala melon (Peponocephala electra) adalah mamalia laut yang hidup di perairan laut dalam tropis dan subtropis. Uniknya, meski bernama depan paus, namun kepala melon masuk famili lumba-lumba samudera (Delphinidae). Penamaan tersebut tak lepas dari kemiripian fisiknya dengan paus, dan kepala bulat menyerupai buah melon. Di Indonesia, paus kepala melon bisa ditemukan di semua perairan dengan kategori laut dalam. Salah satunya, Laut Banda. Saat muncul ke permukaan, biasanya berkelompok lebih dari tiga individu. Secara morfologi, paus kepala melon memiliki kepala runcing dan kerucut yang akan terlihat segitiga dari atas, dengan warna tubuh dominan abu-abu. Saat dewasa, ia bisa tumbuh hingga 2,75 meter dengan berat berkisar 225 kilogram. Biasanya, jantan lebih berat ketimbang betina saat dewasa dan memiliki kepala lebih bulat, sirip lebih panjang, sirip punggung lebih tinggi, dan ekor lebih lebar. Kematangan fisik paus kepala melon pada usia 13-15 tahun dan hidup hingga 45 tahun. Sekar Mira, peneliti mamalia laut dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan di Indonesia masih banyak yang belum mengenal paus kepala melon. Umumnya, menyebutnya paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata). Meski masuk golongan Delphinidae, namun keduanya memiliki perbedaan, yaitu warna putih yang ada di sekitar mulut. Pada paus pembunuh kerdil, warna tersebut menyebar ke sekitar wajah, sementara paus kepala melon tidak. Itu pula yang dialami Sekar saat menjalani ekspesidi OceanX leg 2 belum lama ini. Saat itu, muncul ke permukaan mamalia laut yang diyakini paus kepala melon. Saat berada di lapangan, keyakinan itu belum ada, karena fisiknya mirip mamalia laut lain. “Makanya, paus kepala melon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dampak PLTU Batubara Kian Menghimpit, Transisi Energi Masih Jadi Omong Kosong</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mar 2026 01:00:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230324/Salah-satu-penderita-paru-kronis-di-Kelurahan-Teluk-Sepang-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125288</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ketika Energi Bergantung Batubara]]>
						</reporting-project>
					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada KTT G20 2024 di Brazil, Presiden Prabowo Subianto telah berkomitmen akan menghentikan penggunaan energi fosil pada 2040. Komitmen ini selaras dengan kebijakan transisi energi. Namun, implementasi kebijakan tersebut masih dinilai jalan di tempat. Banyak kebijakan-kebijakan transisi energi memberikan dampak negatif. Mulai dari perampasan lahan, dampak kesehatan hingga pencemaran. Sementara itu, Indonesia masih bergantung pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/">Dampak PLTU Batubara Kian Menghimpit, Transisi Energi Masih Jadi Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada KTT G20 2024 di Brazil, Presiden Prabowo Subianto telah berkomitmen akan menghentikan penggunaan energi fosil pada 2040. Komitmen ini selaras dengan kebijakan transisi energi. Namun, implementasi kebijakan tersebut masih dinilai jalan di tempat. Banyak kebijakan-kebijakan transisi energi memberikan dampak negatif. Mulai dari perampasan lahan, dampak kesehatan hingga pencemaran. Sementara itu, Indonesia masih bergantung pada PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) batubara. Dalam RPJPN (Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional), upaya transisi energi pada 2030 dilakukan dengan mempensiunkan dini PLTU batubara. Alih-alih pensiun dini, pemerintah justru membangun PLTU batubara seperti PLTU Mulut Tambang Sumsel-8 yang beroperasi pada 7 Oktober 2023 dan PLTU Jawa 9-10 di Cilegon yang beroperasi pada Agustus 2024. Bahkan, hingga Januari 2025, Indonesia memiliki 254 PLTU batubara.  Berdasarkan data WALHI, yang dihimpun dalam laporan dampak PLTU batubara, dampak lingkungan berada pada urutan pertama. Yakni, 22 laporan. Selanjutnya diikuti dampak sosial ekonomi (21), kebijakan (14), kesehatan (12) dan lainnya. Tentu, hal ini berdampak serius pada lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Bagi lingkungan, penggunaan energi fosil tentu dapat merusak lingkungan melalui limbah yang dihasilkan dan hal tersebut juga dapat melepaskan emisi gas rumah kaca. Bagaimana dengan masyarakat disekitarnya? &nbsp; 1. Perampasan lumbung pangan hingga ancaman kesehatan warga di sekitar PLTU Pangkalan Susu Para nelayan mengepung PLTU Pangkalan Susu menolak penggunaan bahan bakar batubara buat energi listrik. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia Ada sekitar 914 masyarakat yang berada di sekitar PLTU Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara terdampak. Mulai dari kerusakan lingkungan hingga dampak kesehatan. Warga mengeluhkan hasil tangkapan laut warga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Lembah Tompotika Terkepung Tambang Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 23:37:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/05210256/Lembah-Tompotika-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125404</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ekspansi tambang nikel terus melaju. Lembah Tompotika, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, perlahan masuk dalam peta baru eksploitasi nikel nasional. Setelah Morowali dan Morowali Utara terjejali industri tambang, kini kawasan yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan dan benteng terakhir ekosistem endemik Sulawesi itu mulai dikepung izin usaha pertambangan. Data Jaringan Advokasi Tambang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/">Ketika Lembah Tompotika Terkepung Tambang Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ekspansi tambang nikel terus melaju. Lembah Tompotika, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, perlahan masuk dalam peta baru eksploitasi nikel nasional. Setelah Morowali dan Morowali Utara terjejali industri tambang, kini kawasan yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan dan benteng terakhir ekosistem endemik Sulawesi itu mulai dikepung izin usaha pertambangan. Data Jaringan Advokasi Tambang Sulawesi Tengah (Jatam Sulteng) mencatat sedikitnya enam izin usaha pertambangan (IUP) nikel terbit di Lembah Tompotika. Total luas konsesi mencapai 13.243 hektar, membentang dari persawahan, perkampungan warga, hingga kawasan hutan pegunungan. Pertambangan nikel diduga menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, terutama melalui pencemaran sumber daya pertanian warga. Riset Jatam Sulteng akhir 2025, berjudul “Ancaman Tambang Nikel terhadap Sumber Kehidupan Warga,” mencatat ,kerusakan lingkungan yang signifikan. Di Desa Trans Mayayap dan Desa Mayayap, misal, sekitar 400 hektar sawah warga mengalami alih fungsi akibat krisis air, dan 200 hektar diduga tercemar lumpur tambang sejak 2020 hingga 2025. Sawah yang dulu tanam padi secara intensif perlahan. Sebagian menjadi ladang palawija yang lebih tahan kekeringan, sebagian lagi dibiarkan kosong dan digunakan sebagai padang penggembalaan sapi. Masa keemasan itu mulai meredup seiring masuknya aktivitas pertambangan nikel di wilayah hulu. Sejak 2020, perubahan signifikan terjadi dalam sistem pertanian lokal. Debit air irigasi menurun drastis, kualitas air memburuk, dan sawah-sawah di hilir mulai kekurangan pasokan. Alhasil, para petani yang sebelumnya terbiasa menikmati panen padi dua kali dalam setahun kini harus menelan kenyataan pahit. Siklus panen mereka menyusut drastis, tinggal sekali dalam setahun. “Penyebab utama kemerosotan ini tak lain adalah defisit serius pada sumber&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengurai Benang Kusut Pangan Biru di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 20:25:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/08/22022949/4_Cantrang-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125347</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan Perikanan Kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia terus berupaya menyelaraskan potensi lautnya yang melimpah dengan kenyataan pahit di lapangan. Angka konsumsi ikan yang masih tertinggal jauh dari Jepang, ancaman perubahan iklim nyata, hingga jeratan kemiskinan para nelayan menjadi persoalan untuk yang menuntut perhatian. Rocky Pairunan, Manajer Limbah Plastik dan Laut World Resources Institute (WRI) Indonesia, mengatakan, rendahnya konsumsi ikan di Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/">Mengurai Benang Kusut Pangan Biru di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia terus berupaya menyelaraskan potensi lautnya yang melimpah dengan kenyataan pahit di lapangan. Angka konsumsi ikan yang masih tertinggal jauh dari Jepang, ancaman perubahan iklim nyata, hingga jeratan kemiskinan para nelayan menjadi persoalan untuk yang menuntut perhatian. Rocky Pairunan, Manajer Limbah Plastik dan Laut World Resources Institute (WRI) Indonesia, mengatakan, rendahnya konsumsi ikan di Indonesia tak lepas dari akses terhadap sumber daya laut yang tidak merata. &#8220;Kita tidak bisa menolak kebenaran bahwa sebagian besar orang Indonesia tinggal di pegunungan,&#8221; ujar Rocky dalam dalam Konferensi International Young Environmental Scientists (YES), di Jakarta belum lama ini. Dia bilang, makanan biru adalah produk yang sangat mudah rusak (perishable). Di negara tropis yang panas, ikan segar bisa berubah menjadi limbah dalam hitungan jam jika tidak tertangani dengan benar. Di sinilah letak hambatan utamanya: investasi rantai dingin (cold chain) yang mahal. Setiap intervensi teknologi untuk menjaga kesegaran ikan akan tercermin pada harga jual. Akibatnya, protein laut yang berkualitas seringkali menjadi barang mewah bagi masyarakat di pedalaman. Roikhanatun Nafi&#8217;ah, CEO Crustea mengatakan, hal yang sering terlupakan adalah fakta bahwa 90% industri perikanan dan akuakultur Indonesia digerakkan oleh pemain skala kecil. Mereka adalah nelayan dengan kapal tradisional dan petambak udang dengan kolam tanah. Namun, merekalah yang paling rapuh. Mereka kerap terjepit di antara keterbatasan modal dan minimnya akses teknologi. Dalam konteks akuakultur, Nafi&#8217;ah menyoroti biaya operasional yang mencekik dan produktivitas yang rendah. &#8220;Tanpa oksigen yang stabil, ikan dan udang akan mati. Namun, banyak petambak kecil tidak memiliki akses listrik, apalagi teknologi aerasi yang efisien,&#8221; katanya. Crustea mencoba&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belasan Pelaku Sindikat Perburuan Gading Gajah Riau Terungkap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 17:08:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/05165554/Gading-gajah-hasil-perburuan-sindikat-perdagangan-satwa-dilindungi-di-pajang-saat-konferensi-pers-di-Mapolda-Riau-Selasa-3-Maret-2026.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125396</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[politik dan hukum dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polda Riau akhirnya mengungkap sindikat perburuan gading gajah Sumatera dan mengamankan setidaknya 15 orang terduga pelaku, berawal dari kasus pembunuhan 2 Februari lalu. Mulai dari penembak hingga pengrajin pipa rokok gading diringkus. Jumlahnya mencapai 15 orang. Sementara tiga pelaku masih dalam pencarian. “Kita mengungkap kasus ini dari hulu ke hilir,” kata Irjen Pol Herry Heryawan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/">Belasan Pelaku Sindikat Perburuan Gading Gajah Riau Terungkap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polda Riau akhirnya mengungkap sindikat perburuan gading gajah Sumatera dan mengamankan setidaknya 15 orang terduga pelaku, berawal dari kasus pembunuhan 2 Februari lalu. Mulai dari penembak hingga pengrajin pipa rokok gading diringkus. Jumlahnya mencapai 15 orang. Sementara tiga pelaku masih dalam pencarian. “Kita mengungkap kasus ini dari hulu ke hilir,” kata Irjen Pol Herry Heryawan, Kapolda Riau, saat konferensi pers, 3 Maret 2026. Kombes Pol Ade Kuncoro Ridwan,  Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Riau, menambahkan para pelaku merupakan eksekutor, perantara atau mediator alias broker hingga pengguna akhir. Dari rangkaian penyidikan, sebagian pelaku ternyata melakukan tindak pidana perburuan gading gajah pada sembilan lokasi, terhitung sejak 2024. Semua merupakan gajah Sumatera di kantong Tesso Nilo, Pelalawan, Riau. Rinciannya, pada Februari dan Desember 2024. Masing-masing di Desa Bagan Limau dua gajah dan satu lagi di Barak Kundur, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui. Pada 2025, pelaku makin brutal. Mereka membunuh enam gajah, antara Juni-September. Lokasi juga sama atau masih sekitarnya. Aksi jaringan perburuan satwa dilindungi ini akhirnya terbongkar, setelah kejadian pada awal Februari 2026, di kawasan lindung dalam konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), di Blok C99. Dari situlah, jajaran kepolisian, mulai dari Polsek Ukui, Polres Pelalawan hingga Polda Riau, melakukan serangkaian investigasi. Berawal dari nekropsi atau bedah bangkai hingga uji laboratorium forensik. Senjata api rakitan yang dipakai untuk menembak gajah. Foto Suryadi, Mongabay Indonesia. Mereka melibatkan dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Bidlabfor Polda Riau. Kesimpulannya, gajah jantan 40 tahun itu mati kurang lebih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Klumprik Surabaya Tidak Lagi Resah Urusan Sampah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 16:13:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/05160419/Okky-menunjukkan-pengelolaan-pupuk-kompos.-Foto-Petrus-Riski-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125390</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, komunitas lokal, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sabtu dan Minggu, biasanya menjadi hari santai atau istirahat bagi sebagian masyarakat. Namun, tidak demikian bagi Okky Harimurti, warga RW 05, Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dia memilih berjibaku dengan sampah rumah tangga di Rumah Kompos Pondok Manggala. Siang itu, Okky bersama seorang warga tengah mencacah daun dan ranting dari peremajaan pohon [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/">Warga Klumprik Surabaya Tidak Lagi Resah Urusan Sampah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sabtu dan Minggu, biasanya menjadi hari santai atau istirahat bagi sebagian masyarakat. Namun, tidak demikian bagi Okky Harimurti, warga RW 05, Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dia memilih berjibaku dengan sampah rumah tangga di Rumah Kompos Pondok Manggala. Siang itu, Okky bersama seorang warga tengah mencacah daun dan ranting dari peremajaan pohon di lingkungan tempat tinggalnya. Di area 5&#215;5 meter ini, sampah organik rumah tangga dimaksimalkan menjadi beragam produk. Di sini juga terdapat 2 tong plastik ukuran sedang dan 5 ukuran kecil, yang disiapkan untuk menampung sampah sisa makanan warga. Dari sini, dipanen air lindi sebagai campuran pembuatan pupuk kompos, maupun media pengembangbiakan maggot. Ada pula 4 keranjang besar dari kawat anyaman, untuk menampung sampah organik untuk dijadikan pupuk kompos. Dalam keranjang ini ditancap dua batang bambu yang diberi lubang pada bagian sampingnya. Bambu itu menjadi saluran untuk meniupkan udara dari blower, agar gas panas dari sampah organik keluar. “Ini metode aerasi, pengembangan teknologi takakura. Bahannya, campuran dedaunan hijau dan sisa makanan,” terangnya, Minggu (15/2/2026). Okky Harimurti menunjukkan pengelolaan pupuk kompos. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia Setiap pekan, Okky bersama sejumlah warga pengurus membuat pupuk kompos untuk memenuhi kebutuhan kelompok tani yang dibentuk warga RW 05. Metode aerasi ini, mempercepat pembuatan pupuk kompos cukup satu minggu, yang biasanya 3-6 bulan. Sejauh ini, Rumah Kompos Pondok Manggala mampu mengolah sampah organik sebanyak 250 kg untuk sekali produksi. Pada Desember 2025 lalu, bahkan mencapai 300-400 kg. “Sebulan, minimal kami mengolah satu ton sampah organik yang semuanya dari warga RW 05,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belum Ada Regulasi Khusus Pekerja Terdampak Pensiun Dini PLTU</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 14:30:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/05/22085224/pltu-cirebon-anak-kecil-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125387</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Setengah Hati Beralih ke Energi Terbarukan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rencana pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) minim perhatian pada aspek ketenagakerjaan. Padahal, pekerja maupun  buruh  terdampak konsekuensi kebijakan ini. Riset Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menemukan, belum ada regulasi khusus untuk mengantisipasi masalah ketenagakerjaan dari pemensiunan PLTU. Peraturan yang ada  masih terlalu umum, padahal ini bisa masuk  dalam program transisi energi. Rencana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/">Belum Ada Regulasi Khusus Pekerja Terdampak Pensiun Dini PLTU</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rencana pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) minim perhatian pada aspek ketenagakerjaan. Padahal, pekerja maupun  buruh  terdampak konsekuensi kebijakan ini. Riset Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menemukan, belum ada regulasi khusus untuk mengantisipasi masalah ketenagakerjaan dari pemensiunan PLTU. Peraturan yang ada  masih terlalu umum, padahal ini bisa masuk  dalam program transisi energi. Rencana penghentian pembangkit listrik kotor ini sendiri belum pasti. Namun, skema Just Energy Transition Partnership (JETP), setidaknya sudah menunjuk PLTU Cirebon I dan PLTU Pelabuhan Ratu di Jawa Barat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menyebut ada rencana penghentian operasional 13 pembangkit. Grita Anindarini, peneliti ICEL, menjelaskan, ada beberapa regulasi yang menyebut transisi energi mesti berjalan dengan keadilan, tetapi tidak spesifik. Misal, Peraturan Pemerintah (PP) 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Peraturan Menteri (Permen) ESDM 10/2025 tentang Peta Jalan Transisi Energi Sektor Ketenagalistrikan. PP menyebut pemerintah berwenang menangani dan mengatasi permasalahan pengelolaan energi yang salah satunya penyediaan lapangan kerja yang terjadi akibat implementasi transisi energi. Sedangkan Permen ESDM, mensyaratkan keadilan dalam pemensiunan PLTU, tapi tak menjelaskannya detail. Dia khawatir kosongnya aturan teknis untuk melindungi tenaga kerja PLTU yang pensiun berdampak luas pada pekerja dan warga sekitar lokasi. “Artinya itu mesti disiapkan segera dan tidak jadi alasan untuk tidak melakukan transisi energi,” katanya. Beban tiap kelompok buruh di PLTU yang beragam ini membuat teknis perlindungan kerja ini penting. Riset ICEL menemukan setidaknya ada empat golongan tenaga kerja, yaitu pegawai tetap, kontrak, outsourcing, dan musiman. Penelitian itu di tiga lokasi, yaitu, PLTU Cirebon, Pelabuhan Ratu, dan Paiton&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>