<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?post_type=post&#038;byline=irfan-maulana" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/irfan-maulana/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 17 Mar 2026 03:33:16 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>
				<item>
					<title>Saksi Bisu di Titik Nol: Tanaman-tanaman yang Selamat dari Bom Nuklir Hiroshima Nagasaki</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/17/saksi-bisu-di-titik-nol-tanaman-tanaman-yang-selamat-dari-bom-nuklir-hiroshima-nagasaki/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/17/saksi-bisu-di-titik-nol-tanaman-tanaman-yang-selamat-dari-bom-nuklir-hiroshima-nagasaki/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mar 2026 03:33:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/17033236/jpg-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125684</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Peristiwa ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 menyisakan narasi kelam tentang kehancuran massal yang tak terbayangkan. Dalam sekejap, ribuan nyawa melayang dan bangunan beton rata dengan tanah akibat suhu panas yang mencapai ribuan derajat Celsius serta radiasi mematikan yang menyelimuti atmosfer. Namun, di tengah hamparan abu dan puing yang tampak mustahil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/17/saksi-bisu-di-titik-nol-tanaman-tanaman-yang-selamat-dari-bom-nuklir-hiroshima-nagasaki/">Saksi Bisu di Titik Nol: Tanaman-tanaman yang Selamat dari Bom Nuklir Hiroshima Nagasaki</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Peristiwa ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 menyisakan narasi kelam tentang kehancuran massal yang tak terbayangkan. Dalam sekejap, ribuan nyawa melayang dan bangunan beton rata dengan tanah akibat suhu panas yang mencapai ribuan derajat Celsius serta radiasi mematikan yang menyelimuti atmosfer. Namun, di tengah hamparan abu dan puing yang tampak mustahil untuk menopang kehidupan, muncul sebuah keajaiban biologis yang menentang logika medis kala itu. Beberapa organisme tetap bertahan hidup dan menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan kembali hanya dalam hitungan bulan setelah bencana terjadi. Kekuatan hidup yang paling mencolok justru datang dari dunia botani. Tanaman yang selamat ini kemudian dikenal dengan istilah Hibakujumoku, sebuah kata dalam bahasa Jepang yang secara harfiah berarti pohon yang selamat dari bom atom. Keberadaan mereka bukan sekadar anomali statistik, melainkan bukti nyata tentang betapa tangguhnya struktur biologis tanaman dalam menghadapi kondisi ekstrem yang dapat dengan mudah menghancurkan sel mamalia. Tanaman ini menjadi simbol harapan bagi warga yang selamat, membuktikan bahwa kehidupan memiliki mekanisme pertahanan yang jauh lebih dalam dan kuno daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Membedah Rahasia Regenerasi dan Perisai Seluler Tanaman Fenomena ketahanan tanaman terhadap radiasi nuklir berakar pada perbedaan mendasar antara biologi tumbuhan dan hewan. Riset radiobiologi  menjelaskan bahwa tanaman memiliki ketahanan radiasi yang jauh lebih tinggi karena arsitektur tubuhnya yang modular. Berbeda dengan manusia yang memiliki organ vital terpusat, tanaman terdiri dari unit-unit berulang. Kemampuan ini berasal dari jaringan meristem yang terletak di ujung akar dan pucuk. Jika bagian atas pohon terbakar habis oleh panas ledakan, sel meristem yang terlindungi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/17/saksi-bisu-di-titik-nol-tanaman-tanaman-yang-selamat-dari-bom-nuklir-hiroshima-nagasaki/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/17/saksi-bisu-di-titik-nol-tanaman-tanaman-yang-selamat-dari-bom-nuklir-hiroshima-nagasaki/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jaga Mangrove, Ekowisata Tumbuh di Batu Lumbang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/17/jaga-mangrove-ekowisata-tumbuh-di-batu-lumbang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/17/jaga-mangrove-ekowisata-tumbuh-di-batu-lumbang/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mar 2026 03:30:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/17023432/IMG_0087-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125658</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali dan indonesia]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Warga pesisir Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Provinsi Bali mayoritas menjadi nelayan. Mereka memanfaatkannya hasil alam tanpa pengelolaan terorganisir. Sejak 2005, secara inisiatif mandiri mereka membangun ekowisata mangrove Batu Lumbang untuk peningkatan ekonomi, kesejahteraan warga dan menjaga lingkungan. Sejak pukul tujuh pagi, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/17/jaga-mangrove-ekowisata-tumbuh-di-batu-lumbang/">Jaga Mangrove, Ekowisata Tumbuh di Batu Lumbang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Warga pesisir Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Provinsi Bali mayoritas menjadi nelayan. Mereka memanfaatkannya hasil alam tanpa pengelolaan terorganisir. Sejak 2005, secara inisiatif mandiri mereka membangun ekowisata mangrove Batu Lumbang untuk peningkatan ekonomi, kesejahteraan warga dan menjaga lingkungan. Sejak pukul tujuh pagi, Wayan Wana sudah sibuk menurunkan kano kecil, mendayungnya dengan pelan ke tepian mangrove. Tiap hari dia menyusuri pesisir wilayah mangrove Batu Lumbang untuk mencari kepiting. Di beberapa titik, Wana turun dari perahu. Lumpur hitam setinggi betis tidak menghalanginya berjalan. Lalu memeriksa lubang di sekitar akar mangrove. “Asal ada waktu, saya cari kepiting. Kalau tidak, bersihin sampah,” katanya. Sehari-hari, dirinya juga menjaga kawasan ekowisata ini. Biasanya dia rutin menyambut pengunjung, membersihkan area hingga sampah-sampah di sela-sela akar mangrove. Hutan mangrove di pesisir selatan Kota Denpasar memiliki permasalahan timbulan sampah dari dua sungai besar, yakni Tukad Badung dan Tukad Mati. Sejak 2005, masyarakat nelayan setempat memulai pengembangan ekowisata dari kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian lingkungan. Tak hanya itu, harapannya kawasan ini juga bisa menjadi alternatif penghidupan bagi warga pesisir. Dahulunya kawasan ini adalah tambak. Sejak 2005, masyarakat menyulapnya menjadi kawasan ekowisata mangrove. Foto: Kadek Dian Dwiyanti H./ Mongabay Indonesia Baca juga: Saat Mangrove di Blok Ngurah Rai Dominan Pemanfaatan, Apa Dampaknya Bagi Warga? &nbsp; Wisata edukasi mangrove Batu Lumbang Tak hanya menawarkan keindahan alam. Di kawasan ini, pengunjung menikmatinya melalui jalur tracking, susur sungai dengan perahu, bermain kano dan berbagai aktivitas edukatif lainnya. Para perempuan juga membentuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/17/jaga-mangrove-ekowisata-tumbuh-di-batu-lumbang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/17/jaga-mangrove-ekowisata-tumbuh-di-batu-lumbang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pemerintah Sumbar Akui Minim Sosialisasi Proyek Panas Bumi Gunung Talang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/17/perempuan-gunung-talang-kukuh-menolak-proyek-panas-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/17/perempuan-gunung-talang-kukuh-menolak-proyek-panas-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mar 2026 00:57:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/16032958/Asnir-Umar-80-tak-ingin-Gunung-Talang-Sujud-ke-kampungnya-dan-menyebabkan-kerusakan-ekologis_Foto-Jaka-HBP1222389-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125647</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[padang dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah Sumatera Barat (Sumbar) bersikukuh meneruskan rencana mempercepat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Talang, Kabupaten Solok. Pemerintah Sumbar nilai, penolakan warga karena sosialisasi minim. Padahal,  warga terutama para perempuan menolak karena khawatir dampak buruk kehadiran pembangkit panas bumi dari kerusakan lahan pertanian sampai bahaya keracunan yang mengancam keselamatan seperti di Sorik Marapi, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/17/perempuan-gunung-talang-kukuh-menolak-proyek-panas-bumi/">Pemerintah Sumbar Akui Minim Sosialisasi Proyek Panas Bumi Gunung Talang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah Sumatera Barat (Sumbar) bersikukuh meneruskan rencana mempercepat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Talang, Kabupaten Solok. Pemerintah Sumbar nilai, penolakan warga karena sosialisasi minim. Padahal,  warga terutama para perempuan menolak karena khawatir dampak buruk kehadiran pembangkit panas bumi dari kerusakan lahan pertanian sampai bahaya keracunan yang mengancam keselamatan seperti di Sorik Marapi, Sumatera Utara. “Karena jika dibiarkan berlarut-larut maka akan menyebabkan menurunnya kepercayaan dan minat investor, kurangnya insentif fiskal, kemudian ketergantungan terhadap energi fosil semakin tinggi. Sehingga target bauran energi akan sulit dicapai,” kata Erick Kurniawan, Kepala Bidang Energi dan Ketenagalistrikan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, akhir Februari. Dia tak mengelak rencana PLTP Gunung Talang masih minim sosialisasi yang berujung pada penolakan warga yang khawatir akan dampak buruh proyek ini. Karena itu, mereka merencanakan menggelar sosialisasi secara intens kepada masyarakat. Percepatan PLTP Gunung Talang, katanya,  sangat penting dalam mengejar target bauran energi dari sektor energi terbarukan. Karena itu, dia mendorong kolaborasi lintas sektor agar rencana PLTP yang digagas sejak lama bisa segera terealisasi. Namun begitu, hal tak kalah penting adalah meningkatkan literasi masyarakat akan dampak positif dan negatif proyek ini. Menurut Erick, PLTP Gunung Talang akan menghasilkan energi hingga 20 MW. Konsorsium asal Turki, PT Hitay Daya Energy telah melakukan perombakan manajemen untuk memuluskan rencana itu  dan tengah memproses pengajuan izin lingkungan untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) seluas 27.000 hektar. Untuk memuluskan rencana itu, perusahaan gelontorkan investasi US$140 juta atau setara Rp2,2 triliun. Kegiatan proyek akan mencakup 22 nagari yang tersebar di lima kecamatan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/17/perempuan-gunung-talang-kukuh-menolak-proyek-panas-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/17/perempuan-gunung-talang-kukuh-menolak-proyek-panas-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>PTUN Kupang Menangkan Gugatan Warga Poco Leok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/16/ptun-kupang-menangkan-gugatan-warga-poco-leok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/16/ptun-kupang-menangkan-gugatan-warga-poco-leok/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mar 2026 22:31:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/22140750/POCO-LEok-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125670</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin segar bagi masyarakat adat sedikit berhembus di Nusa tenggara Timur. Pada 10 Maret lalu, PTUN Kupang memenangkan gugatan Agustinus Tuju,  warga Adat Poco Leok, melawan Herybertus GL Nabit, Bupati Manggarai. Gugatan berawal ketika Tuju alami intimidasi dan ancaman saat aksi damai bersama masyarakat adat 10 gendang dari wilayah Poco Leok di Kantor Bupati Manggarai, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/ptun-kupang-menangkan-gugatan-warga-poco-leok/">PTUN Kupang Menangkan Gugatan Warga Poco Leok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin segar bagi masyarakat adat sedikit berhembus di Nusa tenggara Timur. Pada 10 Maret lalu, PTUN Kupang memenangkan gugatan Agustinus Tuju,  warga Adat Poco Leok, melawan Herybertus GL Nabit, Bupati Manggarai. Gugatan berawal ketika Tuju alami intimidasi dan ancaman saat aksi damai bersama masyarakat adat 10 gendang dari wilayah Poco Leok di Kantor Bupati Manggarai, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, 5 Juni 2025. Hakim Ketua Muhammada Zainal Abidin beserta hakim anggota Komang Alit Antara dan Putu Carina membacakan putusan dalam sidang terbuka secara elektronik melalui Sistem Informasi Pengadilan Tata Usaha Negara Kupang itu menyatakan eksepsi tergugat tidak diterima untuk seluruhnya. Majelis hakim mengabulkan gugatan Tuju untuk sebagian. Majelis menyatakan, tindakan administrasi pemerintahan oleh bupati berupa menghalang-halangi penyampaian pendapat di muka umum dengan cara intimidasi serta perkataan yang mengancam adalah perbuatan melanggar hukum oleh badan (pejabat) pemerintahan (onrechtmatige overheidsdaad). “Kita apresiasi majelis hakim PTUN Kupang yang bekerja objektif melihat kasus ini,” kata Jimmy Z Ginting, kuasa hukum Tuju kepada Mongabay, Selasa (10/3/26). Dia berharap,  putusan ini menjadi pengingat bagi Bupati Manggarai secara khusus agar menghormati hak warga, terlebih masyarakat adat dalam menyampaikan pendapat secara bebas tanpa intimidasi. “Agar setiap pejabat selalu ingat sumpah jabatan dan asas-asas umum pemerintahan yang baik,” katanya. Jimmy berharap,  semoga putusan gugatan dari warga adat Poco Leok menjadi penyemangat bagi masyarakat adat lain bahwa perjuangan menjaga wilayah adat dan upaya menentukan nasib sendiri bukanlah tindakan tercela. “Jangan takut menuntut hak.” Senada dengan Judianto Simanjuntak, juga Kuasa Hukum Penggugat yang tergabung dalam Koalisi Advokasi Poco Leok.  Dalam rilis kepada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/ptun-kupang-menangkan-gugatan-warga-poco-leok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/16/ptun-kupang-menangkan-gugatan-warga-poco-leok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Betet Enggano, Jenis Endemik yang Terdesak di Habitatnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/16/betet-enggano-jenis-endemik-yang-terdesak-di-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/16/betet-enggano-jenis-endemik-yang-terdesak-di-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mar 2026 09:02:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/16085044/Mengamati-Burung-Betet-Enggano-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125659</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bengkulu]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor burung berbulu dominan hijau, hinggap di ranting pohon. Perlahan, ia masuk ke sebuah lubang tempatnya beristirahat. Sore itu, Zafier Ariga Islamiterra (12), menunggu kehadiran betet enggano (Psittacula longicauda enganensis) kembali ke sarang. Menggunakan binokuler, Zafier, memperhatikan tingkah burung endemik Pulau Enggano, Bengkulu tersebut. “Bagus sekali burungnya dan harus dilestarikan,” ujarnya, Minggu (8/3/2026). Daya tarik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/betet-enggano-jenis-endemik-yang-terdesak-di-habitatnya/">Betet Enggano, Jenis Endemik yang Terdesak di Habitatnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor burung berbulu dominan hijau, hinggap di ranting pohon. Perlahan, ia masuk ke sebuah lubang tempatnya beristirahat. Sore itu, Zafier Ariga Islamiterra (12), menunggu kehadiran betet enggano (Psittacula longicauda enganensis) kembali ke sarang. Menggunakan binokuler, Zafier, memperhatikan tingkah burung endemik Pulau Enggano, Bengkulu tersebut. “Bagus sekali burungnya dan harus dilestarikan,” ujarnya, Minggu (8/3/2026). Daya tarik burung paruh bengkok khas ordo Psittaciformers ini terlihat pda bulunya yang mencolok dan suara yang khas. “Jangan ditangkap agar tidak punah.” Zafier tak sendiri. Zulfan Zafiery, sang ayah yang merupakan fotografer satwa liar sekaligus konservasionis lokal, turut memantau pergerakan burung berekor panjang itu. Zulfan sudah mendokumentasikan burung-burung di Enggano sejak pertama kali datang ke pulau yang merupakan kawasan daerah penting bagi burung IBAs (Important Bird and Biodiversity Areas) pada 2008. Saat itu, menurutnya, kondisi alam Enggano jauh lebih ramah bagi burung. “Dulu, jarak empat meter sudah bisa lihat betet. Mereka tak terlalu takut meski kita duduk di bawah pohon makananya,” ujarnya. Betet enggano yang merupakan jenis endemik Pulau Enggano, Bengkulu. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Kini, situasi berubah. Betet enggano jadi jauh lebih waspada terhadap manusia. Melihat dari jauh sudah kabur. Perubahan perilaku ini tak lepas dari tekanan perburuan yang pernah terjadi di Pulau yang berjarak sekitar 120 km dari daratan Bengkulu ini. Dulu, masyarakat hanya mengambil satu atau dua anak betet untuk dipelihara. Namun, beberapa tahun terakhir, praktik penangkapan lebih intensif. “Sekarang banyak pendatang yang datang membawa pikat, speaker, dan pakai pulut. Mereka tangkap lalu jual.” Padahal, betet enggano merupakan spesies endemik yang hanya ditemukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/betet-enggano-jenis-endemik-yang-terdesak-di-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/16/betet-enggano-jenis-endemik-yang-terdesak-di-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Serangan Andrie Yunus,  Ancaman bagi Pembela HAM dan Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/16/kasus-serangan-andrie-yunus-ancaman-bagi-pembela-ham-dan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/16/kasus-serangan-andrie-yunus-ancaman-bagi-pembela-ham-dan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mar 2026 04:46:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/16042525/Andrie--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125652</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, politik dan hukum, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada Jumat, 13 Maret lalu,  dini hari,  Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) kena siram air keras oleh dua orang berkendara motor di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.  Malam itu, Andrie mau kembali ke rumah setelah rekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) bertajuk “Remiliterisme dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/kasus-serangan-andrie-yunus-ancaman-bagi-pembela-ham-dan-lingkungan/">Kasus Serangan Andrie Yunus,  Ancaman bagi Pembela HAM dan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada Jumat, 13 Maret lalu,  dini hari,  Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) kena siram air keras oleh dua orang berkendara motor di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.  Malam itu, Andrie mau kembali ke rumah setelah rekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.” Berbagai kalangan pun bereaksi. Mereka mengutuk tindakan teror dan kekerasan kepada aktivis HAM ini. Mereka menyatakan, teror yang Andrie Yunus alami ini tanda bahaya bagi  pembela HAM dan lingkungan. Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional mengatakan, tragedi ini  bukan hanya ancaman terhadap pribadi Andrie tetapi upaya pembunuhan terhadap hak asasi manusia (HAM). “Sebab apa yang dilakukan oleh Andrie juga para pejuang lingkungan dan pembela HAM lainnya adalah upaya agar negara dapat menjalankan tanggung jawabnya untuk menghormati, melindungi dan memenuhi HAM,” katanya kepada Mongabay, Sabtu (14/3/26). Dia mendesak, pengurus negara membongkar kejahatan ini baik penyiram air keras maupun aktor di baliknya. “Kalo pengurus negara gagal membongkar kejahatan ini, siapa pelakunya, bukan hanya yang mengeksekusi tetapi juga aktor intelektual dibaliknya, maka pengurus negara juga menjadi bagian dari kejahatan itu,” katanya. Kejadian ini, kata Uli, juga bukti kekerasan dan kejahatan jadi wajah negara ini. Penguasa, katanya, bukan lagi untuk melindungi rakyatnya. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pun mengutuk keras dan mengecam tindakan terhadap Andrie. “Bagi KPA, serangan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, serangan ini merupakan bentuk teror politik yang secara nyata mengancam keselamatan para pembela HAM serta mempersempit ruang demokrasi di Indonesia,” kata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/kasus-serangan-andrie-yunus-ancaman-bagi-pembela-ham-dan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/16/kasus-serangan-andrie-yunus-ancaman-bagi-pembela-ham-dan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tak Punya Mulut dan Mata, Cacing Ini Sanggup Melumat Tulang Paus di Kegelapan Dasar Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/16/tak-punya-mulut-dan-mata-cacing-ini-sanggup-melumat-tulang-paus-di-kegelapan-dasar-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/16/tak-punya-mulut-dan-mata-cacing-ini-sanggup-melumat-tulang-paus-di-kegelapan-dasar-laut/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mar 2026 02:32:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/16022113/1280px-MBNMS_Whale_Fall_Octopuses_49050941487-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125645</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Peristiwa kematian seekor paus di samudera lepas memicu fenomena ekologi masif yang dikenal sebagai whale fall. Ketika bangkai raksasa dengan estimasi bobot hingga 150 ton ini tenggelam ke zona abyssal yang gersang, ia membawa pasokan karbon organik yang sangat besar, bahkan setara dengan akumulasi sedimen alami selama 2.000 tahun di dasar laut. Di lingkungan ekstrem [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/tak-punya-mulut-dan-mata-cacing-ini-sanggup-melumat-tulang-paus-di-kegelapan-dasar-laut/">Tak Punya Mulut dan Mata, Cacing Ini Sanggup Melumat Tulang Paus di Kegelapan Dasar Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Peristiwa kematian seekor paus di samudera lepas memicu fenomena ekologi masif yang dikenal sebagai whale fall. Ketika bangkai raksasa dengan estimasi bobot hingga 150 ton ini tenggelam ke zona abyssal yang gersang, ia membawa pasokan karbon organik yang sangat besar, bahkan setara dengan akumulasi sedimen alami selama 2.000 tahun di dasar laut. Di lingkungan ekstrem dengan tekanan hidrostatik tinggi dan suhu stabil di bawah 4°C ini, muncul organisme spesialis dekomposisi tulang dari genus Osedax. Nama ini secara etimologis berarti &#8220;pemakan tulang&#8221;, sebuah deskripsi teknis bagi makhluk yang mampu menghancurkan material organik paling keras di dasar laut tanpa bantuan rahang atau gigi melalui proses degradasi kimiawi yang presisi. Secara visual, tubuh mereka hanya memperlihatkan palpus kemerahan yang mengandung hemoglobin untuk pertukaran gas, sementara seluruh sistem biologis utamanya bekerja di dalam struktur tulang yang mereka huni. Inilah fenomena whale fall, di mana satu bangkai paus mampu menyokong ribuan nyawa di dasar samudera yang gersang. Mulai dari pemakan bangkai besar hingga cacing pelumat tulang Osedax, semua berbagi peran dalam proses dekomposisi paling megah di planet ini. | Foto National Marine Sanctuaries Adaptasi biologis Osedax sangat tidak lazim karena mereka berevolusi tanpa memiliki mulut, mata, maupun sistem pencernaan fungsional yang umum ditemukan pada annelida lainnya. Berdasarkan riset fundamental yang pertama kali mendeskripsikan genus ini dalam jurnal Science, cacing ini mengandalkan jaringan &#8220;akar&#8221; atau ovisak yang menyusup ke dalam matriks tulang menggunakan mekanisme biokimia yang sangat kompleks. Mereka menyekresikan asam melalui pompa proton untuk melarutkan kalsium fosfat atau hidroksiapatit yang menyusun struktur keras tulang, kemudian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/tak-punya-mulut-dan-mata-cacing-ini-sanggup-melumat-tulang-paus-di-kegelapan-dasar-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/16/tak-punya-mulut-dan-mata-cacing-ini-sanggup-melumat-tulang-paus-di-kegelapan-dasar-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Hak Plasma Dayak Pembuang Makin Tak Jelas Pasca Sita Satgas PKH</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/16/ketika-hak-plasma-dayak-pembuang-makin-tak-jelas-pasca-sita-satgas-pkh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/16/ketika-hak-plasma-dayak-pembuang-makin-tak-jelas-pasca-sita-satgas-pkh/#respond</comments>
					<pubDate>16 Mar 2026 01:45:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/15182732/Plang-penanda-kawasan-PT-WSSL-II-yang-disita-Satgas-PKH.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125637</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warga Desa Paring Raya, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah (Kalteng), resah karena Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menyita beberapa hektar lahan perusahaan sawit di wilayah mereka. Pasalnya, perusahaan-perusahaan itu sampai sekarang belum memberikan hak plasma pada masyarakat. Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari (YMKL) mencatat, ada dua korporasi yang beroperasi di wilayah ini. PT Wana Sawit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/ketika-hak-plasma-dayak-pembuang-makin-tak-jelas-pasca-sita-satgas-pkh/">Ketika Hak Plasma Dayak Pembuang Makin Tak Jelas Pasca Sita Satgas PKH</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warga Desa Paring Raya, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah (Kalteng), resah karena Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menyita beberapa hektar lahan perusahaan sawit di wilayah mereka. Pasalnya, perusahaan-perusahaan itu sampai sekarang belum memberikan hak plasma pada masyarakat. Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari (YMKL) mencatat, ada dua korporasi yang beroperasi di wilayah ini. PT Wana Sawit Subur Lestari (WSSL) II, mengelola perkebunan sawit seluas 1.242,48 hektar dan PT Sumur Pandanwangi (SPW) menggarap 1.622,63 hektar. Keduanya memakan 41% wilayah kampung dan mengepung komunitas adat Dayak Pembuang di sana. Informasi yang Mongabay dapat, Satgas PKH mengklaim 700 hektar kebun sawit SPW dan  mengambil sekitar 617 hektar lahan WSSL II. &#8220;Wilayah yang disita Satgas PKH merupakan lahan yang telah bertahun-tahun kami perjuangkan dan pernah dijanjikan perusahaan untuk dijadikan plasma,&#8221; ucap Saharin,  tetua kampung. Setelah itu, lahan Satgas PKH serahkan pada PT Agrinas Palma Nusantara, perusahaan negara yang mengelola aset sitaan Satgas PKH. Pada praktiknya, Agrinas kemudian percayakan pengelolaan pada vendor, PT Berlian Bintara Beton. Plang penanda kawasan PT WSSL II yang disita Satgas PKH. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. Tidak terima dengan kebijakan itu, warga kemudian protes dan dipertemukan dengan perwakilan Satgas PKH, Agrinas, dan pemerintah daerah, 20 Oktober. Dalam forum itu, mereka minta lahan sitaan perusahaan dapat masyarakat kelola langsung melalui koperasi desa. Namun, dialog tak menghasilkan keputusan yang berpihak kepada warga. Agrinas bersikukuh menyerahkan pengelolaan lahan kepada vendor, dengan alasan arahan Presiden Prabowo Subianto. Pengambilalihan itu juga mengakibatkan warga yang bekerja di WSSL II harus dirumahkan. Namun, pertemuan itu menawarkan warga yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/16/ketika-hak-plasma-dayak-pembuang-makin-tak-jelas-pasca-sita-satgas-pkh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/16/ketika-hak-plasma-dayak-pembuang-makin-tak-jelas-pasca-sita-satgas-pkh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Tiga Ton Sisik Trenggiling di Tanjung Priok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/15/dibalik-ekspor-ilegal-tiga-ton-sisik-trenggiling-di-tanjung-priok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/15/dibalik-ekspor-ilegal-tiga-ton-sisik-trenggiling-di-tanjung-priok/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mar 2026 19:57:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14205912/3X9A3024-scaled-e1773522042796-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125617</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[politik dan hukum dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bea Cukai Pelabuhan Tanjung Priok menggagalkan upaya penyelundupan sisik trenggiling (Manis javanica) ke Kamboja,  seberat tiga ton lebih dengan nilai Rp183 miliar. Kasus itu terungkap setelah petugas temukan anomali dokumen ekspor perusahaan yang akan mengirim barang ke Kamboja. Adhang Noegroho Adhi, Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, mengatakan, pengungkapan kasus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/dibalik-ekspor-ilegal-tiga-ton-sisik-trenggiling-di-tanjung-priok/">Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Tiga Ton Sisik Trenggiling di Tanjung Priok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bea Cukai Pelabuhan Tanjung Priok menggagalkan upaya penyelundupan sisik trenggiling (Manis javanica) ke Kamboja,  seberat tiga ton lebih dengan nilai Rp183 miliar. Kasus itu terungkap setelah petugas temukan anomali dokumen ekspor perusahaan yang akan mengirim barang ke Kamboja. Adhang Noegroho Adhi, Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, mengatakan, pengungkapan kasus bermula ketika petugas mendapati kejanggalan dari hasil pemindaian peti kemas yang akan perusahaan ekspor. Pada dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB), perusahaan berinisial PT TSR hanya mencantumkan dua jenis komoditas, yakni, teripang (Sea cucumber) dan mi instan. Hasil pemindaian peti kemas menunjukkan ada tiga ruang penyimpanan yang memantik kecurigaan petugas bahwa terdapat barang lain yang tidak dilaporkan. Petugas menerbitkan Nota Hasil Intelijen (NHI) karena kuat dugaan terjadi ketidaksesuaian antara jenis barang dan pos tarif yang diberitahukan. Pada 18 Februari, petugas lantas melakukan pemeriksaan fisik terhadap satu kontainer berukuran 20 kaki. Hasilnya, petugas menemukan 99 karton sisik trenggiling dalam kondisi kering dengan berat total 3.053 ton. Selain itu, petugas juga menemukan 51 karung teripang dengan berat 1.530 kilogram, 300 karton mie instan seberat 1.200 kilogram, serta satu potongan benda yang menyerupai kayu. Tujuan pengiriman sisik trenggiling itu adalah Kamboja. Sejauh ini petugas belum mengetahui asal muasal barang lantaran tidak tercantum dalam dokumen ekspor. Saat ini petugas masih dalami kasus ini. “Masih penyelidikan untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat,” ungkap Niko Budhi Darma, Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan Internal, Selasa (10/3/26). Adhang Noegroho Adhi, Kepala Bea Cukai Tanjung Priok saat memberikan keterangan kepada awak media. Foto: Humas Bea Cukai Tanjung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/dibalik-ekspor-ilegal-tiga-ton-sisik-trenggiling-di-tanjung-priok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/15/dibalik-ekspor-ilegal-tiga-ton-sisik-trenggiling-di-tanjung-priok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belajar dari Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/15/belajar-dari-fenomena-lubang-raksasa-di-aceh-tengah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/15/belajar-dari-fenomena-lubang-raksasa-di-aceh-tengah/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mar 2026 11:08:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/12080149/Kenderaan-melewati-jalan-yang-rusak-karena-longsor-di-Pinto-Rime-Gayo-Kabupaten-Bener-Meriah-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125634</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Belajar dari Bencana Sumatera]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Aceh, bencana, hutan indonesia, jawa, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lubang raksasa seluas hampir tiga hektar itu terus merangsek, merobek ladang kopi dan sawah warga di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh. Bahkan longsoran telah memakan jalan yang menjadi urat nadi warga. Kini jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah terputus total. Warga tidak menyangka longsoran di lereng yang semula kecil pada 2010 lalu itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/belajar-dari-fenomena-lubang-raksasa-di-aceh-tengah/">Belajar dari Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lubang raksasa seluas hampir tiga hektar itu terus merangsek, merobek ladang kopi dan sawah warga di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh. Bahkan longsoran telah memakan jalan yang menjadi urat nadi warga. Kini jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah terputus total. Warga tidak menyangka longsoran di lereng yang semula kecil pada 2010 lalu itu kini kian membesar. Longsoran terus bergerak ke utara, selatan dan tenggara. Menenggelamkan tanah garapan, mengancam kehidupan, dan menimbulkan rasa was-was. Jika sebelumnya jalan yang tergerus hanya 4 meter, kini telah mencapai panjang 175 meter. Jarak longsoran ke permukiman pun makin dekat. Kini tinggal 450 meter saja. Warga pun meminta relokasi. Pemerintah dikabarkan tengah menyiapkan skemanya. Berbeda dengan pemahaman publik sebelumnya yang menganggap fenomena di Aceh Tengah sebagai sinkhole, peneliti BRIN menegaskan bahwa yang terjadi ini adalah longsoran. “Itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” ungkap Adrin Tohari, dimuat di laman resmi BRIN, Jumat (20/2/2026). Dia adalah Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN. Kenderaan melewati jalan yang rusak akibat bencana longsor yang terjadi akhir November 2025 di Pinto Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Lapisan tufa adalah lapisan batuan piroklastik yang terbentuk dari material vulkanik halus saat terjadi letusan gunung api. Abu ini kemudian mengendap dan mengeras. Menurut Adrin, secara geologi, kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole. Melainkan, endapan piroklastik hasil aktivitas Gunung Api Geureudong yang sudah tidak aktif. Karena material ini secara geologis&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/belajar-dari-fenomena-lubang-raksasa-di-aceh-tengah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/15/belajar-dari-fenomena-lubang-raksasa-di-aceh-tengah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kalau mau, Seluruh Laba-Laba Di Planet Bumi Bisa Menghabiskan Seluruh Populasi Manusia Kurang Dari 1 Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/15/kalau-mau-seluruh-laba-laba-di-planet-bumi-bisa-menghabiskan-seluruh-populasi-manusia-kurang-dari-1-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/15/kalau-mau-seluruh-laba-laba-di-planet-bumi-bisa-menghabiskan-seluruh-populasi-manusia-kurang-dari-1-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mar 2026 08:32:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000606/Tarantula-berbulu-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125632</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alam semesta sering kali menyimpan rahasia besar di balik detail kecil yang luput dari perhatian kita sehari hari. Di balik sudut langit-langit rumah atau di antara rimbunnya dedaunan, terdapat populasi predator yang memiliki peran krusial dalam menjaga detak jantung planet ini. Selama ini kita mungkin hanya memandang laba-laba sebagai makhluk kecil yang mengganggu atau bahkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/kalau-mau-seluruh-laba-laba-di-planet-bumi-bisa-menghabiskan-seluruh-populasi-manusia-kurang-dari-1-tahun/">Kalau mau, Seluruh Laba-Laba Di Planet Bumi Bisa Menghabiskan Seluruh Populasi Manusia Kurang Dari 1 Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alam semesta sering kali menyimpan rahasia besar di balik detail kecil yang luput dari perhatian kita sehari hari. Di balik sudut langit-langit rumah atau di antara rimbunnya dedaunan, terdapat populasi predator yang memiliki peran krusial dalam menjaga detak jantung planet ini. Selama ini kita mungkin hanya memandang laba-laba sebagai makhluk kecil yang mengganggu atau bahkan menakutkan. Namun, data sains terbaru mengungkapkan fakta yang jauh lebih mencengangkan daripada sekadar jaring di pojok ruangan. Dengan kekuatan populasi yang masif dan nafsu makan yang luar biasa besar, makhluk berkaki delapan ini sebenarnya menyimpan kekuatan teoretis yang sanggup mengguncang eksistensi manusia di puncak rantai makanan. Dunia sains sempat digemparkan oleh sebuah premis yang terdengar seperti fiksi ilmiah namun didasarkan pada perhitungan matematis yang sangat solid. Melalui studi komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal The Science of Nature, ahli biologi Martin Nyffeler dan Klaus Birkhofer memaparkan fakta luar biasa mengenai kapasitas makan laba-laba di seluruh penjuru dunia. Jika seluruh laba-laba di planet ini memiliki kemampuan untuk berkoordinasi dan mengubah target mangsanya, mereka secara teoretis sanggup menghabiskan seluruh populasi manusia hanya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun kalender. Laba-laba yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Foto: Pixabay/ROverhate/Public Domain Penelitian ini menggunakan metode estimasi yang sangat detail mengenai populasi laba-laba global di berbagai ekosistem. Nyffeler dan Birkhofer menghitung bahwa densitas rata-rata laba-laba mencapai 131 individu per meter persegi di berbagai habitat utama, mulai dari hutan tropis hingga padang rumput. Di beberapa lokasi yang sangat subur, angka ini bahkan bisa melonjak drastis hingga mencapai 1.000 laba-laba dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/kalau-mau-seluruh-laba-laba-di-planet-bumi-bisa-menghabiskan-seluruh-populasi-manusia-kurang-dari-1-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/15/kalau-mau-seluruh-laba-laba-di-planet-bumi-bisa-menghabiskan-seluruh-populasi-manusia-kurang-dari-1-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Seharusnya Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau? [2]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/15/bagaimana-seharusnya-atasi-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-riau-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/15/bagaimana-seharusnya-atasi-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-riau-2/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mar 2026 06:23:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Fitria]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/15061721/KARHUTLA-RIAU-15.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125626</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi di Riau sejak bulan lalu dan terus meluas ke berbagai kabupaten. Hadapi karhutla selama ini lebih dominan ke penanganan setelah terjadi, minim mitigasi atau pencegahan. Dalam tulisan Mongabay, sebelumnya menyebutkan, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat,  hingga 26 Februari, karhutla menghanguskan kawasan seluas 1.041,74 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/bagaimana-seharusnya-atasi-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-riau-2/">Bagaimana Seharusnya Atasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau? [2]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi di Riau sejak bulan lalu dan terus meluas ke berbagai kabupaten. Hadapi karhutla selama ini lebih dominan ke penanganan setelah terjadi, minim mitigasi atau pencegahan. Dalam tulisan Mongabay, sebelumnya menyebutkan, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat,  hingga 26 Februari, karhutla menghanguskan kawasan seluas 1.041,74 hektar di 11 kabupaten dan kota di Riau. Erzansyah, Manager Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Bengkalis  mengatakan, banyak faktor yang mempengaruhi karhutla pada 2026. Dia mengakui luasan karhutla di Kabupaten Bengkalis dalam satu bulan sudah lebih luas dibandingkan luasan dalam satu tahun di 2025. “Faktor ekologi, mulai dari meteorologis dan hidrologis hingga antropogenik, ini tidak bisa dipisahkan dan jadi penyebab karhutla terjadi,” katanya. Dari sisi meteorologis, katanya, kondisi musim kemarau, hari tanpa hujan hingga kecepatan angin pada Januari-Februari lalu turut mempercepat karhutla. “Di Bengkalis itu sudah lebih 21 hari tanpa hujan, mungkin ada hampir 30 hari ya. Belum lagi di Februari itu kecepatan anginnya antara 16-21 km per jam dan karena kemarau, kelembaban udara juga turun hingga 6%,” jelas Erzan mengutip dari BMKG.  Kondisi meteorologis, tambah kondisi hidrologis gambut Pulau Bengkalis yang buruk, kekeringan, pembukaan kanal, hingga tinggi muka air gambut yang tak terjaga mempercepat penyebaran api. Erzan mengamini,  penurunan muka tanah dan air di gambut pada Februari sudah lebih 40 cm. Tentunya ini membuat gambut rentan dan mengakibatkan kekeringan gambut. “Jadi,  sudah masuk ke kondisi critical dry (sangat kering), ini potensi kebakarannya sudah sangat tinggi sekali.”  Proses hukum Walau faktor alam, baik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/bagaimana-seharusnya-atasi-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-riau-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/15/bagaimana-seharusnya-atasi-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-riau-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perlu Jejaring untuk Penyelamatan Hiu Paus Terdampar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/15/perlu-jejaring-untuk-penyelamatan-hiu-paus-terdampar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/15/perlu-jejaring-untuk-penyelamatan-hiu-paus-terdampar/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mar 2026 04:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Gafur Abdullah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[hewan]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14233933/Seekor-hiu-paus-atau-Rhincodon-typus-terdampar-di-Pantai-Nyamplong-Kobong-Dusun-Njeni-Desa-Kepanjen-Kecamatan-Gumukmas-Kabupaten-Jember-Jawa-Timur-Kamis-14-Juli-2022-Foto-Dok-Polair-Jember-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125622</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kejadian hiu paus (Rhincodon typus) terdampar di pesisir Jember, Jawa Timur (Jatim), cukup sering. Data Yayasan Sealife Indonesia, tahun 2022, ada tiga kejadian penemuan spesies ikan terbesar itu, melengkapi total delapan kejadian sepanjang 2015-2025. Untuk itu, perlu edukasi dan para  pihak berjejaring untuk membantu penanganan yang tepat. Dwi Suprapti, Founder Yayasan Sealife Indonesia, menyebut, hewan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/perlu-jejaring-untuk-penyelamatan-hiu-paus-terdampar/">Perlu Jejaring untuk Penyelamatan Hiu Paus Terdampar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kejadian hiu paus (Rhincodon typus) terdampar di pesisir Jember, Jawa Timur (Jatim), cukup sering. Data Yayasan Sealife Indonesia, tahun 2022, ada tiga kejadian penemuan spesies ikan terbesar itu, melengkapi total delapan kejadian sepanjang 2015-2025. Untuk itu, perlu edukasi dan para  pihak berjejaring untuk membantu penanganan yang tepat. Dwi Suprapti, Founder Yayasan Sealife Indonesia, menyebut, hewan pemakan plankton ini banyak terdampar di pesisir Jawa, utamanya di pesisir selatan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain Jember, kejadian di Jatim juga banyak di Lumajang. “Biasanya banyak ditemukan dalam kondisi mati,” katanya dalam Sarasehan Pemetaan Partisipatif dan Pembentukan Jejaring Penanganan Biota Laut Terdampar di Pesisir Jember, Senin (9/3/26). Meski begitu  tidak sedikit yang ditemukan dalam kondisi hidup tetapi pengetahuan minim dan keterlambatan penanganan menyebabkan hiu paus tak terselamatkan. Warga terlihat mengeruminu bangkai hiu paus yang terdampar di Pantai Wagir Indah di Desa Welahan Wetan, Kecamatan Adipala, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (26/6/2025) pagi. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia Salah satunya terjadi pada 4-5 Juli 2020. Ada tiga hiu paus terdampar di Pantai Nyamplung Kobong, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumuk Mas, Jember. Dua  berhasil diselamatkan, satu  mati terpotong-potong. Sayangnya, dari banyak kasus, hiu paus yang terdampar langsung warga kubur. Padahal, perlu nekropsi untuk memastikan apa penyebab hewan soliter ini terdampar. Seperti yang pernah terjadi pada 2020. Saat itu sebuah video memperlihatkan sejumlah warga memotong hiu paus. “Nekropsi penting. Karena hius paus terdampar itu biasanya disebabkan banyak faktor.” Karena itu, dia mendorong lintas sektor berkolaborasi dalam menangani kasus terdamparnya hiu paus dengan membentuk jejaring. Dari warga atau nelayan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/perlu-jejaring-untuk-penyelamatan-hiu-paus-terdampar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/15/perlu-jejaring-untuk-penyelamatan-hiu-paus-terdampar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inilah Ular Beludak Eropa yang Tangguh, Spesies Ular yang Hidup Paling Utara di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/15/inilah-ular-beludak-eropa-yang-tangguh-spesies-ular-yang-hidup-paling-utara-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/15/inilah-ular-beludak-eropa-yang-tangguh-spesies-ular-yang-hidup-paling-utara-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>15 Mar 2026 01:35:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232623/1024px-Vipera_ammodytes_070901_1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125613</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia reptil umumnya identik dengan iklim tropis yang hangat. Namun, Ular Beludak Eropa (Vipera berus) mendobrak batasan biologis tersebut. Ia menjadi satu-satunya spesies ular di planet ini yang mampu mendiami wilayah di atas Lingkar Arktik. Di wilayah yang dikenal dengan musim dingin abadi dan suhu ekstrem mencapai -69,6°C ini, tidak ada spesies ular lain yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/inilah-ular-beludak-eropa-yang-tangguh-spesies-ular-yang-hidup-paling-utara-di-dunia/">Inilah Ular Beludak Eropa yang Tangguh, Spesies Ular yang Hidup Paling Utara di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia reptil umumnya identik dengan iklim tropis yang hangat. Namun, Ular Beludak Eropa (Vipera berus) mendobrak batasan biologis tersebut. Ia menjadi satu-satunya spesies ular di planet ini yang mampu mendiami wilayah di atas Lingkar Arktik. Di wilayah yang dikenal dengan musim dingin abadi dan suhu ekstrem mencapai -69,6°C ini, tidak ada spesies ular lain yang sanggup bertahan hidup. Keberadaan ular ini merupakan bukti nyata ketangguhan mekanisme biologis dalam menghadapi lingkungan yang mematikan bagi sebagian besar makhluk berdarah dingin. Saat reptil lain membutuhkan panas konstan untuk sekadar menggerakkan otot, ular beludak ini telah mengembangkan sistem internal yang memungkinkannya berfungsi dalam kondisi cahaya rendah dan suhu rendah. Adaptasi ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari evolusi ribuan tahun yang menempatkan mereka sebagai penguasa tunggal di perbatasan utara dunia yang beku. lar beludak Eropa adalah satu-satunya ular yang hidup di atas lingkar arktik dan memiliki adaptasi terhadap dingin yang lebih baik daripada spesies ular lainnya. | Foto https://commons.wikimedia.org/wiki/user:Tigerente Kehadiran ular beludak Eropa di lingkar kutub utara merupakan fenomena evolusi yang unik. Wilayah yang meliputi bagian utara Skandinavia dan Rusia ini memiliki tantangan berupa musim panas yang sangat singkat dan musim dingin yang gelap selama berbulan-bulan. Spesies ini berhasil menguasai ceruk ekologi yang ditinggalkan oleh reptil lainnya. Kemampuan mereka untuk memproses panas matahari yang minimal menjadi kunci utama mengapa mereka menjadi satu-satunya ular yang bisa hidup di sana. Suhu terdingin di Lingkar Arktik mencapai -69,6°C. Pada Desember 1991, stasiun penelitian di Klinck mencatat suhu ekstrem tersebut | Foto CIA World Fact Book Penelitian terbaru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/15/inilah-ular-beludak-eropa-yang-tangguh-spesies-ular-yang-hidup-paling-utara-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/15/inilah-ular-beludak-eropa-yang-tangguh-spesies-ular-yang-hidup-paling-utara-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dalam Bayang Tambang, Pulau Kecil Kian Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 20:14:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230547/GP0SU5K03_PressMedia-2500px-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125611</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pulau-pulau kecil di Indonesia terus alami ancaman dampak begitu banyak industri ekstraktif   dari emas, timah, sampai nikel yang kini terusung sebagai bagian dari transisi energi karena jadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Begitu banyak sudah pulau-pulau kecil di Indonesia jadi korban, antara lain, Pulau Wawonii,  Kabaena (Sulawesi Tenggara), Pulau Sangihe (Sulawesi Utara), Pulau Gebe (Halmahera [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/">Dalam Bayang Tambang, Pulau Kecil Kian Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pulau-pulau kecil di Indonesia terus alami ancaman dampak begitu banyak industri ekstraktif   dari emas, timah, sampai nikel yang kini terusung sebagai bagian dari transisi energi karena jadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Begitu banyak sudah pulau-pulau kecil di Indonesia jadi korban, antara lain, Pulau Wawonii,  Kabaena (Sulawesi Tenggara), Pulau Sangihe (Sulawesi Utara), Pulau Gebe (Halmahera Tengah), Pulau Gag Raja Ampat Papua Barat Daya, maupun Pulau Bintan (Kepulauan Riau) dan banyak lagi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengidentifikasi ada 226 izin usaha pertambangan (IUP) beroperasi di 477 pulau kecil di 21 kabupaten/kota di Indonesia. Padahal, izin tambang melanggar UU  Nomor 1/2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Regulasi ini tegas melarang di pulau dengan luas kurang dari 2.000 km persegi. Argo Tarigan, Tim Kampanye Mineral Kritis Trend Asia tegaskan,  tak ada masa depan cerah bagi pulau kecil di Indonesia jika industri ekstraktif tak berhenti. “Indonesia sekaligus akan menerima dampak ganda dari industri ini,” ujarnya.  Pulau yang sudah tereksploitasi, katanya,  sudah jelas akan hancur dan  tidak bisa kembali seperti semula. Kemudian,  beban kesehatan akibat kerusakan lingkungan. “Misalnya, di smelter. Mereka (warga) berpenyakit, gunakan BPJS dan akan kembali ke negara, kita juga pajak yang menanggung. Kita sedang membuat kiamat yang akan datang dan bencana yang akan datang,” katanya. Berdasarkan UU 1/2014 tentang perubahan atas UU Nomor 27 tahun 2007 tentang Penyelamatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tegas menyebut bahwa prioritas pulau kecil untuk konservasi, perikanan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat. “Sehingga pertambangan (industri ekstraktif) dilarang karena risiko ekologisnya.&#8221; Sayangnya, mayoritas warga tidak memiliki&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mempertanyakan Vonis Hukum Kasus 1,2 Ton Sisik Trenggiling</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 06:00:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/06/22013027/trenggiling--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125596</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Peradilan kasus perdagangan ilegal 1,2 ton sisik trenggiling makin tidak berpihak pada keberlangsungan keanekaragaman hayati. Pasalnya, Pengadilan Tinggi Sumatera Utara (Sumut) memutuskan hukuman lebih ringan  kepada Aipda Alfi Hariadi Siregar dengan tujuh tahun penjara, sedang vonis Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, sebelumnya, 9 tahun. Putusan itu  melengkapi vonis ringan  yang sudah terlebih dulu jatuh pada dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/">Mempertanyakan Vonis Hukum Kasus 1,2 Ton Sisik Trenggiling</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Peradilan kasus perdagangan ilegal 1,2 ton sisik trenggiling makin tidak berpihak pada keberlangsungan keanekaragaman hayati. Pasalnya, Pengadilan Tinggi Sumatera Utara (Sumut) memutuskan hukuman lebih ringan  kepada Aipda Alfi Hariadi Siregar dengan tujuh tahun penjara, sedang vonis Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, sebelumnya, 9 tahun. Putusan itu  melengkapi vonis ringan  yang sudah terlebih dulu jatuh pada dua anggota TNI di Kodim Asahan, Serka M Yusuf dan Serda Rahmadi Syaputra. Keduanya ‘hanya’ mendapat hukuman satu tahun penjara, denda Rp100 juta,  subsider satu bulan kurungan. Kondisi ini membuat skeptis penegakan hukum kejahatan terhadap satwa liar. Padahal, keterlibatan aparat sebagai pelaku merupakan hal krusial. Vania Erlangga, Kepala Bidang Hukum dan Advokasi Garda Animalia, menyebut, fakta penyimpanan barang bukti di fasilitas kepolisian untuk para pelaku menunjukkan  penyalahgunaan kewenangan serta pelanggaran serius terhadap kepercayaan publik. “Namun eksaminasi terhadap putusan menunjukkan keterlibatan aparat negara tersebut lebih banyak diperlakukan sebagai tindakan personal, bukan sebagai persoalan struktural yang menuntut pertanggungjawaban institusional,” katanya saat Mongabay hubungi. Trenggiling terus terancam perburuan dan perdagangan ilegal.  Foto Ayat S Karokaro / Mongabay Indonesia Aparat terlibat, seharusnya lebih berat Dia bilang, pendekatan yang memisahkan tindakan aparat dari konteks institusionalnya berimplikasi hilangnya faktor pemberat yang seharusnya melekat pada kasus ini. Padahal, dalam banyak kerangka hukum dan etika publik, penyalahgunaan kewenangan oleh aparat negara justru menuntut standar pertanggungjawaban lebih tinggi bukan lebih ringan. &#8220;Ketika aspek ini diabaikan, sistem peradilan berisiko memperkuat budaya impunitas di dalam institusi negara.&#8221; Menurut dia, perlu penguatan standar penanganan perkara perdagangan satwa liar berskala besar. Barang bukti 1,2 ton sisik trenggiling, menurutnya, tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Misteri Samudra Selatan: Hiu Tertangkap Kamera di Perairan Dingin Kutub Selatan untuk Pertama Kalinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 02:54:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14024703/southern-sleeper-shark-antarctic-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125602</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah rekaman video bersejarah dari kedalaman Samudra Selatan baru saja meruntuhkan asumsi lama dunia sains. Untuk pertama kalinya, seekor hiu tidur berhasil tertangkap kamera sedang berenang di perairan dingin Kutub Selatan yang sebelumnya dianggap sebagai zona terlarang bagi predator tersebut. Penemuan di kedalaman 490 meter ini membuktikan bahwa batas kehidupan di wilayah paling selatan Bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/">Misteri Samudra Selatan: Hiu Tertangkap Kamera di Perairan Dingin Kutub Selatan untuk Pertama Kalinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah rekaman video bersejarah dari kedalaman Samudra Selatan baru saja meruntuhkan asumsi lama dunia sains. Untuk pertama kalinya, seekor hiu tidur berhasil tertangkap kamera sedang berenang di perairan dingin Kutub Selatan yang sebelumnya dianggap sebagai zona terlarang bagi predator tersebut. Penemuan di kedalaman 490 meter ini membuktikan bahwa batas kehidupan di wilayah paling selatan Bumi jauh lebih luas dari yang dibayangkan selama ini. Penemuan ini bermula dari ekspedisi laut dalam yang bertujuan memetakan kehidupan di palung-palung terpencil di sekitar Antartika. Selama ini para ilmuwan berasumsi bahwa konsentrasi garam yang tinggi dan suhu air yang bisa turun hingga di bawah titik beku menjadi penghalang biologis bagi hiu. Kehadiran predator puncak ini di lokasi tersebut membuktikan adanya pengecualian unik dalam ekosistem laut dalam yang sangat dingin. Rekaman ini bukan sekadar keberuntungan kamera melainkan bukti ilmiah penting yang mengharuskan komunitas peneliti meninjau ulang peta persebaran hiu di seluruh samudra. Kehidupan Tersembunyi di Kedalaman Es Hiu tersebut ditemukan pada kedalaman 490 meter di bawah permukaan laut. Lokasi tepatnya berada di Palung South Shetland yang terletak tidak jauh dari wilayah semenanjung. Tim peneliti dari Minderoo-UWA Deep-Sea Research Centre, University of Western Australia, menemukan cuplikan langka tersebut setelah meninjau secara cermat 840 jam video dasar laut. Seluruh data visual ini dikumpulkan selama 64 hari ekspedisi menggunakan teknologi lander atau kamera baited yang diturunkan sebanyak 63 kali ke dasar samudra yang sunyi. Sosok yang terekam memiliki tubuh besar berbentuk silinder dengan sirip-sirip kecil yang khas. Hewan ini bergerak dengan sangat lambat melewati cahaya kamera di tengah kegelapan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 02:24:57 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/01152626/elang-jawa-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=125601</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ancaman kepunahan Elang Jawa tetap membayangi akibat perburuan liar, pola baru perdagangan satwa melalui platform digital, dan hilangnya ruang hidup yang terus menyempit. Upaya konservasi yang telah berjalan selama tiga dekade sejak era 1990-an harus beradu cepat dengan tekanan ekonomi. Berbagai aksi penyitaan satwa oleh otoritas menjadi bukti nyata bahwa status hukum saja tidak cukup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/">Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ancaman kepunahan Elang Jawa tetap membayangi akibat perburuan liar, pola baru perdagangan satwa melalui platform digital, dan hilangnya ruang hidup yang terus menyempit. Upaya konservasi yang telah berjalan selama tiga dekade sejak era 1990-an harus beradu cepat dengan tekanan ekonomi. Berbagai aksi penyitaan satwa oleh otoritas menjadi bukti nyata bahwa status hukum saja tidak cukup tanpa perlindungan habitat yang ketat. Masa depan sosok asli Sang Garuda bergantung pada keseriusan aksi pelestarian hari ini untuk mencegah hilangnya mereka dari cakrawala dalam dua dekade mendatang. The post Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Papua Gugat Izin Lingkungan Jalan PSN Merauke</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 01:16:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Asrida Elisabeth]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14010436/Papua-Pusaka-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125597</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Proyek Pangan 'Food Estate' Momok Kedaulatan Pangan Lokal]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua dan Papua Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencenaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Kami di sini mewakili saudara-saudara kami yang tidak bisa bersuara tetapi hatinya sakit. Pohon yang tidak bisa bicara, burung yang tidak bisa bicara, kami sedang bicara untuk mereka.” Begitu Andreas Mahuze bicara di depan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura, 5 Maret 2026. Mahuze bersama empat warga lain, yaitu, Sinta Gebze, Simon Petrus Balaigaze, Liborius [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/">Masyarakat Adat Papua Gugat Izin Lingkungan Jalan PSN Merauke</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Kami di sini mewakili saudara-saudara kami yang tidak bisa bersuara tetapi hatinya sakit. Pohon yang tidak bisa bicara, burung yang tidak bisa bicara, kami sedang bicara untuk mereka.” Begitu Andreas Mahuze bicara di depan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura, 5 Maret 2026. Mahuze bersama empat warga lain, yaitu, Sinta Gebze, Simon Petrus Balaigaze, Liborius Kodai Moiwend, dan Kanisius Dagil mendaftarkan gugatan izin lingkungan yang Bupati Merauke keluarkan untuk pembangunan jalan proyek strategis nasional Merauke di PTUN Jayapura. Mereka melakukan upacara adat di pintu gerbang PTUN sebelum menyerahkan dokumen gugatan langsung kepada kepala PTUN Jayapura, Merna Cinthia. Sebagai pemilik ulayat, mereka tidak pernah pemerintah dan perusahaan libatkan dalam perencanaan proyek jalan maupun penerbitan izin lingkungan. Yoseph Bladib Gebze, Bupati Merauke menerbitkan izin lingkungan Nomor 100.3.3.2/1105 2025 tentang kelayakan lingkungan hidup rencana pembangunan jalan akses sepanjang 135 kilometer sebagai sarana prasarana ketahanan pangan di Merauke, Papua Selatan. Sinta Gebze mengibaratkan proyek jalan ini seperti pencuri. “Tidak ada sosialisasi untuk masyarakat dari perusahaan maupun pemerintah. Datangkan eksavator menggusur hutan, tanpa izin dari kami masyarakat adat.” Simon amini itu. Pemerintah dan perusahaan, katanya, melakukan penyerobotan tanah adat untuk pembangunan jalan ini. “Semua dilakukan tanpa proses duduk bersama masyarakat, duduk bicara atur tanah ini siapa punya untuk diserahkan kepada perusahaan. Proses negosiasi itu tidak ada.” Proyek pangan dan energi di Merauke, Papua. Foto: Yayasan Pusaka Jalan untuk proyek sawah, tebu, dan sawit Jalan sepanjang 135 km ini melintas dari pesisir barat Merauke di  Distrik Ilwayab ke arah timur melewati Distrik Ngguti, Distrik Kapitel, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Kemilau Mutiara Himpit Wilayah Tangkap Nelayan Lombok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mar 2026 20:28:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://mongabay.co.id/wp-content/uploads/2026/03/Desa-Pulau-Meringkik-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125577</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Perikanan Kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lampu kristal memantul di kaca etalase dalam gedung pameran Fiera di Vicenza, Kota Vicenza Italia, Jumat (16/1/26). Para kolektor, desainer, dan pembeli perhiasan dari berbagai negara berkumpul dalam gelaran Vicenzaoro Boutique Show itu. Di antara deretan perhiasan mewah itu, butiran mutiara laut selatan dari Lombok turut dipamerkan. Bertekstur bulat sempurna dengan kilau yang lembut, perhiasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/">Ketika Kemilau Mutiara Himpit Wilayah Tangkap Nelayan Lombok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lampu kristal memantul di kaca etalase dalam gedung pameran Fiera di Vicenza, Kota Vicenza Italia, Jumat (16/1/26). Para kolektor, desainer, dan pembeli perhiasan dari berbagai negara berkumpul dalam gelaran Vicenzaoro Boutique Show itu. Di antara deretan perhiasan mewah itu, butiran mutiara laut selatan dari Lombok turut dipamerkan. Bertekstur bulat sempurna dengan kilau yang lembut, perhiasan yang diunggah di akun media sosial Autore, produsen mutiara kenamaan asal Australia terkesan begitu mewah. Siapa sangka, di balik kilau mewah itu, para nelayan  sekitar 12.000 kilometer dari ruang pamerah itu justru terancam ruang hidupnya. Zaenuddin, nelayan di Teluk Jakung, Lombok Timur, tak pernah menyangka, laut yang dulu jadi tempatnya menebar jaring cumi dan ikan pelagis kecil kini nyaris penuh oleh pelampung budidaya mutiara PT Autore Pearl Culture (APC). Pelampung-pelampung warna biru itu mengapung memanjang, saling terhubung oleh tali yang membentang di permukaan laut. Dari kejauhan, bentangan itu terlihat seperti pagar yang membelah teluk. “Dulu, laut di depan kampung ini luas sekali. Sekali melaut bisa dapat banyak. Sekarang sudah berbeda,” kata lelaki 54 tahun  ini  menunjuk ke arah pelampung. Dia dan para nelayan dulu cukup melaut beberapa mil dari pantai. Itu saja perahu berkapasitas 15 PK yang biasa mereka bawa sudah penuh oleh cumi.  Kini, situasi itu nyaris tak pernah terjadi. Zaenuddin bilang, awalnya, hanya beberapa pelampung budidaya di tengah teluk. Lama-kelamaan  bertambah, membentuk jalur panjang yang membentang dari satu sisi teluk ke sisi lain. Bentangan tali longline untuk menggantung kerang mutiara itu kini memenuhi sebagian besar wilayah perairan yang dulu menjadi jalur dan wilayah tangkap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>