<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?post_type=post&#038;byline=gerry-van-klinken" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/gerry-van-klinken/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 15 Jul 2026 16:02:47 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Ternyata Bekantan Punya Kebiasaan Memamah Biak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 12:14:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/15120624/bekantan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130638</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Memamah biak selama ini diketahui perilaku yang identik dengan sapi, kambing, atau unta. Namun ternyata, primata berhidung besar khas Kalimantan, yakni bekantan (Nasalis larvatus), terbukti secara ilmiah melakukan regurgitasi dan mengunyah ulang. Dikutip dari media sains internasional science.org, bekantan menjadi bukti bahwa primata bisa memamah biak. Ini merupakan sebuah strategi pencernaan yang disebut hanya milik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/">Ternyata Bekantan Punya Kebiasaan Memamah Biak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Memamah biak selama ini diketahui perilaku yang identik dengan sapi, kambing, atau unta. Namun ternyata, primata berhidung besar khas Kalimantan, yakni bekantan (Nasalis larvatus), terbukti secara ilmiah melakukan regurgitasi dan mengunyah ulang. Dikutip dari media sains internasional science.org, bekantan menjadi bukti bahwa primata bisa memamah biak. Ini merupakan sebuah strategi pencernaan yang disebut hanya milik hewan berkaki empat, yang memanfaatkan mikroba di perutnya untuk mengurai serat dedaunan. Penemuan ini diungkap tim peneliti yang dipimpin Ikki Matsuda dari Universitas Kyoto pada 2011 lalu. Mereka menemukan perilaku tersebut dengan melihat video yang dikumpulkan sejak tahun 2000. Berdasarkan data tersebut, sekitar 23 monyet hidung panjang terpantau memiliki perilaku mengeluarkan makanan dari perut dan mengunyah kembali/regurgitasi. Para peneliti menekankan bahwa fenomena memamah biak pada satwa liar sebenarnya berbeda tingkatannya. Hewan pemamah biak sejati seperti sapi dan unta memiliki mekanisme penyortiran khusus di lambung yang memisahkan partikel makanan besar untuk dikunyah ulang. Dengan begitu, mereka bisa mencerna makanan dalam jumlah besar, sekaligus mengurus ukuran partikelnya dengan sangat efisien. Bekantan yang dijuluki Monyet Belanda. Foto: Rhett A Butler /Mongabay. Tahun 2023, tim peneliti yang dipimpin Jonas Bösch bersama Ikki Matsuda dan kolega menerbitkan studi lanjutan di Journal of Zoology, dengan judul “They chew by night? Night-time behaviour in a &#8216;ruminating&#8217; primate, the proboscis monkey (Nasalis larvatus)”. Mereka menganalisis rekaman video inframerah perilaku malam hari dari 179 individu bekantan liar selama 35 malam. Total pengamatan diperkirakan lebih dari 251 jam di kawasan hilir Sungai Kinabatangan, Sabah, Malaysia. Hasilnya, bekantan menghabiskan lebih banyak waktu terjaga sambil beristirahat dibanding&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ternyata-bekantan-punya-kebiasaan-memamah-biak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>17 Hari Bawa Bangkai Anaknya Sejauh 1.600 Km, Orca Betina Ini Jadi Simbol Krisis Populasinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 11:25:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/02/22090432/Paus-orca2-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130629</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada 2018, seekor orca betina dari populasi Southern Resident ((orca yang menetap di wilayah Pasifik Barat Laut Amerika Utara) bernama Tahlequah (J35) membawa bangkai anaknya yang baru lahir selama 17 hari, menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer di perairan Salish Sea, Pasifik Barat Laut Amerika Utara. Peristiwa ini menarik perhatian dunia dan menjadi salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/">17 Hari Bawa Bangkai Anaknya Sejauh 1.600 Km, Orca Betina Ini Jadi Simbol Krisis Populasinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada 2018, seekor orca betina dari populasi Southern Resident ((orca yang menetap di wilayah Pasifik Barat Laut Amerika Utara) bernama Tahlequah (J35) membawa bangkai anaknya yang baru lahir selama 17 hari, menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer di perairan Salish Sea, Pasifik Barat Laut Amerika Utara. Peristiwa ini menarik perhatian dunia dan menjadi salah satu sorotan utama terkait kondisi populasi Southern Resident, subpopulasi orca yang berstatus terancam punah. Status itu bukan sekadar label. Sensus Southern Resident yang dilakukan Center for Whale Research pada Juli 2025 mencatat populasi ini hanya tersisa 74 ekor, jauh dari perkiraan populasi historis yang pernah berjumlah lebih dari 200 ekor sebelum abad ke-20. Para ilmuwan tidak dapat memastikan alasan di balik perilaku Tahlequah, namun perilakunya yang berlangsung lama ini memperkuat perhatian terhadap tekanan yang dihadapi populasinya, terutama menyusutnya ikan salmon Chinook (Oncorhynchus tshawytscha) sebagai sumber makanan utama. Seekor orca dari populasi Southern Resident melompat (breaching) di perairan Pasifik Barat Laut Amerika Utara. Populasi ini berstatus terancam punah dan hanya tersisa 74 ekor berdasarkan sensus Center for Whale Research pada Juli 2025. Foto: Center for Whale Research Kisah Tahlequah kemudian menjadi salah satu simbol yang paling sering dikutip dalam peringatan World Orca Day, yang jatuh setiap 14 Juli. Orca (Orcinus orca), yang juga dikenal sebagai paus pembunuh, merupakan anggota terbesar dari keluarga lumba-lumba (Delphinidae). Hewan ini hidup di hampir seluruh perairan dunia, dari perairan dingin Antarktika hingga wilayah tropis. Sebagai predator puncak, orca tidak memiliki predator alami dan berperan penting mengendalikan populasi mangsa di ekosistem laut, sehingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/17-hari-bawa-bangkai-anaknya-sejauh-1-600-km-orca-betina-ini-jadi-simbol-krisis-populasinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Menanti Keseriusan Pemerintah Setop Tambang Timah di Teluk Kelabat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 05:56:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07095444/foto-nelayan-3-e1783418199804-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130231</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka dan bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perjuangan nelayan Tanjung Kelabat Dalam, Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melawan tambang timah ilegal menemukan harapan baru. Saat audiensi bersama Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat, 8 Juni lalu, Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Kepulauan Babel, sepakat mendukung perjuangan para nelayan. Dalam pertemuan yang berlangsung awal Juni itu, para nelayan keluhkan aktivitas tambang timah ilegal yang memenuhi kawasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/">Nelayan Menanti Keseriusan Pemerintah Setop Tambang Timah di Teluk Kelabat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perjuangan nelayan Tanjung Kelabat Dalam, Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melawan tambang timah ilegal menemukan harapan baru. Saat audiensi bersama Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat, 8 Juni lalu, Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Kepulauan Babel, sepakat mendukung perjuangan para nelayan. Dalam pertemuan yang berlangsung awal Juni itu, para nelayan keluhkan aktivitas tambang timah ilegal yang memenuhi kawasan Teluk Kelabat. Bahkan, tak kurang ada sekitar 100 ponton yang beraktivitas melakukan penambangan. Eko Sanjaya, nelayan Kelabat Dalam katakan, maraknya aktivitas tambang timah ilegal itu tak hanya merusak ekosistem pesisir. Tetapi, juga menyebabkan hasil tangkapan nelayan turun yang berujung pada memburuknya pendapatan mereka. “Ini sudah berlangsung lama,” katanya. Ada muncul dugaan PT Timah ada di balik beroperasinya tambang-tambang ilegal itu. Didit pun meminta perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Babel yang hadir dalam pertemuan memberikan penjelasan. Menanggapi  itu, perwakilan DKP Babel menegaskan, berdasar Peraturan Daerah (Perda) 3/2020 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), wilayah Teluk Kelabat terklasifikasi ke dalam empat zona, yakni,  zona pelabuhan, perikanan tangkap, budidaya dan pariwisata. “Daerah tersebut merupakan kawasan bebas tambang atau zero tambang.&#8221; Devi, perwakilan PT Timah dalam pertemuan itu akui, mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) di sana tetapi membantah ada di balik beroperasinya ratusan ponton di perairan itu. Sampai saat ini, katanya,  perusahaan  belum pernah mengeluarkan surat perintah kerja (SPK) untuk penambangan di Teluk Kelabat. “Kami (sejak) 2022 sudah tidak ada penambangan di ketiga IUP tersebut, karena terkait zona zero tambang tadi,” kata Devi, sebagaimana rekaman video yang nelayan kirim kepada Mongabay. Mendengar penjelasan itu, Didit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/nelayan-menanti-keseriusan-pemerintah-setop-tambang-timah-di-teluk-kelabat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kucing Rumahan Bisa Jinak? Jawabnya Ada pada Kucing Liar Ini</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 04:16:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/15041413/Kucing-Felis-lybica--768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130604</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, dunia kucing, gaya hidup, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hampir setiap rumah mengenal kucing. Hewan ini tidur di sofa, berburu serangga di halaman, atau meringkuk di pangkuan pemiliknya. Namun, jauh sebelum menjadi hewan peliharaan yang akrab dengan manusia, nenek moyang kucing rumahan hidup bebas di padang rumput, gurun, dan semak belukar Afrika hingga Asia. Spesies itu adalah Felis lybica, atau kucing liar Afro-Asia, yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/">Mengapa Kucing Rumahan Bisa Jinak? Jawabnya Ada pada Kucing Liar Ini</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hampir setiap rumah mengenal kucing. Hewan ini tidur di sofa, berburu serangga di halaman, atau meringkuk di pangkuan pemiliknya. Namun, jauh sebelum menjadi hewan peliharaan yang akrab dengan manusia, nenek moyang kucing rumahan hidup bebas di padang rumput, gurun, dan semak belukar Afrika hingga Asia. Spesies itu adalah Felis lybica, atau kucing liar Afro-Asia, yang hingga kini masih berkeliaran di alam liar dan menyimpan banyak misteri. Ironisnya, meski menjadi leluhur langsung kucing domestik (Felis catus), Felis lybica justru termasuk salah satu kucing liar yang paling sedikit dipelajari. Sebarannya sangat luas, mulai dari Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, hingga India, Mongolia, dan Tiongkok. Namun, para ilmuwan mengakui pengetahuan tentang perilaku, jumlah populasi, bahkan tren keberadaannya masih sangat terbatas. Secara fisik, Felis lybica memang sangat mirip dengan kucing rumahan. Ukurannya hampir sama, tetapi kakinya lebih panjang, telinganya berwarna jingga kemerahan, dan warna bulunya menyesuaikan lingkungan, mulai dari cokelat pasir hingga keabu-abuan. Kemiripan inilah yang membuat keduanya mudah kawin silang, sehingga sering kali sulit dibedakan hanya dari penampilan luar. Hubungan antara manusia dan Felis lybica diperkirakan dimulai sekitar 10 ribu tahun lalu, ketika manusia mulai bertani di kawasan Bulan Sabit Subur (suatu wilayah yang terbentang dari Turki hingga Irak saat ini). Lumbung penyimpanan hasil panen menarik tikus, sementara tikus mengundang kucing liar. Hubungan yang awalnya saling menguntungkan itu perlahan berkembang menjadi proses domestikasi. Kucing yang paling toleran terhadap kehadiran manusia memperoleh keuntungan berupa makanan melimpah, sedangkan manusia terbantu mengendalikan hama. Dari proses evolusi yang berlangsung ribuan tahun itulah lahir kucing rumahan yang kini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-kucing-rumahan-bisa-jinak-jawabnya-ada-pada-kucing-liar-ini/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 03:34:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233729/Waigeo-Pitohui-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130602</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di alam, warna mencolok sering menjadi tanda bahaya. Pada pitohui, burung endemik Papua, peringatan itu bukan sekadar isyarat. Kulit dan bulunya benar-benar mengandung racun yang dapat mengusir predator maupun parasit. Ironisnya, kemampuan bertahan hidup yang unik ini tidak membuat pitohui aman dari ancaman manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, burung “beracun” tersebut justru semakin sering ditemukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/">Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di alam, warna mencolok sering menjadi tanda bahaya. Pada pitohui, burung endemik Papua, peringatan itu bukan sekadar isyarat. Kulit dan bulunya benar-benar mengandung racun yang dapat mengusir predator maupun parasit. Ironisnya, kemampuan bertahan hidup yang unik ini tidak membuat pitohui aman dari ancaman manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, burung “beracun” tersebut justru semakin sering ditemukan di pasar burung dan platform jual beli daring. Keunikan pitohui terletak pada racun yang terdapat di kulit dan bulunya. Burung ini mengandung neurotoksin kuat yang membantu melindungi tubuhnya dari parasit, seperti kutu dan caplak, sekaligus menghalau predator. Saat disentuh manusia, racun tersebut dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan menimbulkan sensasi seperti reaksi alergi. Meski demikian, racun ini tidak menghalangi minat para kolektor, karena pitohui memiliki suara kicauan yang keras dan merdu. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Bird Conservation International (Desember 2024) menunjukkan perubahan cukup mencolok. Selama dua dekade, antara 1994 hingga 2014, pitohui nyaris tidak pernah ditemukan dalam perdagangan burung kicau. Namun sejak 2015, spesies ini mulai bermunculan di pasar burung dan media sosial. Hingga 2023, peneliti mencatat sedikitnya 113 individu dijual di 12 pasar burung serta 199 individu diperdagangkan secara daring. Dari jumlah itu, 54 individu merupakan pitohui kepala hitam (Pitohui dichrous), spesies yang dikenal paling beracun. Mengapa pitohui tiba-tiba diminati? Salah satu penyebabnya adalah krisis burung kicau di Indonesia. Banyak spesies favorit penghobi semakin langka akibat perburuan berlebihan, sehingga pasar terus mencari &#8220;pengganti&#8221; baru. Pitohui kemudian dipasarkan dengan nama dagang yang lebih menarik, seperti &#8220;cucakrawa Papua&#8221;, memanfaatkan popularitas cucakrawa asli yang kini semakin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-sentuh-burung-endemik-papua-ini-beracun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Masyarakat Adat Gugat UU Konservasi ke Mahkamah Konstitusi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/#respond</comments>
					<pubDate>15 Jul 2026 02:30:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/15015830/Masyarakat-Adat-Komunitas-Lokal-dan-Organisasi-Layangkan-Uji-Materiil-UU-KSDAHE-ke-MK-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130582</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>I Putu Ardana, Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, Bali, mengeluarkan ceper, anyaman dari janur yang berisi berbagai bunga dari tasnya. Sajen itu dia taruh di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (8/7/26), pasca menyerahkan gugatan permohonan uji materiil (judicial review) Undang-undang 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU Konservasi ) yang resmi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/">Ketika Masyarakat Adat Gugat UU Konservasi ke Mahkamah Konstitusi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[I Putu Ardana, Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, Bali, mengeluarkan ceper, anyaman dari janur yang berisi berbagai bunga dari tasnya. Sajen itu dia taruh di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (8/7/26), pasca menyerahkan gugatan permohonan uji materiil (judicial review) Undang-undang 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU Konservasi ) yang resmi teregistrasi dengan nomor perkara 262/PUU/PAN.MK /ARPK/2026. Dia lalu membakar dupa dan mengajak semua orang di sana berdoa berdasarkan kepercayaan masing-masing. Ritual ini, bentuk ketulusan dalam memperjuangkan uji materiil itu. Alasannya mengajukan permohonan karena paradigma konservasi yang dalam UU itu justru membatasi dan meniadakan masyarakat adat. Bahkan, terdapat pasal yang mengancam masyarakat adat, hingga mudah untuk kriminalisasi. Padahal, katanya, setiap komunitas adat mempunyai paradigma konservasi yang lebih komprehensif dan berkesesuaian dengan bentang alam di mana masyarakat adat itu berada. “Itu malah dirusak oleh paradigma konservasi yang dijalankan negara. Sekarang lebih kelihatan dalam UU No 32 Tahun 2024,” katanya. Putu merupakan satu dari tujuh pemohon. Selain itu, ada Herman Sarira, Masyarakat Adat Pali, Tana Toraja, dari Sulawesi Selatan, Rukka Sombolinggi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Susan Herawati Romica, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), serta para kuasa hukum. Para pemohon yang berhalangan menyerahkan langsung ke MK antara lain, Maksi Kornelis Liem (Masyarakat Adat Mollo/Mutis, Nusa Tenggara Timur), Rukmini P. Toheke (Masyarakat Adat Ngata Toro, Sulawesi Tengah), dan Bambang Zakariya dari Komunitas Bahari Karimunjawa, Jawa Tengah. Mereka menamakan diri Koalisi untuk Konservasi Berkeadilan. Ritual Ngaturang Pejati setelah Pengajuan permohonan Uji Materiil UU KSDAHE. Foto: Yulia Adiningsih/Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/15/ketika-masyarakat-adat-gugat-uu-konservasi-ke-mahkamah-konstitusi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 09:23:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/14090910/Orangutan-Sumatera-di-SRA-12-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130571</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, kera besar, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam kurun waktu sekitar satu dekade, hutan-hutan di utara Sumatera diperkirakan kehilangan sekitar 2.700 individu orangutan sumatera (Pongo abelii). Jumlah itu, setara hampir seperlima populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut. Angka tersebut diperoleh dari survei lapangan menyeluruh periode 2021–2023. Para peneliti menyusuri sekitar 208 sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/">Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam kurun waktu sekitar satu dekade, hutan-hutan di utara Sumatera diperkirakan kehilangan sekitar 2.700 individu orangutan sumatera (Pongo abelii). Jumlah itu, setara hampir seperlima populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut. Angka tersebut diperoleh dari survei lapangan menyeluruh periode 2021–2023. Para peneliti menyusuri sekitar 208 sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di Sumatera. Hasil penelitian itu dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Global Ecology and Conservation berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023” edisi 20 Juni 2026. Riset ini dipimpin Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar, bersama belasan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman. Dengan menggunakan metode yang sama seperti survei 2011, para peneliti menemukan populasi orangutan sumatera menurun sekitar 19,5 persen dalam satu dekade terakhir, atau rata-rata 1,8 persen setiap tahun. Dalam wilayah pembanding yang sama, jumlah orangutan sumatera diperkirakan turun dari sekitar 13.846 individu (2011) menjadi 11.146 individu (2023). Artinya, sedikitnya 2.700 orangutan sumatera hilang dalam periode tersebut, atau rata-rata sekitar 225 individu setiap tahun. “Perbandingan distribusi yang sama menunjukkan penurunan populasi orangutan sumatera sebesar 19,5 persen. Ini setara 1,8 persen per tahun,” tulis Adhi dan kolega dalam laporannya. Di tengah tren penurunan itu, Ekosistem Leuser masih menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84 persen populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat dan Leuser Timur, yang masing-masing diperkirakan menampung sekitar 4.935 individu dan 4.926 individu. Kepadatan tertinggi, ditemukan di kawasan rawa gambut Trumon-Singkil, dengan rata-rata 1,18 individu per kilometer persegi. Kondisi ini, menjadikannya sebagai habitat orangutan sumatera&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/populasi-orangutan-sumatera-berkurang-2-700-individu-dalam-satu-dekade/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>9 Orang Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 05:56:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/05/22024852/Penyidik-kepolisian-dari-Polres-Mandailing-olah-TKP-di-lokasi-lubang-tambang-ilegal-menimbun-12-perempuan-pencari-butiran-emas-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130517</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatara Utara dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Situs penambangan emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut) longsor dan menimbun sembilan orang pekerja, Sabtu (4/7/26). Dua orang meninggal dunia, yakni Erlin Nasution, warga Desa Tarlola dan Zulparman, warga Desa Aek Guo, Kecamatan Kotanopan. Insiden longsor hanya selang sehari setelah tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Perindustrian dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/">9 Orang Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Situs penambangan emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut) longsor dan menimbun sembilan orang pekerja, Sabtu (4/7/26). Dua orang meninggal dunia, yakni Erlin Nasution, warga Desa Tarlola dan Zulparman, warga Desa Aek Guo, Kecamatan Kotanopan. Insiden longsor hanya selang sehari setelah tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Perindustrian dan perdagangan, serta Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar operasi terpadu. Hingga laporan ini terbit, proses pencarian terhadap korban tersisa masih berlangsung. AKP Tri Boy Alvin Siahaan, Kasat Reskrim Polres Madina Siahaan, mengatakan, tim penyidik dari Satreskrim Polres Madina telah turun untuk amankan lokasi dengan memasang garis polisi. Selain membantu pencarian korban, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. &#8220;Untuk data kronologi lengkapnya masih kami kumpulkan. Beberapa saksi sudah kami mintai keterangan,” katanya Dia katakan, upaya penyelidikan tidak hanya menyangkut kecelakaan kerja yang merenggut korban jiwa juga mendalami aktor yang terlibat dalam penambangan emas tanpa izin  termasuk mencari tahu pemodalnya. “Terhadap dua korban meninggal, sudah berhasil dievakuasi ke rumah sakit. Untuk yang lain masih dalam proses pencarian,” katanya.  Dia bilang, proses pencarian berlangsung sangat hati-hati lantaran kondisi tanah di lokasi  belum stabil. Salah satu lokasi tambang emas ilegal di Madina, Sumatera Utara. Foto: Roby Ayat Karo-karo/Mongabay Indonesia. Bukan pertama kali Longsornya tambang emas ilegal di Madina bukan kali pertama terjadi. Azura Borotan, tim periset dari For Madina, mengatakan,  total ada belasan orang meninggal dunia di lokasi tambang  dalam  Januari 2025-Juli 2026. Beberapa insiden longsor  antara lain,  di Pegunungan Huta Bargot  Januari 2025 ada dua orang jadi &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/longsor-9-penambang-emas-di-madina-tertimbun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 05:42:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/14053428/20231020_on_mice_high_altitude_mouse-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130558</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertahan hidup di ketinggian ekstrem saja sudah cukup berat bagi kebanyakan mamalia, apalagi jika lingkungan tersebut juga menyimpan ancaman lain yang tidak kalah mematikan. Tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) tidak hanya mampu hidup di puncak gunung berapi setinggi hampir 7.000 meter, tempat suhu nyaris selalu berada di bawah titik beku dan oksigen sangat tipis, tikus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/">Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertahan hidup di ketinggian ekstrem saja sudah cukup berat bagi kebanyakan mamalia, apalagi jika lingkungan tersebut juga menyimpan ancaman lain yang tidak kalah mematikan. Tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) tidak hanya mampu hidup di puncak gunung berapi setinggi hampir 7.000 meter, tempat suhu nyaris selalu berada di bawah titik beku dan oksigen sangat tipis, tikus ini juga harus bertahan dari racun yang terkandung dalam tanah vulkanik dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 9 Juli 2026 mengungkap bagaimana mamalia kecil ini menjadi salah satu makhluk paling tangguh di dunia, dengan sebaran hidup terluas dari permukaan laut hingga puncak Andes. Puncak Gunung Berapi Salín (6.029 meter), salah satu lokasi penemuan tikus daun Andes di ketinggian ekstrem. Foto: Jay Storz Populasi tikus daun Andes yang hidup di puncak gunung berapi Llullaillaco, di perbatasan Argentina dan Chili, bertahan pada ketinggian 6.739 meter, tempat tekanan udara hanya 45 kilopascal, setara dengan kadar oksigen sekitar 44 persen dari yang tersedia di permukaan laut. Penelitian yang dipimpin oleh Schuyler Liphardt bersama tim dari University of Nebraska-Lincoln dan sejumlah institusi lain ini menggabungkan eksperimen fisiologis dengan analisis genom untuk memahami mekanisme adaptasi tikus daun Andes. Sebelum temuan ini, ketinggian seperti itu diyakini berada di luar batas kemampuan bertahan hidup mamalia mana pun, bahkan pendaki manusia yang terlatih dan teraklimatisasi hanya sanggup menahan kadar oksigen serendah itu selama pendakian satu hari, bukan untuk hidup menetap. Produksi Panas Tubuh yang Lebih Efisien Tim peneliti menguji kemampuan bernapas dan menghasilkan panas tubuh tikus dari populasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7-000-meter-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perairan Taman Nasional Komodo, Benteng Terakhir Pari Manta Karang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 05:40:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/06/22024331/Pari-manta-karang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130562</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, nusa tenggara, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah tekanan perikanan, pariwisata, dan perubahan iklim, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat paling penting bagi kelangsungan hidup pari manta karang (Mobula alfredi). Sebuah penelitian terbaru tahun 2022, mencatat sedikitnya 1.085 individu pari manta karang hidup di kawasan ini, menjadikannya populasi terbesar yang pernah didokumentasikan di dunia. Pari manta memilih perairan Komodo karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/">Perairan Taman Nasional Komodo, Benteng Terakhir Pari Manta Karang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah tekanan perikanan, pariwisata, dan perubahan iklim, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat paling penting bagi kelangsungan hidup pari manta karang (Mobula alfredi). Sebuah penelitian terbaru tahun 2022, mencatat sedikitnya 1.085 individu pari manta karang hidup di kawasan ini, menjadikannya populasi terbesar yang pernah didokumentasikan di dunia. Pari manta memilih perairan Komodo karena kaya plankton, sumber makanan utama mereka. Selain mencari makan, kawasan ini juga menjadi lokasi berkembang biak dan &#8220;stasiun pembersihan&#8221;, tempat ikan-ikan kecil membersihkan parasit dari tubuh pari manta. Menurut peneliti utama riset tersebut, Elitza Germanov dari Marine Megafauna Foundation, jumlah ini kemungkinan masih belum mencakup seluruh individu yang menghuni seluruh kawasan. Temuan ini memberi secercah harapan bagi spesies yang kini berstatus Rentan menurut Daftar Merah IUCN. Para ilmuwan menyebut populasi besar seperti di perairan TN Komodo dapat menjadi benteng terakhir yang menjaga spesies ini dari kepunahan lokal di berbagai wilayah lain. Meski Indonesia telah melarang penangkapan dan perdagangan pari manta sejak 2014, ancaman belum sepenuhnya hilang. Penangkapan ikan ilegal masih terjadi, sementara pari manta juga kerap menjadi tangkapan sampingan yang tidak disengaja. Dalam penelitian tersebut, 56 individu ditemukan memiliki luka yang diduga berasal dari alat tangkap perikanan. Tekanan juga datang dari sektor pariwisata. Meningkatnya aktivitas wisata bahari berpotensi mengganggu perilaku alami pari manta. Satwa ini dapat tertabrak kapal atau baling-baling, serta sensitif terhadap kebisingan dan kehadiran manusia yang berlebihan. Jika berlangsung terus-menerus, gangguan tersebut dikhawatirkan mempengaruhi kesehatan hingga keberhasilan reproduksi mereka. Di luar aktivitas manusia, krisis iklim memperumit keadaan. Kenaikan suhu laut, pengasaman laut, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/perairan-taman-nasional-komodo-benteng-terakhir-pari-manta-karang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mau Buat Mie, Donat, atau Pizza? Tepungnya Tersedia di Hutan Mangrove</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 04:47:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/21101907/buah-aibon-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130556</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan papua]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi banyak orang, hutan mangrove identik dengan benteng alami penahan abrasi atau tempat hidup beragam satwa pesisir. Padahal, bagi banyak masyarakat pesisir Indonesia, mangrove juga merupakan dapur alami. Di dalam ekosistem inilah ikan, kepiting, kerang, hingga buah-buahan tumbuh dan menjadi sumber pangan yang menopang kehidupan sehari-hari. Kekayaan itu masih dapat dijumpai di Kampung Friwen, Raja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/">Mau Buat Mie, Donat, atau Pizza? Tepungnya Tersedia di Hutan Mangrove</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi banyak orang, hutan mangrove identik dengan benteng alami penahan abrasi atau tempat hidup beragam satwa pesisir. Padahal, bagi banyak masyarakat pesisir Indonesia, mangrove juga merupakan dapur alami. Di dalam ekosistem inilah ikan, kepiting, kerang, hingga buah-buahan tumbuh dan menjadi sumber pangan yang menopang kehidupan sehari-hari. Kekayaan itu masih dapat dijumpai di Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Bagi masyarakat setempat, mangrove bukan sekadar hutan yang harus dijaga, tetapi lumbung pangan yang menyediakan beragam bahan makanan. Saat air surut, warga mencari bia atau kerang di sela-sela akar mangrove. Kepiting bakau juga menjadi hasil tangkapan bernilai ekonomi tinggi, sementara berbagai jenis ikan memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat memijah, mencari makan, dan membesarkan anak sebelum berpindah ke laut lepas. Tak heran, kondisi mangrove yang sehat berbanding lurus dengan melimpahnya hasil tangkapan nelayan. Namun, ada satu sumber pangan mangrove yang mungkin belum banyak dikenal: buah mangrove. Di Friwen, masyarakat mengenalnya sebagai buah aibon, yang berasal dari kelompok mangrove Bruguiera. Dahulu, buah ini menjadi salah satu bahan pangan penting masyarakat pesisir Raja Ampat. Para tetua di kampung ini, mengisahkan bahwa tepung dari buah aibon kerap dibawa sebagai bekal perjalanan karena dapat disimpan dalam waktu lama. Seiring perubahan pola konsumsi dan masuknya bahan pangan dari luar, tradisi tersebut perlahan menghilang, hingga hanya sedikit orang yang masih menguasai cara mengolahnya. Mengolah buah mangrove memang membutuhkan kesabaran. Buah aibon tidak bisa langsung dimakan karena mengandung tanin yang membuat rasanya pahit. Setelah dipanen, kulit buah dikupas, lalu direbus untuk mengurangi kandungan tanin. Selanjutnya buah ditumbuk hingga menjadi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mau-buat-mie-donat-atau-pizza-tepungnya-tersedia-di-hutan-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 03:30:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/13014901/FB_IMG_1783332340719-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130346</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, kelautan dan perikanan, Lahan Basah, Masyarakat Adat, pencemaran, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Siang itu, akhir Juni lalu, air laut di Pantai Ciberi mulai bergelombang pasang surut, dedaunan tertiup angin, sebagian sampah plastik terbang masuk ke laut Teluk Youtefa. Hanya sekitar 100 meter dari situ, ada para perempuan adat Suku Enggros-Tobati menjaga dan melestarikan hutan mangrove di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua setiap hari. Tiap hari, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/">Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Siang itu, akhir Juni lalu, air laut di Pantai Ciberi mulai bergelombang pasang surut, dedaunan tertiup angin, sebagian sampah plastik terbang masuk ke laut Teluk Youtefa. Hanya sekitar 100 meter dari situ, ada para perempuan adat Suku Enggros-Tobati menjaga dan melestarikan hutan mangrove di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua setiap hari. Tiap hari, saat air surut, Persila Sanyi bersama perempuan adat Suku Enggros-Tobati yang lain pergi ke hutan mangrove yang mereka sebut hutan perempuan. Hanya perempuan yang boleh mengunjungi kawasan itu dan pergi tanpa busana. Tradisi ini mereka sebut tonot wiyat atau hutan perempuan. Tonot artinya hutan bakau dan wiyat berarti ajakan. Tradisi ini mengajak para perempuan Enggros Tobati untuk mengunjungi hutan mangrove. “Di dalam hutan itu ada budaya yang kami jaga, yang kami pelihara. Yang kami lestarikan itu bagaimana perempuan, ketika ada di dalam hutan, perempuan beraktivitas tidak menggunakan busana. Jadi di situlah kebebasan perempuan didapat,” ujar Mama Persila, di Kampung Enggros, Kamis (14/5/26). Perempuan adat Enggros membudidaya mangrove yang sudah ditanam di hutan perempuan, di Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua. Foto: Larius Kogoya/Mongabay. Indonesia Tiap hari, mereka ke hutan perempuan ketika air surut. Mereka mencari bia (kerang), kepiting, udang, burung, kayu bakar dan ikan. Biasanya di hutan perempuan mereka sambil bercerita, tertawa dan bertukar pikiran. “Perempuan merasakan kebebasan sepenuhnya di hutan perempuan. Hutan itu juga menjadi ruang belajar dan pendidikan di hutan bakau,” katanya. Kadang-kadang, mereka juga membuat bibit mangrove, lalu menanamnya. Enggros menjadi satu dari beberapa kampung di Kota Jayapura, seperti Kampung Tobati, Kayo Pulo,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/para-perempuan-adat-kampung-enggros-jaga-hutan-mangrove-di-tengah-keterancaman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polusi Udara Bisa Bahayakan Kesehatan Fisik dan Mental</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/#respond</comments>
					<pubDate>14 Jul 2026 00:20:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22011025/Polusi-udara-Jakarta-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130546</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polusi udara di Jakarta dan sekitar sudah jadi keseharian. Tanggerang Selatan, Banten, salah satu titik episentrum polusi. Masyarakat perlu menyadari dan melakukan aksi atau ubah perilaku untuk meminimalisir risiko kesehatan fisik dan mental serta mengurang kondisi jadi lebih buruk. Wisya Aulia Prayudi,  Urban &#38; Environmental Health Lead CISDI mengatakan, Tangerang Selatan, salah satu kota paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/">Polusi Udara Bisa Bahayakan Kesehatan Fisik dan Mental</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polusi udara di Jakarta dan sekitar sudah jadi keseharian. Tanggerang Selatan, Banten, salah satu titik episentrum polusi. Masyarakat perlu menyadari dan melakukan aksi atau ubah perilaku untuk meminimalisir risiko kesehatan fisik dan mental serta mengurang kondisi jadi lebih buruk. Wisya Aulia Prayudi,  Urban &amp; Environmental Health Lead CISDI mengatakan, Tangerang Selatan, salah satu kota paling berpolusi di Indonesia. Rata-rata dari kualitas udara mulai dari tidak sehat sampai ke buruk. Aktivitas manusia sangat mempengaruhi kualitas udara. “Makin banyak mobilitas menggunakan kendaraan bermotor maka makin besar emisi gas buang hingga tingkat polusi udara cenderung meningkat,” katanya, dalam diskusi “Napas di Kota Satelit: Hidup di Tengah Polusi Tangsel” inisiasi Center for Indonesia&#8217;s Strategic Development Initiatives (CISDI) di Tangerang Selatan,  Juni lalu. Cuaca, katanya,  turut andil memberikan dampak. Biasa rata-rata kualitas udara itu membaik pada musim hujan. Karena hujan bisa “mencuci’ polutan di udara dan menurunkan ke tanah. Sebaliknya,  ketika musim kemarau kualitas udara memburuk. Wisya katakan, polusi udara di Tangerang Selatan antara lain karena kendaraan bermotor yang terus meningkat seiring kemudahan kepemilikan seperti sistem cicilan. Sampai 2025,  menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, ada 1,3 juta kendaraan bermotor. Kawasan industri yang berdekatan dengan Tangerang Selatan turut menjadi penyumbang emisi signifikan. Faktor lain, yang sering tidak disadari adalah pembakaran sampah sembarangan. Praktik ini, katanya,  dapat menghasilkan super polutan berbahaya bagi kualitas udara dan berdampak pada kesehatan. ‘Kan ini cukup ramai di Tangerang Selatan kemarin-kemarin. Asap hitamnya itu berbahaya banget,” katanya. Kualiatas udara buruk di Jakarta dan beberapa daerah sekitar (Jabodetabek). Masyarakat sudah sulit dapatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/14/polusi-udara-bisa-bahayakan-kesehatan-fisik-dan-mental/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Para Perempuan Wujudkan Kedaulatan Pangan di Pulau Kelapa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 09:15:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07064905/SaveClip.App_568176351_18382487137183415_733977403012204759_n-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130181</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak 2019, Julian Puput Lendri tinggal di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta. Tiap hari, sayur dan bahan dapur menjadi barang rebutan. Saat kapal sayur datang, banyak orang berkerumun. Pengalaman ini tak pernah terjadi saat dia tinggal di Jakarta. Tiap tengah hari atau sekitar pukul 2 siang, para perempuan mulai berkumpul di sekitar Dermaga Pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/">Upaya Para Perempuan Wujudkan Kedaulatan Pangan di Pulau Kelapa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak 2019, Julian Puput Lendri tinggal di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta. Tiap hari, sayur dan bahan dapur menjadi barang rebutan. Saat kapal sayur datang, banyak orang berkerumun. Pengalaman ini tak pernah terjadi saat dia tinggal di Jakarta. Tiap tengah hari atau sekitar pukul 2 siang, para perempuan mulai berkumpul di sekitar Dermaga Pulau Kelapa. Semula, mereka membuat antrean, tetapi itu menjadi kacau saat kapal sayur mulai merapat. Ibu-ibu saling berebutan kebutuhan untuk mengisi meja makan hari ini. Suasananya sangat riuh. “Di sini kalau sayur berebut. Kita sampai ke tukang sayur, semuanya habis. Mending kalau segar, nggak segar pula kita dapetnya, tapi cepat habis,” kata Julian sambil tertawa, Selasa (10/6/25). Semua kebutuhan sayur, warga Pulau Kelapa masih bergantung pada Jakarta. Kapal sayur setidaknya menempuh waktu lebih dari dua jam untuk sampai tepian dermaga. Jika cuaca tak bersahabat, kapal tak akan merapat. “Itu (sayur) kadang (di kapal) ya keinjek-injek, kena panas hawa mesin. Sampai sini, ya layu,” ujarnya. Julian tak ada pilihan, dia tetap memburunya. “Kalau disini tetap, walaupun kuning, berebut,&#8221; katanya. Akibat biaya transportasi yang tinggi, harga sayuran pun meningkat dua kali lipat, misal, kangkung seharga Rp2.000-2.500 per ikat menjadi Rp5.000-Rp7.500. Rak hidroponik berisi berbagai jenis sayuran daun di kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu. Foto: Dokumentasi pulauseribu.jakarta.go.id Keresahan Julian juga warga Pulau Kelapa rasakan. Hingga akhirnya, sejak 2018, para perempuan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun dengan binaan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Kepulauan Seribu. Mereka mengajukan inisiatif untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/upaya-para-perempuan-wujudkan-kedaulatan-pangan-di-pulau-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Tokek Lebih Nyaman Hidup Dekat Manusia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 08:12:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/13080533/Tokek-rumah-Foto-Falahi-Mubarok-Mongabay2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130533</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Benarkah tokek lebih suka hidup di sekitar manusia ketimbang hutan? Pertanyaan tersebut mendorong para peneliti menyusuri Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu, untuk membuktikan anggapan tersebut Hasilnya menunjukkan bahwa dinding rumah, tiang listrik, hingga pepohonan di sekitar permukiman manusia jadi habitat yang paling sering ditempati tokek. Temuan tersebut membuka cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/">Apakah Tokek Lebih Nyaman Hidup Dekat Manusia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Benarkah tokek lebih suka hidup di sekitar manusia ketimbang hutan? Pertanyaan tersebut mendorong para peneliti menyusuri Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu, untuk membuktikan anggapan tersebut Hasilnya menunjukkan bahwa dinding rumah, tiang listrik, hingga pepohonan di sekitar permukiman manusia jadi habitat yang paling sering ditempati tokek. Temuan tersebut membuka cara pandang kita tentang kemampuan reptil yang dikenal Gekko gecko ini beradaptasi di tengah perubahan bentang alam. Muhammad Fakhri Fauzan (31), peneliti utama dalam studi yang dipublikasikan di Jurnal Biologi Indonesia (2022), menjelaskan temuan paling menarik tak sekedar jumlah individu, tetapi juga  kemampuan tokek beradaptasi. “Hampir setiap tiang listrik yang kami lewati ada tokeknya,” jelas Fakhri, kandidat doktor Biosains Hewan, IPB University, Jum’at (10/7/26). Penelitian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan IPB itu, mencatat 273 individu tokek melalui pengamatan langsung. Berdasarkan kepadatan populasi, tim memperkirakan daratan Kepulauan Seribu dihuni sekitar 11.930 individu dengan kepadatan rata-rata 13,6 individu per hektar. Habitat tokay gecko sebenarnya berada di kawasan hutan. Namun, perubahan bentang alam membuat satwa nokutrnal ini beradaptasi dengan lingkungan permukiman. “Kondisi yang menguntungkan bagi mereka.” Tokek rumah yang sering terdengar keras suaranya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Menurut Fakhri, lampu-lampu rumah yang menyala malam hari menarik kehadiran berbagai serangga mulai ngengat, laron, hingga kumbang. Bagi reptil yang masuk CITES Apendiks II ini, kondisi tersebut menyediakan sumber pakan melimpah. “Tokek hanya menunggu mangsa datang.” Bangunan juga menjadi tempat berlindung. Celah dinding, rongga di balik atap, hingga lubang pada tiang listrik merupakan lokasi aman untuk tokek beristirahat dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/apakah-tokek-lebih-nyaman-hidup-dekat-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya &#8220;Mata Kedua&#8221; di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:41:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/13033756/Aipysurus_laevis_23225579-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130507</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagian besar hewan hanya mengandalkan mata untuk mendeteksi cahaya. Namun ular laut zaitun (Aipysurus laevis) berbeda. Spesies yang hidup di perairan terumbu karang Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia ini punya kemampuan tambahan yang jarang dimiliki reptil lain, yaitu merasakan cahaya lewat kulit di ujung ekornya. Kemampuan ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai dermal phototaxis, atau respons [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/">Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya &#8220;Mata Kedua&#8221; di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagian besar hewan hanya mengandalkan mata untuk mendeteksi cahaya. Namun ular laut zaitun (Aipysurus laevis) berbeda. Spesies yang hidup di perairan terumbu karang Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia ini punya kemampuan tambahan yang jarang dimiliki reptil lain, yaitu merasakan cahaya lewat kulit di ujung ekornya. Kemampuan ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai dermal phototaxis, atau respons terhadap cahaya yang terjadi langsung melalui kulit, tanpa melibatkan organ mata sama sekali. Fenomena ini pertama kali diungkap secara menyeluruh oleh tim peneliti dari University of Adelaide yang dipimpin Jenna Crowe-Riddell. Hasil penelitian mereka terbit di jurnal Molecular Ecology, dengan judul &#8220;Phototactic tails: Evolution and molecular basis of a novel sensory trait in sea snakes&#8220;. Sebelum penelitian ini, kemampuan serupa memang sempat tercatat pada beberapa hewan air lain seperti ikan dan amfibi, namun belum pernah diteliti secara sistematis pada reptil. Untuk memastikan sejauh mana kemampuan ini tersebar, tim peneliti menguji 17 ekor ular laut dari delapan spesies berbeda. Hasilnya, kemampuan mendeteksi cahaya lewat ekor tidak hanya dimiliki ular laut zaitun, tapi juga ditemukan pada dua spesies lain, yaitu A. duboisii dan A. tenuis. Sebaliknya, lima spesies lain yang diuji, termasuk beberapa dari genus Hydrophis, tidak menunjukkan respons serupa sama sekali. Dari pola ini, peneliti menduga kemampuan tersebut berevolusi pada nenek moyang bersama dari enam spesies dalam genus Aipysurus, atau sekitar 10 persen dari total spesies ular laut yang ada saat ini. Secara biologis, kulit di bagian ekor ular ini mengandung sel-sel yang peka terhadap cahaya, tapi cara kerjanya jauh berbeda dari mata. Sel ini tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/ular-laut-zaitun-ular-yang-punya-mata-kedua-di-ujung-ekornya-ini-fungsinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidak Semua Spesies Badak Bernasib Sama, Apa yang Membedakan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:37:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/24042744/Sumatran_rhinoceros_four_days_old-1200x817-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130508</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua spesies badak mulai pulih, tiga lainnya justru menyusut. Itulah gambaran terbaru kondisi badak dunia yang diungkap dalam laporan TRAFFIC dan IUCN (2025). Meski perburuan badak secara global sedikit menurun dalam tiga tahun terakhir, ancaman terhadap satwa bercula ini belum berakhir. Bagi sebagian spesies, tekanan justru semakin kompleks, mulai dari krisis iklim hingga populasi yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/">Tidak Semua Spesies Badak Bernasib Sama, Apa yang Membedakan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua spesies badak mulai pulih, tiga lainnya justru menyusut. Itulah gambaran terbaru kondisi badak dunia yang diungkap dalam laporan TRAFFIC dan IUCN (2025). Meski perburuan badak secara global sedikit menurun dalam tiga tahun terakhir, ancaman terhadap satwa bercula ini belum berakhir. Bagi sebagian spesies, tekanan justru semakin kompleks, mulai dari krisis iklim hingga populasi yang terlalu kecil untuk dapat bertahan dalam jangka panjang. Selama lebih dari dua dekade, konservasionis berupaya melindungi badak dari pemburu liar. Pendorong utamanya masih sama: tingginya permintaan cula badak di Asia Timur. Cula diperdagangkan sebagai simbol status dan digunakan dalam pengobatan tradisional, meski berbagai penelitian telah membantah manfaat medisnya. Nilai jualnya di pasar gelap bahkan dilaporkan dapat melampaui emas atau berlian. Berbagai strategi konservasi pun diterapkan, mulai dari patroli bersenjata, pemotongan cula (dehorning), hingga penelitian reproduksi berbantu. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, tetapi belum cukup untuk mengamankan seluruh spesies badak. Laporan terbaru tersebut memperlihatkan bahwa kondisi lima spesies badak kini berkembang ke arah berbeda. Badak bercula satu besar (Rhinoceros unicornis) di India dan Nepal berhasil menunjukkan pemulihan populasi signifikan. Badak hitam (Diceros bicornis) di Afrika juga mengalami peningkatan, dengan jumlah populasi diperkirakan naik sekitar 10 persen, dari 6.195 individu pada 2021 menjadi 6.788 individu pada 2024. Sebaliknya, tiga spesies lainnya masih berada dalam tren penurunan. Populasi badak putih (Ceratotherium simum) di Afrika turun dari 15.942 menjadi 15.752 individu dan kini mencapai titik terendah dalam hampir dua dekade. Menurut para peneliti, ancaman terhadap badak putih tidak lagi hanya berasal dari perburuan. Kekeringan berkepanjangan yang diperparah krisis iklim&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidak-semua-spesies-badak-bernasib-sama-apa-yang-membedakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Logam Berat pada Daging Hiu Ancam Perkembangan Janin dan Anak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 03:08:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/18101114/Seorang-nelayan-mengangkat-hiu-hasil-tangkapannya-di-sekitar-Pulau-Semujur-Kepulauan-Bangka-Belitung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130504</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik reputasinya sebagai predator puncak yang gagah di lautan, hiu menyimpan sebuah rahasia sains mengerikan di dalam jaringan tubuhnya. Banyak orang masih menganggap daging atau sup sirip hiu sebagai hidangan mewah menyehatkan. Di balik kandungan proteinnya, para ilmuwan mengingatkan adanya ancaman tidak kasatmata: logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh hiu. Kelompok yang paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/">Logam Berat pada Daging Hiu Ancam Perkembangan Janin dan Anak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik reputasinya sebagai predator puncak yang gagah di lautan, hiu menyimpan sebuah rahasia sains mengerikan di dalam jaringan tubuhnya. Banyak orang masih menganggap daging atau sup sirip hiu sebagai hidangan mewah menyehatkan. Di balik kandungan proteinnya, para ilmuwan mengingatkan adanya ancaman tidak kasatmata: logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh hiu. Kelompok yang paling berisiko mengalami dampaknya bukanlah orang dewasa sehat, melainkan ibu hamil, janin yang sedang dikandung, serta anak-anak yang sistem sarafnya masih berkembang. Ancaman ini berawal dari posisi hiu sebagai predator puncak di lautan. Sepanjang hidupnya, hiu memangsa berbagai ikan dan hewan laut lain yang telah menyerap polutan dari lingkungan. Merkuri, arsenik, kadmium, dan timbal menumpuk di tubuh hiu melalui proses bioakumulasi. Akibatnya, kadar logam berat pada hiu jauh lebih tinggi dibandingkan banyak jenis ikan lainnya. Di antara berbagai logam berat tersebut, merkuri dalam bentuk metilmerkuri menjadi perhatian utama karena mampu menyerang sistem saraf manusia. Para peneliti menggunakan indikator yang disebut Target Hazard Quotient (THQ) untuk memperkirakan risiko kesehatan akibat paparan logam berat sepanjang hidup. Nilai THQ di bawah satu umumnya dianggap masih dapat ditoleransi, sedangkan di atas satu menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan. Pada beberapa spesies hiu yang banyak dikonsumsi, nilai THQ bahkan mencapai puluhan kali di atas batas tersebut, sehingga para peneliti tidak lagi merekomendasikan mengkonsumsinya. Risiko terbesar muncul pada masa kehamilan. Berbeda dengan banyak zat lain yang dapat disaring tubuh, metilmerkuri mampu menembus plasenta. Artinya, ketika seorang ibu hamil mengkonsumsi daging hiu yang mengandung metilmerkuri, zat tersebut tidak hanya masuk ke tubuh sang ibu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/logam-berat-pada-daging-hiu-ancam-perkembangan-janin-dan-anak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Jul 2026 01:12:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/11163802/Jajaran-Bukit-Gunung-Salakan-dan-Papan-Penunjuk-Arah-Untuk-Evakuasi-Saat-Bencana-Datang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130452</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nur Aini melangkah menyusuri jalan setapak menuju kebunnya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (8/6/26). Dia sudah hafal betul setiap sudut kawasan itu. Termasuk, letak pondokan para petani, jalur ke kebun, hingga batas-batas lahan yang masyarakat kelola. Hari itu, Paini, sapaan akrabnya,  menemukan ada yang berbeda. Di satu sudut areal kerja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/">Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nur Aini melangkah menyusuri jalan setapak menuju kebunnya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (8/6/26). Dia sudah hafal betul setiap sudut kawasan itu. Termasuk, letak pondokan para petani, jalur ke kebun, hingga batas-batas lahan yang masyarakat kelola. Hari itu, Paini, sapaan akrabnya,  menemukan ada yang berbeda. Di satu sudut areal kerja Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonoasih Makmur Sejahtera (WAMS), berdiri  pondok beratap terpal yang belum pernah dia lihat sebelumnya. &#8220;Saya langsung tahu itu bukan pondok petani. Saya hafal semua pondok yang ada di sini,&#8221; katanya. Rasa penasaran segera berubah menjadi kegelisahan ketika Paini bersama 15 petani lain mengetahui pondok itu milik tim survei geolistrik yang tengah bekerja di Gunung Salakan. &#8220;Yang membuat saya heran, mereka mendirikan pondok di lahan  yang kami kelola tanpa pernah memberitahu saya ataupun pengurus kelompok tani,&#8221; katanya. Menurut Paini, sekitar 20 orang berada di lokasi ketika itu. Dia menduga aktivitas itu  berkaitan dengan rencana eksplorasi emas di wilayah yang selama beberapa tahun terakhir masuk dalam konsesi eksplorasi perusahaan tambang. Bagi sebagian orang, survei geolistrik mungkin hanya kegiatan ilmiah untuk memetakan kondisi bawah permukaan bumi. Namun bagi warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi itu, aktivitas ini membangkitkan ingatan lama soal  berubahnya  Gunung Tumpang Pitu akibat tambang emas. &#8220;Kami tidak ingin Salakan bernasib seperti Tumpang Pitu. Gunung ini bukan hanya tempat kami bertani, tetapi juga jalur penyelamatan jika tsunami datang. Salakan harus tetap lestari,&#8221; tegas Paini. Aksi solidaritas warga Banyuwangi tolak tambang emas Tumpang Pitu, PT Bumi Suksesindo, kala sidang putusan Budi Pego di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/13/petani-hutan-wonoasih-makmur-waswas-tambang-emas-masuk-gunung-salakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/#respond</comments>
					<pubDate>12 Jul 2026 07:30:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/23195051/Setelah-gagal-operasi-sejumlah-peralatan-di-PLTU-Koto-Ringin-dicuri.-Kasusnya-sampai-ke-pengadilan.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125143</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Setengah Hati Beralih ke Energi Terbarukan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau dan Yayasan Indonesia Cerah mengusulkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Koto Ringin, Kabupaten Siak, Riau, yang mangkrak hampir dua dekade, jadi sumber pembangkit energi bersih dan terbarukan, bersumber matahari (surya). Mereka sampaikan itu pada sejumlah pejabat Siak, akhir Mei. “Kami ingin bantu Pemkab Siak cari pilihan atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/">Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau dan Yayasan Indonesia Cerah mengusulkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Koto Ringin, Kabupaten Siak, Riau, yang mangkrak hampir dua dekade, jadi sumber pembangkit energi bersih dan terbarukan, bersumber matahari (surya). Mereka sampaikan itu pada sejumlah pejabat Siak, akhir Mei. “Kami ingin bantu Pemkab Siak cari pilihan atau alternatif, agar aset ini tidak terhenti dengan menggunakan peluang yang ada. Pemerintah daerah harus berperan dan kontribusi dalam kebijakan transisi energi berkeadilan,” kata Ahlul Fadli, Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Riau. Kedua lembaga ini menawarkan dua sumber energi bersih untuk menggantikan aset PLTU Koto Ringin yang terbengkalai itu yakni pembangkit listrik energi surya dan hibrid, gabungan surya dan bersumber air (mini hidro). Data Global Horizontal Irradiation (GHI) mencatat potensi energi surya di Siak, berkisar antara 1.580-1.657 kWh/m2/tahun. Angka ini tergolong baik dengan estimasi kapasitas antara 18%-18,9% jadi perlu  PLTS sekitar 23,3 MWp untuk menghasilkan energi listrik 36.792 MWh per tahun,  setara kapasitas PLTU Koto Ringin 2&#215;3,5 megawatt (MW) itu. Lahan pun hanya 24,2 hektar, lebih sedikit ketimbang areal PLTU Koto Ringin saat ini, 30 hektar. “Sehingga menyisakan ruang cukup luas untuk pengembangan lanjutan atau fungsi pendukung lainnya,” kata Sartika Nur Shalati, Peneliti Yayasan Indonesia Cerah. Kondisi itu makin memperkuat argumen PLTS merupakan alternatif pembangkit efisien secara spasial dan lebih ramah lingkungan. Dari segi investasi, proyek PLTS 23,3 MWp akan memerlukan estimasi capital expenditure (capex) antara US$16,31 juta&#8211;US$20,97 juta,  kurs Rp16.500, dengan biaya  Rp269 miliar-Rp346 miliar. PLTU, katanya, memang lebih konsisten menghasilkan daya listrik sepanjang waktu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/12/usul-proyek-pltu-batubara-mangkrak-riau-jadi-pembangkit-surya-dan-mini-hidro/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>